
Pagi ini Anwa sudah menunggu mobil travel yang akan membawanya pulang ke Lampung. Satu travel bag dan backpack berisi oleh-oleh untuk keluarganya.
"Aku pulang dulu ya Neth," ujarnya menautkan kedua pipinya pada Aneth.
"Ati-ati Wa, kabarin kalo udah sampe ya."
Anwa masuk ke dalam mobil travel dan Aneth melanjutkan untuk berangkat ke kantornya.
Perjalanan Jakarta Lampung membutuhkan waktu sekitar lima sampai enam jam dan butuh dua jam setengah lagi untuk sampai ke kabupaten dimana Anwa tinggal.
Travel itu berhenti di sebuah rumah besar yang mulai lusuh tak terurus, pagarnya yang sudah berkarat, tanaman yang sudah tak tertata rapih seperti dulu.
Ayah Anwa adalah seorang pegawai negeri sipil, jabatannya terakhir adalah kepala dinas perdagangan, hingga suatu keadaan yang membawa sang ayah berada di dalam lingkaran setan yang tak pernah puas dengan hasil yang ia dapat. Walaupun mendapatkan hukuman yang tak terlalu berat, setelah tiga tahun Ayah Anwa keluar dari penjara, hanya sangsi sosial yang akan mereka dapat seumur hidup.
Iya, Anwa si anak koruptor. Dulu sering ia dengar julukan itu, belum lagi Malik yang saat itu masih SMA, masih labil. Keadaan keluarga membuat Malik sempat berhenti sekolah. Keluarga mereka kacau berantakan, Bunda hanya bisa meratapi nasibnya menjadi istri seorang koruptor.
Sampai akhirnya setelah menyelesaikan kuliahnya Anwa memutuskan untuk tinggal di ibukota, mencari pekerjaan untuk membiayai kehidupannya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
(aku dengerin Bertaut ~Nadin Amizah)
Dan disinilah dia, berdiri di depan pagar yang sudah berkarat. Memasuki halaman rumah itu, mengetuk pintu dengan cat berwarna putih yang sudah lusuh.
"Assalamualaikum," salamnya.
"Ayuk Wawa..." pemuda berwajah manis dengan gitar di tangannya terkejut melihat Anwa di ambang pintu. "Ayuk?" ujarnya meletakkan gitar dan melangkah cepat memberikan pelukan hangat pada Anwa.
"Malik," mata Anwa berkaca-kaca.
"Ayuk, gak bilang mau pulang."
"Ayuk bilang ke Bunda, tapi gak ngasih tau kapan pulangnya," ujar Anwa mengusap air matanya, "kamu tinggi banget." Memperhatikan Malik yang tinggi tubuhnya membuat dia harus mendongak.
"Ayo, Bunda di kamar, dari kemarin sakit, dokter bilang tekanan darah Bunda naik, mungkin kangen Ayuk Wawa."
Mereka masuk ke kamar besar yang tak pernah berubah dengan harum khas sang Bunda.
"Bunda ...."
"Wawa ...."
Kedua wanita berbeda usia itu berpelukan melepas rindu, saling menghapus air mata satu sama lain. Kerinduan bertahun-tahun yang tertahan.
"Kok gak bilang kalo Wawa pulang hari ini? kan Bunda bisa masakin Wawa makanan kesukaan Wawa," ujar sang Bunda.
"Surprise biar Bunda cepet sembuh," ujarnya mencium pipi Bunda.
"Malik, sini... gimana kuliah?"
"Lagi skripsi, doain cepet kelar ya, biar bisa cepet dapet kerja, Malik pengen cepet-cepet pergi dari sini."
Anwa mengulas senyum, ia tahu betul rasanya menjadi Malik, harus bertahan agar bisa menjaga Bunda sementara Anwa di ibukota.
"Ada siapa?" suara bariton itu memasuki kamar.
Anwa menoleh ke asal suara. "Ayah," ujarnya mencium punggung tangan lelaki yang sudah terlihat tua itu.
"Wawa, pulang?" lelaki itu menatap sendu, lalu memeluk sang putri.
"Iya, Wawa pulang Ayah."
Dulu, keluarga ini begitu harmonis, jarang selalu ada permasalahan hidup dalam rumah tangga kedua tua orang Anwa. Entah bagaimana ceritanya semua bisa berubah karena kesalahan fatal sang Ayah. Dan jujur saja, baru-baru ini saja Anwa sudah bisa memaafkan semuanya.
"Kita sambut Anwa pulang Bun, masak apa atau beli apa di luar," ujar sang Ayah bersemangat, "beli pempek-pempek? atau bakso Soni yang terkenal itu? atau Wawa mau yang lain? Wawa bilang ke Ayah."
"Wawa gak pengen apa apa Ayah, kasian Bunda, biar Bunda istirahat dulu."
"Ya sudah kalo gitu Ayuk Wawa istirahat dulu juga di kamar ya," ujar Malik.
Ayah Bunda pun memberikan waktu untuk anaknya beristirahat terlebih dahulu.
"Makasih Yuk," Malik begitu senang.
"Ini buat Bunda, nanti taro di kamar bunda ya," ujarnya memberikan satu paperbag berisi baju gamis. "Dan ini buat ayah," satu kotak berisi sandal kulit berwarna coklat.
"Ayuk," ujar Malik duduk di sisi Anwa, "makasih ya, Ayuk udah menyisihkan uang buat kuliahan Malik sampai saat ini."
"Sudah tugas Ayuk, Malik gak usah mikir yang berat-berat, cukup kuliah, cepet selesai dan jadi orang yang beruntung, biar sukses," ujarnya tersenyum membelai lembut kepala pemuda itu.
Percakapan mereka berlangsung lama, Malik menceritakan keadaan Bunda dan Ayah beberapa tahun belakangan. Bunda yang harus mencari orderan untuk nasi kotak dan Ayah yang harus menjadi supir panggilan apabila ada yang membutuhkan jasanya.
Hidup itu berputar bukan? ada kalanya kita berada di atas dan ada kalanya kita juga akan merasakan berada di bawah. Semua seperti roda yang selalu berputar sesuka hati.
Sekelumit hidup keluarga Anwa yang harus tetap mereka hadapi dan jalani. Belum lagi sangsi sosial yang harus mereka terima, banyak yang melupakan dan masih banyak pula yang bertahan untuk mencibir. Bukan kah Tuhan saja memaafkan, hambanya sudah berusaha untuk kembali ke jalan yang benar, namun masih banyak yang memandang sebelah mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seharian itu Arkana harus merelakan waktunya untuk bertemu dengan sebuah Wedding Organizer yang kembali mengadakan kerjasama dengan restorannya.
Baru menyempatkan diri untuk mengunjungi Anwa di sore hari seperti biasa. Menunggunya di depan kantor setelah satu jam yang lalu menghubungi ponselnya tetap tak aktif.
Arkana merasa perlu untuk menjelaskan semua yang terjadi kemarin sore setelah pertemuan Anwa dengan dirinya dan Alya.
Diurungkan niatnya untuk masuk ke kantor Anwa mengingat sang Ayah pasti berada di sana. Dan menunggulah yang dilakukan oleh Arkana, sampai dengan menjelang Magrib gadis itu tak pernah terlihat.
Memutuskan untuk menuju kost Anwa, mengetuk pintu kamar yang tak ada sambutan seperti biasanya.
"Cari Anwa?" tanya Aneth.
"Eh iya, Anwa ada?" tanya Arkana.
"Emang gak ngasih tau lo?" Arkana menggeleng.
"Emang kemana?" kali ini dia balik bertanya.
"Anwa pulang tadi pagi," ujar Aneth mendekati Arkana yang berdiri di depan kamar Anwa.
"Pulang?"
"Iya ke Lampung."
Arkana terdiam. "Lo tau alamatnya?"
Aneth mengangkat bahunya.
"Gak tau?" tanya Arkana memastikan.
Aneth menggelengkan kepalanya.
"Gue cuma tau dia pulang ke Lampung, gak tau tepatnya dimana, cuma kalo daerahnya dia pernah bilang namanya KotaBumi,"
"Gak tau ya tepatnya dimana? mungkin gak lo tanya sama dia alamatnya," Arkana berusaha meyakinkan gadis di depannya.
"Sebentar ya," Aneth berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Dan kembali dengan membawa potongan kertas koran yang sudah terlipat lipat dan terlihat lusuh.
"Ini," ujarnya menyodorkan potongan kertas koran itu, "itu nama bokap dia, lo bisa cari di internet, bokap Anwa tersangka kasus korupsi di daerahnya, mungkin lo bisa dapetin alamat pastinya melalui nama bokapnya, ngerti kan maksud gue," ujar Aneth lagi.
Setelah berterimakasih pada Aneth, Arkana kembali ke apartemennya, membawa satu buah koper berisi pakaian dan semua perlengkapannya selama berada di Lampung nanti.
Dengan informasi yang dia dapat dari sepenggal nama sang Ayah gadis itu, akhirnya Arkana mengetahui dimana keberadaan Anwa. Pukul sebelas malam itu juga dia melajukan mobilnya menuju Merak untuk sampai ke Lampung.
*Ayuk \= Kakak \= Mbak
***cieeeeh di susulin sama Abang 😘
jejaaaak bebs***