
"Hubungan kita ini apa, Wa?" tanya Arkana, menyematkan rambut Anwa yang tertiup angin.
Gadis itu tak menjawab.
"Wa."
Masih dengan diam, melepaskan tangan Arkana dari pipinya.
"Ar, jangan tanya itu ya ... jangan sekarang," ujarnya meraih tangan Arkana untuk meninggalkan tepi pantai.
"Pulang?"
Anwa mengiyakan.
"Ke kost apa apartemen?" ujarnya mengerling nakal.
"Mau nya kamu itu mah, pulang ke kost aja, aku mau tidur."
"Gue temenin," ujarnya terkekeh lalu mengaduh karena cubitan dari Anwa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bunyi dering ponsel sore itu, Anwa menekan tombol hijau pada ponselnya "Bunda".
"Iya Bun, apa kabar?"
"..."
"Wawa pasti pulang Bun, Bunda tunggu aja, Wawa udah mengajukan cuti, mudah-mudahan bisa segera pulang."
"..."
"Bunda sehat?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Hampir tiga tahun Anwa tak pulang mengunjungi keluarganya. Hatinya pun masih terasa sakit menerima kenyataan yang bertubi-tubi. Kematian sang kekasih, dan kasus korupsi yang dilakukan oleh ayahnya.
"Iya, Wawa pulang, Bunda sehat-sehat ya."
Percakapan pun diakhiri dengan usapan air di matanya.
Rencananya Anwa memang akan pulang untuk menjenguk sang Bunda yang dikabarkan sakit beberapa hari kemarin, namun sayangnya pekerjaan Anwa tidak bisa ia tinggalkan.
Anwa berasal dari keluarga yang berada, ayahnya bekerja sebagai kepala dinas perdagangan di sebuah kabupaten di propinsi Lampung. Hingga tiga tahun yang lalu sang Ayah terjerat dalam kasus korupsi yang menyeret namanya.
Sangsi sosial yang Anwa dan keluarganya rasakan membuat Anwa memutuskan untuk tidak pulang ke daerahnya.Hingga kabar beberapa hari yang lalu datang.
"Neth, kita ke Kokas yuk," ajak Anwa sore itu pada Aneth teman kost nya, "temenin aku cari kemeja sama bawahan buat kerja, sama mau cari oleh-oleh buat Bunda dan Malik di rumah."
"Asiiiik, udah gajian nih," ujar Aneth semangat, "Eh, lo mo balik?"
"Iya, rencananya besok pagi, aku udah pesen tiket travel."
"Siap lah, kalo gitu gue siap-siap dulu ya, by the way naik motor gue kan?" Anwa mengiyakan.
Motor Scoopy itu membawa mereka ke salah satu pusat perbelanjaan di ibukota. Setelah mendapatkan beberapa pakaian yang ia cari, Aneth menarik Anwa agar mengikutinya untuk mencari flatshoes di salah satu store di sana.
Bukan sepatu yang Anwa dapat tetapi matanya tertuju pada seseorang yang ia kenal bersama seorang gadis, sedang tertawa dan begitu akrab.
"Wa, yang ini buat kaki gue bagus gak warnanya?" panggil Aneth ketika bertanya pada Anwa, Aneth mengikuti pandangan mata gadis itu tertuju pada seseorang yang seingatnya lelaki itu sering bersama Anwa.
"Wa," panggil Aneth lagi memegang pundaknya.
"Eh, iya Neth," ujarnya terkejut.
"Mau pulang atau gimana?" Aneth menyadari perasaan sahabatnya.
Netra itu pun tak sengaja menangkap pandangan gadis berambut keriting itu. Arkana mendekat ke arah Anwa, sedangkan Anwa mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Kita pulang aja Neth, udah selesaikan?"
"Gue? udah ajalah besok ke sini lagi gampang," meletakkan flatshoes yang ia pegang.
Membalikkan tubuhnya dengan meremas tangan Aneth.
"Santai aja Wa, jangan keliatan lo gugup," ujar Aneth menguatkan.
"Wa," suara itu terdengar di balik tubuhnya.
Anwa membalikkan tubuhnya, "Hai Ar," sapanya.
Keadaan canggung menyelimuti mereka.
"Kok kesini gak bilang?" ujar Arkana.
"Maksudnya?"
"Kan bisa gue temenin,"
Rasanya ingin berdecih mendengar kata-kata lelaki yang seminggu lalu mengajaknya kencan itu.
"Tadi kita udah janjian kok," Aneth bersuara.
Gadis cantik yang berada di samping Arkana pun berdehem, menandakan jika ia ada di sana. Seakan sadar Arkana menoleh pada gadis itu.
"Kenalin, Wa." ujarnya
Gadis itu menjulurkan tangannya dan tersenyum ramah, "Alya."
Benar yang dikatakan oleh Ibu Ema kala itu, gadis ini begitu sempurna.
"Oh, aku Anwa," Anwa menyambut uluran tangan Alya, "ini temen aku, Aneth," ujarnya menyikut perut Aneth agar menyambut uluran tangan Alya.
"Teman Arkana?" tanyanya lembut.
"Anwa ini --- ," perkataan Arkana terpotong.
"Eh, iya teman, kebetulan aku staff Bapak Fajar."
Alya mengangguk angguk mengerti.
"Kita duluan ya, udah hampir malam, takut hujan juga," ujar Anwa tak enak hati.
"Wa...."
"Duluan ya Ar," Anwa mengulas senyum lalu berbalik untuk keluar dari keadaan itu.
(aku dengerin Waktu yang Salah~Fiersa Besari)
"Wa, kita pulang?" tanya Aneth.
"Enaknya kemana ya Neth? ke taman kota aja Neth," ajaknya "pulangnya malem-malem ya."
Menyusuri ibukota di waktu senja menjelang malam, lampu-lampu yang menerangi jalan serta gedung-gedung sebagai penghiasnya.
Bukan tanpa alasan Anwa mengajak Aneth tidak langsung pulang, dan pulang malam-malam. Karena Anwa tahu benar bahwa Arkana akan datang menemuinya, menunggunya sampai ia datang, dan Anwa belum ingin bertemu untuk saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang itu Alya menghubunginya untuk bertemu sebelum ia kembali ke UK. Arkana menyanggupi karena memang dia sudah berjanji.
Alya mengajak Arkana ke salah satu mall untuk mencari sesuatu yang akan di bawa nya esok hari.
Pandangan mata Arkana tertumpu pada sesosok gadis yang melihatnya berdua dengan Alya di salah satu store.
Tahu akan apa yang dipikirkan oleh Anwa, Arkana mencoba mendekat. Anwa yang sudah merasa tak nyaman apalagi saat dikenalkan dengan Alya memutuskan untuk pergi meninggalkan Arkana dengan perasaan yang campur aduk.
"Pacar kamu?" tanya Alya.
"Calon pacar," jawab Arkana tersenyum tipis.
"Wah, salah banget aku ya," Alya merasa bersalah.
"Gak papa, Anwa anaknya easy going."
"Tapi aku gak liat itu di wajahnya tadi Ar ... aku rasa dia cemburu," ujar Alya lagi lalu menepuk pundak Arkana.
"Balik yuk, anter in aku pulang, setelahnya kamu harus nemuin Anwa, takut salah paham, ambyar pedekatenya aku yang gak enak," gadis itu tertawa.
"Bisa aja."
"Aku kira kamu bakal gagal move on Ar," ujar Alya saat perjalanan pulang.
"Tadinya ... the man who can't be moved," ujar Arkana masih memandang lurus ke depan, "tapi setelah ketemu Anwa, aku ngerasa kayaknya aku udah nemuin apa yang aku cari," menoleh pada Alya.
Alya terdiam. "Maafin ya Ar."
"Untuk apa?"
"Untuk yang dulu," seakan mengingatkan perpisahan mereka saat itu.
"Aku rasa, sekarang yang gagal move on kamu Al." Mereka pun tertawa bersama.
Hidup itu pilihan, dan Arkana jelas sudah memilih gadis yang hampir satu tahun ini berada di dekatnya, menghapus air mata gadis itu, dan perlahan menyimpan kisah masa lalu mereka yang sama-sama menyakitkan.
Mobil melaju menuju kost Anwa, saat itu waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Belum terlalu untuk bertamu, Arkana mempercepat laju kendaraannya.
Ketukan berkali-kali di pintu kamar Anwa tidak mendapatkan jawaban. Harusnya gadis itu sudah pulang sekitar jam tujuh tadi, tapi mengapa tidak ada kehidupan di dalam kamar kostnya.
"Cari Anwa?" ujar seorang gadis yang keluar dari kamarnya.
"Iya, Mbak."
"Tadi keluar sama Aneth dari sore, kayaknya mereka belum pulang."
Arkana menghela nafas, sudah terlalu malam untuk dua orang gadis masih berada di luar.
"Mau di tunggu?"
"Saya tunggu di mobil aja Mbak," ujar Arkana.
Dua jam menunggu, sudah pukul sebelas malam Anwa belum juga nampak, ponselnya juga tak aktif. Arkana memutuskan pulang dan mencoba akan datang lagi besok pagi.
•
•
"Makasih ya Mbak Ika," ujar Anwa keluar dari kamar Aneth.
***siapa disini yang kalo lagi marahan ngumpet dikamar kos temennya😂😌
jejak darliiiing***