
Arkana hanya membutuhkan waktu tujuh jam untuk sampai ke alamat yang ia peroleh semalam. Bertanya dengan beberapa orang yang ia temui tadi, memastikan jika alamat yang ia tanyakan benar.
"Jadi benar ya Pak, ini alamat Bapak Syahril?" tanyanya pada seorang lelaki yang sedang berolahraga melintas di depan rumah itu.
"Benar ini rumahnya," ujar bapak itu.
Tepat pukul setengah enam pagi dia sudah berada di depan rumah Anwa. Rumah masih terlihat sangat sepi, belum ada yang keluar dari rumah itu. Kembali lagi Arkana menunggu sekitar satu jam, baru terlihat jendela-jendela rumah itu terbuka.
Seorang lelaki yang memilik umur sekitar lima puluh tahun keluar ke depan teras.Arkana memasuki pagar rumah itu,dan sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Cari siapa?" tanya ayah.
Mengulurkan tangannya lalu memperkenalkan diri.
"Selamat pagi Om, saya Arkana teman Anwa dari Jakarta, Anwa nya ada Om?"
"Anwa? ada... masuk... masuk," sambutan ramah dari Pak Syahril.
Memasuki ruang tamu yang masih tersusun kursi-kursi besar berukiran mahal sisa-sisa kejayaan keluarga ini dulu, setidaknya masih tertata rapih di bandingkan di luar tadi.
"Malik," seru pak Syahril, "panggil Wawa ke sini, ada temannya dari Jakarta."
Malik menautkan kedua alisnya, sepagi ini sudah ada yang mencari kakaknya dan jauh-jauh dari Jakarta. Siapa??
"Ayuk, ada tamu," ujar Malik saat menemukan Anwa sedang membantu Bunda menyiapkan sarapan pagi ini.
"Hah? siapa?" tanyanya bingung.
"Gak tau, dari Jakarta kata ayah," Malik duduk di dekat meja dapur sambil mengunyah tempe goreng.
"Coba di liat dulu Wa, mungkin bener teman kamu," ujar Bunda, "Malik... kebiasaan deh maen comot aja belum juga di taruh di meja, taruh di meja sekalian." Malik yang terkena omelan sang Bunda menggaruk kepalanya lalu membawa piring yang berisi tempe goreng.
Anwa melangkah menuju ruang tamu, membawa dua cangkir teh hangat untuk ayah dan yang katanya tamu dari Jakarta.
Melihat laki-laki yang duduk dengan tangan yang bertaut di tengah-tengah kaki yang melebarkan jarak. Lusuh dan terlihat muka lelah lelaki dengan hoodie berwarna hitam itu sedang berbincang-bincang dengan sang ayah.
"Ar?" ujarnya tak percaya.
"Wa," Arkana bangkit dari duduknya.
"Ngapain kesini?" tanyanya bingung.
"Orang dateng jauh-jauh malah di tanya ngapain kesini, kamu gimana sih Wa," ujar Pak Syahril tersenyum.
"Ayah tinggal dulu ya, kalian lanjutin ngobrolnya," ujar sang ayah yang baru saja hendak melangkahkan kaki melihat Malik mengintip dari ruang keluarga, "sstt, ngapain di sini, bantuin Bunda siapin sarapan pagi ini, kita kedatangan tamu," Ayah menepuk pundak pemuda itu dan menggiringnya ke dapur.
Anwa dan Arkana tersenyum melihat kelakuan Malik dan Pak Syahril.
"Kamu ngapain sampe sini?" ujar Anwa meletakkan nampan pembawa cangkir teh tadi.
"Gue minum boleh ya Wa," ujarnya meraih cangkir teh itu.
"Lo belom mandi?" tanyanya pada Anwa.
"Kenapa?"
"Temenin gue nyari hotel di dekat sini."
"Kamu belom jawab pertanyaan aku, kamu ngapain bisa sampe sini?"
"Gue---,"
"Wa," suara Bunda memotong pembicaraan mereka, "ajak temannya sarapan bareng," Bunda tersenyum pada Arkana, Arkana pun berdiri mengulurkan tangannya untuk mencium punggung wanita yang masih terlihat cantik itu meski di usia yang tidak lagi muda.
"Hah?"
"Ajak sarapan bareng, ayo... udah di tungguin sama Ayah," ujar Bunda lagi.
"Gak usah cari hotel, tidur di sini aja," ujar ayah Anwa dan di sambutan mata melotot dari Anwa dan tawa yang tertahan dari Malik.
"Saya cari hotel aja Om,"
"Gak usah, hitung-hitung ini cara kami menerima tamu jauh," kata Pak Syahril, "dan pula bisa memakai kamar milik Malik."
"Sekamar sama Malik?" ujar Malik terkejut.
"Kamu punya kamar juga gak pernah di pake, Lik, tidurnya di depan tivi terus," kali ini Bunda yang bersuara.
"Nanti setelah makan, Arkana di antar ke kamar Malik ya Wa," ujar Bunda lagi.
Anwa pun mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Masuk," ajak Anwa ketika memasuki kamar Malik.
"Taruh di situ aja kopernya, ini handuk bersih dan alat mandi, kamar mandi ada di sebelah sana," ujarnya menunjuk kamar mandi yang ada di pojok kamar.
"Makasih ya Wa, udah di terima di rumah ini," Arkana berjalan mendekati Anwa.
Anwa sedikit menoleh ke arah pintu yang terbuka, ketika melihat pergerakan Arkana yang akan mendekati dirinya.
"Aku tinggal ya, kamu istirahat aja dulu, nanti kalo butuh sesuatu cari aku di ruang keluarga atau cari Malik, biasanya Malik maen gitar di gazebo belakang," ujar Anwa yang sudah membalikkan badannya tetapi dengan cepat tangannya di raih oleh Arkana.
"Ar," Anwa mendongakkan kepalanya menatap lelaki itu.
"Sebentar doang."
"Gak enak ini di rumah," ujarnya melepaskan tangan Arkana dari pinggangnya lalu berlalu keluar dari kamar itu.
Mengistirahatkan tubuhnya, Arkana terbangun saat jam dinding di kamar itu menunjukkan pukul setengah tiga sore. Dan dia melewatkan makan siang dengan keluarga itu.
Meraih ponsel yang berada di sampingnya, mengirimkan balasan beberapa pesan yang masuk, mengecek email yang masuk untuk membahas beberapa pekerjaan.
Arkana keluar kamar mencari dimana keberadaan Anwa, namun tak ia temukan. Mendengar petikan gitar di halaman belakang yang dimainkan oleh Malik membuatnya melangkahkan kaki ke pintu samping menuju taman belakang yang sudah tak terawat.
"Udah bangun Bang," sapa Malik.
"Iya, sorry kecapekan kayaknya."
"Santai aja Bang," ujar Malik sok asik.
"Anwa kemana?" tanyanya.
"Nemenin Bunda ke pasar cari perlengkapan buat besok, ada orderan nasi kotak."
"Oh," ujarnya mengangguk angguk, " tamannya sayang banget gak di rawat Lik."
"Udah gak ada yang mau ngerjain Bang, taman seluas ini gue juga mikir mo motongin rumputnya," Malik terkekeh karena teringat ia dulu pernah mencoba untuk memotong rumput-rumput yang panjang namun akhirnya menyerah tak sanggup.
"Manggil orang?"
"Uangnya mending buat makan Bang," Malik kembali memetik senar gitarnya.
Terselip beberapa pertanyaan yang sedari tadi ingin sekali Arkana tanyakan. Jelas terlihat Anwa bukan dari keluarga yang tak mampu jika di lihat dari rumah yang besar, kursi-kursi yang berukiran mahal sampai dengan garasi mobil yang besar yang bisa di isi dengan tiga mobil sekaligus tapi hanya terisi dengan mobil Avanza keluaran tahun pertama.
Ada apa dengan keluarga Anwa? Pertanyaan ini yang akan ia tanyakan nanti jika Anwa pulang dari pasar.
***1 part nemenin siang kamu di hari Minggu 😘
jejaaaak bebs***