Kiss Me

Kiss Me
Mengambil hati



"Ini salah satu cara aku mengambil hati calon ibu mertua," ujar Anwa sombong menaikkan alisnya.


Arkana keluar dari parkiran salah satu swalayan di perempatan patung Pancoran. Butuh waktu hampir satu jam mereka hunting ikan tenggiri fillet lalu di giling, belum lagi harus mencari bahan untuk membuat cuko. Belum lagi Anwa yang mencari keperluan bulanan untuk di kost dan apartemen Arkana, sekalian katanya tadi.


Anwa selalu mempunyai pikiran-pikiran yang kadang tak terpikirkan oleh Arkana. Gaya hidup hemat pun masih Anwa lakukan, bukan apa, hanya saja hemat memang sudah melekat pada kesehariannya. Jangan boros kata Anwa jika Arkana menghabiskan banyak uangnya cuma untuk membeli cemilan atau buah untuk stok mereka, beli seperlunya aja, jangan banyak-banyak dan masih ada lagi kata-kata yang kadang Arkana sendiri takjub dengan kekasihnya itu. Hemat pangkal kaya teringat semboyan yang mendarah daging untuk orang-orang yang hidupnya tidak hedon seperti Anwa.


Mobil sudah terparkir di basemant apartemen Arkana, malam ini rencananya Anwa akan menghabiskan waktunya di apartemen itu untuk membuat pempek kesukaan Mama Cha Cha. Kenapa gak di kost Anwa? karena peralatan yang dibutuhkan gadis itu lebih lengkap ada di apartemen Arkana.


Bermodalkan resep dari cookpad dan yutub serta video call yang ia lakukan bersama sang Bunda. Arkana terhanyut akan perhatiannya pada Anwa, gadis itu sudah amburadul dengan segala tepung yang berserakan dimana-mana. Anwa memang berusaha keras untuk itu, appron yang ia pakai pun warnanya sudah memutih semua karena tepung, berkali-kali dia mencicipi rasa dan kekenyalan pempek yang akan di rebus nya.


"Wa... capek gak?"


"Gak... udah kamu mending mandi deh daripada di situ dari tadi nungguin tapi gak ngelakuin apa-apa."


"Kamu di bantu gak mau, kan tadi."


Akhirnya lelaki itu berlalu masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah cemberutnya, diiringi senyuman Anwa yang lucu melihat tingkah laku Arkana.


Waktu satu jam setengah Anwa habiskan di dapur dan menghasilkan adonan yang sudah berubah bentuk. Jangan tanya seberapa kacau dapur itu dia buat, sampai wajahnya saja sudah tercoreng banyak tepung di sana.


Selesai membersihkan dapur, dan menata pempek-pempek itu ke dalam satu tempat untuk ia masukkan ke dalam lemari pendingin, sebelum dia goreng besok pagi. Melepaskan apron lalu menuju kamar mandi untuk.membersihkan diri.


Mengenakan kaos kebesaran yang selalu dia pakai jika tidur di apartemen Arkana, Anwa ikut menelusup masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh Arkana lebih dulu. Arkana yang sedari tadi sibuk dengan laptop di pangkuannya tersenyum melihat gadis itu belari kecil dan tiba-tiba masuk hanya dengan menggunakan kaos.


Posisi Anwa yang membelakangi tubuhnya membuat Arkana leluasa menciumi leher gadis itu.


"Kayaknya kamu harus stok baju di sini Wa."


"Gak boleh pake baju kamu?"


"Bukan," ujar Arkana mengeratkan pelukannya. "Kalo kamu cuma pake gini doang, aku nya takut."


"Kok takut? takut apa?"


"Takut gak bisa menahan hasrat," kekehnya.


Anwa membalikkan tubuhnya, tangan Arkana sudah mengelus-elus paha gadis itu.


"Tuh kan, beneran aku gak bisa tahan, apalagi kamu balik badan ke aku," ujarnya tersenyum.


"Ya udah aku balik lagi kayak tadi," ujar Anwa yang sudah bersiap membalikkan tubuhnya seperti semula.


"Eh, jangan... gini aja," ujarnya namun tangan lelaki itu sudah perlahan naik ke atas punggung Anwa.


"Ar."


"Hhmm."


"Kita ngelakuinnya nanti kalo kita sudah halal," ujar Anwa tersenyum.


"Sekarang juga gak papa Wa, kan nanti halal juga," Arkana mulai mendekatkan wajahnya.


"Gak ada sensasi nya Ar, kalo sekarang," gadis itu sudah menangkup wajah sang kekasih.


"Sensasi malam pertama?" tanyanya lugu, "kan bakal sama aja Wa rasanya, kan orangnya sama."


"Oh jadi ada niatan buat nyoba sama yang lain? biar rasanya beda?"


Arkana tertawa. "Ya gak lah... satu aja aku gak abis-abis."


"Emang aku Choki Choki," Anwa terkekeh. " Ar, tangan kamu," ujar Anwa yang sudah merasai tangan kekasihnya semakin lama semakin meraja lela.


"Obrolan sebelum tidur kayak gini itu katanya bagus untuk suatu hubungan loh Wa."


"Masa?"


"He--eh, itu berarti?"


"Itu berarti... setiap malam kita harus tidur berdua," Arkana tertawa melihat wajah kekasihnya yang sudah memerah.


"Mau nya kamu banyak ya, ayo tidur, besok aku masih harus goreng pempek buat mama kamu."


"Mimpi indah, Wa."


Anwa memeluk erat tubuh lelaki itu, menciumi harum tubuh lelaki yang selalu mewarnai hari-harinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang itu Anwa sudah menyelesaikan tugasnya menggoreng pempek yang harus Arkana bawa pulang ke rumah orangtuanya.


"Enak Wa," ujar Arkana yang sudah mengunyah lebih dari lima buah.


"Enak emang sampe gak berenti ngunyah, ntar lama-lama abis Ar."


Arkana terlalu sering tertawa bila bersama Anwa, itulah yang dia rasakan. Hal-hal yang harusnya di anggap serius selalu luntur dengan pemikiran-pemikiran Anwa yang selalu saja meluluhkan hatinya.


"Sebelum pulang, antar aku balik ke kost ya," pintanya.


"Loh, kok pulang?"


"Terus aku ngapain di sini? nungguin kamu? iya kalo kamu boleh pulang sama mama kalo gak?"


"Ikut aja yuk," ajaknya.


"Pempeknya dulu Ar yang sampe, nanti tiba saatnya aku yang bakal kesana," ujarnya mencium pipi lelakinya, "udah selesai, aku siap-siap dulu ya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arkana memasuki rumah yang sekarang hanya di kunjunginya seminggu dua kali, terlihat sepi. Di depan tadi dia hanya melihat Pak Sobri si satpam yang selalu standby setiap saat sedang menikmati kopi panasnya di siang hari.


Membawa dua kantong plastik besar berisi enam styrofoam pempek dan botol ukuran air mineral dua buah yang berisi cuko.


Melihat sang Mama sedang memotong buah-buahan dengan mendengarkan Papa Fajar bercerita tentang pekerjaannya.


"Pa, Ma," sapa Arkana.


"Pulang kamu Nak," sindiran telak dari sang ayah.


"Pulang Pa, kan ini masih rumah Arkan," kekehnya.


"Bawa apa Ar?" Mama Cha Chaelirik barang bawaan anaknya.


"Kesukaan Mama dong," jawabnya lalu sibuk membuka satu per satu bungkusan itu.


"Wah, enak nih Ar," ujar Fajar yang sudah lebih dulu mengunyah satu pempek berisi telur.


"Enak kan? Arkan aja abis udah banyak banget sampe gak pengen makan nasi," ujarnya berceloteh berharap sang ibu bertanya.


"Seenak apa sih?" ujar Cha Cha mengambil satu pempek berbentuk bulat, mengunyahnya lama, mencelupkannya sedikit ke kuah cuko.


"Gimana Ma?" tanya Arkana harap-harap cemas.


"Beli dimana Ar?" tanya Cha Cha mengambil satu lagi yang berisi telur, "rasanya mirip-mirip tempat langganan Mama," katanya lagi.


"Gak beli Ma," jawab Arkana.


"Lalu?"


"Ini semua yang bikin Anwa, Ma," ujarnya melirik pada Cha Cha.


***jangan aja itu pempek ditaro lagi udah abis banyak wkwkwkwk


enjoy reading... selamat berhari Minggu gengs 😘***