
Jarak tempuh dari Bandara Radin Inten ke pulau tujuan mereka sekitar hampir dua jam. Dan mereka masih harus menaiki kapal kecil untuk menyeberang menuju pulau itu.
Saat menapaki pulau dengan pasir putih yang halus itu, mata Anwa terbelalak melihat keindahannya.
"Villanya di sebelah sana, Tuan," ujar salah satu pengantar mereka. "Mari saya antar."
"Makasih, Mas." Arkana memberikan beberapa lembar uang.
"Ar, ini bagus banget." Anwa melepaskan flatshoes, memainkan jari-jari kakinya di pasir putih.
"Iya, sekarang kita ke villa dulu."
Villa itu berada di atas air laut, bangunannya dari kayu yang sangat eksotik. Dengan atap yang melengkung menyerupai rumah orang-orang Eskimo. Masuk ke dalam ruangan itu, terdapat sofa berhadapan dengan TV, kamar mandi dengan kaca yang transparan, tempat tidur dengan kelambu dan berlapis sprei berwarna putih. Jendela dengan ukuran lebar terbuka sehingga angin yang masuk pun sangat terasa. Di teras villa hanya di batasi dengan pagar kecil dan ada sebuah tangga yang menuju ke bawah untuk melihat langsung ikan-ikan dan terumbu karang. Air laut itu sangat jernih sekali.
"Udaranya enak banget Ar," ujar Anwa merentangkan tangannya. "Mima pinter banget nyari suasananya ya." Anwa pun mengulas senyum. "Tapi ini jarak satu villa dengan yang lain lumayan jauh ya, Ar?"
Arkana melangkah menuju Anwa yang berada di sisi villa.
"Kalo jaraknya dekat, kamu berisik kedengeran loh," Arkana sudah menciumi ceruk leher Anwa.
Anwa terkekeh. "Yang bikin jadi berisik kan kamu."
"Udah mau sore, kata bapak yang nganterin kita tadi, pemandangannya lebih bagus di sore hari atau pagi hari menjelang matahari terbit."
Air yang tenang, angin yang semilir dan ikan-ikan di bawah sana kadang menampakkan dirinya, membuat suasananya begitu damai.
"Kamu mau makan di sini? atau kita ke restorannya?" tanya Arkana.
"Di restorannya aja, katanya menu seafood nya enak-enak."
"Gak mau makan di kamar aja?" Arkana mengerling nakal.
Anwa mencium sekilas bibir lelaki itu. "Masih banyak waktu, Ar."
Menikmati sore hari dengan pemandangan lautan luas di depan mereka, menikmati senja hari dengan kicauan burung yang hilir mudik pulang keperaduan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anwa begitu cantik malam ini, menggunakan dress berbahan satin berwarna biru laut dengan tali satu jari melingkar di pundaknya.
Mereka duduk di meja yang terletak di balkon restoran, meja yang di tata rapih dengan lilin-lilin kecil dan dua tangkai bunga yang berada di dalam vas, menambah suasana romantis.
Arkana yang duduk berhadapan dengan Anwa tak melepaskan sedikit pun pandangannya dari istrinya itu.
"Kamu cantik banget sih?"
"Bisa banget ya." Anwa tertawa.
Arkana menarik tangan Anwa, menciumi punggung tangan istrinya. Menaruhnya di sebelah pipinya. Sesaat tangan itu terlepas saat pelayan mengantarkan makanan ke meja mereka.
Menikmati makan malam romantis dan di akhiri dengan mereka menikmati lampu-lampu temaram di teras villa. Anwa duduk di pangkuan Arkana, melingkarkan tangannya pada leher lelaki itu.
Tak henti-hentinya bibir itu saling bertemu, Arkana tak melepaskan pagutannya sedikit pun. Tangan yang berada di atas paha Anwa pun bergerak menyelinap masuk. Membelai lembut membuat Anwa bergerak sedikit.
"Kenapa?"
Anwa merapihkan helaian rambut Arkana yang menutup keningnya. Mengecupi setiap inci wajah Arkana, dan kembali menyatukan bibir mereka.
Dress berbahan satin halus itu membuat tubuh Anwa terlihat semakin terbentuk. Tangan Arkana tak lagi berada di paha namun sudah berjalan masuk ke bagian atas dada.
"Di dalam aja yuk?" ajak Arkana saat Anwa mulai menegang merasakan tangan suaminya meremat dada.
Pelepasan pertama baru saja selesai, Anwa menutupi tubuhnya dengan selimut putih yang transparan.
Dipandangi wajah suaminya, lelaki itu tertidur dengan posisi terlentang. Anwa susuri wajah itu dengan jari tangannya. Mulai dari alis, mata, hidung, bibir yang selalu menjadi candu untuknya.
Arkana menggeliat kala tangan Anwa bermain di dadanya, membentuk pola melingkar lalu turun ke bawah perutnya.
"Wa," ujar Arkana parau. "Kamu mau lagi?" Milik Arkana mulai menegang kembali.
"Gak," Anwa terkekeh saat melihat bagian bawah di balik selimut itu.
"Kalo gak, tidur gih ... udah malem."
"Gak mau," ujar Anwa dengan tangan yang sudah masuk ke bawah sana.
"Wa ... aduuuh," Arkana membuka matanya. "Kamu semakin pintar ya Wa," Arkana menggerakkan tubuhnya seperti mencari posisi yang nyaman.
Anwa tertawa, lalu melepaskan tangannya. "Kok di lepas Wa?"
"Aku udah ngantuk," ujarnya santai lalu berbalik memunggungi Arkana.
"Kamu ngeselin ya," Arkana menggelitik tubuh Anwa di bawa selimut. Kamar itu pun dipenuhi gelak tawa mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hhmm."
"Sarapan udah di anterin tadi," Anwa berjalan mengambil sarapan lalu meletakkan di atas tempat tidur.
"Roti?"
"Iya, susu Wa."
"Ini?" Anwa memberikan segelas susu pada Arkana.
"Bukan ... itu." Arkana menunjuk pada jiplakan dada Anwa dibalutan selimut.
"Ish." Anwa cemberut. " Gak puas juga."
"Mana mungkin puas, kamu kan tau suami kamu ini perkasa, Wa."
"Ar, hari ini kemana?" tanya Anwa memoles roti dengan selai coklat.
"Kita naek sepeda onthel menyusuri bibir pantai, mau?"
"Keburu siang Ar," Anwa melirik jam dinding.
Arkana meletakkan roti, lalu turun dari tempat tidur.
"Biar gak kesiangan, kita mandi sekarang," ujarnya membopong tubuh Anwa masuk ke dalam kamar mandi kaca itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menyusuri pantai pagi ini dengan menyewa sepada onthel. Anwa menyukai hal seperti ini, berboncengan, bersenda gurau, tertawa lepas seakan memang dunia ini milik berdua.
"Kita ke kota yuk Wa," ujar Arkana mengayuh sepedanya.
"Naik sepeda?"
"Ya gak lah ... mau kamu kita ke kota naik sepeda terus malemnya aku gak bisa gerak?" Arkana terkekeh di iringi cubitan di pinggangnya.
"Kita kayak pasangan romantis gitu ya Wa, naik sepeda, boncengan ... sepedanya antik gini lagi."
"Kayak di film-film ya, Ar."
Arkana tertawa. "Capek Wa, gantian dong kamu yang boncengin aku."
"Kamu mau, kalo aku boncengin kamu, malemnya aku gak bisa ngapa-ngapain," balas Anwa.
"Ish, ya udah jangan deh, biar Abang aja yang bawa adek," candanya. "Mau gak Wa? kita ke kota?"
"Kalo besok aja gimana? sekalian kita keluar dari pulau, terus ke kota terus ke rumah bunda, gimana?"
"Dari kota ke rumah bunda, berapa jam?" tanya Arkana yang sudah turun dari sepeda, lalu memarkirkannya dan duduk di atas pasir putih.
"Dari kota ke rumah bunda kalo dulu sebelum ada tol bisa dua setengah jam."
"Berarti besok kita lewat tol aja biar lebih cepet sampainya, oh ya nanti aku sewa mobil deh dari sini, biar bisa mengulang masa lalu, inget gak waktu aku jemput kamu pulang waktu itu?"
"Iya ... yang belum apa-apa udah nyosor duluan," ujar Anwa dengan wajah merona.
"Tapi kamu juga mau," Arkana mendekatkan wajahnya.
"Ar ...."
"Mau gak cobain di sini, Wa," ujarnya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat keadaan.
Anwa meraup wajah suaminya lalu tertawa, pinggang Anwa pun di peluk oleh Arkana.
"Yuk, Wa ... kita coba di sini, kan belum pernah."
"Kamu aja sana ... sama kepiting tuh," tunjuk Anwa menunjuk kepiting yang berlari ke pantai.
"Jahat sih ...." Arkana mengejar Anwa yang sudah berlari ke pantai. Saling berkejaran di pinggir pantai menghabiskan waktu berdua, hanya berdua.
enjoy reading and don't forget to leave your traces...
like
comment
vote
and share to all of people in the world
love
Chida 😘