
Mata yang saling menatap, napas yang saling memburu, kedua tangan Arkana sudah menangkup kedua pipi istrinya. Arkana mengusap lembut bibir itu, mengecupinya kembali.
Lalu menatap Anwa kembali, seakan memberikan isyarat...
"Kamu siap untuk pertemuan kecil mereka?" ujar Arkana.
"I'm already yours" ujar Anwa. Mata mereka saling mengunci, mata itu begitu sayu dan mendamba.
Arkana mendekatkan lebih dekat lagi wajahnya, bibir Anwa ia usap namun di basahi kembali, ia gigit kecil-kecil hingga Anwa kembali melenguh, saling berbelit lidah berbaur saliva di dalamnya.
Tangan Arkana meremat, memijat benda kenyal kesayangannya itu. Puncak dada itu ia hisap, membuat Anwa tergelitik ketika lidah Arkana memainkannya. Perlahan Arkana turun menuju perut rata nan halus, menciuminya. Anwa seakan mendorong turun, meremas rambut suaminya, semakin besar keinginannya mendorong lelaki itu untuk menyusuri sesuatu di bawah sana.
Arkana mengangkat wajahnya, memperhatikan Anwa yang sudah menggigit bibir bawahnya. Keadaan mereka sudah benar-benar kacau, Arkana kembali melakukan aktivitasnya. Menurunkan pembungkus kepemilikan istrinya, kain berbahan halus itu pun ia buang ke sembarang tempat.
Malu? Anwa malu ... memang bukan pertama kali Arkana melihat ia tanpa sehelai benangpun. Pernah hampir terjadi pada mereka saat berada di Garut waktu itu. Desiran darah yang melintasi jantungnya seakan membuatnya berhenti mengalir, rasa malu nampak terlihat dari rona wajah Anwa.
Sama halnya dengan Arkana, kejantanannya mulai sesak, perlahan ia turunkan celana terakhir itu. Arkana kembali ******* bibir Anwa, membuat semuanya agar lebih santai. Wajah Anwa dengan mata sendu yang seakan menunggu untuk dimasuki.
"Rileks ya ... jangan tegang biar gak sakit," bisik Arkana di telinga Anwa, Arkana kembali menggesek gesekkan kedua benda itu, meremat dada Anwa hingga Anwa kembali melenguh.
"Ar," desah Anwa.
"Kenapa?"
"Ar ..., " Anwa kembali melenguh.
"Sekarang?"
Anwa yang berada di bawah kungkungan Arkana pun menggelengkan kepalanya.
"Jangan dulu ... aahh," suara parau itu membangkitkan gairah Arkana semakin tinggi.
"Sekarang ya Wa," ujar Arkana tertahan. "Jangan di tahan," ujarnya pelan memaju mundurkan pinggulnya. "Jangan di ta--ha--n Wa," Arkana terbata sedikit kesusahan memasuki Anwa.
"Ar," Anwa memukul-mukul pundak Arkana berkali-kali.
"Sstt ... sedikit lagi ... sekarang Wa," Arkana dengan sekali hentakan memasuki Anwa.
"Aw ... Ar," gadis itu pun menjerit di bungkam oleh ******* Arkana. Arkana mulai memompa, memberikan ritme santai agar Anwa sedikit rileks.
"Sakit?" tanyanya menatap netra Anwa, dihapusnya air di ujung mata Anwa. "Sakit?" tanyanya lagi masih menggerakkan pinggulnya.
Anwa mengangguk lalu menggeleng antara bingung harus menjawab apa, Arkana tersenyum.
"Udah gak kan?"
"I-- iya,"
"Kalo aku cepetin gimana?" ujar Arkana pelan-pelan mempercepat temponya.
"A--ar," desahan Anwa kembali terdengar, tangannya sudah mencengkram pundak Arkana.
Arkana beberapa kali menghentakkannya.
"Aduh ... Wa."
"Hhmm."
Ritme itu semakin cepat membuat keduanya kembali beradu desahan serta erangan.
"Se--ka--rang Waa." Pelepasan secara bersamaan itu mereka rasakan, Anwa merasakan kehangatan yang memasuki dirinya. Arkana masih terus menaik turunkan pinggulnya. Istrinya mulai terkulai lemah tak berdaya.
"Baru sekali Wa," ujar Arkana mengecap puncak dada Anwa.
"Aah ... Ar,"
"Lagi ya ... sekali lagi," tawarnya.
Kegiatan itu pun berlangsung untuk kedua kalinya dengan gerakan yang membuat Anwa terkejut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arkana masih memandangi wajah gadis yang tertidur pulas itu. Rasanya baru kemarin ia mengantarkan gadis itu pulang hujan-hujanan, baru kemarin dia melihat gadis itu membawa sekantung plastik gorengan untuk mengganjal perutnya, dan rasanya baru kemarin dia berhasil mencium bibir itu untuk pertama kalinya.
Dan sekarang gadis itu sudah sepenuhnya menjadi milik Arkana. Arkana dengan gagahnya menyetubuhi istrinya untuk pertama kali. Setelah yang mereka lalui selama ini akhirnya dia berhasil mendapatkan yang menjadi haknya.
Begitu cinta Arkana pada sosok Anwa, dia belai
rambut keriting kesayangannya, dia sematkan di balik telinga Anwa. Posisi tidur Anwa dan hanya di selimuti selimut putih dan tipis memperlihatkan belahan dada gadis itu.
Begitu menggoda, ingin rasanya Arkana memulainya lagi, jika tidak ingat apa yang mereka lalui semalam. Arkana membuat Anwa lemas tak berdaya setelah kedua kalinya ia melakukan dengan cara yang tak di sangka oleh Anwa.
Arkana membalikkan tubuh Anwa mendorongnya pelan hingga miliknya memasuki tubuh Anwa kembali. Arkana masih teringat, Anwa terengah-engah menerima serangan demi serangan yang Arkana lakukan. Melakukan hentakan dengan kedua tangan meremas dada Anwa yang kembali mengerang.
Mata indah itu perlahan terbuka, dengan gerakan lembut Anwa merapatkan tubuhnya pada Arkana.
"Banget."
"Masih sakit?"
"Pegel, Ar."
Arkana tersenyum.
"Mau di pijitin?"
"Gak usah, nanti malah kemana-mana." Anwa terkekeh.
"Emang kemana?" Anwa menuntun tangan Arkana turun ke bawah.
"Ar ... aku capek." Anwa berharap Arkana tak memintanya kembali melakukan itu.
Arkana tertawa, melingkarkan tangan Anwa pada tubuhnya.
"Aku suka lihat kamu kayak gini, Wa ... polos tanpa cela," ujarnya mencium gadis itu singkat. "Gak ada lagi penghalang dan rasa takut di hati aku setiap mau melakukannya."
Anwa mengulas senyum. "Iya, kan kita sudah halal, masa masih takut."
Tangan Anwa menyusuri dada Arkana. "Setelah ini, kita bakal tinggal dimana Ar?" tanya Anwa.
"Kita tinggal di rumah mama, mau?"
"Mama setuju?"
"Mama malah pengen kita nemenin dia, Wa."
"Tapi mama tetap bakal kesepian kan kita semua kerja."
"Minimal ketika kita pulang, dia merasa rumahnya sudah ramai kembali."
"Aku ikut kata kamu aja, Ar ... mana yang baik."
"Tapi setelah rumah kita sendiri selesai di bangun, kita tetap akan pindah kesana, karena aku ingin membentuk dan membina rumah tanggaku sendiri."
Anwa mengangguk. "Apa kata kamu aku ikut, yang penting kita selalu sama-sama." Anwa mengecup bibir Arkana yang sedari tadi di lihatnya.
"Kamu pengen lagi kan? jujur aja, ketagihan ya? gimana Abang Arkana? perkasa kan?"
Tawa mereka menggema seantero ruangan. Arkana kembali membenamkan wajahnya pada gundukan sintal milik istrinya.
"Aku gak perlu bantal kalo udah di sini," ujar Arkana mengecupi dada itu.
"Udah Ar, aku mau mandi."
"Bareng yuk?"
"Mau?"
"Ya iyalah, masa aku tolak," Arkana mencubit pipi istrinya.
Anwa beranjak dari tidurnya, hendak melilitkan selimut di tubuhnya namun dengan cepat di tarik oleh Arkana.
"Gak usah pake, yang liat juga aku," ujarnya duduk di depan Anwa yang sudah berdiri.
Arkana kembali menciumi perut Anwa. "Kamu tau Wa, aku berharap apa yang aku lakukan semalam, menghasilkan sesuatu di sini," ujarnya menciumi perut Anwa.
Anwa meremas rambut Arkana, lalu memberikannya kecupan.
"Semoga ya," jawabnya.
Anwa berjalan melenggok melangkah menuju kamar mandi tanpa sehelai benangpun, Arkana yang melihat itu terpancing lagi adrenalinnya untuk melakukan satu kali lagi mengawali hari mereka menjadi sepasang suami-istri.
**hhhmmm... hhmmm**...
enjoy reading and don't forget to leave your traces...
like
comment
vote
and share to all of people in the world
love
Chida 😘