Kiss Me

Kiss Me
Hai, Sayang



Matahari menampakkan sinarnya pagi ini. Ini adalah akhir bulan, hari yang di tunggu-tunggu oleh Anwa. Yang berarti hari ini dia menerima gaji pertama selama satu bulan bekerja sebagai karyawan dengan status kontrak.


Jabatan Junior Secretary yang sekarang di sandangnya masih lah berstatus kontrak per enam bulan, jika pada masa probation ini ternyata yang ia kerjakan baik dan sesuai SOP maka statusnya akan berubah sebagai permanen staf atau karyawan tetap. ~Kurang lebih begitu ya kalo salah author monmaap author dah lama nganggur~


Jam makan siang seperti biasa Anwa menerima kiriman makanan dari seseorang yang belum Anwa ketahui siapa. Tapi siang itu makanan yang ia terima ia simpan untuk makan malam saja. Anwa beranjak dari meja kerjanya, setelah dirasa sudah rapih semua pekerjaannya, ia berjalan ke arah lift.


Pintu lift terbuka, di lihatnya Ibu Ema dan Pak Fajar atasannya keluar dari lift masih membahas hasil meeting tadi pagi.


"Anwa," sapa Fajar pada pegawainya itu.


"Ya, Pak."


"Makan siang?" tanya atasannya itu.


"Iya Pak."


"Setelah makan siang kamu ke ruangan saya ya, ada beberapa hal yang harus kita bahas dengan Ibu Ema."


"Baik Pak, saya permisi," sambil menganggukkan kepalanya, pamit undur diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ini kali pertama Anwa makan siang di luar kantor tepatnya bukan di kafe atau restoran, namun tempat makan pinggir jalan yang mana banyak terdapat di area perkantoran. Terkadang dalam benak Anwa sering muncul pertanyaan, kerja di gedung yang tinggi tapi mereka lebih suka makan di tempat seperti ini, bukan kah gaji mereka besar-besar, gaya mereka dari segi penampilan juga terlihat berkelas, ah entahlah hal seperti ini banyak sekali kita jumpai di kota besar. Sejauh mata memandang mereka enjoy dengan kehidupan seperti ini, begitu juga Anwa.


Memasuki warung tenda dengan menu ayam bakar madu dan segelas es jeruk, lumayan untuk gaji pertama yang di nikmatinya. Dirasa cukup mengisi perutnya. Anwa yang memang belum terlalu banyak mengenal para karyawan di perusahaan ini, apalagi dia berada di lantai atas, lantai dimana para direksi berada hanya melemparkan senyum bila bertemu.


Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore saat Anwa keluar dari ruangan Pak Fajar. Meeting kecil antara dia dan Ibu Ema serta Pak Fajar membahas notulen rapat dengan Pak Menteri beberapa hari lalu.


"Anwa."


"Ya Bu."


"Senin nanti kamu jangan lupa siapkan dokumen yang akan Pak Fajar bawa ya."


"Iya Bu, saya siapkan semua Senin nanti."


"Ok, sekarang siap-siap pulang saja, tadi kamu udah ijin juga," ujar Ibu Ema lagi, "kamu kalo weekend biasa kemana Wa?" tanyanya.


"Di kost saja Bu, beberes," jawabnya tersenyum.


Beranjak meninggalkan tempat dimana Ibu Ema masih setia duduk di meja kerjanya. Anwa masuk ke dalam lift, lalu keluar kantor di saat matahari belum begitu turun. Sebentar menunggu ojek on-line yang membawanya ke sebuah tempat yang hampir satu bulan ini belum ia kunjungi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(aku nulis ini sambil dengerin "Maudy Ayunda~Kamu& Kenangan" semoga feel-nya dapet ya)


"Hai, Sayang," ujarnya membelai lembut nisan berukir nama yang telah membuat hatinya sepi.


"Gimana kabarnya? maaf ya aku baru datang sekarang, kamu baik-baik aja kan di sana? udah ketemu bidadari surga kah? pasti kamu seneng banget ya Ka di sana--" setitik demi setitik air mata itu meluncur tanpa dosa.


"Aku bawain kamu ini," ujarnya meletakkan satu tangkai bunga mawar di atas nisan itu, "dulu kamu sering kasih ini ke aku, inget gak? bukan cuma anniversary kita aja, bahkan gak ada momen pun kamu kasih aku ini."


"Kamu gak kasian sama aku Ka, aku sendirian di sini, kamu buat aku kesepian di sini," Anwa menghela nafas panjang, "bahkan datang ke mimpi aku pun kamu gak pernah Ka, kamu gak kangen aku?" tangis itu kembali lagi terurai.


"Kamu tau rasanya kehilangan itu gimana? sakit banget, setiap hari aku harus berusaha menepis senyum kamu yang hadir setiap pagi, setiap aku membuka mata... Ka, jika waktu bisa terulang, aku lebih memilih gak ketemu kamu, biar aku gak ngerasain ini, ngerasain cinta tapi kehilangan... Sayang, aku kangen," isak tangis itu semakin menjadi, Anwa menelungkupkan wajah di kedua tangannya.


Tujuh bulan berlalu, rasa kehilangan itu semakin terasa, segala kenangan yang terukir itu bahkan tak mau pergi walau sejenak. Tangis itu menjadi, Anwa membiarkan dirinya larut akan kerinduan, kerinduan yang hanya ia rasakan sendiri.


Sekian lama tertunduk, Anwa mulai membacakan doa untuk Dika, seraya mengetuk hati Sang Pencipta agar menyampaikan salamnya untuk kekasih yang ia harapkan tapi tak akan pernah kembali.


Menaburi kembang tujuh rupa yang tadi dia bawa, serta membasuh nisan itu dengan lembut, lalu mengucuri gundukan tanah itu dengan air yang ia bawa.


"Inget aku selalu Ka..." ujarnya lalu mencium nisan itu, "aku pulang ya... Aku pulang, Sayang,"


Anwa beranjak dari duduknya,


"Sudah selesai?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang itu, Arkana di telpon oleh Mama Cha Cha untuk menjemputnya di kantor sang ayah pukul empat sore, selepas dari kantor Papa Fajar, mereka akan mengadakan makan malam bersama dengan keluarga besar di restoran milik Jingga.


Setelah melakukan urusan di restorannya, Arkana melajukan mobilnya mengarah ke kantor sang Ayah, baru saja akan memasuki pelataran kantor, Arkana melihat Anwa berjalan tergesa-gesa, lalu menaiki ojek on-line yang sudah menunggunya di pelataran.


Tidak ambil pusing, Arkana mulai mengikuti kemana ojek on-line itu membawa gadis ikal keriting itu pergi. Memasuki sebuah tempat pemakaman umum di daerah Casablanca, sebelumnya berhenti untuk membeli bunga dan sebotol air, lalu ojek itu berhenti di satu ruas pemakaman di dekat jalan setapak.


Keluar dari mobil, Arkana memperhatikan apa yang di lakukan oleh Anwa. Duduk di sebuah kursi taman di dekat makam yang Anwa kunjungi. Arkana melihat kesedihan gadis itu yang seakan tak pernah usai, ingin rasanya memberikan pundak atau dada bidangnya agar gadis itu bisa menangis sepuasnya, bukan hanya menutup dengan kedua tangannya, agar isak tangis itu tak terdengar. Semua keluh kesah, rasa rindu serta kesepian terlontar dari bibir Anwa, ungkapan rasa hati yang menyesak di dada, sore itu semua terungkap.


Melihatnya saja sudah membuat hati Arkana pilu, apalagi Anwa yang merasakan bagaimana rasanya mencintai lalu kehilangan.


Kalau sudah takdir yang tertulis, kita bisa apa, Tuhan yang punya kuasa begitulah kira-kira yang Arkana pikirkan.


Melihat Anwa beranjak dari duduknya, Arkana pun mendekat ....


"Sudah selesai?"


***Pagi-pagi dah melow bebs... sorry yaaaah 😘


tinggalin jejak jangan lupa... biar bisa pelukan online 😟***