Kiss Me

Kiss Me
Happy birthday, Wa.



Usia kandungan Anwa memasuki umur sepuluh minggu. Selama mengidam banyak hal yang ia inginkan selalu di penuhi oleh Arkana, dan tentu saja bukan permintaan yang sulit, anak di dalam kandungannya sangat tahu diri melihat kondisi sang ayah yang sibuk dan sang bunda yang masih bekerja.


Hari ini kepulangan Arkana dari Lombok, satu minggu menghabiskan hari tanpa dekapan laki-laki itu membuat Anwa sangat susah sekali untuk tidur.


Arkana baru saja memasuki kediamannya, rumah itu nampak sepi, tidak ada penyambutan khusus untuknya yang baru pulang dari luar kota.


Ia melangkahkan kakinya menapaki anak tangga menuju kamar mereka. Dibukanya pintu itu perlahan, wanita yang satu minggu ini yang selalu ia rindukan terbaring di tempat tidur hanya dengan menggunakan tanktop berwarna hitam dan hotpants yang memperlihatkan paha mulus istrinya.


Arkana ikut berbaring di samping Anwa, memeluknya dari belakang, di kecupnya pundak putih wanita itu, hingga Anwa terbangun.


"Ar ...."


"Hhmm."


"Kamu udah sampe aja, dari tadi?"


"Baru Lima belas menit ... udah tidur lagi gih."


"Aku seharian mual, Ar."


"Hah?" Arkana membalikkan tubuh Anwa, wanita itu memang terlihat pucat. "Sudah makan tapi kan?"


"Dari pagi makan, keluar terus sampe tadi mama antar makan siang kesini aku makan keluar lagi juga."


Arkana mengecup sekilas bibir istrinya, lalu meraba perut datar Anwa lalu menciumnya seraya berkata pada yang di dalam sana,


"Adek kenapa? kangen sama Ayah? jangan rewel kasian Bunda," ujarnya melirik Anwa yang sudah membelai rambut Arkana. "Sekarang Ayah sudah pulang, malem ini kita bobok bertiga lagi, adek jangan rewel ya, nanti malem Ayah tengokin adek, mau?"


"Ar ... ah, ngomong sama anaknya yang baik-baik," kata Anwa memukul pundak suaminya.


"Loh, aku baik dong bilang mau di tengokin gak? ya kan?" Arkana terkekeh.


"Kamu gak kangen sama aku, Wa?" ujarnya sudah menciumi kembali bibir istrinya.


"Kangen banget, Ar."


"Kita ke mall yuk, sore ini," ajak Arkana.


"Ngapain?"


"Kencan, biar kamu gak bete di rumah terus, ngilangin rasa mual."


"Kencan?"


"Iya ... nonton, makan, beli baju, beli sepatu, apa aja yang kamu mau." Anwa tersenyum di peluknya lelaki itu.


Suara ponsel Arkana berbunyi, Anwa melepaskan pelukannya.


"Siapa?"


"Ria ...." Arkana menggulir layar pada tombol hijau.


"Ya ... kenapa Ria?"


"...."


"Oh, hanya itu? baik ... terimakasih."


"...."


Arkana mengakhiri sambungan telpon, dan jelas saja Anwa melihatnya menanti jawaban.


"Kenapa?"


"Ngabarin kalo dia udah sampe rumahnya."


"Hah?"


"Tadi aku pulang satu taksi sama dia, biar sekalian, jadi taksinya nganter aku dulu baru dia."


"Terus urusannya bilang kalo udah sampe rumah sama kamu apa?" Anwa beringsut, jelas dia tidak suka ini.


"Ya cuma ngabarin doang."


"Ya aneh aja gitu loh, urusannya apa kok laporan sama suami orang."


"Apaan sih Wa, jelek tau marah-marah," kata Arkana menarik kembali lengan istrinya untuk berbaring.


"Gak mau aku ... gak suka aku cara dia kayak gitu, kayaknya di diemin tambah lama tambah gak bener itu cewek."


"Astaga Wa, dia cuma ngasih tau aja kalo dia udah sampe, gak lebih dari itu."


"Dia ngasih tau kalo dia udah sampe artinya ... dia minta di perhatiin lebih dari itu, ngerasa gak sih," ujar Anwa kesal, alis matanya mengkerut, wajahnya sudah berekspresi masam, dengan mode senggol bacok.


"Pantes dong aku curiga, suami aku loh keluar kota sama sekretarisnya cantik, seksi, salah-salah kamu ngomong lembut aja ke dia udah beda persepsinya." Anwa seakan mengeluarkan uneg-uneg ketidaknyamanannya selama ini.


"Jangan lupa istri lagi hamil, kamu aneh-aneh di luar sana."


"Aneh-aneh gimana?" kali ini Arkana tak lagi dapat menahan tawanya.


"Ya aneh-aneh, awas aja sampe kedapetan ya, jangan harap bisa sama aku juga sama anak aku."


"Ya ampun, pikirannya jahat banget sama suaminya."


"Ya iyalah," Anwa mendengus kesal.


"Aku suka kamu cemburu," Arkana mencolek hidung mancung itu.


"Aku gak suka."


"Iya, kamu gak suka ... aku tau."


"Aku gak suka itu Ria deket-deket kamu."


"Kalo gak deket aku, gimana kerjaan yang harusnya di kasih ke aku dong," goda Arkana.


"Ar ... aku serius ya!"


"Aku juga serius Wa." Masih dengan tersenyum.


"Aku serius, aku gak suka sama Ria," ujarnya kesal.


"Iya ... iya, janji aku gak ngapa-ngapain, semua yang ada di diri aku ini, semua milik kalian berdua, kamu sama anak aku." Arkana menggigit bibir Anwa. "Jadi ke mall?"


"Jadi lah ...."


"Dih, jadi tapi marah." Arkana tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di pelataran salah satu pusat perbelanjaan terbesar di ibukota, mereka langsung menuju bioskop untuk menonton salah satu film yang sedang booming.


Selama menonton Arkana sibuk dengan ponselnya, seakan tidak fokus dengan film yang sedang tayang, itu semua tak luput dari perhatian Anwa.


"Sibuk banget sih ... dari awal film sampe kelar kamu sibuk sama ponsel kamu," ujar Anwa kesal sekali.


"Ada urusan di resto yang di Bekasi, tapi udah ok kok ... kita makan ya?" Arkana meraih tangan Anwa, menggenggamnya erat.


Sembari menikmati pemandangan setiap toko, ada saja yang Anwa lihat, mulai dari baju hingga aksesori yang bisa ia pakai untuk ke kantor. Arkana hanya membuntutinya, sesekali menerima telpon dan sedikit menjauh dari Anwa.


"Sudah?" tanya Arkana.


"Udah ... aku bayar dulu," ujar Anwa.


"Bawa ini," Arkana menyerahkan dompet pada Anwa, aku tunggu di depan ya.


Selagi Anwa sibuk membayar belanjaannya di kasir, Arkana sudah menunggunya dengan satu buket bunga dan satu boneka gajah gendut yang berukuran medium.


Terkejutnya Anwa saat berbalik, lelaki itu sudah merentangkan tangannya pada Anwa.


"Ar ...," Anwa takjub dengan perlakuan suaminya, matanya seolah mencari-cari menoleh ke kanan dan ke kiri, di sana sudah ada Ria, Dion, dan seorang lelaki yang berdiri di sebelah Ria sedang mengabadikan momen mereka dengan ponselnya.


"Happy birthday, Wa," ujar Arkana lalu mengecup kening sang istri.


Anwa memeluk Arkana lalu memandang wajah suaminya lalu memeluknya lagi dengan gerakan bergoyang ke kanan dan ke kiri. Matanya berkaca-kaca saat ia menatap suaminya.


"Makasih Ar."


"Semoga sehat terus, marah-marahnya di kurangin," ucap Arkana saat memberikan doa tulus pada Anwa.


Anwa memeluk erat suaminya, sadar-sadar ia bahkan lupa masih berada di dalam toko tempat ia berbelanja tadi.


"Kita ke rooftop yuk, semua udah nunggu di sana." Arkana menggenggam tangan Anwa.


"Semua? siapa?"


"Liat aja nanti." Arkana mengusak rambut istrinya.


"Bos, ini boneka harus gue yang bawa?" ujar Dion yang berada di belakang mereka.


"Iya lah, kan lo sendiri yang gak punya pasangan ... lumayan kan bisa gandengan sama gajah," Arkana terkekeh.


"Masa gajah jalan sama belalai gajah, Bos," sungut Dion di iringi tawa dari mereka semua.


***haiiii selamat pagi menjelang siang gaees... tinggalkan jejak kalian sekecil apapun itu like, komen, vote karena ini hari Senin, atau taburi yang lagi ultah dengan bunga-bunga yaaah


enjoy reading 😘***