Kiss Me

Kiss Me
Kiss Me (END)



Usia kandungannya kini berumur tujuh bulan, Anwa tetaplah Anwa ketika sedang mengandung. Tubuhnya tak banyak mengalami perubahan, hanya perutnya saja yang semakin membesar.


"Kawa ... Sayang, jangan jauh-jauh ya," seru Anwa sore itu.


Anak kecil itu sudah berusia hampir dua tahun, Kawa salah satu anak yang tumbuh dengan pemikiran yang dewasa. Seolah selalu tahu yang ia lakukan benar ataupun salah.


"Sayang ...," ujar suara itu, suara lelaki yang sudah memberikan benihnya sebanyak dua kali di rahim Anwa.


"Udah selesai meeting nya?"


"Sudah," ujarnya sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mengusap perut Anwa.


"Ambil Kawa Ar, nanti kejauhan dia mainnya," pinta Anwa agar Arkana mengejar buah hati mereka yang sedang berlarian di bibir pantai.


Arkana berlari mengejar anak kecil yang hanya mengenakan celana boxer Spongebob, menggendongnya seperti karung beras. Sementara Kawa bukannya menangis malah tertawa akan ulang sang ayah.


"Udah yuk mainnya, udah sore," bujuk Anwa pada Kawa.


"Sebentar aku panggil Kadek dulu," ujar Arkana memanggil salah satu pegawainya agar membawa Kawa ke dalam untuk dibersihkan.


"Tolong ya Kadek, kalo udah kelar biasanya dia suka minum susu coklat hangat," jelas Arkana. "Kawa ikut Tante Kadek ya, mandi dulu ... nanti Ayah susulin Kawa ke dalam," ujarnya mencium pucuk kepala sang putra.


Ya, saat ini mereka ada di salah satu restoran Arkana di Bali. Selain urusan pekerjaan, Arkana membawa anak dan istrinya untuk kembali berlibur, seperti babymoon untuk Anwa.


Begitulah mereka, paket lengkap bila kemana-kemana, selalu bersama.


"Sini ...," Arkana mengulurkan tangannya pada Anwa untuk mendekat.


"Kita sampai kapan di sini?" tanya Anwa.


"Kenapa?"


"Kangen rumah," jawabnya.


"Dua hari lagi kita pulang ya ... nikmati aja dulu waktu liburan kita." Arkana menciumi tengkuk leher istrinya, sementara Anwa mengeratkan pelukan suaminya.


"Sayang ...."


"Hhmm," jawab Anwa.


"Kata dokter kemarin jenis kelamin adek kan cowok ... berarti masih ada satu kesempatan lagi buat dapetin cewek," Arkana terkekeh.


"Astagaaa Ar, yang ini aja belom keluar kami udah mikir buat bikin yang cewek," Anwa menggigit lengan suaminya.


"Haha ... loh, gak salah dong ... usaha sampe dapet."


"Kamu gak kasian sama aku, bawa perut gede kemana-mana."


"Gak ... kamu kalo lagi hamil malah tambah seksi," ujarnya mencium pipi wanita itu.


Menikmati sore hari di bibir pantai, sambil memandangi senja yang pergi berganti malam. Begitulah hidup, akan bergantian menyesuaikan takdirnya.


"Masuk yuk ... kasian Kawa nunggu lama," ajak Anwa memutar tubuhnya, lalu mencium bibir suaminya lembut.


Arkana menyambut ciuman itu tak kalah lembutnya, meletakkan tangannya pada pinggang Anwa, dan Anwa melingkarkan tangannya pada leher Arkana. Tanpa memikirkan sekitarnya, mereka bercumbu dengan mesra.


"Mau di sini apa di hotel," sudut bibir Arkana mengembang saat melihat raut wajah sang istri memerah. Ia usap bibir basah istrinya dengan ibu jarinya. "Ini rasanya gak pernah berubah, Sayang." Arkana kembali mencium bibir itu.


"Mau di sini atau di hotel?" Anwa mengulang kata-kata suaminya dan tertawa.


Bergandengan tangan menyusuri bibir pantai menuju restoran milik Arkana, di sana telah menunggu seorang anak kecil tampan yang sedang menikmati susu coklat hangatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu tahun berlalu,


Sore itu wanita yang semakin dewasa itu menjejakkan kakinya memasuki kafe milik suaminya. Tangan kanannya menggandeng seorang anak kecil tampan berumur tiga tahun setengah yang selalu menebar senyum, sedangkan satu tangannya lagi menggandeng seorang anak kecil berumur satu tahun tahun tiga bulan yang sedang aktif-aktif nya berlarian kesana kemari.


Seperti biasa mereka di sambut dengan senyuman para pelayan dan staf di sana.


"Kawa ... sini sama Om Dion yuk," Dion sudah melambai-lambaikan tangannya pada Kawa.


"Dion ... Saka juga mau ikut tuh, gimana?"


"Haha ... sini lah biar Om Dion semua yang urus," jawabnya.


"Cocok sih cocok Mbak, tapi lawannya minggat terus," jawab Dion yang sudah menggendong Saka dan berlalu dari hadapan Anwa.


"Ar ...," sapa Anwa dari balik pintu.


Lelaki itu menoleh ke asal suara, lalu tersenyum dan melambaikan tangan pada istrinya agar mendekat.


"Anak-anak mana?" tanyanya meraih pinggang istrinya untuk duduk di pangkuannya.


"Sama Om Dion ... maen kayaknya di ruangan sebelah sama yang lain juga." Anwa melingkarkan satu tangannya di pundak Arkana.


Arkana memperhatikan penampilan Anwa sore ini, wanita itu mengenakan terusan kemeja tunik berwarna bata dengan flatshoes berwarna cream senada dengan tas tangan yang ia bawa tadi, rambutnya ia kuncir tinggi, polesan makeup nude dan lipsglos membuat bibir itu menarik untuk di cium.


"Kenapa sih liatin terus," ujar Anwa serba salah.


"Kamu kayak wanita yang belum bersuami dan belum punya anak," kata Arkana mencium leher istrinya.


"Sembarangan, anakku dua di depan sana, suamiku ini yang gak bisa liat istrinya nganggur."


Bukan Arkana namanya yang tak memanfaatkan waktu di kala anak-anaknya sedang bersama orang lain. Tangan Arkana sudah masuk di sela-sela paha istrinya, semakin mendekati area sensitif Anwa.


"Ar ...." Tubuh Anwa menegang kala tangan Arkana menyentuhnya.


Anwa melabuhkan ciumannya pada Arkana, dua insan ini seperti tak kenal lelah dalam soal percintaan. Masih sama seperti empat tahun yang lalu. Hasrat mereka masih sama, cinta mereka pun semakin bertambah.


Ciuman itu turun menyusuri leher Anwa, Arkana dengan telatennya membuka satu persatu kancing kemeja tunik itu, membenamkan wajahnya di dada Anwa. Puncak dada yang menjadi kegemarannya sejak dulu untuk bermain berlama-lama di sana.


Satu tangannya sudah dengan lihainya memijat dada yang semakin gempal milik istrinya. Sementara kelakiannya sudah mulai bereaksi.


"Aku mau Wa ... di sini ya?" ujarnya mengangkat tubuh Anwa duduk di atas meja kerjanya.


Tubuh Anwa yang masih berbalut kemeja itu pun hanya disingkapkan oleh Arkana sementara penutup dadanya di tarik keatas oleh lelaki itu. Ciuman itu tak sedikitpun terlepas, tangannya masih asyik memainkan pucuk dada sang istri, hingga ...


"Bundaaa ... aku mau pergi ya sama Om Dion, mau di beliin coklat," ujar Kawa yang menerobos masuk ke dalam ruang kerja sang ayah.


Cepat-cepat Anwa merapikan kemejanya, menurunkan penutup dadanya, lalu mengikat kembali rambutnya yang sudah acak-acakan.


Sementara Arkana menetralkan degub jantung dan miliknya yang tiba-tiba terasa sedikit berdenyut karena ulah sang anak yang membuatnya harus menahan rasa itu.


"Kawa mau kemana Nak?" tanya Anwa.


"Mau ke supermarket ... Om Dion mau beliin Kawa coklat, boleh ya Bun," ujarnya dengan wajah meminta.


Anwa mengangguk, "jangan lama-lama ya."


Kawa hanya mengacungkan ibu jarinya. "Hei ... kiss me," ujar Anwa menepuk pipinya dengan jari telunjuk.


Arkana melihat interaksi ibu dan anak itu, bahagianya ia mendapati istri yang begitu mencintai keluarga kecil mereka. Anwa selalu memberikan yang terbaik untuk Arkana dan kedua anak mereka, begitu pun untuk keluarga besar kedua belah pihak.


"Masih mau lanjut lagi gak?" tanya Arkana menggoda Anwa.


"Gak ah ... di rumah aja, nanti malam ya," ujarnya mencium sekilas bibir suaminya.


"Sayang ...."


"Iya," jawab wanita itu saat meraih tas tangannya.


Arkana merengkuh pinggang mungil yang tak berubah itu dari saat pertama kali ia menyentuhnya.


"*I love you."


"I love you too*, Ar ... selalu sampai kapanpun." Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Arkana.


"Kiss Me." Arkana menarik dagu itu, menyatukan bibir mereka, menciumnya dengan lembut lalu mengusapnya perlahan.


"Aku cinta kamu, Wa."


E.N.D


kita tidak akan pernah tahu jalan hidup seseorang, rejeki, maut bahkan jodoh sudah Tuhan tuliskan pada kita di saat hembusan pertama nyawa kita di dalam rahim seorang wanita.


Chida ❤️


Jangan lupa berikan like, sebarkan bunga dan secangkir kopi serta tiket vote bila berkenan untuk akhir karya ini.