Kiss Me

Kiss Me
Everything will be beautiful in its time



"Ini semua yang bikin Anwa, Ma," ujarnya melirik pada Cha Cha.


Cha Cha masih melanjutkan kegiatan mengunyahnya, bahkan terus bertambah. Senyum tipis di wajah Arkana terukir begitu indah, ada harapan pikirnya.


"Enak ya, Ma?" tanya Arkana, ia juga melirik pada Fajar yang menikmati setiap hirupan cuko, kuah pempek yang begitu kental.


Cha Cha hanya tersenyum. Terdengar suara kaki dari ruang tamu menuju ke arah mereka.


"Pantes sepi di depan, ternyata lagi pada ngobrol di dapur," ujar Langit yang datang dengan satu plastik Donat ber merk.


"Wah... pempek nih, cobain ya," Jingga mencomot satu pempek yang di celupkannya ke mangkuk cuko milik Fajar. "Enak loh, ini beli yang di langganan kita itu ya Kak?" tanya Jingga pada Cha Cha.


"Gak lah, beda ini dari teksturnya aja beda, rasanya malah enak ini, berasa ikannya," Langit menimpali.


"Iya sih, cukonya lebih kental ya, manis pedes berasa banget," ujar Jingga. "Jadi beli dimana ini? tempat baru ya Kak?"


"Ini yang bikin Anwa, Mima," jawab Arkana mengedikkan alisnya


"Wah, keren dong, bisa ini di buat untuk salah satu menu di kafe atau restoran kamu, Ar," Jingga bersemangat lalu mengambil lagi pempek berukuran lebih besar, "kita coba yang ini ya," ujarnya membelah pempek kapal selam. "Nih, berasa banget ikannya, Didi cobain deh," Jingga membeo tanpa melihat perubahan dari wajah Cha Cha yang sedari tadi hanya diam.


"Boleh lah kapan-kapan, suruh Anwa bikin Ar, buat staf di kantor," tak urung Fajar pun berkomentar, disambut dengan lirikan mata Cha Cha yang tajam.


"Kalo kamu mau, bawa aja pulang semua Ga," ujar Cha Cha lalu berdiri dan berjalan ke kamarnya.


"Eh," Langit menelan kasar pempek yang ia makan, "kenapa Ibu negara, Jar?" tanyanya pada Fajar.


Fajar mengangkat bahunya, "aku susulin dulu deh."


"Kenapa Bang?" Jingga bertanya pada Arkana.


"Mama gak nerima Anwa jadi anggota keluarga kita, Mima," jawab Arkana lesu.


"Loh, kenapa? bukannya saat makan malam itu, Kak Cha Cha ramah dan suka banget sama Anwa," Jingga bingung.


"Anwa anak dari mantan narapidana korupsi," ujar Arkana lirih.


"Apa?" pasangan suami istri itu berseru berbarengan.


"Serius?" tanya Langit.


"Tanya Om Riza aja, Didi."


"Kok Riza tau? oh iya Riza temannya ayah si Anwa ya," ujar Langit mengingat. "Gini, coba nanti Didi cari tau kebenarannya."


"Keluarga Anwa, gak seburuk yang kita kira kok," kata Arkana mengusap wajahnya, "Arkan sudah pernah ketemu dan tinggal dengan mereka selama beberapa hari."


Dan, Arkana pun menceritakan semuanya pada Langit dan Jingga.


"Nanti Mima bantu ngomong deh sama mama kamu, mudah-mudahan Kak Cha Cha bisa membuka hatinya, ya." Jingga menepuk pundak Arkana.


"Tenang Ar, yang namanya cinta itu butuh perjuangan, kamu masih mending begini, belom di tinggal pergi tanpa tau keberadaan pacar kamu dimana kan? Didi udah ngalamin semuanya," ujar Langit terkekeh.


"Iya, untung pulang ya," Jingga pun ikut tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gimana pempeknya?" pesan masuk dari Anwa baru saja terbaca oleh Arkana.


Lelaki itu merebahkan tubuhnya di kamar yang sudah jarang ia tempati. Bingung menjawab akan isi pesan itu.


Ponsel Arkana pun berbunyi, diraihnya ponsel itu, nama Anwa tertera di sana.


"Ya?"


"Kok gitu jawabnya."


"Lagi nunggu balesan chat."


Arkana terkekeh.


"Gimana?"


"Apa?"


"Pempeknya?"


"Oh."


"Kok oh sih."


Arkana tertawa. "Pempeknya enak, Mama sama Papa suka, mereka makan habis banyak, bahkan Didi sama Mima minta buat di bawa pulang."


"Syukurlah, berarti berhasil dong tahap pertama."


"Bisa di bilang gitu."


"Kamu kok kayak gak semangat gitu sih, Ar?"


"Aku cuma mikir, kayaknya kita butuh usaha lebih keras lagi selain pempek yang kamu buat, Wa."


"Aku tau." Anwa tersenyum di seberang sana.


"Maaf ya, kamu jadi harus berjuang mendapatkan hati Mama," ujar Arkana lirih.


"Gak papa, Ar," ujarnya, "everything will be beautiful in its time." Senyuman tipis terukir di wajah Anwa, dia tahu betul kalau perjuangan mereka masih sangatlah panjang.


"Iya, semua akan indah pada waktunya, kamu sabar ya."


Anwa hanya mengangguk tanpa terlihat oleh lawan bicaranya.


"Wa."


"Iya."


"Tidur gih, udah malem."


"Gak bisa."


"Kenapa?"


"Gak tau."


"Mau aku tidurin," Arkana terkekeh, "kok aku kangen sama kamu ya."


"Sama, aku juga kangen."


"Aku pulang ke sana ya."


"Gak usah, jangan... besok aja."


"Ya udah, tidur gih."


"Iya, selamat malam, Ar."


"Malem, Wa."


Malem semuanya, sorry late up ya... leher aku tenggleng 🤣🤣 salah bantal kayaknya.