Kiss Me

Kiss Me
Saya cinta anak Ibu



Pukul dua siang hari, wanita cantik itu datang ke kantor sang suami. Sampai di depan meja Anwa, dia hanya melirik sebentar lalu masuk ke dalam ruangan suaminya.


Anwa hanya menunduk saat wanita berusia lima puluh tahun yang masih terlihat cantik itu datang. Ada perasaan perih saat melihat mimik muka Ibu dari kekasihnya, tapi Anwa bisa apa?"


"Wa, nanti aku sama Pak Fajar ada rapat dengan divisi HRD, kamu bisa kan tolong buatin aku notulen rapat beberapa hari yang lalu, aku gak sempet nih," ujar Ibu Ema.


"Siap Bu, sekarang saya kerjain."


Tak lama, pintu ruangan itu terbuka. Pasangan suami istri itu keluar dengan wajah yang serius.


"Ema, kita jalan sekarang," ujar Fajar. "Mama aku tinggal ya, pulang diantar sopir kan?, tanya suaminya.


Lalu Fajar berjalan lebih dulu, sedangkan Cha Cha berhenti di meja Anwa, gadis itu masih menunduk hormat.


"Kamu bisa ikut saya, sebentar," ujarnya pada Anwa.


"Baik, Bu."


Mereka berada di kafetaria kantor, duduk saling berhadapan. Cha Cha memandangi gadis yang berada di depannya, kekasih dari anaknya. Sedangkan gadis itu hanya bisa menunduk tak berani melihat. Iya, Anwa masih merasa sungkan ketika tahu wanita itu tidak menyukai latar belakang keluarganya.


"Tau kan, kenapa saya mau bicara dengan kamu?"


Anwa hanya diam.


Cha Cha menghela nafas. "Sebenarnya, saya malas sih mau ngurusin hal seperti ini, hidup anak saya dia yang menentukan, dari dulu saya tidak pernah ikut campur urusan mereka, tapi saya rasa kali ini saya harus ikut campur karena ini menyangkut nama baik keluarga saya."


"Suami saya salah satu direksi di perusahaan ini, nama baiknya di pertaruhkan di sini." ujarnya, "bisa kamu bayangkan beberapa headline news menuliskan anak seorang pejabat BUMN menikah dengan anak seorang mantan narapidana korupsi?"


Anwa menatap tajam mata wanita itu, begitu sakit rasanya hati ini menerima hinaan itu kembali, bahkan yang berkata pun orang yang selama ini dia hormati.


"Saya mau kamu tinggal kan anak saya," ujar Cha Cha membalas tatapan tajam itu.


"Maaf Tante, maksud saya Ibu---" kata Anwa pelan. "Saya minta maaf kalau ternyata saya membuat malu keluarga Ibu bahkan keluarga besar Ibu, jauh sebelum Ibu katakan agar saya meninggalkan Arkana, saya sudah lebih dulu menjaga jarak dengan anak Ibu, tapi apalah artinya menjaga jarak jika salah satunya tetap mendekat." Anwa kembali terdiam.


"Tentang latar belakang keluarga saya, kami sudah melewati masa dimana semua orang mencemooh kami, kami sudah melewati bagaimana kami di kucilkan dari keluarga bahkan orang-orang yang tadinya mendekat bak serombongan semut lalu pergi ketika kami jatuh, kami juga sudah terbiasa melewati bagaimana hidup dengan kekurangan."


"Mimpi saya cuma satu Bu, bagaimana saya bisa membahagiakan orang-orang yang saya cintai termasuk Arkana, anak Ibu."


"Arkana datang kepada saya menawarkan diri sebagai seorang teman, dia berjuang membantu saya bangkit dari keterpurukan, dia yang membantu saya menguntai kembali hari-hari saya yang bahkan saya sendiri merasa tak pernah menapakkan kaki di bumi seperti layaknya manusia sebelum saya bertemu dia, dia yang memperjuangkan rasanya untuk saya meski kecil kemungkinan saya akan menerima dia."


"Bagaimana saya bisa menolak orang yang berjuang dengan gigih atas perasaannya terhadap saya, dan sedikit banyaknya seharusnya Ibu bangga memiliki anak seperti Arkana, Ibu berhasil menjadi seorang Ibu yang melahirkan anak yang mempunyai kesadaran menghargai seorang wanita."


Wanita paruh baya yang kerutan di wajahnya bahkan tak begitu terlihat dikarenakan perawatan wajah yang mahal itu pun terdiam.


"Saya minta maaf karena telah masuk ke keluarga Ibu dengan membawa ketidaknyamanan," ujar Anwa berdiri lalu menunduk memberi hormat.


"Saya cinta anak Ibu, jadi saya mohon biarkan kami berjuang untuk mendapatkan restu dari Ibu, saya berjanji membahagiakan Arkana, seperti yang Arkana lakukan pada saya."


"Saya permisi," ujar Anwa meninggalkan Cha Cha yang masih terpaku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore itu seperti biasa Arkana menjemput Anwa sepulang kerjanya. Gadis itu terlihat sangat suntuk. Setelan kerjanya pun sudah tak karuan, menenteng tas tangan kulit berwarna hitam, ia memasuki mobil Pajero Sport milik kekasihnya itu.


"Jelek banget mukanya," ujar Arkana yang mendapati wajah kekasihnya itu bertekuk-tekuk. "Kenapa sih?"


"Gak papa, pulang yuk," jawab Anwa.


Sore itu jalanan terlihat lebih lengang tidak seperti biasanya, mungkin karena besok adalah long weekend jadi orang-orang yang bekerja sudah mengajukan cuti sehari sebelum libur panjang.


"Nonton aja yuk?" ajak Arkana berusaha mencairkan suasana.


"Gimana?"


"Terserah," jawab Anwa lagi.


"Kamu kenapa sih, Wa?" Arkana menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Aku gak papa."


"Kalo gak papa, muka kamu gak kayak gitu Wa."


Anwa membuang mukanya ke arah jendela.


"Wa, aku nanya loh?"


"Iya, aku lagi kesel--- keseel banget."


"Sama siapa? aku?"


"Bukan," matanya mulai berkaca-kaca.


"Loh, kok nangis?"


Jelas Anwa menangis, rasa kesal di hatinya luar biasa sudah memuncak. Mendengar keluarganya kembali di hina siang tadi, mendengar bagaimana ia diminta untuk berpisah dengan orang yang selama ini berjuang membuat dia kembali bangkit menata hidup. Sakit rasanya hati seperti tercabik-cabik.


Lagi-lagi hidupnya harus di uji dengan drama kehidupan yang sungguh mendramatisir. Kehilangan kekasih, ayah yang menjadi tersangka korupsi, lalu harus mengejar restu ketika dia mendapatkan kembali cinta di dalam hatinya.


Adil sekali hidupnya! Rasa kesal, ingin marah, takut kehilangan kembali bercampur menjadi satu.


"Wa, liat aku," pinta Arkana mengangkat dagu gadis itu, menghapus air mata yang menetes. "Kamu kenapa?"


"Mama kamu datang nemuin aku," Anwa tercekat.


"Mama? nemuin kamu?"


Anwa mengangguk.


"Ngomong apa?"


Anwa menggeleng.


"Kok malah geleng-geleng? bilang sama aku mama ngomong apa?"


"Mama minta aku buat ninggalin kamu," Anwa menangis, Arkana membawanya kepelukan.


"Sstt... denger aku... Wa, denger aku," ujar Arkana menangkup kedua pipi Anwa. "Gak ada yang bakal ada, siapa yang ninggalin siapa ya, aku sama kamu gak bakal pisah, aku gak bakal ninggalin kamu, kita berjuang buat ngedapatin restu Mama," ujarnya lagi menyematkan rambut di balik telinga Anwa.


"Gimana kalo mama kamu maksa, aku bukan wanita tangguh Ar," ujarnya masih terisak.


"Mama maksa? aku tetap bertahan sama pilihan aku, aku gak bakal kemana-mana Wa... percaya sama aku." Arkana meyakinkan gadis itu, wajah yang sembab itu di bawanya kembali ke dalam pelukannya.


"Jadi nonton gak?" ajakan itu kembali terdengar. "Senyum dong," pinta Arkana.


"Aku gak mau senyum, Ar."


"Bener gak mau senyum?" Anwa mengangguk. "Ya udah kalo gitu, di cium mau?" Arkana terkekeh dan seperti biasa mengaduh karena di hujani cubitan oleh Anwa.


***kasian ya....


jejaaaak darliing 😘***