
"Udah siap semua?" tanya Arkana pada Anwa yang masih sibuk menyiapkan bubur bayi yang baru saja ia masak untuk Kawa.
"Tinggal masukin ini ke paper bag nya," jawab Anwa.
"Kawa mana?"
"Lagi maen di karpet," ujar Arkana sudah memeluk istrinya dari belakang.
"Gak macem-macem deh Ar ... ini udah kesiangan, kamu mau meeting loh," ujar Anwa saat merasakan tangan Arkana lolos masuk ke dalam kemejanya.
"Yang tadi malem kurang Wa, masih berdenyut ini," kekeh Arkana.
"Suka nya kamu tuh begitu ... udah ah, kasian anaknya lama nungguin." Anwa melepaskan tangan Arkana yang sudah menjalar ke area sensitifnya.
"Malam nanti ya ...," ujarnya mencium pipi istrinya.
"Setiap malam loh Ar ... gak berenti kalo aku datang bulan," gerutu Anwa yang menyusul ke depan.
"Ayo, jalan ...," kata Anwa yang sudah rapih dengan perlengkapan bayi.
Iya, hari ini dan seperti hari-hari sebelumnya Anwa selalu ikut Arkana bekerja jika dia ingin. Terkadang ruang kantor Arkana akan berbentuk seperti arena bermain batita. Anwa menikmati kehidupannya sebagai seorang istri dan ibu, di kala ia merasakan bosan di rumah maka yang ia lakukan adalah membuntuti kemanapun suaminya pergi.
Mereka seperti satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, dimana ada Arkana di situ ada Anwa dan Kawa. Semua orang tahu itu, mereka paket lengkap, walaupun harus sedikit ribet dengan bawaan perlengkapan bayi Kawa namun semua mereka nikmati.
Menjaga Kawa secara bergantian bukan lagi hal yang aneh, semisal di saat Anwa akan me time pergi bersama mama mertua atau adik ipar atau sepupu suaminya, maka Arkana akan senang hati menjaga Kawa. Ya walaupun Anwa akan mendapati rumah seperti kapal pecah, atau di saat waktunya sang bayi sudah harus mandi tapi di saat Anwa pulang, bayi itu masih belepotan makanan atau sedang bermain becek air di lantai, sementara suaminya kewalahan meladeni Kawa dengan segala keaktifannya.
Seperti hari ini, Arkana akan mengadakan meeting dengan salah satu WO yang biasa memakai restoran mereka sebagai tempat pernikahan. Anwa ikut hadir dalam meeting itu sementara Kawa selalu menjadi pusat perhatian para karyawan suaminya.
"Ok, jadi seperti biasa Pak Arkana dan Bu Anwa, designnya nanti semua kita yang urus ... untuk makanan mereka maunya memakai paket yang nomer dua," ujar team WO.
"Kalo kita gak ada masalah dengan itu, namun pastikan saja segala sesuatu berjalan lancar jangan seperti beberapa minggu kemarin, kita sampe berusaha mencegah penculikan mempelai yang mau di bawa kabur sama mantan pacarnya."
Anwa mengingat bagaimana kejadian saat itu membuat suaminya kalang kabut memberikan penjelasan pada pihak yang akan membawa pengantin wanita yang sudah berstatus istri orang, alih-alih menenangkan tersangka Arkana malah mendapatkan bogem mentah karena di kira suami dari pengantin tersebut.
"Ah, ada-ada aja kejadian kemarin,"ujar Anwa. "Kok bisa begitu sih?" tanyanya penasaran.
"Jadi si cewek itu di jodohin, nah yang mantan cowoknya mau ngajakin kawin lari, keburu ketahuan, lagian kan udah sah jadi istri orang mana mungkin bisa dibawa kabur gitu aja," ujar pihak WO.
"Aduh aku gak bisa bayangin itu kehidupan rumah tangga selanjutnya kayak apa ya," ujar Anwa.
"Tapi dulu kita juga hampir kawin lari kan, Bundanya Kawa?" Arkana mengingatkan ide gilanya saat itu yang sudah pasrah akan hubungan mereka.
"Iya, tapi kan akhirnya kita bisa ngeluluhin hati mama, asal usahanya gak setengah-setengah, usaha akan membuahkan hasil yang baik."
"Eh, kenapa jadi kita yang curhat ya," ujar Arkana dan mereka pun tertawa bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maen sama Tante Ria ya?" ujar Anwa saat mendapati Kawa sedang bermain di karpet bersama Ria yang sedang hamil empat bulan.
"Gak papa Mbak, gak rewel ini," jawan Ria.
"Udah masuk berapa bulan Ya?"
"Udah empat bulan Mbak."
"Udah gak ngidam dong?" Ria menggeleng, lalu mencubit pipi gembul Kawa.
"Mbak aku tinggal ya, aku mau siapin laporan yang diminta Bapak." Anwa menjawab dengan anggukan.
Bayi yang seakan mengerti itu pun merangkak ke arah ibunya, lalu meraih kancing kemeja Anwa seakan minta di buka.
"Gak sabar ya mau liat galonnya Kawa," sahut Arkana dari balik pintu.
"Galon? gede banget," Anwa terkekeh dan memangku Kawa lalu memberikan ASI nya pada bayi itu. "Pelan-pelan Sayang, semua buat Kawa gak bakalan Bunda kasih ke siapa-siapa," ujar Anwa yang melihat bibir mungil Kawa yang tak sabaran melahap ASI yang sedang deras-derasnya itu.
"Gak mau kasih ke Ayah? padahal Ayah juga suka sama galonnya Bunda," Anwa mendaratkan pukulan pada pundak Arkana.
"Tuh dia tidur," kata Arkana melihat anaknya memejamkan mata.
"Berarti dia dari tadi nahan kantuk nih ... kasian anak Bunda," ujar Anwa dengan bibir mengerucut.
"Kamu sadar gak sih kalo kamu itu partner multitalenta buat aku Wa," ujar Arkana yang duduk di samping Anwa.
"Partner multitalenta gimana?" tanya Anwa.
"Semua bisa ... jadi partner kerja, partner hidup, apalagi partner di atas ranjang ... aku paling suka itu," Arkana mendekatkan wajahnya pada sang istri.
"Jangan macem-macem deh, aku mau nidurin anaknya nih."
"Udah tidur itu, pindahin di box nya aja Wa ... jangan di tidurin di sofa, kasian gak bebas dia."
"Yang gak bebas dia apa bapaknya," ujar Anwa terkekeh lalu bangkit meletakkan Kawa ke dalam box bayi yang ada di kantor itu.
Arkana berjalan menuju pintu untuk menguncinya lalu melangkah kembali pada Anwa yang sedang menepuk-nepuk paha Kawa agar lebih nyaman.
"Kita coba di kantor yuk? belom pernah loh dari kita pacaran dulu," Arkana mendekatkan tubuhnya pada Anwa, memeluknya dari belakang, tangannya sudah masuk ke dalam kemeja sang istri.
"Gak usah di kancing Sayang, nanti juga aku buka," ujar Arkana membalikkan tubuh Anwa yang sedang mengancing kemejanya lalu mengajaknya ke sofa.
"Gak ah, Ar ... gak enak sama staf kamu," Anwa menolak tapi tak menolak saat bibir Arkana menyusuri leher dan turun ke bagian dadanya.
"Mana ada yang berani ganggu aku Wa," ujar Arkana mengerang membawa tangan Anwa menuju kelakiannya, Arkana duduk di sofa dengan posisi nyamannya.
"Yang ini juga minta di cium Wa, udah lama gak," mata Arkana begitu mendamba lalu membawa turun kepala istrinya ke bawah.
"Aku gak mau lama ya," ujar Anwa.
"Iya ...." Arkana menarik turun celananya, melihat aktivitas istrinya di bawah sana.
Tak perlu waktu lama Arkana sudah membalikkan tubuh istrinya menghadap dinding dan membuat Anwa berpegangan pada sofa.
Erangan dan desahan saling bersahutan di ruangan itu, Anwa dan Arkana masih asyik menikmati kegiatan mereka saat pintu ruangan Arkana di ketuk dari luar.
"Biarin aja ... gak usah di dengerin ... ah, lagi Wa," ujar Arkana menahan pinggul istrinya.
"Kamu bener-bener mau buat aku hamil lagi kalo kayak gini, Ayah Ka--wa ...." Tubuh Anwa seakan tak lagi menapak di bumi ketika pelepasan itu kembali datang.
"Gak papa ... walaupun kamu KB juga, keperkasaan aku gak ada yang bisa nolak di dalam sana," ujar Arkana kembali memompa.
***halaaaah... 🤦🏻♀️
enjoy reading 😘
menuju empat part terakhir 😂***