Kiss Me

Kiss Me
Persiapan



Layaknya pasangan yang akan menikah, semua pasti disibukkan dengan persiapan. Begitu juga pasangan kekasih ini, mulai dari gaun pengantin beserta jas yang akan Arkana kenakan di hari sakral mereka.


Perayaan pernikahan yang sederhana seperti permintaan Anwa, hanya mengundang keluarga inti, kerabat dekat dan akrab saja, relasi bisnis yang hanya beberapa orang serta relasi dari pihak Papa Fajar, karena tidak mungkin mereka tidak mengundang beberapa jajaran direksi dan beberapa pejabat.


"Undanganya gak usah banyak-banyak ya, Ar," kata Anwa siang itu.


"Kenapa?"


"Biasa aja gak usah terlalu ramai orang," ujarnya lagi.


"Oke, jadi design undangan yang mana nih," Arkana menunjukkan beberapa sampel undangan yang di bawa oleh tim WO.


"Ini aja, sederhana tapi elegan."


"Yang ini aja Mas Pur, tapi kalo bisa warnanya yang soft ya," ujar Arkana pada salah satu tim. "Lalu mengenai design taman, aku pengennya di kolam itu nanti terdapat beberapa lampion, karena ini malam dan konsep kita adalah garden party, di beberapa pohon-pohon besar jangan lupa lampu-lampu candle nya, ya intinya Mas Pur tau lah ya gimana yang aku pengen, satu lagi, meja hidangan di buat dua sisi aja," jelas Arkana yang memang akan mengadakan acara pernikahan mereka di restoran keluarga, taman belakang yang luas dengan beberapa pohon besar dan kolam renang menambah poin plus restoran bernuansa Eropa itu.


"Oke Pak, seperti biasa menu dari restoran bapak?"


"Iya penyajian menu itu dari kami semua, untuk MUA aku minta yang biasa nge handle klien kalian ya," kata Arkana, "aku butuh MUA yang membuat istri cantikku ini terlihat semakin cantik," ujarnya lagi menciumi telapak tangan Anwa.


"Oh MUA nya dari WO langsung?" tanya Anwa.


"Iya, pokoknya terima beres dari WO, hanya menu saja kita yang persiapkan." Anwa mengangguk angguk.


"Eh, tapi sebentar, kok kamu tau MUA nya bagus? berarti sering liat dong cewek-cewek yang sering di dandanin sama MUA nya," ujar Anwa curiga.


"Mulai deh," Arkana menarik hidung Anwa. "Jelas aku sering liat, kan memang WO nya kerjasama dengan kita kalo mengadakan acara pernikahan di restoran, Wa."


"Sepertinya nanti setelah nikah, kamu harus sering-sering ikut aku deh biar yang di sini ...," kata Arkana mengusak rambut kekasihnya, "biar yang di sini gak curiga terus."


Mas Pur yang melihat pasangan yang di mabuk cinta itu pun tersenyum.


"Kalo gitu, saya permisi dulu Pak Arkan, sesuai permintaan Bapak, kita akan buat pestanya sederhana namun elegan," Mas Pur pun undur diri.


"Ar, acaranya sore kan?"


"Hooh," ujar Arkana sambil menyeruput secangkir latte, "aku buat sore akad, malam kita resepsi," kata Arkana lagi.


Setelah menyelesaikan pertemuan dengan pihak wedding organizer , hari ini juga jadwal mereka mencari cincin pernikahan. Mobil melaju ke salah satu Mall terbesar di ibukota. Memasuki mall yang lumayan ramai itu, genggaman tangan Arkana tak pernah lepas dari Anwa.


"Aku di gandeng kayak gini, kayak kita mau nyebrang jalan deh," kekeh Anwa.


"Haha, jadi mau nya di peluk? di rangkul? apa mau di gendong?" canda Arkana.


"Ar, ke store yang mana? ada tiga nih, mama bilang kemarin cari yang di situ aja," ujar Anwa menunjuk salah satu store jewelry yang ternama.


"Mama kenapa gak mau ikut?" tanya Arkana.


"Mama sama mima katanya mau siapin hantaran buat aku, mereka mau pergi sendiri."


Mereka sudah memasuki toko itu di sambut dengan ramah oleh pelayan di sana. Berbagai macam cincin pernikahan ditawarkan pada mereka, namun Anwa belum menemukan yang benar-benar klik di hatinya.


"Yang mana, Wa?"


"Aku bingung, Ar."


"Yang ini cakep kok, cocok di jari kamu," ujar Arkana menunjukkan satu cincin emas putih di hiasi batu permata di sekelilingnya.


"Emang kamu mau pake yang kayak gitu juga? gak laki banget keliatannya, Ar," ujar Anwa yang masih melihat cincin lain.


"Kalo mau laki banget mending pake cincin yang ada batu akik nya, Wa," ujar Arkana asal dan disambut tawa oleh penjaga toko. "Tuh, mbaknya sampe ketawa, benerkan mbak? pake cincin batu akik, keliatan deh lakinya, di lima jari lagi, beeh dah laki banget, Wa," Arkana tertawa, Anwa yang gemas pun menutup mulut kekasihnya yang sedang tertawa lepas.


"Maaf ya Mbak, emang dia kadang suka gini," ujar Anwa malu, "suka kumat dia ini Mbak," ujar Anwa lalu menjerit karena cubitan di pinggangnya. "Sakit, Ar," rengeknya.


"Aku kumat karena seminggu gak kamu kasih jatah," goda Arkana berbisik di telinga Anwa.


"Ngaco."


"Jadi cincin yang mana nih?"


"Yang ini cakep gak? simpel, nanti di dalamnya ukir nama aku sama kamu, gimana?" Anwa menunjukkan sepasang cincin emas putih dengan permata satu di atasnya. "Bagus kan?" ia menunjukkan jari manisnya.


"Oke, kita ambil yang ini Mbak," ujar Arkana pada pelayan toko. "Sama yang ini Mbak," Arkana kembali menunjuk satu kalung emas putih dengan bandul berukir huruf A. "Kalungnya langsung di pake kok Mbak," Arkana meminta kalung itu langsung.


Memakainya pada Anwa, Anwa meraba permukaan bandul yang di kelilingi batu permata kecil-kecil.


"Cantik," ujar Arkana menatap sang kekasih.


"Udah kelar nih urusan cincin, kita kemana lagi?" tanya Arkana setelah keluar dari toko perhiasan.


"Makan," rengek Anwa.


"Masih laper?" tanya Arkana dan diangguki oleh Anwa, "ayo lah, kasian anak Ayah, kalo kelamaan gak makan," ujarnya mengusap perut Anwa.


"Sembarangan," Anwa memukul pundak Arkana yang sudah tertawa.


"Lucu kali Wa, kalo udah ada duluan terus kita baru nikah."


"Amit-amit, Ar, jangan sampe." Anwa berjalan mendahului Arkana menuju salah satu restoran dengan menu bebek kegemaran mereka.


"Cieeh, marah nih marah."


"Kamu suka sembarangan kalo ngomong, ntar kalo ada malaikat lewat di catet, gimana coba?".


"Ya gak gimana-gimana, kan tinggal nikah."


"Hish, ogah." Anwa menbolak balikkan daftar menu.


"Wa."


"Apa?"


"Ciuman di sini berani gak?" Ide gila dari seorang Arkana yang membuat mata Anwa melotot serta cubitan mendarat di paha lelaki itu. "Aduh sakit, Wa ... becanda ya ampun," lelaki itu mengaduh kesakitan.


"Belakangan ini aku kayak ngerasa kita tuh bisanya cuma begituan doang," ucap Anwa kesal.


"Begituan gimana?"


"Ya begituan."


"Kayak di tempat ti ---" kata-kata itu terhentinya saat pelayan datang menanyakan pesanan mereka.


"Itu aja Mas," ujar Anwa pada pelayan.


"Wa, maksud kamu tadi begituan itu apa?" tanya Arkana.


"Ya begituan di atas tempat tidur, ya di mobil dimana aja kamu ngelakuin, aku ngerasa kita itu cuma napsu doang semakin kesini semakin berasa," ujar Anwa. "Ngerasa kamu kayak cuma butuh tempat melampiaskannya sama aku, bukan cinta lagi."


"Sembarangan kalo ngomong, ya gak lah, lagian gak tiap hari Wa, kalo aku napsu an sama kamu bisa dari awal kamu udah aku apa-apain," ujar Arkana.


"Tapi hampir kan?" ujar Anwa tak mau kalah.


"Kenapa di bahas baru sekarang sih?" Arkana mulai kesal.


Menu pesanan mereka pun datang.


"Mas, take away aja deh," ujar Arkana pada pelayan.


"Gak usah Mas, kita makan di sini kok," cegah Anwa.


"Bungkus, Mas," kata Arkana lagi.


"Makan sini, Mas."


"Bungkus."


"Makan di sini."


Pandangan mereka sama-sama tajam, tak lepas satu sama lain saling menatap.


"Jadi Mas sama Mbak nya, mau makan di sini apa di bawa pulang?" tanya pelayan yang bingung.


"Bungkus."


"Makan di sini."


Ujar pasangan itu secara bersamaan.


***kata orang-orang kalo mau nikah ada aja emang yang di ributin yang di masalahin, bener gak sih?


jangan lupa di like, di vote kalo masih ada tiket vote nya, di taburi bunga-bunga hadiah juga boleh 😂


enjoy reading 😘***