
Tangan gadis itu masih mengetuk ngetuk meja kerjanya, sesekali ia membenarkan kacamata yang bertengger di hidungnya. Arkana yang merasa seperti di interogasi KPK layaknya tersangka pencucian uang menjadi serba salah.
"Tapi kalo jodoh gak kemana sih Ar," ujar Ibu Ema lagi.
Buset ini Ibu Ema kayak emak emak komplek yang kalo ngomong gak bisa di rem kesalnya dalam hati sambil melirik Anwa.
"Eh, iya Bu," jawab Arkana.
Pintu ruangan kerja sang ayah akhirnya terbuka, seorang lelaki gendut dengan setelan jas berwarna hitam berjabat tangan dengan Pak Fajar, lalu tersenyum kepada Ibu Ema dan memandang penuh arti pada Anwa yang menunduk memberi hormat.
"Mari Pak Fajar, lain kali kita lanjutkan kembali diskusi kita, mungkin makan siang bersama mungkin ide yang baik," lelaki itu melirik pada Anwa.
"Dengan senang hati Pak Robby, terimakasih undangannya," balas Fajar.
Setelah lelaki itu berlalu, sang ayah terkejut melihat anak yang sudah bertandang di kantornya.
"Ar, kamu ngapain kesini?"
"Iseng aja Pa, tadi kebetulan lewat, jadi Arkan mampir." Mengikuti langkah kaki ayahnya memasuki ruang kerja.
"Oh ya Bu Ema, kita ada meeting lagi jam berapa?" suara Fajar menggema di ruangannya.
Ibu Ema tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan itu.
"Hari ini, terakhir kita ada meeting dengan Bapak Erick Thohir jam empat sore Pak, di restoran Bunga Rampai Pak."
"Ya sudah, kamu bisa siapkan dokumen pentingnya, oh ya bilang Anwa, dia boleh pulang setelah pekerjaannya selesai, gak usah nunggu kita balik ke kantor lagi."
"Baik, Pak, saya permisi."
"Jadi, angin apa yang tiba-tiba membawa kamu datang kesini Ar," tanya sang Ayah.
"Gak ada Pa, Arkan iseng doang, udah lama Arkan gak main ke kantor Papa," ujarnya.
~gak tau aja bapaknya, kalo anaknya suka jemputin itu sekretaris kecil di lobby~
"Terus kamu udah seminggu gak pulang-pulang, betah kayaknya di apartemen Langit."
Arkana tertawa, "Mama pasti kangen sama Arkana ya Pa?"
"Papa tuh gak tahan aja dengerin mama kamu nanyain terus, kenapa kamu gak pulang-pulang."
"Padahal mama tiap hari telponin Arkan loh,"
"Kamu tau sendiri mama kamu sayangnya kayak apa sama kamu Ar, adikmu yang cewek aja malah di lepas jauh-jauh sama mama, eh kamu malah di kekepin kayak anak perawan."
Arkana jadi teringat cemburunya Annaya pada dirinya, Mama Cha Cha memang sedikit berbeda memperlakukan ia dan adiknya. Annaya diberikan kebebasan memilih pendidikan sampai ke Jogja.
"Papa mau meeting sebentar lagi, jangan lupa pulang dulu lah, kasian juga liat mama kamu sendirian terus di rumah."
Arkana masih mendengar kata-kata dari sang ayah.
"Iya, besok Arkan pulang, tapi setelah Arkan balik dari Bali ya, lusa Arkan ke Bali soalnya Pa."
"Bisnis kamu itu masih harus di pantau sama Mima kamu?"
"Gak Pa, semua sekarang Arkan yg ngerjain, Mima cuma ngasih masukan aja kalo Arkan dapat kendala."
"Sering-sering juga kunjungi Mima, jangan apartemennya aja kamu pake in, bila perlu di beli, masa yang katanya pengusaha muda apartemen minjem."
"Siap Bos, Papa lama-lama kayak Mama... ngomel mulu."
Sang ayah pun tertawa, lalu bersiap untuk melakukan pertemuan di sore hari ini.
"Papa jalan ya," ujar sang Ayah.
Lalu membuka pintu ruang kerjanya, berjalan beriringan dengan sekretaris yang sudah hampir lima belas tahun menemani kemanapun ayahnya pergi.
"Sstt... sstt..." Arkana menjahili Anwa yang masih berada di depan komputernya.
Menaikkan kacamatanya di atas kepala, dan menoleh ke arah Arkana.
"Apa?"
"Gak papa, iseng aja," Arkana bersandar di pintu lalu melipat tangannya di depan dada.
Hari ini Anwa memakai blouse berwarna hitam. dibalut blazer berwarna putih gading, dengan celana pensil berwarna senada, high heels hitam setinggi tiga centimeter, dan kacamata yang sedari tadi tidak lepas bertengger di pangkal hidungnya, rambut keritingnya ia biarkan terurai.
Setelah selesai ia membereskan meja kerjanya, Anwa berjalan masuk ke dalam ruangan Pak Fajar, untuk merapihkan ruangan itu. Semua gerakan Anwa tak luput dari sapuan mata Arkana.
Arkana merasa Anwa selalu terlihat cantik, mengikuti langkah kaki gadis itu yang sudah berada di belakang meja kerja sang Ayah. Arkana bersandar di sisi ujung meja tersebut.
"Ngapain sih ngikutin terus?"
"Suka aja, gak boleh?"
Anwa menghentikan sejenak kegiatannya,
"Mo gantian nge beresin ini?" ujarnya kembali merapikan map-map yang berada di atas meja.
"Lo kalo kerja cekatan ya, sat set sat set kelar."
Anwa masih asik dengan kegiatannya tanpa memperdulikan Arkana.
"Udah karyawan tetapkan sekarang?"
Anwa hanya mengangguk, memasukkan map-map tadi ke dalam laci.
"Keren ih, bisa berada di jajaran direksi kayak lo itu, harusnya bangga loh Wa."
"Hhmm, misi sebentar," Anwa meminta Arkana untuk menggeser sedikit tubuhnya dari laci sebelah kanan meja itu.
"Wa," panggil Arkana lembut.
"Apa sih Ar,"
"Kencan yuk," ajaknya lalu meraih tangan Anwa.
"Ish, kencan apaan?"
"Dinner romantis Wa, atau nonton ke bioskop, atau kita jalan ke pantai atau ke gunung gitu."
"Mau makan aja ribet Ar, masak mie instan di kost juga udah romantis, sambil nonton Ikatan Cinta."
"Wa, gue serius," ujarnya lagi.
"Misi dulu dong, aku mau masukin ini ke dalam laci," menggeser tubuh Arkana.
Arkana bergerak sedikit merubah posisinya di belakang Anwa.
"Wa,"
"Iya, Ar," ujar Anwa lembut, Anwa membalikkan tubuhnya, jarak mereka tidak terlalu jauh hanya sepuluh senti, tinggi Arkana dan Anwa pun hanya sekitar lima belas sampai dua puluh senti, Anwa tidak harus mendongakkan kepalanya terlalu dalam.
"Kencan, mau?" ujarnya lirih.
Anwa tersenyum, netra mereka saling mengunci, membuat detak jantung keduanya seakan berhenti. Arkana melangkah kecil mendekati Anwa, mata itu kembali menyapu setiap inci dari wajah Anwa dan pandangan itu sama-sama jatuh pada bibir keduanya.
Arkana meraih tangan Anwa, membuat gadis itu sedikit tertarik mendekat pada tubuhnya. Merengkuh pinggang ramping Anwa, masuk ke dalam sela blazer yang Anwa kenakan. Satu tangan Anwa menahan dada bidang yang Arkana miliki, sedangkan satu tangan Arkana mulai menjalari tengkuk leher Anwa yang tertutup rambut keritingnya.
"Ar," mata Anwa seakan terhipnotis akan bibir tebal milik Arkana.
"Ar," Anwa mulai merasakan desiran yang kembali terasa jika sentuhan-sentuhan yang sering Arkana berikan pada dirinya, sayangnya desiran ini terlalu menghanyutkan dirinya.
Arkana memiringkan sedikit wajahnya, fokusnya hanya pada bibir merah milik gadis itu, bibir yang sudah lama ingin ia sentuh.
"Ar," nama lelaki itu kembali terucap namun jawaban yang Anwa dapat bukan sebuah kata-kata melainkan *******-******* lembut pada bibirnya.
Bibir yang manis dan hangat itu sesekali terlepas hanya untuk mendapatkan sedikit oksigen, lalu memulai lagi untuk saling berbagi sesapan dan kecapan. Anwa sudah bersandar pada sisi meja, tangan yang seharusnya tadi mendorong tubuh Arkana untuk menjauh sekarang dengan cantiknya meremas kemeja yang Arkana pakai.
"Wa," mata sendu itu memandang dengan penuh damba.
Sementara Anwa masih mengatur deru nafasnya dengan menundukkan wajahnya malu menatap lelaki yang sudah memporak porandakan hatinya hari ini.
"Kita jadi kencan?" ujar Arkana mengangkat dagu gadis itu, lalu mengusap lembut bibir yang tadi sudah ia rasakan betapa manis dan hangatnya.
***gue curiga ada cctv-nya di ruangan bapaknya si Arkana 🤦🏻♀️
gimana gimanaaaa udah berasa belooom berdesir desirnyaaaa 🤣🤣***