Kiss Me

Kiss Me
Kamu rumah buat aku, Wa.



Anwa masih memandang ke arah luar balkon, menghindari tatapan tajam mata Arkana sekaligus menahan air matanya.


"Aku antar pulang," Arkana membuka pintu kamarnya berjalan lebih dulu dengan wajah yang kesal menahan amarah.


Anwa menuruni tangga berpapasan dengan Naya yang sepertinya mendengar keributan mereka tadi.


"Pulang Kak Anwa? gak jadi tidur di sini?" tanyanya.


"Aku pulang ya Nay, pamit ke mama ya," ujar Anwa menyusul Arkana yang sudah berada di luar.


"Kak ...," panggil Naya, "sabar ya." Naya mengulas senyum di balas anggukan oleh Anwa.


Anwa masuk ke dalam mobil, mobil itu melaju menembus malam, tidak ada percakapan yang ada hanya wajah Arkana dengan rahang yang menegang.


Jarak tempuh hampir satu jam, mobil itu terparkir di basemant apartemen Arkana. Tidak ada pertanyaan dari Anwa kenapa ke apartemen? kenapa gak pulang ke kost? Iya, Anwa menghindari pertanyaan itu dia sudah malas memperpanjang masalah, terserah mau Arkana seperti apa dia sudah tidak ada lagi keinginan meneruskan perdebatan mereka.


Yang ada di benaknya sekarang adalah mengistirahatkan tubuhnya, otaknya dan hatinya.


Anwa membuka pintu mobil, berjalan duluan menuju lift. Mereka masih saling terdiam sampai dengan pintu lift terbuka. Anwa melangkah di belakang Arkana, masuk ke dalam apartemen menaruh tasnya di sofa lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Anwa berjalan menuju dapur, menuangkan air ke dalam gelas lalu di bawanya masuk ke ruang tidur mereka, meletakkannya di atas nakas. Naik ke atas tempat tidur, dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Arkana dimana? Arkana masih duduk di sofa, masih menunggu Anwa untuk melanjutkan pembicaraan mereka, namun sepertinya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Anwa kembali mengacuhkannya.


Arkana melangkah menuju ruang tidur mereka, Arkana tahu Anwa belum tidur. Anwa hanya menutup matanya namun tidak dengan pendengarannya.


"Maaf kalo selama ini kamu merasa kalo diri kamu hanya pelampiasan buat aku," ujar Arkana duduk di ujung tempat tidur. "Perlu kamu tau, aku gak pernah punya pikiran seperti itu, ini pure rasa cinta aku sama kamu."


"Aku gak tau bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu, tapi aku minta maaf kalo selama ini memperlakukan kamu dengan tidak baik," kata Arkana lagi.


Anwa hanya diam, dia merasa dia yang salah telah memancing keributan. Tetap menutup matanya dan mendekap guling membelakangi Arkana.


Arkana perlahan naik ke tempat tidur, dengan posisi sama membelakangi tubuh Anwa. Anwa membuka matanya, berpikir bagaimana caranya dia juga harus meminta maaf atas perkataannya yang sudah membuat Arkana kecewa.


Anwa membalikkan badannya, mendekat pada Arkana, memeluknya dari belakang menciumi punggung lelaki itu, mendekapnya sangat erat. Seutas senyum mengembang di sudut bibir Arkana, namun dia tetap diam, merasakan dekapan hangat Anwa.


Dia rindu gadis ini, satu minggu tidur tanpa memeluknya membuat Arkana kacau. Arkana masih tetap diam, tangan yang melingkar itu meraba dadanya.


"Maafin aku Ar," ujar Anwa menciumi tengkuk lelaki itu. "Maafin aku sudah buat kamu kecewa, aku sudah buat kesalahan," katanya lagi.


Di raihnya tangan yang melingkar itu, diciuminya telapak tangan Anwa. Arkana perlahan membalikkan tubuhnya, memandangi wajah gadis yang sudah menunduk, wajah itu tertutup helaian rambut keritingnya.


"Lihat aku ...," Arkana mengangkat dagu gadisnya di tatapnya mata Anwa yang sudah memerah menahan tangis.


"Aku harus apa? biar buat kamu gak marah lagi sama aku," tanya Anwa.


"Kamu gak harus buat apa-apa ... aku cuma pengen kamu tau, kalo aku-- Arkana Putra Fajar saat pertama kali ketemu kamu sudah jatuh cinta, jadi gak ada alasan kamu ngeraguin semuanya dari aku," tegasnya.


"Aku cinta kamu Wa, dari pertemuan tak sengaja kita di kafe waktu itu, aku cinta kamu apa adanya, jadi jangan pernah berpikir seperti yang kamu katakan kemarin."


"Maafin aku, Ar." Arkana membawa Anwa kedalam pelukannya, menciumi pucuk kepala gadis itu, membelai lembut pipinya. Anwa mendongakkan kepalanya menatap Arkana.


"Apa?" ujar Arkana.


"Maafin ya ...."


Anwa mengeratkan pelukannya, mengecupi dada Arkana.


"Kamu mancing aku kalo kayak gini Wa." Arkana tersenyum.


"Aku kangen," ujar Anwa.


"Tumben."


"Kamu bener, gak tidur bareng bikin aku insomnia," ujar Anwa manja.


"Jadi?"


"Jangan marah-marah lagi ya."


"Iya."


"Kamu kalo marah serem Ar."


"Kalo gitu jangan bikin aku marah," ucapnya menyematkan rambut Anwa.


"Aku gak mau," Arkana menggeleng.


"Kata mama itu harus," Anwa membelai dada Arkana.


"Aku gak mau, gak ada pingit-pingitan."


"Kamu yang bilang sama mama ya, pokoknya aku udah bilang sama kamu."


"Mana bisa aku di pingit Wa, gak ketemu kamu seminggu aja aku kayak orang gila."


"Lebay deh."


"Bener, tanya Dion ... habis dia seminggu aku marah-marahin." Arkana terkekeh mengingat seminggu ini dia melampiaskannya pada Dion.


"Kasian Dion," ujar Anwa.


"Gak kasian aku?" Arkana mendekatkan wajahnya.


"Kamu juga gak kasian aku."


Arkana tertawa, diciumnya sekilas bibir Anwa.


"Lagi," ujar Anwa manja.


"Apa?"


"Kiss me," pintanya.


Tak menunggu waktu lama, *******-******* itu mulai beraksi. Rasa rindu satu minggu yang terpendam akhirnya meluap seiring dengan ciuman liar Arkana. Saling berbalas menggigit bibir, saling melilitkan lidah di dalam sana.


Arkana merubah posisi tidurnya, yang kini sudah berada di atas Anwa, kembali menundukkan wajahnya, menyusuri leher jenjang gadis itu, tangan yang sudah lama tak meremat benda kesayangannya itu pun akhirnya sudah berada kembali di tempatnya. Piyama berkancing itu pun sudah terbuka.


"Aku kangen banget Wa," ujarnya berbisik.


Anwa melenguh, mendesah tak berhenti saat Arkana membelai lembut dadanya.


"Kamu rumah buat aku," desah Arkana. "Kamu yang akan membuat aku selalu ingat dimana akhirnya aku harus pulang."


Anwa menikmati setiap sentuhan Arkana, tangan itu membelainya hingga terhanyut. Arkana menciumi perut mulus gadis itu, tangan Anwa meremas remas rambut lelaki itu. Ingin ia tahan namun semua tak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


"Ar."


"Hhmm."


"Aku rasa kita memang harus di pingit."


Arkana menghentikan aktivitasnya, lalu menggeleng.


"Aku gak mau."


"Kalo gak di pingit kita bakal dp duluan Ar," ujar Anwa tersenyum.


"Ok, aku berhenti."


"Yakin?"


"Tuh, kamu yang mancing Wa," ujarnya kembali bermain di atas dada Anwa.


"Aw ... sakit Ar."


"Gemesin Wa," ujar Arkana kembali mengukir tanda kemerahan di dada gadis itu.


"Udah Ar ...," lirih Anwa.


Arkana kembali mengancing piyama milik Anwa. Mengecupi kening gadis itu, mencium sekilas bibirnya lagi. Membawanya kembali dalam pelukannya.


"I love you Wa," ujar Arkana.


"I love you too Ar," jawab Anwa.


i love you guys 😘😘😘


enjoy reading