
Arkana masih termenung di balkon kamarnya, pandangannya menyapu langit penuh bintang malam ini. Setelah ia mengutarakan semua kepada orangtuanya, ada perasaan lega dan juga perasaan bersalah. Sebagai anak dia juga harus memikirkan perasaan sang Mama, tapi Arkana juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan.
Kembali terpikir olehnya ucapan dari Didi Langit, tidak ada salahnya mendekatkan Anwa dan mama secara personal. Selama ini Anwa hanya berani untuk mengirimkan masakan kesukaan sang mama juga belum tentu bisa meluluhkan hati wanita yang sudah melahirkannya itu.
Arkana merogoh ponselnya di saku celana, sedari tadi ponsel itu bergetar. Beberapa pesan masuk pun masih enggan dia balas, termasuk pesan dari Anwa. Padahal Anwa berpesan untuk mengabarinya setiba di rumah.
Arkana menekan nama Anwa pada ponselnya, tak lama nada sambung pun terhubung.
"Ya, Ar."
"Udah tidur ya?"
"Belom, nungguin kamu bales chat, tapi lama."
"Kamu lagi apa?"
"Nonton drakor."
Arkana diam sejenak.
"Ar... gimana tadi?"
"Ya gitu deh."
"Gitu gimana?"
"Mama cuma diem, Wa," ujar Arkana lalu menghela napas, menceritakan semuanya pada Anwa apa yang terjadi beberapa jam lalu.
"Kalo Om Riza dan Didi gak ada, mungkin kita masih tertatih-tatih mengharap restu mama, tapi dengan papa bilang dia merestui kita, aku bisa bilang mama juga akan melakukan hal yang sama."
"Wa...."
"Iya, Ar."
"Didi minta kita melakukan pendekatan personal, antara kamu dan mama... kamu mau?"
"Kita coba ya, gak ada salahnya di coba, walau mama kamu secara tidak langsung memberi restu, tapi aku juga gak bisa kalo mama kamu gak sepenuh hati nerima aku."
"Iya, aku tau."
Lalu mereka pun terdiam.
"Ar...."
"Iya, Wa."
"Tidur ya," pamitnya.
Arkana menyeringai. "Tidurlah."
"Ar...."
"Iya, Wa... kenapa? gak bisa tidur ya kalo gak ada aku."
Anwa terkekeh. "Cuma mau bilang... I love you, Ar."
Arkana mengulas senyum. "I love you too, Wa."
Kecupan selamat malam secara virtual pun terdengar pada ponsel sepasang kekasih itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu minggu berlalu, Anwa dan Arkana belum juga punya waktu untuk menjalankan misi mereka. Belum lagi Arkana yang bolak balik Bandung untuk mengurus usahanya di sana.
Hingga pada suatu siang, Arkana menelpon Anwa meminta tolong untuk menemani Mama Cha Cha melakukan general check up di salah satu rumah sakit.
"Aku takut gak keburu Wa, kalo mama nunggu aku kelamaan," ujar Arkana di seberang sana. "Lagian papa juga belum sampai di bandara jam segitu, Wa."
"Oke," jawab Anwa yang sebenarnya bisa saja menolak untuk menemani mama Arkana, tapi melihat wanita itu akan sendirian menunggu di rumah sakit mau tidak mau, Anwa harus menemaninya.
"Besok di jemput supir ya," ujar Arkana lagi.
"Gak usah, aku tunggu mama di rumah sakit aja, biar gak bolak balik, nanti kamu chat aku ya datanya biar sekalian mama aku daftarin."
"Oke, hati-hati ya."
Mungkin sudah saatnya Anwa melakukan ini sendiri, mengambil hati calon ibu mertuanya. Menyemangati diri sendiri, itu yang dia lakukan sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hingga hari yang di tunggu itu pun datang, Anwa membereskan pekerjaannya sore itu. Bergegas turun dari gedung kantornya, menaiki ojek on-line yang ia pesan tadi. Sebisa mungkin dia harus sampai terlebih dahulu agar dapat melakukan registrasi pendaftaran ulang data pasien.
Lima menit sebelum kedatangan ibu dari kekasihnya, Anwa sudah melakukan tugasnya. Mengukir senyum saat beradu pandang dengan wanita tua yang cantik itu. Walaupun tidak mendapatkan balasan, namun Anwa berusaha menghormatinya.
Duduk bersisian di kursi ruang tunggu, perasaan serta keadaan canggung menyelimuti dua orang yang seperti tak saling kenal itu.
"Ibu mau saya ambilkan air?" tanya Anwa. Dan wanita itu masih diam.
Anwa tersenyum tipis, rasanya sebuah penolakan itu memang menyakitkan.
"Atau ibu mau saya Carikan snack? antrian kita masih lama, takutnya Ibu lapar." Anwa menaikkan alisnya menunggu jawaban tetapi masih saja ibu kekasihnya itu diam.
"Ibu, saya tinggal sebentar gak papa ya, saya harus mencari sesuatu untuk di makan, takut asam lambung saya naik," ujarnya lagi.
Selang beberapa menit, Anwa kembali duduk di sebelah Mama Cha Cha dengan membawa dua air mineral, dua bolu, dua risoles, dan dua biskuit coklat.
Anwa yakin calon mertuanya itu juga lapar, hanya mungkin gengsi untuk menjawab.
"Ibu kalo mau ambil saja, lumayan untuk mengisi perut kita, antriannya masih lima belas orang lagi," ujar Anwa. "Saya kira dengan saya mendaftar ulang lagi, nomer antrian akan berubah jika kita datang lebih awal, ternyata sama saja." Anwa menjelaskan. "Arkana mungkin setengah jam lagi sampai Bu, perjalanan dari Bandung lumayan macet katanya."
Mama mertua masih saja diam namun sesekali melirik melihat Anwa yang dengan santainya memakan risoles isi daging asap yang wanginya begitu menyeruak di hidung Mama Cha Cha sehingga memancing perutnya berbunyi.
"Saya boleh minta satu?" ujar Mama Cha Cha akhirnya mengeluarkan suara emasnya yang sedari tadi diam.
"Oh, boleh Bu, ini... Ibu mau yang mana?" Anwa tergagap sehingga ia membuka beberapa plastik berisi cemilan itu.
Mama Cha Cha mengambil satu potong bolu coklat, dan meneguk air mineral yang Anwa berikan padanya. Mereka menikmati makanan itu dengan diam. Nomer antrian masuk sudah berada di nomer empat belas itu berarti setelah ini mereka akan masuk.
"Oh, syukurlah belum masuk kan?" Arkana datang dengan nafas terengah-engah.
"Belum," jawab sang Mama sedang membersihkan tangannya dengan tisue.
"Setelah ini kita masuk," jelas Anwa. "Kok ngos-ngos an?"
"Iya, aku lari dari parkiran, takut Mama udah masuk ke dalam."
"Kalo Mama masuk ke dalam kan ada Anwa disini, Ar," jawab Mama Cha Cha diikuti mata Anwa dan Arkana yang saling berpandang.
Iya, mereka terkejut dengan kata-kata Mama Cha Cha yang sepertinya biasa saja dalam pengucapan namun sungguh berarti untuk mereka. Anwa dan Arkana meyakini bahwa pelan-pelan sang ibu membuka hati untuk hubungan mereka.
"Oh, iya kok Arkan gak kepikiran ya Ma, kan ada Anwa," ulang Arkana.
Tak lama kemudian nama yang di tunggu pun di panggil, Arkana menemani sang Mama memeriksa kesehatannya di dalam ruangan, sementara Anwa masih menunggu di sana.
Tak butuh waktu lama, anak dan ibu itu sudah keluar dari ruang praktek dokter.
"Tuh Ma, inget jangan stress jadi tekanan darahnya gak naik," ujar Arkana mengingatkan. Lalu membawa tas ibunya, mereka berjalan berdua bersisian, sementara Anwa mengikuti dari belakang.
"Ma," ucap Arkana, "Arkan nganterin Anwa pulang ya, Mama balik sama supir gak papa kan?"
"Mama belom mau pulang, Mama laper, kita makan dulu deh... Mama lagi pengen seafood yang di Kelapa Gading," ujar Cha Cha.
Anwa dan Arkana lagi-lagi saling tatap.
"Kalo begitu, saya pamit pulang dulu Bu," ujar Anwa memohon undur diri.
"Saya mau ngajak kamu makan, kenapa jadi kami pamit pulang," ujar Mama Cha Cha yang berjalan lebih dulu.
Sepasang kekasih itu saling pandang kembali, lalu secara bersamaan mengangkat bahu masing-masing.
"Ar, ayo... kamu ikuti Mama dari belakang ya, Anwa ikut mobil saya."
"Eh... " Arkana tak dapat lagi berkata apa, sementara jari telunjuk Anwa sudah menempel di bibirnya memberikan isyarat agar ikuti saja maunya wanita tua yang cantik itu.
***happy long weekend gaeeesss...
besok 1 part yaaaah... 😘 sambil menunggu up boleh lah di baca-baca karya aku yang lainnya 😂
mohon tinggal kan jejaaaak bebs 😘😘***