Kiss Me

Kiss Me
Kebakaran



Arkana dan Anwa menuju rooftop, disana sudah ada semua keluarga baik keluarga Arkana atau pun Anwa. Begitu terkejutnya Anwa saat ia melihat kedua orangtuanya dan adiknya sudah juga berada di sana.


Netranya berkaca-kaca, ada saja hal yang tidak pernah terbayangkan olehnya yang dapat dilakukan oleh suaminya.


"Seneng gak?" tanya Arkana.


"Ar ... kamu ngelakuin semua ini," Anwa memeluk erat lelaki itu.


"Aku di bantu Ria dan Dion, Dion yang mempersiapkan tempat ini buat kita sekeluarga dan Ria yang mengurus semua keperluannya termasuk keluarga kamu, dari tiket pesawat sampai dengan hotel mereka menginap ... Ria dan tunangannya yang mengatur ini semua."


"Tapi kan Ria juga baru pulang sama kamu hari ini?" Tanya Anwa bingung.


"Ria pulang kemarin untuk ... ya ini mempersiapkan segalanya buat kamu."


"Ah, aku jadi gak enak sama Ria," ujarnya malu. "Eh ... kamu bilang tadi Ria dan tunangannya? berarti laki-laki itu tunangan Ria?" tanya Anwa semakin tak enak hati.


"Jangan terlalu berpikir yang aneh-aneh, Wa ... apa kurang kesungguhan aku selama ini sama kamu."


"Ah, Ar ... aku minta maaf," Anwa bergelayut manja di pelukan suaminya.


"Ayo kita hampiri mereka," ajak Arkana seraya melangkah menuju keluarga besar mereka.


Ucapan selamat ulang tahun beserta doa yang terucap tulus dari seluruh keluarga membuat Anwa bersyukur di kelilingi orang-orang yang menyayanginya.


Kedatangan kedua orang tua Anwa membuat harinya begitu bahagia. Terlebih ketika kedua orang tua Anwa mengetahui jika Anwa sedang mengandung buah hatinya.


"Jaga baik-baik kandunganmu Wa, jangan terlalu capek, usia kehamilan awal semester itu masih sangat rentan," ujar sang Bunda pada Anwa.


"Gak ngidam aneh-aneh kan?" tanya Ayah Anwa.


"Udah gak Yah, waktu awal-awal sih dia makan rujak mangga di atas pohon mangga," cerita Arkana.


"Astaga ... terus?"


"Ya manjat ... tapi Arkana temenin, cuma itu aja sih Yah yang ekstrim," Arkana melirik Anwa, tidak mungkin juga ia ceritakan jika istrinya meminta melakukan hubungan badan di dalam mobil di parkiran basemant apartemen.


"Gak mau makanan apa gitu Wa?" Tanya Bunda lagi.


"Anwa cuma pengen makan masakan Bunda,"


"Iya Mbak, Anwa memang bilang ke aku dia pengen masakan rumah yang biasa mbak masak katanya, kalo aku tanya masakan seperti apa, eh Anwa malah jawab gak usah Ma nanti Mama capek, nanti aja kalo Bunda ke Jakarta," terang Mama Cha Cha.


"Ar, malam ini ... Bunda tidur di rumah ya," bisik Anwa, Arkana mengangguk.


"Udah gak mual kan?" tanya Arkana yang melihat kebahagiaan di mata istrinya.


"Kayaknya adek seneng kalo semua keluarga kumpul ya," ujar Anwa sambil mengusap perutnya.


"Berarti adek bakal lebih seneng lagi kalo nanti malem ayahnya tengokin," ujar Arkana menunduk mencium perut Anwa.


Makan malam untuk perayaan ulang tahun Anwa begitu meriah, semua orang-orang yang ia sayang hadir memeriahkan bertambahnya usia Anwa, belum lagi kehadiran janin kecil di dalam rahimnya, semua begitu sempurna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah bercengkrama dengan ayah, bunda serta Malik di kamar tamu, Anwa beranjak naik menuju kamarnya. Arkana sudah berada lebih dulu di atas tempat tidur mereka.


Lampu kamar telah tergantikan dengan lampu tidur, Anwa berjalan menuju tempat tidur.


"Ar ...,"


"Hhmm," Arkana mematikan ponselnya dan menoleh pada Anwa.


"Makasih ya, kamu buat aku bahagia banget hari ini."


"Sudah tentu," ujar Arkana tersenyum.


"Ada ide beli boneka itu darimana?" tanya Anwa sambil menunjuk boneka gajah yang diletakkannya di atas meja sudut kamarnya.


"Biar inget aja sama aku terus," Arkana tertawa.


"Ih, hubungannya apa coba?"


"Ya gak ada sih, cuma suka aja liat gajah sama belalainya," Arkana semakin tertawa.


"Kamu tuh ya, pikirannya."


"Aku bahagia kalo kamu bahagia," kata Arkana mendekap erat istrinya dan menciumi pucuk kepalanya, membawa wanita itu masuk ke alam mimpinya.


Pagi menjelang, kediaman Arkana sudah rami dengan kehebohan di dapur. Pagi ini rencananya Bunda Anwa akan memasak soto ayam kampung sesuai permintaan Anwa malam tadi.


Alih-alih ingin membantu, Anwa malah menambah kekacauan. Dikarenakan dia tidak di butuhkan, akhirnya ia kembali lagi ke kamar untuk membangunkan Arkana yang masih terlelap.


"Ar, bangun dong ... udah pagi nih."


Arkana hanya bergerak sedikit lalu kembali memeluk Anwa yang duduk di sampingnya.


"Ar, bangun yuk."


"Udah bangun, Wa." ujarnya


"Bangun itu duduk, berdiri Ar, bukan tidur."


"Ini udah berdiri, Wa," kata Arkana masih dengan suara paraunya.


"Apa?"


"Ini ... udah berdiri," ujarnya mengarahkan tangan Anwa pada kelakiannya.


"Ish," Anwa memukul pundaknya dengan kekehan Arkana yang menciumi perut istrinya.


"Kamu masak apa?"


"Aku di suruh bunda di kamar aja bangunin kamu, kata bunda aku gak usah ikut masak malah bikin kacau," Anwa cemberut.


"Udah paling bener emang kamu di kamar, bikin kekacauan sama aku."


"Kamu tuh ...."


"Ayo, Wa ... mumpung masih pagi, masih fresh," Arkana sudah menarik Anwa untuk berbaring.


"Gak ah, kasian dedek di perut lagi tidur."


"Kan semalem gak jadi ayahnya tengokin, jadi mumpung masih tidur, Ayah tengok sekarang aja ya." Arkana meremas bokong Anwa.


Anwa hanya tertawa melihat kelakuan suaminya yang memendam rindu selama satu minggu, dan akhirnya Anwa hanya bisa pasrah saat suara desahan dan erangan mereka mendominasi ruangan pagi itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sarapan dulu ... hari ini kami ke Bekasi?" Anwa meletakkan piring yang sudah berisi soto di hadapan Arkana.


"Iya, kemungkinan aku ada meeting sama WO, mereka mau pake resto buat acara pertunangan salah satu artis katanya."


"Tapi sore udah di rumah kan, Ar?"


"Iya ... kamu kan masih mau kangen-kangenan sama ayah bunda."


Anwa mengangguk, seisi ruang makan itu tak henti-hentinya bercerita tentang segala hal, dari hal yang serius untuk di bahas sampai dengan hal yang lucu yang di lontarkan Malik, adik Anwa.


Ponsel Arkana pun berbunyi, Arkana mengangkat satu alisnya. Lalu beranjak keluar untuk mengangkat panggilan telpon itu. Selang beberapa saat Arkana kembali masuk ke dalam rumah dengan mimik muka yang sangat tegang, membuat semua orang memperhatikannya dengan tidak biasa.


"Aku harus ke Bandung," ujarnya.


"Kenapa? Ar ... ada apa?" tanya Anwa yang melihat suaminya begitu tegang.


"Restoran yang bari kita resmikan dua bulan lalu terbakar pagi ini," ujarnya menyugar rambutnya frustasi.


Semua orang di ruangan itu di buat terkejut. Restoran dengan aksen Eropa itu merupakan restoran ke tujuh yang Arkana buka, dan baru saja berumur dua bulan.


"Ar ... aku temani kamu ya," ujar Anwa yang menyusul Arkana menuju kamar mereka untuk menyiapkan segala sesuatunya.


"Gak usah, kamu di rumah aja ... aku bisa berangkat bareng Dion, ini aku sudah kabari Dion untuk datang kesini segera."


"Ar ... tenang," ujar Anwa menenangkan suaminya.


"Iya ... aku tenang." Namun jelas terlihat perasaan kacau dan wajah tegang yang ada di sana.


bersiap untuk next part yaaah


enjoy reading 😘