
Rumah itu sudah nampak seperti sedia kala, taman yang terlihat rapih, cat rumah dan pagar yang tidak lagi menyakitkan mata bila memandangnya. Arkana puas akan hasil kerjanya beberapa hari tinggal di rumah keluarga Anwa.
Rencananya sore ini mereka akan pulang ke Jakarta, setelah menemani Anwa membeli oleh-oleh keripik pisang dengan berbagai macam rasa, Arkana menyempatkan diri berkeliling kota. Kota dimana Anwa menghabiskan masa kecilnya.
Pukul empat sore, Arkana sudah memasukkan dua koper dan satu kardus ukuran mie instan yang berisi oleh-oleh ke dalam mobil.
"Sudah semua," tanya Pak Syahril.
"Sudah Om," jawab Arkana.
"Hati-hati di jalan ya Ar, jangan ngebut, Om titip Anwa, tolong di liat-liatin, kalo ada apa-apa kabarin ke rumah."
"Iya, Om."
Bunda dan Anwa keluar dari pintu rumah saling merangkul, rasanya masih kurang hari untuk meluapkan rasa rindu.
"Bunda sehat-sehat ya, jangan sakit lagi, aktivitasnya juga jangan terlalu berat," ujarnya mencium punggung tangan wanita tua itu lalu menautkan pipi mereka.
"Iya, Wawa juga hati-hati di sana Nak, jaga diri," ujar Bunda membelai lembut rambut anak gadisnya.
"Malik, jaga in Bunda sama Ayah ya, jangan sering-sering keluyuran," Anwa mengingatkan adiknya.
"Ayah, Anwa berangkat dulu, Ayah sehat-sehat, kalo ada apa-apa kabarin Anwa," mencium punggung tangan sang Ayah lalu memeluknya erat.
"Wawa juga hati-hati di sana ya, jaga diri," mata sang Ayah sudah berkaca-kaca.
Arkana menyalami kedua orang tua itu, dan juga Malik.
Setengah berbisik pada Malik, "jangan lupa nomer rekening lo kasih ke gue, pembicaraan kita semalam cuma kita yang tau," ujar Arkana pada Malik diikuti anggukan kepala Malik.
Semalam Arkana sudah berjanji pada Malik, untuk membantu biaya perawatan taman, membayar setiap bulan tukang kebun yang akan merawat taman sang Bunda agar selalu terawat dan bukan hanya biaya tukang jelas sekali uang jajan untuk Malik 😂
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil pun melaju membelah jalan menuju Jakarta. Dua jam melewati tol untuk sampai ke pelabuhan Bakauheni, dan menyeberang dengan menggunakan kapal besar menuju Merak.
"Mau turun gak?" tanya Anwa yang sudah bersiap untuk turun selama berada di kapal.
"Lo duluan gak papa? gue mau ke toilet sebentar."
Dengan menggunakan sweater rajut berwarna krem, Anwa merapatkan sweaternya, angin malam di atas kapal cukuplah kencang.
Berdiri di pinggir pembatas, Anwa menikmati semilir angin yang semakin kencang. Tersadar ada yang menepuk bahu kanannya, maka ia pun menoleh namun tak dia temui siapapun.
"Cari gue ya," Arkana berdiri di samping kirinya, "kangen?" ujarnya tersenyum.
"Kenapa sih suka banget gitu, nepuk kanan kamunya di kiri," ujar Anwa cemberut.
"Nih latte, biar anget," Arkana menyodorkan satu cangkir plastik berisi coffee latte. "Kalo mau anget lagi bisa gue peluk kok," ujarnya menarik sudut bibirnya.
"Mau nya kamu itu."
"Emang lo gak mau?"
"Arkana," mata indah Anwa membelalak, wajahnya merona merah.
"Gue seneng bisa buat lo tersenyum," ujarnya lagi menatap lurus ke depan, kearah laut lepas.
"Ar,"
"Hhmm."
"Makasih ya," Anwa membalikkan tubuhnya menghadap Arkana.
"Buat apa?"
"Buat semuanya, untuk aku dan keluarga aku."
"Selagi gue bisa bantu dan gue gak ngerasa di repotin."
"Tiga hari kamu di rumah, kamu sudah tau kan bagaimana situasi kami." Berharap Arkana bisa menentukan sikapnya terus atau mundur sebelum semuanya terlambat dan menyakitkan.
Arkana mengangguk.
"Gue juga mau minta maaf,"
"Untuk?" tanya Anwa bingung.
"Buat lo kecewa kemarin," menatap Anwa dengan tatapan mata bersalah.
"Alya."
"Oh." Anwa pun mengerti arah pembicaraan ini.
"Siang itu dia telpon gue, minta di temenin jalan mau cari sesuatu sebelum dia balik ke UK... karena gue pernah janji buat nemuin dia sebelum dia balik," ujarnya, "tapi cuma nemuin doang Wa, dan gue gak ada pikiran bakal lebih dari itu," ujarnya menjelaskan.
"It's ok Ar, aku gak masalah."
"Gue yang masalah, gue ngerasa kayak plin plan gitu ke elo nya, baru juga gue nanya hubungan kita tapi lo mergokin gue sama mantan, apa gak gue ngerasa kayak brengsek gitu." Ujarnya membalikkan tubuh pula berhadapan dengan Anwa.
"Aku juga minta maaf," Anwa terkekeh kecil.
"Kenapa ketawa?"
"Karena... waktu kamu cari aku malam itu, sebenernya aku ada di kost--- ngumpet." Rambut keriting itu pun tak luput dari acakan tangan Arkana.
Anwa mengulas senyumnya, memberanikan dirinya menggenggam tangan Arkana tanpa menoleh tetap memandang lurus ke depan.
Arkana pun tersenyum, memasukkan genggaman tangan Anwa ke dalam kantung Hoodie nya tanpa menoleh pada Anwa.
Hanya mereka yang tau gejolak di dalam hati masing-masing. Menikmati deburan ombak di laut lepas, angin semilir di malam hari, bunyi suara blast atau klakson kapal yang terkadang mengagetkan mereka hingga tertawa bersama.
Arkana merapatkan genggaman tangannya di dalam kantung Hoodie.
"Masuk ke mobil yuk, sebentar lagi kapal merapat."
"Ar."
"Iya."
"Makasih ya--- sudah buat aku tersenyum," ujarnya lalu memberikan kecupan di pipi Arkana.
Arkana membalas dengan menyunggingkan senyum, senyum tulus dengan keyakinan bahwa perasaannya akan segera terbalas.
Memasuki mobil, lalu menunggu kapal merapat, terdengar musik dari salah satu band favorit pada jamannya yang mengalun indah.
Di saat kita bersama, di waktu kita tertawa
Menangis, merenung oleh cinta
Kau coba hapuskan rasa
Rasa di mana kau melayang jauh dari jiwaku juga mimpiku
Biarlah, biarlah hariku dan harimu
Terbelenggu satu oleh ucapan manismu
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau telah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina
(Sheila on 7 ~Kita~)
Tanpa sadar mereka berdua pun sama-sama tersenyum.
Pukul sebelas malam mereka memasuki Jakarta, Anwa sudah dalam posisi tertidur di kursi penumpang.
Arkana kebingungan mau membawa Anwa kemana, jika ke kost akan terlalu malam untuk mengantarkannya, akhirnya ia memutuskan untuk membawa ke apartemennya.
Sesampainya di apartemen, pemuda itu meminta bantuan security untuk membukakan unit apartemen nya sementara dia membopong Anwa yang masih tertidur lelap.
Rasa lelah dan keadaan yang sudah larut malam tak lagi menyadarkan Anwa dari tidurnya.
Meletakkannya perlahan pada tempat tidur Arkana menyelimutinya sementara ia membawa bantal untuk dirinya sendiri tidur di sofa malam ini.
Memberikan kecupan penuh rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata seraya berkata.
"Mimpi indah Wa, semoga besok kita akan lebih baik lagi dari sekarang."
mimpi indah semua... sempetin dengerin satu album hits nya Sheila on 7 ya karena 1 part ini semua terinspirasi dari mereka 😂 dapet salam dari Mas Duta 😍😍