
Anwa mempercepat langkahnya, perjalanan membutuhkan waktu dua jam untuk mencapai rumah sakit di daerah Bandung Barat.
Setengah berlari, sesekali ia mengusap air matanya yang tak henti turun sejak tadi. Berlari menuju ruang ICU tanpa ingat jika di rahimnya ada janin kecil yang ia bawa.
"Wa, sabar Wa ... jangan lari kasian anak lo," ujar Zurra yang sedari awal ditugaskan menemani Anwa, sudah tak lagi digubris Anwa seruan Zurra, fokusnya adalah bertemu suaminya secepat mungkin.
Sedangkan Mama Cha Cha yang syok berulang kali pingsan mendengar kabar anaknya terkena musibah kecelakaan masih berada di mobil di temani suaminya.
Saat sampai di ruang ICU, Anwa mendapati lelaki itu tergeletak dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya. Sebuah selang besar di masukkan ke dalam mulut untuk dia bernapas, monitor yang berada di dekat Arkana untuk mengetahui kinerja organ tubuh, seperti detak jantung, kadar oksigen ataupun tekanan darah.
Terdapat alat kejut jantung juga tergeletak di sana, membuat pikiran Anwa kemana-mana. Dan beberapa alat medis lainnya yang terpasang di tubuh suaminya.
Anwa meratapi tubuh suaminya dari balik kaca ruangan itu, ingin rasanya dia berlari ... merengkuh tubuh itu, menciuminya seperti biasa, membangunkan tubuh itu seperti pagi tadi.
"Wa ...." Sentuhan tangan di pundak Anwa membuatnya menoleh pada asal suara. "Dokter mau bicara tentang keadaan Arkana," ujar Zurra.
"Tapi aku mau masuk kesana Ra ... aku mau lihat dia," ujarnya terisak.
Zurra menoleh pada perawat dan dokter yang sudah berdiri sedari tadi dan akhirnya memberikan anggukan tanda mempersilahkan Anwa untuk masuk.
"Wa," ucap Zurra, "sebelum masuk, ini ...," Zurra menunjuk hati Anwa, "harus tenang ya ... tahan emosi dan sabar," ujar Zurra lagi menghapus air mata Anwa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan disinilah Anwa dan Arkana berada, di dalam satu ruangan namun seperti jauh. Mulut Arkana terbuka dengan selang pernapasan yang terpasang masuk ke dalam, luka lebam di pelipis matanya, tulang hidung yang sudah terplester, kepala yang masih terbungkus perban.
Dirabanya wajah Arkana, diusapnya bibir suaminya, Anwa dekatkan wajahnya hanya sekedar ingin mencium pipi lelaki itu. Terlihat samar oleh Anwa kepala Arkana yang terbalut perban masih nampak mengeluarkan darah.
Rasanya bibir Anwa begitu kelu untuk berucap, dia hanya memandangi wajah suaminya, sesekali diciuminya punggung tangan lelaki itu, lalu ia taruh pada pipinya. Tangan yang biasanya memeluk dirinya saat tidur kini terkulai lemah tak berdaya.
Anwa hapus air matanya kembali, dia bisikkan kata di telinga Arkana. "Ar ... ini aku dateng, kamu dengar aku?" isaknya.
"Ar, bangun yuk ... kamu bilang mau temenin aku dengar detak jantung anak kita, aku udah lama banget nungguin kamu di sana tadi, kasian adek Ar, kalo kamu gak bangun ...." Anwa menangis kembali sambil ia cium telapak tangan pucat itu.
"Kamu tau Ar ... aku seperti kembali di masa kita sebelum bertemu, menghadapi kenyataan pahit yang sama, aku gak mau itu terulang lagi Ar ... aku mohon ... bangun ... bangun Ar."
"Kamu gak kasian sama aku Ar, sama anak kamu yang ada di perut aku? aku tunggu kamu, aku pastikan saat kamu membuka mata nanti kamu akan melihat aku lebih dulu, dan anak kita," lirih Anwa, "dengar aku Ar, bangun ...."
Anwa kembali mencium pipi serta kening suaminya, menelungkupkan mukanya di sisi Arkana, hingga satu sentuhan di pundaknya menyadarkan Anwa lagi.
"Papa mau ngomong sama kamu, Wa ... kita tinggalin Arkan dulu ya," ujar Fajar dengan mata yang pilu menatap anak dan menantunya.
"Arkana harus di operasi Wa, ada pembengkakan pada kepalanya di karenakan benturan keras," ujar sang papa mertua.
Anwa menutup mulutnya dengan kedua tangan, Zurra merangkul pundak wanita itu dan menepuk-nepuknya dengan lembut.
"Separah itu Pa?" tanyanya.
"Seberapa besar kemungkinannya? maksud Anwa seberapa besar kesempatan Arkana." Anwa berpikir dengan cepat, lalu ia memutar pandangan pada dokter yang sedari tadi berbicara dengan Fajar.
"fifty fifty," ujar dokter itu.
"Maksud dokter ... kemungkinan besar suami saya juga tetap tidak akan tertolong?" ujarnya dengan suara yang keras, air mata yang mengalir. Bagaiman bisa Anwa membayangkan semua ini akan terjadi padanya.
"Anwa, kita harus berusaha ... tidak ada yang tidak mungkin, Nak." Fajar memeluk tubuh Anwa, mereka menangis kembali.
"Kita mampu lewati ini Anwa, Arkana juga pasti mampu melewati ini ... Papa yakin dia kuat ... oleh karena itu kamu juga harus kuat," kata Fajar terbata-bata. "Kita bisa, Nak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anwa menatap langit-langit koridor rumah sakit, Anwa masih setia duduk di depan ruangan dimana suaminya berada.
Berulang kali Zurra membujuknya agar beristirahat di kamar yang sudah keluarga mereka pesan, namun Anwa menolaknya dengan lembut.
"Wa ...," ujar Jingga. "Ayo, kita istirahat di kamar inap aja," bujuk Jingga.
"Anwa masih mau di sini Mima, mau nunggu sampe Arkana bangun, nanti kalo dia bangun Anwa gak ada biasanya dia suka marah," ujar Anwa tersenyum tipis.
"Wa, kamu harus istirahat ... kasihan kandungan kamu ... setidaknya pikirkan dia juga, kehamilan kamu masih teramat muda, masih riskan, kita gak mau kamu juga kenapa-kenapa."
Anwa menolehkan wajahnya pada Jingga, Jingga mengangguk, "ayo ... Arkana juga mau kamu istirahat."
Air mata itu kembali turun, Anwa benar-benar tidak bisa menanggungnya seorang diri. Jingga memberikan pelukan untuk Anwa, tubuh wanita itu bergetar menangis sejadi-jadinya.
Cobaan demi cobaan Anwa lalui beberapa tahun belakangan ini, seakan Tuhan mengujinya secara terus menerus tanpa kenal ampun.
Tapi satu yang harus Anwa lakukan dia harus berjuang demi anak yang ada di dalam kandungannya, dia juga harus berjuang memberikan semangat hidup untuk Arkana.
Melangkah menuju jendela kaca yang menghadapkan pada tubuh Arkana di dalam ruangan itu. Menatap nanar pujaan hati yang selalu membuat hari-harinya berwarna bahkan sentuhan lembut tadi pagi pun masih sangat terasa.
"Jangan pergi Ar, bertahanlah ... aku pasti menunggu kamu di sini, please ... bertahan Ar, demi aku ...," kata-kata itu terucap dengan isak tangis yang menyakitkan.
"Aku gak mau sendiri Ar ... dimana kamu disitu aku ... aku janji selalu ada di samping kamu, kamu pergi aku pun akan ikut pergi ... jadi aku mohon bertahan, Sayang."
Jingga tak lagi tahan melihat ini semua, begitu besar cobaan keponakan serta istrinya. Air mata pun tak dapat lagi mereka bendung. Begitu sayangnya Tuhan kepada umatnya sehingga memberikan ujian yang luar biasa seperti ini.
"Arkana akan bertahan demi kalian Wa, Mima yakin dia akan bertahan ...." Pelukan itu pun begitu erat Jingga berikan pada Anwa.
***aku gak kuat... sumpah 😥
enjoy reading 😘***