Kiss Me

Kiss Me
Michele Morrone



Makan malam yang penuh ricuh, yang seharusnya bisa dikatakan romantis tetapi harus terganggu oleh dua kembar yang membuat suasana menjadi rusuh.


"Kita balik ya Bang," ujar Kala beranjak dari duduknya sambil menegak segelas air mineral.


"Yoi, ati-ati."


"Anwa, kita balik ya... sorry loh kita udah ngacak-ngacak kencan kalian." Zurra mengedip-ngedipkan matanya pada Arkana.


"Santai aja Ra, lagian bukan kencan cuma makan malam biasa kok... kapan-kapan ngobrol bareng lagi ya," jawab Anwa sambil menautkan kedua pipi mereka.


Tak lama setelah duo kembar itu pergi, Arkana pun mengajak Anwa untuk pulang.


"Kita juga balik yuk, besok lo juga kerja."


Anwa pun beranjak dari duduknya, berjalan mengikuti Arkana dari belakang, seperti biasa Arkana selalu berhenti tiba-tiba.


"Iih, kenapa sih kalo berenti gak bilang-bilang."


"Haha... sorry, ini kunci mobil lo masuk duluan ya, gw lupa mo ngobrol bentar sama keuangan," ujarnya pada Anwa lalu memberikan kunci mobil, dan kembali menemui Ria, staf keuangan Arkana.


"Jadi menurut lo, kafe yg di Bandung masih bisa di pertahankan? mungkin lusa bisa kita kesana karena selama ini memang kafe itu kurang pengawasan dari kita kan, lo atur jadwal aja kalo gitu Ria, lusa atau kapan...."


Ria hanya mengangguk, mengikuti titah atasannya. Selama ini Ria lah yang selalu mengikuti kemana Arkana pergi, selain menjadi orang kepercayaan Arkana, semua pekerjaan yang Ria kerjakan selalu baik di mata Arkana.


Sayangnya hanya sebagai atasan dan bawahan, Ria tidak bisa menuntut lebih dari itu, selain sadar diri, menjangkau Arkana juga terlalu sulit baginya. Apalagi setelah seringnya dia melihat Arkana berdua dengan Anwa, walaupun status keduanya hanya sebagai teman dekat.


"Sorry ya lama nunggu," ujar Arkana saat masuk kedalam mobil.


"Gak... santai aja."


"Mo balik apa mo kemana lagi?"


"Balik aja ya, udah jam delapan juga, nanti kamu pulang kemaleman."


"Gak papa, kalo kemaleman juga gue bisa tidur di kost lo kan?"


"Bisa... tapi di karpet ya," ujar Anwa tertawa.


"Sakit badan gue Wa, tega banget."


" Udah ah buruan," Anwa selalu saja serba salah bila Arkana sering berbicara ke arah hubungan mereka berdua.


"Gue mau ke Bandung, mau ikut? gue harus nge cek kafe gue di sana," ujarnya lalu melajukan mobilnya.


"Gak bisa cuti kan baru tiga bulan kerja, lagian kerjaan lagi banyak-banyaknya."


"Jumat sore kita jalan, mau gak? Sabtu Minggu kan libur."


"Aku pikir-pikir dulu ya."


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di kost Anwa, mengantarkan Anwa pulang sampai dengan pintu pagar.


"Gue balik ya," ujar Arkana mengacak-acak rambut gadis itu, perlakuan seperti itu sudah sering sekali Anwa terima.


"Tengkyu ya," ujar Anwa tersenyum.


"Jangan lupa, kabari gue kalo jadi ikut ke Bandung, ya."


Arkana selalu berdiri di depan pagar memastikan gadis itu masuk ke dalam kamar kostnya, dan memastikan gadis itu menoleh sebentar ke belakang lalu melambaikan tangannya. Sudah seperti ritual bagi mereka berdua bila akan berpisah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore itu saat Arkana pulang ke rumahnya mendapati kedua wanita yang berumur hampir memasuki usia lima puluh tahun itu sedang tertawa lepas sambil melihat layar ponsel di hadapan mereka.


"Tau gak Kak, jaman kita dulu liat yang beginian kayak masih tabu gitu ya," Jingga sang Tante dengan mata yang masih tak berkedip melihat ke layar ponselnya.


"Itu mereka ngelakuin bener gak sih Ga?" tanya Mama Cha Cha.


"Ya gak Kak, gak mungkin ngelakuin beneran, pasti ada trik kamera, atau si aktor memang menjiwai perannya."


"Kayak beneran ya Ga." Mereka pun tertawa kembali.


"Liat apaan sih? sampe aku masuk gak ada yang tau," ujar Arkana mendekati kedua wanita itu, "Mima..." Arkana mengulurkan tangannya mencium punggung tangan wanita yang masih sangat terlihat cantik itu.


"Abang sekarang jarang ke rumah nih," ujar Mima menepuk sofa di sebelahnya agar sang keponakan tersayang itu duduk di sampingnya.


"Iya maaf ya Mima, Arkan belom sempet kesana," ujarnya pada Jingga.


"Kata siapa?" Arkana tersenyum.


"Kala sama Zurra yang cerita, waktu itu mereka liat Abang di kafe sama cewek, iya kan?"


"Serius?" Mama Cha Cha terkejut mendengar laporan dari Mima, sedangkan dia sebagai ibu belum tahu cerita anaknya sekarang dekat dengan seorang gadis, "kok gak pernah cerita, Ar?"


"Gak pacaran Ma, cuma temen deket..."


"Gak pacaran apa belom pacaran?" tanya Mima lagi.


Arkana tersenyum. "Doain aja Mima."


"Emang kenapa, Nak? susah?" tanya Cha Cha.


"Saingannya berat Ma,"


"Masa kamu gak bisa meluluhkan hati dia, kamu udah lama loh nge jomblo, udah dua tahun ya Ar?"


Seingat Cha Cha, Arkana terakhir berpacaran satu tahun setengah yang lalu, sampai kekasih anaknya memutuskan meneruskan pendidikannya keluar negeri untuk menyelesaikan gelar dokter.


"Hampir dua tahun Ma," jawabnya.


"Nah itu, masa ganteng kayak gini, anak Mama gak punya pacar."


"Iya Ma, tapi saingannya berat."


"Ya pepet terus dong, kayak Didi tuh... pepet terus sampe dapet," ujar Jingga mengingat masa mudanya.


"Saingannya udah almarhum, Mima," kata Arkana.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun," kedua wanita itu menjawab secara bersamaan dan bertanya kenapa bisa.


"Udah ya, Arkana tinggal dulu... Mima nanti pulang mau Arkan antar atau di jemput sama Didi?"


"Di jemput Didi," jawab Jingga.


"Kalo gitu, Arkan istirahat dulu ya," memberikan kecupan di pipi Mima dan Mama nya.


Selepas sang putra naik ke lantai atas, Cha Cha dan Jingga meneruskan tontonan mereka sambil tertawa-tawa.


"Aduh Kak, aku geli ah."


"Tapi emang dia gagah sih Ga, jadi wajar banyak yang suka ya."


"Tapi katanya duda Kak."


"Berarti memang duda semakin terdepan ya," ujar Cha Cha yang semakin serius melihat layar ponselnya.


"Siapa duda yang semakin terdepan?" suara lelaki yang khas itu pun terdengar di ruangan itu.


"Sayang, kok udah sampe aja," ujar Jingga menutup ponselnya dengan segera.


"Gak suka ya aku pulang cepet-cepet," Langit meraih ponsel Jingga, "siapa ini?" tanya pada Jingga saat melihat seorang aktor bertubuh seksi di layar ponselnya hanya berbalut handuk.


Dan Cha Cha menutup bibirnya dengan kedua tangan, dengan suara tertawa yang tertahan.


"Oh itu.... kita lagi ngeliatin dia," jawab Jingga malu-malu.


"Pada suka ya liatin beginian? mentang-mentang badan aku sekarang perutnya udah buncit," Langit menaikkan alis.


Tawa Cha Cha yang tertahan pun akhirnya terlepas.


"Gaaak Sayang, kamu tetap yang terkeren," ujar Jingga memeluk perut Langit yang tidak seperti dulu lagi sambil menciumi pipi lelaki yang sudah menjelang tua itu


"Kalian pada mau makan malam di sini gak? aku siapin dulu," tanya Cha Cha.


"Gak usah Kak, kita langsung pulang aja, aku mau liat perut buncit Michele Morrone versi aku malam ini," ujar Jingga mengerlingkan matanya pada Cha Cha.


"Siapa Michele Morrone?" tanya Langit.


***Siapa yang tahu Michele Morrone 😀😂


jejaaaaak yaaah jejaaaaak 😘***