
Gemericik air yang jatuh memancing Arkana untuk menyusul istrinya masuk ke dalam kamar mandi pagi itu. Tubuh molek Anwa dari switch glass terlihat menggoda mata Arkana.
Perlahan ia buka, dan ikut masuk ke dalamnya. Anwa sedikit terkejut ketika suaminya memeluknya dari belakang. Memiringkan sedikit lehernya, saat Arkana menciumi ceruk leher wanita itu.
"Kamu gak ada capeknya ya Ar," ujar Anwa sedikit mendesah.
"Gak akan bosen kalo kamu yang jadi santapannya." Arkana meremat dada Anwa sehingga Anwa melenguh kecil.
Dibawah kucuran shower erangan dan desahan itu pun mendominasi selain gemericik air. Pelepasan demi pelepasan pun terurai, Arkana semakin pintar dengan berbagai macam gaya yang cepat dia pelajari.
Anwa sempat kewalahan saat tiba-tiba tubuhnya terangkat tanpa melepas miliknya dari Arkana.
"Ar ... sakit iih," Anwa memukul pundak Arkana.
"Sebentar lagi Wa ...," Arkana mendesah, suara erangan itu tak henti hentinya memenuhi ruangan. "Se-- kaa-- rang Wa ... uuhhh."
Anwa hanya bisa mengigit pundak suaminya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Tubuhnya bergerak sesuai tempo yang Arkana mau, sesekali pucuk dadanya di hisap oleh Arkana.
Pagi yang luar biasa untuk pasangan ini, padahal baru saja semalam Arkana meminta padanya dan pagi ini dia meminta kembali.
"Apa kata mama kita baru keluar jam segini dari kamar," ujar Anwa kesal sambil melilitkan handuknya.
"Ini kan weekend Wa, mama ngerti kok ... lagian mama paham lah, kita pengantin baru," jawab Arkana mengibaskan rambutnya yang basah.
Anwa sudah memakai pakaian dalamnya lalu berjalan ke meja rias untuk memakai skincare pada wajahnya.
"Kamu sekarang keliatan berisi Wa," Arkana memperhatikan wanita yang hanya memakai pakaian dalam itu berjalan lagi ke arah lemari baju.
"Apanya yang berisi ... tolong dong Ar, tarikin resletingnya," ujar Anwa memutar tubuhnya.
"Ini lebih berisi," ujar Arkana meremat dada Anwa.
"Ar ... kenapa sih doyan banget, sakit loh kalo dadakan." Anwa merajuk.
"Kalo gak dadakan gak sakit?" tanya Arkana lalu tertawa. "Terus ini ... makin chubby," ujarnya lagi mencubit pipi istrinya.
"Masa sih?"
"Iya, tapi aku suka ... kamu keliatan semok."
Anwa pagi itu sudah memakai dress baby doll bermotif bunga kecil berwarna-warni. Sedangkan Arkana hanya memakai celana pendek chinos dan kaos polo berwarna biru dongker.
"Sarapan dulu Ar," sapa Mama Cha Cha yang masih duduk menemani suaminya di meja makan.
"Iya, Ma." Arkana menarikkan kursi untuk Anwa.
"Gimana Wa, udah enakan badannya?" tanya ibu mertuanya.
"Lumayan Ma, enakan."
"Enakkan dong kan udah ada pawangnya," jawab Arkana.
"Apaan sih, Ar." Anwa malu saat kedua mertuanya menatap mereka.
"Biasa lah ...," Arkana terkekeh.
"Mama hari ini masak, udang saos tomat cobain deh Wa," Mama Cha Cha mengangkat piring berisi udang dan memberikannya pada Anwa.
Seketika Anwa yang sudah menerima piring tadi tiba-tiba ia letakkan dengan menutup hidungnya.
"Mama ... maaf, ini kenapa Anwa gak suka bau nya, aduh ...," Anwa menahan rasa mual di ulu hatinya.
"Kamu kenapa, Wa?" Arkana meletakkan sendoknya, mengelus punggung istrinya.
"Gak tau, kok tiba-tiba gak enak gini ... Mama maaf ya," Anwa meninggalkan meja makan dan berlari menuju kamar mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara flush toilet terdengar untuk kesekian kalinya. Arkana sedari tadi memijat tengkuk leher istrinya yang sudah terduduk lemas di lantai kamar mandi.
"Berdiri dulu yuk, kita ganti baju," ujar Arkana mengangkat Anwa dan merangkul pundak istrinya.
Arkana dengan telatennya membukakan seluruh pakaian serta dalaman anwa yang sudah basah. Mengikat rambut istrinya lalu memberikan titah agar sang istri beristirahat.
"Gak enak banget perut aku Ar," ujar Anwa yang sudah meringkuk di atas tempat tidur. Arkana masih mengelus-elus punggung belakang Anwa.
"Ar, Mama masuk ya ...." Mama Cha Cha masuk dengan membawa satu gelas teh hangat. "Coba minum ini biar perutnya hangat," ujarnya lagi.
"Makasih Ma," ujar Anwa menyeruput teh hangat dari mertuanya. "Masuk angin kali ya Ma? gak enak banget perut Anwa," rengek istri Arkana itu.
"Aku kerokin? apa aku pijetin?" tanya Arkana. "Gak pernah-pernahnya kamu masuk angin sampe kayak gini, Wa."
"Gak papa, biasa kayak gini mah," kata Mama Cha Cha, "Anwa coba inget-inget lagi ... bulan ini sudah halangan belum" Mama Cha Cha menyembunyikan senyumnya.
"Maksud Mama?"
"Maksud Mama kamu, Anwa hamil," ujar sang ayah yang ternyata dari tadi berdiri di pintu.
"Aduh ... terakhir tanggal berapa ya Ma, Anwa lupa." Anwa masih meringis menahan mual.
"Udah Ar, ke dokter aja buat memastikan, bisa jadi usaha kamu gak sia-sia," ujar Papa Fajar terkekeh lalu berlalu dari kamar anaknya.
"Apa mau Mama panggilkan dokter dateng ke sini?"
"Siapa Ma?" tanya Arkana bingung karena setahu ia dokter yang sering datang dokter umum keluarga yang seringkali memeriksa orangtuanya.
"Si Alya itu dokter kan?"
"Ya ampun Ma, emang Anwa mau konsultasi skincare?" Arkana tertawa begitupun Anwa yang tertawa sambil menahan perih.
"Loh, Alya bukannya dokter kandungan?"
"Asal Mama ah ... aku ke apotik dulu deh, beli testpack ... kalo emang beneran dia ada di sini," ujar Arkana mengusap perut Anwa, "kita langsung ke dokter."
Sekembalinya Arkana dari apotik, ia membawa empat testpack sekaligus dari berbagai macam merk.
"Banyak banget, Ar," kata Anwa yang meraih testpack dari tangan Arkana.
"Kamu mau tes apa sih Ar, banyak banget di belinya," Mama Cha Cha yang dari tadi menemani Anwa pun terkekeh melihat ulah anaknya.
"Biar yakin Ma ... udah ayo aku temenin." Arkana membantu Anwa berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
"Kamu tunggu di luar aja Ar," ujar Anwa.
"Emang kenapa kalo aku masuk?"
"Aku mau pipis Ar, ya malu lah di liatin."
"Biasa juga aku udah liat ... udah buruan masuk," Arkana mendorong pelan tubuh istrinya untuk masuk ke dalam.
"Jangan liat ya?"
"Ish, tinggal di keluarin aja Wa.".
"Eh, ntar dulu," Anwa kembali berdiri. "Kalo misalnya ini ternyata bukan uang seoerti kita pikirkan gimana?" ujar Anwa menatap manik mata Arkana.
"Ko memang bukan seperti yang kita pikirkan, berarti kita nanti malam coba lagi," jawaban konyol dari Arkana.
"Kamu itu ...."
"Udah buruan tampung," Arkana menyandar di dinding sambil melihat sang istri melakukan aktivitasnya.
"Nunggu berapa lama itu Ar petunjuknya?"
"Sebentar lagi ... tunggu aja."
"Aduh, kok aku malah mules ya Ar."
"Udah santai aja Wa, kalo emang gak berhasil ya kita coba lagi." Arkana mengusak rambut istrinya.
"Ar ... yang ini udah," Anwa mengangkat satu testpack, "tapi samar Ar, satu garis doang."
"Udah biarin dulu, nanti serempak kita angkat."
Akhirnya mereka memutuskan untuk mengangkat ke empat testpack itu secara bersamaan.
"Ar ...." Senyum Anwa mengembang.
"Wa ...." Arkana pun tersenyum, tak henti-hentinya dia menciumi setiap inci wajah istrinya.
"Ar ...," Anwa tak percaya dengan yang dia lihat, dua garis biru jelas dari ketiga testpack sedangkan satu testpack satu garis terlihat samar.
"Positif Wa ... kamu hamil Wa," ujar Arkana dengan mata berkaca-kaca, "kamu hamil, Wa," ujarnya bahagia.
Anwa mengangguk angguk, meneteskan air matanya. "Aku hamil anak kamu, Ar." Mereka pun saling berpelukan.
"Makasih, Wa ... makasih," Arkana menghapus air mata Anwa.
"Ar ... lama banget ... gimana?" suara Mama Cha Cha dari luar menyadarkan mereka.
Arkana membuka pintu kamar mandi.
"Lama banget sih ... gimana?"
Arkana menyerahkan empat testpack pada sang Mama, wanita itu spontan berteriak memanggil suaminya.
"Pa ... papa ... Pa ...." panggil Mama Cha Cha.
"Apa sih Ma?"
"Cucu Pa ... kita mau dapet cucu," ujar Mama Cha Cha bahagia memeluk suaminya.