
Arkana dan Anwa baru saja keluar dari praktek dokter kandungan, pasangan ini keluar dengan senyum yang terus mengembang. Tautan jari jemari mereka tak saling melepaskan. Mengingat pesan yang disampaikan oleh dokter yang memeriksa Anwa, bahwa janin kecil mereka sudah berusia enam minggu dalam keadaan baik-baik saja
Arkana dan Anwa berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Perasaan bahagia tak dapat lagi mereka tutup-tutupi. Arkana tak henti-hentinya mengecupi tangan istrinya.
"Kita mau kemana Ar?"
"Aku gak tau kita mau kemana, tapi aku gak mau pulang dulu, mau berdua sama kamu dulu."
Arkana melajukan mobilnya sore itu ke sebuah pantai, pantai dimana saat kencan pertama mereka. Duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap ke laut lepas, Anwa membaringkan kepalanya di pangkuan Arkana.
"Baca apa?" tanya Arkana membelai lembut kepala sang istri.
"Baca ini," Anwa menyerahkan ponselnya.
"Tentang kehamilan?" Anwa mengangguk. Arkana tersenyum lalu di kecupnya bibir Anwa, di kecupnya pula kening istrinya, berulang kali hingga Anwa tertawa.
"Kenapa sih?" tanya Anwa.
"Makasih ya Wa," kata Arkana, "kamu sudah mau jadi istri aku, ibu dari anak-anak aku, jangan lelah dengan perasaan cinta kamu buat aku."
"Romantis banget," Anwa tersenyum.
"Cium, Wa," pinta Arkana.
"Sini," Anwa melingkarkan tangannya pada leher Arkana agar menunduk.
"Yang lama ya."
"Diliat orang."
"Biarin aja."
"Jadi gak?"
Arkana tertawa, di ciumnya lembut bibir sang istri, saling membalas dan berbaur saliva. Arkana melepaskan ciuman mereka, mengusap bibir istrinya yang basah.
"Kita pulang ke apartemen aja yuk, gak usah ke rumah," kata Arkana pelan.
"Kenapa?"
"Aku mau nikmatin berdua sama kamu," ujarnya membelai pipi Anwa.
Anwa bangkit lalu bersandar di kursi panjang itu, menatap lurus ke depan. Matahari mulai turun, namun pengunjung semakin ramai.
"Memang kalo di rumah kenapa?".
"Kalo di rumah desahan kamu tertahan," ujar Arkana menyunggingkan senyum.
"Ar ... ih." Anwa mencubit perut suaminya.
"Kalo di apartemen aku bisa bebas bersuara Wa, kita bisa bebas mau ngelakuin dimana aja, di sofa, di dapur, gimana?"
Anwa tertawa lalu meletakkan kepalanya di lengan Arkana.
"Kamu bahagia gak sih ketemu aku, Ar?"
"Banget ... kamu kayak pengisi hari-hari aku yang kosong, rumah tempat aku pulang, separuh nyawa aku jadi kalo kamu pergi mungkin aku yang gak bisa hidup tanpa kamu."
"Kamu jangan ngomong sembarangan, Ar ... ini mau Magrib," sergah Anwa.
"Kamu gak mau ke pengen apa gitu, Wa?"
Anwa menggeleng. "Belom pengen apa-apa."
"Biasanya kalo orang hamil kan pengennya banyak."
"Iya, tapi belom pengen apa-apa sekarang, Ar."
"Aku pengen makan ayam goreng yang di warung tenda pinggir jalan, Wa."
"Yang dimana?"
"Dimana aja, asal enak."
"Kayaknya kamu yang ngidam ya, Ar."
"Ini cuma ke pengen aja, Wa."
Setelah menghabiskan makan malam mereka di warung tenda pinggir jalan. Mobil kembali melaju menuju apartemen Arkana.
"Kamu tumben makannya banyak Ar," kata Anwa bergelayut manja di lengan suaminya dengan tangan yang mengelus elus paha Arkana.
"Laper Wa, lagian sambelnya enak ... eh ini kenapa tumben?" tanyanya pada Anwa yang sudah memasukkan tangannya ke dalam baju Arkana.
"Pengen aja," jawab Anwa sambil menciumi lengan Arkana.
"Lima belas menit lagi kita sampe, bisa kali di tahan Wa," Arkana terkekeh tiba-tiba dia terkejut saat tangan Anwa sudah masuk ke dalam celananya. "Wa ...." Arkana menoleh ke arah Anwa.
"Di sini aja yuk." Mata Anwa mulai sendu.
"Apa?"
"Di sini aja," ulangnya lagi.
"Sebentar lagi sampe Wa," Arkana kelabakan saat resleting celananya mulai Anwa turunkan.
"Wa ... kamu kenapa?" Arkana bingung, ia seperti tidak mengenal istrinya.
"Mau ini Ar," ujarnya dengan suara parau.
"Ya ampun,Wa ... sabar, nih udah sampe basemant, aahh ...," Arkana mengerang.
"Cari parkir pojok, Ar," ujar Anwa melepas kaosnya dan memperlihatkan dada yang masih terbungkus renda berwarna hitam.
"Di-- sini, Wa?" Arkana takjub saat dia sudah memarkirkan mobilnya, Anwa berpindah duduk di pangkuannya dan menghadap pada Arkana.
"Ar, kursinya dorong ke belakang," Anwa mulai menggerakkan pinggulnya.
"Wa ... uugh."
Anwa mulai mencium bibir Arkana dengan lembut sampai dengan mengecupi leher suaminya.
Arkana lagi-lagi mengerang, miliknya sudah mulai menginginkan bukan hanya di gesek namun juga ingin bertemu.
"Wa ... sempit di sini," Arkana jengkel.
Anwa menaikkan rok mininya, membuka penutupnya dan mulai mengarahkannya pada milik Arkana. Memulai bergoyang mengikuti irama yang ia mau, kadang cepat kadang lambat. Mungkin jika ada yang melihat mobil itu pasti seperti mobil bergoyang.
"Wa ... shiiit ...." Arkana meremat dan menghisap satu persatu benda yang berada di hadapannya.
"Ar ... se--ka--rang ya," pinta Anwa.
"Kamu kenapa jadi liar gini, Wa." Desahan mereka saling bersautan.
"Wa ... astagaaa ... ayo Wa." Tubuh Anwa melengkung merasakan pelepasan mereka.
Napas tersengal-sengal dan saling memburu, kedua kening itu pun bersatu, sesekali Anwa mengecupi bibir Arkana.
"Lepas ya," ujarnya lembut.
"Sebentar," Arkana membuat tanda kepemilikan di sebelah pucuk dada istrinya.
"Kamu keringatan, Ar."
"Kamu luar biasa, Wa."
Anwa tersenyum, lalu memakai kembali helai-helai yang sudah jatuh ke bawah.
"Itu yang di dalam gak kenapa-kenapa kan?" tanya Arkana menarik resleting celananya.
"Gak papa, dia tau Bunda nya kepengen banget."
"Siapa yang ngajarin?" tanya Arkana mengusak rambut istrinya.
"Kamu, siapa lagi."
"Sini ... cium dulu."
Anwa mencium sekilas bibir suaminya, lalu memakai kembali pakaiannya.
"Gimana? tanya Anwa.
"Apanya?"
"Sensasinya," ujar Anwa tersenyum nakal.
"Mungkin kita bisa cari tempat yang lain Wa ... sempit di sini."
Anwa tertawa, "aku gak tau pengen aja tadi tiba-tiba Ar," ujarnya membuka pintu mobil.
"Hormon kehamilan?" tanya Arkana.
"Bisa jadi," Anwa meraih tangan Arkana.
"Luar biasa istri aku."
"Kenapa?"
"Luar biasa aja ... setelah ini di meja dapur juga boleh lah." Mereka pun tertawa memasuki lift menuju unit apartemen Arkana.
Sehabis membersihkan diri, Anwa sudah lebih dulu berbaring di tempat tidur sambil meraba perutnya yang masih terlihat rata.
"Capek ya?" ujarnya seakan berbicara pada janin di dalam perutnya. "Adek, bobok ya ... besok kita ajak ayah ke taman."
"Ke taman besok pagi? kamu mau jogging?"
"Gak."
"Terus?"
"Aku mau cari otak-otak bumbu kacang, ada gak ya?"
"Aduh ... kayaknya mulai nih." Arkana menepuk jidatnya.
"Mau ya ... besok kita cari."
"Iya ... iya," jawab Arkana menarik selimut dan istrinya untuk tidur di pelukannya.
"Sampe dapet?"
"Sampe dapet."
"Setelahnya aku pengen rujak mangga."
"Iya ... rujak mangga, kami list aja mau apa, nanti kita cari."
"Rujak mangga pedes ya, Ar." Arkana mengangguk angguk lalu mengecup pucuk kepala Anwa.
"Udah tidur dulu, besok kita cari."
"Tapi aku maunya makan rujak mangganya di atas pohon mangga, ya." Anwa mengangkat kepalanya menunggu jawaban Arkana, dan Arkana pura-pura tidak mendengar.
***udah pada buka kaaaaan???
jangan lupa jejaaaak... kalo masih ada tiket vote sok atuh kasih ke neng Wawa 😂 terus bunganya buat Abang Ar. okeeeh
enjoy reading 😘***