Kiss Me

Kiss Me
Stay with me



Sejatinya manusia hanya bisa berencana namun Tuhan juga yang menentukan segalanya...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku sudah sampe Wa," ujar Arkana di seberang sana.


Saat itu pukul setengah sebelas siang, pekerjaan Anwa tidak begitu banyak. Senang hatinya saat sang suami menelpon mengabarkan jika ia sudah sampai dengan selamat.


"Jangan lupa makan Ar," kata Anwa dengan tetap memandang layar komputer di depannya.


"Kamu lagi apa?"


"Buat laporan yang papa minta untuk meeting nanti."


"Anaknya anteng, kan?" tanya Arkana, "Wa, video call dong," pintanya.


"Sebentar, Ar," Anwa mengganti setting mode vidoe call.


Wajah Arkana tersenyum saat melihat istrinya dengan santai mengerjakan pekerjaannya. Teringat saat pertama kali bertemu di kantor sang papa, Anwa dengan kacamatanya, dengan bibir yang sedikit terbuka karena serius menatap layar monitor.


"Aku selalu suka liat kamu kerja, serius banget," ujarnya.


"Kamu udah makan, Ar?"


"Belom, nanti aja ... di sini hujan deres banget, Wa."


"Makan gih, delivery order aja, atau kalo ada karyawan yang masuk suruh bikin apa gitu."


"Belom ada yang masuk, mungkin minggu depan ... sampai selesainya renovasi ini."


Arkana memperhatikan istrinya, rambut keriting kesayangannya itu di kuncir tinggi oleh Anwa.


"Wa, kalo aku gak ada kamu jangan nakal ya, makan yang banyak, inget di tubuh kamu juga ada anak kita yang harus kamu kasih nutrisi dan gizi yang baik, jangan lupa selalu di doain, diajakin ngobrol, apalagi tentang ayahnya, bilang ke anak aku kalo aku tuh ganteng, romantis dan perkasa," Arkana terkekeh melihat bibir istrinya yang sudah mencebik.


"Kamu kayak mau pergi lama aja, ntar sore juga pulang ... eh, tapi kalo hujannya deres banget mending gak usah pulang Ar, kita cancel ke dokternya besok aja," kata Anwa.


Arkana mengangguk tanda setuju, "kita lihat nanti ya, kalo bisa aku pulang lah ... gak enak tidur jauh-jauh an."


Anwa menatap Arkana lama, seperti ada yang berbeda, "cepet pulang ya, tapi kalo hujan pulang besok aja, kamu nginep di Bandung aja, ya."


Arkana mengangguk matanya tak sengaja melihat kancing kemeja Anwa, dia lalu tersenyum teringat tadi pagi dia membenamkan wajahnya di dada sang istri.


"Ke toilet Wa," pinta Arkana.


"Ngapain?" tanya Anwa bingung.


"Mau lihat itu," Arkana mengedikkan kedua alisnya.


"Ish, sembarangan," Anwa terkekeh. "Ar, aku mau makan siang, mau aku matiin ponselnya atau kita tetap terhubung?"


"Nanti aku telpon lagi deh, makan yang banyak, kasih kiss aku ke adek ya," Arkana mengerucutkan bibirnya. "I love you, Wa."


"I love you too, Ayah." Anwa memberikan kecupan di layar ponselnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul tiga sore Arkana kembali menghubungi Anwa, Arkana mengatakan kalau pekerjaannya sudah selesai dan untuk seterusnya semua akan di handle oleh salah satu orang kepercayaan yang baru saja dia tugaskan.


"Tapi masih hujan di sana?" tanya Anwa.


"Udah gak sih, cuma hujan biasa gak deras ini, aku udah di mobil nih on the way, kalo gak macet jam enam udah di Jakarta, ketemu di rumah sakit ya," ujarnya lembut.


"Ar, hati-hati ... kabari kalo udah masuk Jakarta."


"Oke ...."


Pembicaraan itu pun terputus, Anwa kembali mengerjakan pekerjaannya yang sebentar lagi selesai.


"Wa ...," suara panggilan dari atasannya yang juga mertuanya itu mengagetkan Anwa.


"Iya, Pak."


"Ibu Ema sudah kasih ke kamu revisi dokumen yang saya butuhkan?"


"Sudah Pak," jawab Anwa yang selalu profesional dalam bekerja.


"Antar ke ruangan saya nanti," ujar Fajar yang berjalan menuju lift.


Satu jam Anwa berkutik dengan pekerjaannya, sedangkan saat ini pukul empat sore, ada rasa ingin menghubungi Arkana namun diurungkannya mengingat Arkana sedang dalam perjalanan, mungkin nanti saja pikirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu jam perjalanan yang sudah Arkana tempuh dari Bandung, hujan semakin deras padahal tadi saat ia berangkat hujan sudah berhenti. Perlu kehati-hatian dalam membawa kendaraan pada saat hujan seperti ini, apalagi melalui jalan tol, jalan akan terasa licin.


Melalui tol Cipularang, Arkana membawa laju mobilnya dengan kecepatan sedang, begitu juga mobil-mobil yang lainnya. Mengingat tol Cipularang menuju Jakarta seperti jalan menuruni gunung.


Kecepatan masih sangat stabil, alunan musik di mobil membuat Arkana tetap harus terjaga dengan udara yang dingin dan mata yang harus selalu mawas.


Seketika Arkana menginjak rem mobil secara mendadak saat mobil di depannya berhenti tiba-tiba, Arkana membanting setir mobil ke kanan ke arah pembatas jalan tol, hantaman dari mobil belakang keras mengenai mobilnya.


Benturan keras di kepalanya membuatnya hilang kendali menghentikan mobilnya, hingga hantaman dari arah berlawanan pun tak dapat lagi terelakkan.


Sekelebat ingatan serta wajah istrinya berputar-putar di benaknya, aliran darah dari kepalanya melewati mata Arkana begitu hangat terasa, darah juga keluar di kedua lubang hidungnya.


Kesadaran Arkana mulai menipis, sesak di dadanya begitu terasa, airbag mengembang secara sempurna, sayangnya benturan kepala yang Arkana alaminya terjadi berkali-kali dari arah depan dan belakang mobil yang menghantam mobilnya.


Wajah Anwa melintas dengan senyumannya, rasanya Arkana tak kuat lagi menahan sakit di kepalanya. Masih berusaha melepaskan diri dari dalam mobil, namun apa daya lambat lain kesadaran itu mulai menipis.


Kecelakaan beruntun yang diakibatkan jalan licin, hujan deras dan berhenti mendadaknya kendaraan di depan mobil Arkana membuatnya harus mengalami ini semua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anwa melakukan panggilan telepon pada Arkana namun tak kunjung ada jawabannya. Masih berpikiran positif, Anwa akhirnya menaiki taksi online untuk menuju rumah sakit tempat dia biasa memeriksakan kandungannya.


Berharap akan bertemu Arkana di sana, sudah hampir satu setengah jam tidak ada kabar dari Arkana, harusnya Arkana sudah masuk ke Jakarta.


Lagi-lagi Anwa menghubungi suaminya namun tetap tidak ada jawaban, nomer urut pasien pun hanya selisih tiga nomer dari nomer antriannya.


Perasaan tak enak tiba-tiba Anwa rasakan, tapi secepat kilat Anwa tepis. Ponsel Anwa berdering, sudut bibirnya mengembang, akhirnya yang ia tunggu pun menghubunginya, dengan rengekan dan suara manjanya, Anwa menyapa suara di seberang sana.


"Ar, udah sampe? kamu dimana?aku udah di depan ruangan praktek dokter, kamu langsung kesini ya," Anwa berdiri dari duduknya mengedarkan pandangannya mencari sosok itu.


"Dengan istri dari Bapak Arkana Putra Fajar? Kami dari kepolisian kabupaten Bandung Barat, memberitahukan bahwa Bapak Fajar mengalami kecelakaan beruntun di tol Cipularang arah ke Jakarta."


Anwa tercekat, seolah udara tak dapat ia hirup, waktu seakan berhenti, kakinya seakan tak menapak di bumi, jantungnya berdegup kencang, aliran darahnya seakan berhenti mengalir.


Apa yang ia dengar seperti suara petir yang tiba-tiba menggelar, mengguncang dunianya, memporak porandakan pikiran yang ada di benaknya.


Anwa lemas, Anwa terduduk di lantai rumah sakit, semua mata memandangnya, air mata bahkan tak keluar sedikitpun. Otak Anwa berputar apa yang harus ia lakukan, apa yang harus ia perbuat.


Matanya nanar, sepersekian detik ponselnya berbunyi kembali, sang papa mertua menghubunginya, Anwa hanya diam ... diam seribu bahasa.


"Wa ... kamu dimana? kasih tau papa kamu dimana, Nak?" berkali-kali pertanyaan itu terlontar hingga Anwa tersadar ketika bentakan di seberang sana terdengar, suara papa mertua membentaknya agar Anwa segera sadar dalam kebingungannya.


"Papa ... Arkana ... Arkana Pa ...." Tangis Anwa pecah, semua orang yang ada di depan praktek dokter kandungan itu akhirnya menyadari jika Anwa tidak baik-baik saja.


Hingga akhirnya salah satu dari pengunjung pun mengambil alih ponsel di tangan Anwa, memberikan informasi dimana Anwa berada.


"Stay with me, Ar," lirih Anwa dalam tangisnya.


***please... stay tune...


enjoy reading😘


Chida ❤️***