Kiss Me

Kiss Me
Make beautiful mistake



Teman tapi mesra itu rasanya begini ya, hubungan yang tak pernah sama sekali akan dirasakan oleh Anwa. Bukan karena dia belum siap membuka hati, namun dia hanya ingin menikmatinya dulu. Takut kehilangan kembali itu lebih tepatnya, rasa trauma masih kental terasa.


"Iya... aku kangen," ujar Anwa tersenyum malu.


"Sama... gue juga," Arkana mendekatkan tubuhnya, meletakkan tangannya di dahi Anwa, "kita tetep harus ke dokter Wa, takut lo kenapa-kenapa," ujarnya lagi.


"Udah sembuh ini Ar," lalu memandang jam yang berada di dinding.


Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam, sedangkan mereka berdua masih mengenakan baju lengkap sepulang kerja.


"Kamu gak pulang?"


"Kalo gue bilang, gue mau di sini, boleh?" tanya Arkana menatap netra itu lekat.


"Aku mau mandi," Anwa berusaha menetralkan detak jantungnya.


"Gak usah mandi lagi sakit, bersih-bersih badan aja," Arkana mengusulkan ide yang dia rasa lebih baik daripada mandi di malam hari, "gue pesenin makanan ya? biar anak kafe nganter kesini, lo butuh makanan biar gak sakit lagi," katanya meraih ponsel di lantai.


Masih merebahkan tubuhnya di samping Anwa, Arkana mengirimkan pesan agar salah satu pelayannya mengantarkan beberapa makanan ke alamat kost Anwa.


"Udah gue pesenin, nanti lo makan ya," ujarnya beranjak dari tidur.


"Mau kemana Ar?"


"Pulang Wa," menoleh pada Anwa yang masih terbaring berbalut selimut.


"Katanya mau di sini? gak jadi?"


"Boleh?" ujar Arkana tersenyum, Anwa pun mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Penampilan Arkana lebih segar setelah ia memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian, kemudian menghampiri Anwa yang duduk di sisi tempat tidur menatapi banyaknya makanan malam ini yg terhidang di atas karpet berwana maroon itu.


"Wa, kok gak di makan?"


"Banyak banget kamu mesennya, mubazir Ar,"


"Bagi aja buat temen-temen kost lo," ujarnya santai lalu duduk di lantai, mengambil satu potongan ayam goreng krispi, "mau?"


"Nanti aja, kayaknya harus aku sisihin untuk Aneth, ini banyak banget."


"Makan dulu," menyendokkan satu sendok nasi goreng seafood kesukaan Anwa, "setelahnya minum obat lagi."


Anwa menerima suapan itu, membersihkan sisa nasi di pinggir bibirnya, lalu kembali sibuk memisahkan makanan di satu piring yang akan diberikannya pada Aneth.


"Lagi," Arkana menyuapkan kembali nasi goreng pada Anwa, berulang-ulang sampai akhirnya nasi goreng itu habis.


Setelah sempat keluar dari kamarnya untuk memberikan makanan pada Aneth teman dekat di kostnya, Anwa memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian.


Tak lama kemudian Anwa keluar dari kamar mandi, sudah mendapati Arkana berbaring sambil sibuk menekan remote tv.


Arkana memperhatikan Anwa yang berdiri di depan kaca, sedang membersihkan wajahnya, mematikan lampu sentral dan menggantikannya dengan lampu tidur di sudut kamar.


Menepuk-nepuk bantal yang akan dia gunakan, agar terasa nyaman untuk di tiduri. Semua kegiatan malam yang di lakukan oleh Anwa malam ini tak luput dari perhatian Arkana.


"Tidur, Ar," ujarnya lalu berbaring.


"Sempit ya Wa," Arkana terkekeh.


"Mau tidur di karpet?"


"Gak," dengan cepat di jawab oleh Arkana.


"Tidurnya jangan grasah grusuh ya, kamu jatuh ke bawah nanti."


"Berarti deket lagi boleh ya?"


Anwa menggeser sedikit badannya, "masih kurang?" menanyakan tempat yang sedikit longgar untuk di tempati Arkana.


"Udah."


"Selamat malam Ar," Anwa membelakangi Arkana.


"Malam Wa," memandang punggung gadis itu.


Kalau saja hubungannya jelas, mungkin saat ini tubuh itu sudah berada di pelukannya. Arkana mencoba menghilangkan pikiran itu, tidak ada salahnya untuk bersabar lebih lama lagi.


"Wa."


"Tidur Ar."


"Gue belum ngantuk,"


"Nanti," Arkana membalikkan tubuh gadis itu menghadap dirinya, "hadap ke sini aja tidurnya, jangan belakangi gue."


"Kenapa?"


"Gak papa, tidurlah." Netra itu menatapnya sendu.


"Aku tidur ya," Anwa memeluk guling lalu memejamkan matanya kembali, kantuk itu luar biasa mungkin pengaruh obat yang ia minum tadi.


Hembusan nafas halus terdengar, Arkana masih memandangi gadis berambut keriting itu, helaian rambut yang menutupi wajah gadis itu, pelan-pelan disingkirkannya.


"Mimpi indah, Wa."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sinar matahari pagi menyeruak melalui celah tirai jendela, dua pasang manusia yang hanya memiliki status teman itu sekarang sudah saling berpelukan.


Arkana menjadikan lengannya sebagai bantalan untuk kepala Anwa, sedangkan Anwa sudah melingkarkan tangannya pada pinggang Arkana.


Detak jam dinding halus terdengar, sebagian penghuni kost sudah mulai ramai di luar sana melakukan aktivitasnya.


Anwa meregangkan otot tubuhnya, merasa sadar kalau dia tidak tidur sendiri malam tadi, segera menyingkirkan tangannya dari tubuh Arkana. Sayangnya Arkana cepat menyadari itu, cepat-cepat tangan itu ia tahan.


"Biar begini dulu, gue suka... ternyata lo kalo tidur suka usel-usel ya," ujarnya dengan suara khas bangun tidur.


"Ar," Anwa menolak.


"Sebentar doang Wa, gak gue apa apa in kok, buktinya semalem kita damai-damai aja kan?"


Anwa tersenyum, dibiarkannya Arkana menahan tangan diatas perutnya, dibiarkannya pula lelaki itu mengecupi pucuk kepalanya.


Hubungan macam apa ini? tapi aku suka lirihnya dalam hati dengan sudut bibir yang mengembang.


"Tawaran kencan kemarin masih terbuka?" tanya Anwa malu-malu.


Arkana tersenyum mendengarnya. "With pleasure, baby."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore itu di basemant apartemen Arkana, setelah menghabiskan seharian membantu Arkana merapihkan apartemennya, menambah beberapa ornamen di dalam apartemen itu, Anwa meminta Arkana untuk mengantarkannya pulang lebih cepat.


"Kenapa buru-buru sih Wa, biasanya juga malam gue anterin balik kan," ujar Arkana meletakkan kepalanya pada tangan yang bertumpu di kemudi.


"Aku lupa ada laporan yang harus aku siapkan buat meeting bapak besok pagi, Ar," jawabnya.


"Gak bisa dikerjain malem?"


"Kalo sampe malem aku kerjain itu artinya aku begadang lagi, kamu gak kasian?"


"Kasian sih," ucapnya lalu merapikan rambut Anwa, "mana iketannya? udah lama gak nguncirin rambut keriting ini," dengan santainya lelaki itu mendekatkan tubuhnya pada Anwa.


Kontak fisik seperti ini yang selalu membuat Anwa merasakan gelenyar-gelenyar yang menggelitik di sekujur tubuhnya.


"Nah kan kalo gini enak liatnya," ujar Arkana memandangi leher jenjang itu.


"Enak di liat siapa? perasaan biasa aja."


"Enak di liat sama gue," berbisik lembut di telinga gadis itu.


Kemudian mereka saling tatap, Arkana memiringkan wajahnya sedikit, mengendusi wangi parfum Anwa, di sepanjang leher jenjang tadi. Memberanikan diri mencium leher itu membuat tubuh Anwa menegang.


"Ar."


"Hhmm."


"Ada yang liat," ucap Anwa pelan.


Arkana mengangkat wajahnya. "Sepi, kita di basemant."


Mata itu kembali menatap bibir Anwa yang merah alami, lalu ********** kecil-kecil, melepaskan sebentar, lalu saling membalas, meraup kelembutan, menjalari rongga mulut yang sedikit terbuka, tangan Anwa memilin milin ujung kaos yang Arkana pakai. Berhenti sebentar untuk mendapati oksigen, lalu memulainya kembali.


Kening mereka masih menyatu, mencoba menetralkan deru nafas yang sempat panas tadi, bibir manis dan hangat keduanya kembali bersatu untuk kesekian kalinya, hingga Arkana berkata,


"I'm sorry, i make a beautiful mistake," ujarnya tersenyum dan mengusap bibir yang basah itu dengan jemarinya.


Wajah cantik itu kembali merona...


***jangan bully akuuu yaaah alur ceritanya memang seperti ini... teman tapi mesra gaeeesss


jejaaaak gengs jejaaaknya manaaah 😘***