Kiss Me

Kiss Me
Pertemuan kecil



Gadis itu bernama Alya, dia melangkahkan kakinya memasuki sebuah restoran dengan ornamen eropa yang didekorasi cantik. Penuh bunga, wangi, putih, dan terlihat khusuk.


Pria itu, yang pernah mengatakan pernah mencintainya, kini duduk dengan senyumnya yang paling manis. Arkana bahagia.


Alya tahu, Arkana bahagia.


Dia melangkah anggun, berjalan menuju sepasang kekasih yang sekarang sudah berstatus menjadi suami dan istri.


Wanita di sebelah lelaki yang pernah ia cintai itu begitu manis, punya sejuta pesona, senyum yang tulus, mata yang indah. Selera Arkana tak pernah berubah.


Setelah mengucapkan selamat dan berbincang sebentar Alya meninggalkan pasangan yang berbahagia itu. Tidak ada sedikitpun niatnya untuk membuat suasana hati mempelai wanita itu menjadi rusak karenanya, namun Alya tahu Anwa bukan wanita yang tidak berpikir secara rasional, gadis itu tahu Arkana tak akan salah pilih pendamping hidup.


"Semua ada waktunya. Pertama, untuk yang dateng, kedua untuk yang pergi. Kenalin, gue Rozak. Gue yang pertama gue sebut tadi."


Lelaki itu menyodorkan satu gelas minuman untuk Alya.


Perkenalan tak terduga di tempat yang tepat. Di sinilah mereka, berbincang dan tertawa. Perkenalan singkat ya hanya sesingkat itu.


Dari kejauhan seorang gadis memakai dress berwarna pink menatap lelaki yang tak sengaja ia temui di kafe Arkana beberapa minggu lalu, sempat terbesit olehnya untuk menghampiri namun kadang kenyataan tak seindah bayangan, Zurra harus mengurungkan niatnya ketika lelaki itu menyodorkan satu gelas minuman pada gadis yang dulu pernah berada di hati sepupunya, Arkana.


Zurra mundur teratur, dia tahu betul pesona Alya. Gadis dengan kesempurnaan yang haqiqi, pintar, cantik, dengan tubuh proporsional. Ah, jika di sandingkan dengan dirinya sungguhlah sangat jauh.


Zurra membalikkan tubuhnya, berbaur dengan relasi yang lain. Rozak, lelaki yang adalah seorang teman bisnis sepupunya, menyunggingkan senyum ketika melihat Zurra.


"Ketemu lagi kita," ujar Rozak.


Zurra membalikkan tubuhnya, Rozak pun tersenyum.


"Oh, hai ...," Zurra salah tingkah.


"Zurra kan?"


"Yup ... apa kabar?"


"Baik ... basa basi banget ya," ujar Rozak yang di sambut tawa oleh Zurra.


"Ngobrol di sana yuk," ajak Rozak menunjuk tempat di sisi kolam renang.


(spoiler pertemuan Zurra dan Rozak, selanjutnya kalian bisa baca partnya di Mr&Mrs Trina author storyby Gallon dijamin keren)


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ar, lihat deh," kata Anwa memberitahu pada Arkana saat melihat Zurra dan Rozak sudah berada di tepi kolam.


"Biarin aja, lagi si Rozak anaknya asik kok, sopan juga."


"Kayaknya," Anwa memicingkan matanya.


"Kok gitu?"


"Sopannya cowok itu kayak apa sih sebenarnya? kamu aja sopan masih suka grepeh-grepeh," ujar Anwa mencebik.


"Loh ... loh, kenapa jadi aku?" Arkana terkekeh. "Kalo aku grepeh sama calon istri aku sendiri kan gak papa."


"Iya kalo jadi istri kalo udah di grepeh ternyata gak jadi istri ... ish, banyak tau kejadian begitu."


"Nah kalo gitu salah siapa?" Arkana semakin tertawa, "udah dong Wa, kita lagi di momen bahagia loh ini, bahasnya yang begitu." Arkana merengkuh pinggang istrinya, "mumpung gak ada yang lihat." Lelaki itu sudah ******* lembut bibir yang sedari tadi menggodanya.


Balasan ciuman pun Anwa berikan, tangan Arkana meraba punggung Anwa yang terbuka lebar, Anwa menautkan kedua tangannya pada leher Arkana.


"Aku pengen bawa kamu cepet-cepet ke hotel Wa," bisik Arkana.


Anwa mendesah pelan. "Ar, kita di liatin orang," ujar Anwa saat dia melepaskan ciuman itu semua mata tamu undangan menatap mereka, semua bersorak kegirangan melihat tontonan gratis dari pasangan pengantin baru.


"Aku malu, Ar." Anwa bersembunyi di balik tubuh lelaki itu, Arkana pun tertawa.


Secara bersamaan semua orang yang hadir di sana berseru, "we want more ... we want more ...we want more." Wajah Anwa merona merah, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Arkana masih tertawa.


"Wa ... di suruh lagi tuh, ayo."


"Arkaaaaan ...." bertubi-tubi pukulan mendarat di punggung lelaki itu.


Mata itu saling menatap, menyatukan kening mereka, Arkana kembali mengusap bibir yang sudah basah karena ulahnya.


"Kita ke hotel ya setelah ini," bisik Arkana lirih.


Malam semakin larut, satu per satu tamu undangan pun sudah kembali. Hanya yang tertinggal hanya keluarga inti.


"Malam pertama, bro?" ujar Kala yang saat itu sudah berada di samping Arkana.


"Ya iya lah," jawab Arkana sombong. "HALAL gue udah."


"Sombong lo," ujar Kala menarik lengan tunangannya, "kita sebentar lagi kan Sayang?" gadis manis itu hanya tersenyum malu.


"Halalin Kal, kalo dah halal lega loh," Arkana terkekeh.


"Ayo, kita kalo mau balik ke hotel, udah pada capek juga pasti," Fajar memberikan komando.


Semua pun menyetujuinya, hotel yang mereka booking tak jauh dari restoran milik keluarga mereka ini.


"Ar," panggil Mima Jingga.


"Ya, Mima."


"Ini buat kamu, buat bulan madu kamu sama Anwa tiga hari ke depan," kata Jingga.


Arkana membuka amplop berwarna putih yang berisi tiket perjalanan dan resort di sebuah pulau selama tiga hari.


"Ya ampun, Mima ... makasih," ujar Arkana memeluk wanita yang masih sangat terlihat cantik dan anggun itu.


"Pergunakan dengan semaksimal mungkin," ujar Langit menggerakkan matanya.


"Pasti," Arkana pun tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pintu hotel itu baru saja tertutup rapat, Arkana melakukan gerakan cepat meraih pinggul Anwa mendekat padanya, tangannya sudah mehana tengkuk istrinya, ******* itu semakin lama semakin liar.


Seakan berburu dengan waktu, mereka saling melucuti pakaian. Anwa dengan cepat membuka kancing kemeja Arkana, menarik sabuk dari pinggang lelaki itu, membuang kemeja itu ke sembarang tempat.


Anwa melanjutkan kembali aksi ciuman liar mereka, meremas rambut lelaki itu yang tadinya tersisir rapih. Desahan kecil keluar dari mulutnya.


Arkana menyusuri leher jenjang gadis itu, perlahan namun pasti lengan dress pengantin Anwa sudah melorot ke bawah. Anwa yang memakai dress pengantin dengan punggung terbuka itu pun dengan mudahnya Arkana lucuti, terlebih gadis itu tak memakai pembungkus dada.


Mereka masih berdiri dengan posisi Anwa bersandar di dinding kamar di dalam kungkungan Arkana. Arkana mengamati setiap jengkal lekuk tubuh gadis itu, gaun pengantin itu sudah berada di pinggul Anwa, mungkin sekali hentakan tangan Arkana gaun itu akan turun ke bawah.


Arkana masih memandanginya, walau ini buka pertama kalinya mereka bercumbu dengan keadaan tubuh tanpa benang sekalipun, namun debaran jantung itu seakan ingin meloncat keluar.


"Aku suka ini Wa," ujar Arkana meremat salah satu dadanya.


"Sakit Ar ...," Anwa meringis.


"Aku juga suka ini Wa." Arkana memberikan tanda kemerahan di leher gadis itu. Lenguhan lembut dari Anwa begitu membangkitkan gairah Arkana.


Arkana menurunkan gaun pengantin itu, dengan cepat Arkana juga menurunkan celana panjang yang ia pakai sehingga mereka hanya memakai penutup bagian bawah saja. Di tuntunnya Anwa menuju tempat tidur yang sudah bertabur mawar berwarna merah itu.


Kembali di lumatnya bibir Anwa, disusurinya kembali sampai dengan dada gadis itu. Arkana perlahan mendorong pelan tubuh istrinya untuk berbaring tanpa melepaskan ciuman mereka.


Mata yang saling menatap, napas yang saling memburu, kedua tangan Arkana sudah menangkup kedua pipi istrinya. Arkana mengusap lembut bibir itu, mengecupinya kembali.


Lalu menatap Anwa kembali, seakan memberikan isyarat...


"Kamu siap untuk pertemuan kecil mereka?"


***siaaaap gaaaak????


taburi aku dengan bunga-bunga kalian, vote aku jika tiket kalian masih ada... jangan lupa like dan komen aku tunggu 😘


lanjut gaaaak???


besok aja yaaaah***