Kiss Me

Kiss Me
Demam



Anwa menatap netra ya tak lepas dari pandangannya. Setelah Arkana mengusapkan jarinya pada bibir Anwa, gadis itu berusaha untuk biasa saja.


Perasaan apa ini dan kelakuan konyol apa ini pikirnya, sesaat dia menolak ciuman yang Arkana berikan, tapi berbeda dengan pikiran dan tubuhnya. Bibir Arkana menyapu lembut bibir yang sudah lama tak merasai manis dan hangatnya bibir lelaki lain hampir satu tahun belakangan ini.


Bodoh, bagaimana bisa secepat ini Anwa merutuki dirinya sendiri. Namun perasaan yang hadir itu tidak bisa dielakkan lagi.


"Wa, gimana? kita jadi kencan?"


Anwa menoleh ke belakang saat dia ingin berjalan menuju pintu ruangan atasannya itu.


"Kita liat nanti ya Ar, sekarang aku mau pulang," jawabnya singkat.


"Wa," Arkana meraih tangan itu lagi, "marah?"


"Gak."


"Lalu?"


"Gak apa apa Ar, aku cuma mau pulang, ayo."


Mereka berjalan bersisian dalam diam, luar dari gedung kantor itu lalu Arkana melajukan mobilnya ke sebuah warung sate, sambil menunggu hectic nya jam kerja di ibu kota. Memutuskan untuk berhenti sebentar mengisi perut yang mulai berbunyi sepertinya ide baik.


"Makannya di mobil aja ya, gak usah turun," ujar Arkana, "gue pesenin dulu."


Anwa hanya diam, lalu mengusap layar ponselnya, ada beberapa pesan masuk salah satunya dari sang Bunda.


Sembari membalas pesan untuk sang Bunda yang memintanya pulang awal bulan depan, Anwa memperhatikan Arkana yang sedang berbicara dengan seseorang melalu ponselnya. Seketika pandangan mereka bertemu, Arkana kembali berjalan masuk ke dalam mobil.


"Sabar ya, belom laper banget kan?" ujarnya menyadarkan kepalanya pada sandaran jok kemudi.


"Iya," jawab gadis itu.


"Ar," ucap Anwa lembut.


"Iya Wa,"


"Siapa Alya?"


Arkana tersenyum mendengar Anwa menyebutkan nama Alya.


"Yakin mau denger? kemarin gue bilang mau cerita lo bilang gak usah," jawabnya meledek.


"Kan kemarin, beda dengan sekarang."


"Pinter nge les ya," ujarnya mengacak-acak rambut gadis itu.


"Alya... Alya itu pacar pertama gue" ujarnya melirik Anwa yang juga menyandarkan kepalanya, "dulu kita ketemu di perpustakaan universitas, dia mahasiswa kedokteran gue ilmu komunikasi, gadis yang pintar, cantik, sempurna, tapi sedikit kaku dan terlalu serius dalam mengejar cita-cita," Arkana mengenang.


"Kita pacaran tiga tahun, sampai lulus kuliah, Alya memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Oxford University."


"Selama kami berhubungan, gak pernah gue ribut atau bosen sama dia, gue juga udah kenal keluarga dia, gitu juga dia, hanya ya lagi-lagi pendidikan memang nomer satu untuk hidupnya, akhirnya dia memilih memutuskan hubungan kami," kata Arkana lagi.


"Masih cinta?" tanya Anwa.


"Siapa? gue?"


Anwa mengangguk,


"Gimana gue harus jawabnya ya, semua tentang dia, gue udah tau banget luar dalam, jadi kalo gue bilang, gue masih ada perasaan... ya bisa di bilang gitu, hanya---" Perkataannya terhenti ketika tukang sate mengetuk kaca mobil mereka.


"Makasih Pak," Anwa meraih dua piring sate dan lontong.


"Terusin," kata Anwa sambil menikmati satenya.


"Sampe mana tadi ya?"


"Sampe kamu bilang, kamu juga masih punya perasaan sama dia, hanya---"


"Oh ya, hanya... sepertinya menutup rapat-rapat masa lalu itu lebih baik," ujarnya lagi.


"Kalo dia ternyata masih cinta sama kamu, emang kamu gak mau gitu balikan?"


"Balikan?" Satu tusuk sate di gigitnya, "gak usah kita bahas ya." Pinta Arkana, karena memang jawaban itu masih sulit dia berikan, di lain sisi ia ingin menutup rapat semua kisah lalu, namun di sisi lain gadis itu datang lagi seolah memberikan dia harapan untuk kembali.


Anwa mengangkat kedua bahunya, "Oke." Lalu meneguk satu botol air mineral.


"Wa, lusa gue ke Bali, kayaknya beberapa minggu kita gak ketemu," ujar Arkana menyelesaikan makannya.


"Oke."


"Jangan kangen ya," ujarnya tersenyum.


"Pede banget," jawab Anwa tertawa.


"Serius gue, apalagi tadi...."


Tangan Anwa sudah membekap bibir Arkana untuk tidak melanjutkan tutur katanya.


"Jangan di bahas." Wajah Anwa merona


"Kenapa," Arkana membuka tangan yang menutup bibirnya tadi, dan menggenggam jemari tangan gadis itu.


"Jangan aja... balik yuk," ujarnya menarik tangan dari genggaman Arkana.


Setelah membayar makanan mereka, Arkana mengantarkan Anwa pulang, sementara Arkana kembali ke kafe untuk memeriksa beberapa hal yang harus ia bawa pergi ke Bali lusa nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah satu minggu lebih Arkana berada di Bali, setiap harinya tanpa absen dia menghubungi Anwa melalui video call, telfon, atau hanya sekedar chat.


"Lagi apa?"


"Ngapain aja?"


"Sama siapa?"


"Udah mandi?"


"Udah tidur?"


Atau hanya bilang,


"Lo gak kangen gue Wa?"


Isi chat selalu sama setiap hari nya, terkadang baru saja selesai video call, Arkana selalu mengakhiri dengan kata manis seperti,


"Tidur yang nyenyak, jangan mimpiin gue,"


"Selamat malam Wa,"


Begitulah Arkana yang selalu bisa mengungkapkan apa yang dia rasa, berbeda jauh dengan Anwa.


Sore ini kabarnya Arkana pulang dari Bali, dia berjanji akan menemui Anwa selepas selesai bekerja.


Tanpa menunggu waktu lama, Arkana meminta supir taksi untuk langsung melaju mengarah ke kantor sang ayah tanpa mengabari Anwa terlebih dahulu.


Pikirnya, memberikan surprise untuk seorang gadis yang ia rindu setelah dua minggu tak bertemu.


Jumat sore, pemandangan kemacetan jelas terpampang nyata di ibukota. Setelah sampai di lobby kantor sang Ayah, Arkana baru menghubungi Anwa, tapi tak ada jawaban. Mau tak mau dia harus turun menemui gadis itu, baru saja akan melangkahkan kakinya masuk, Arkana mendapati Anwa dengan wajah pucat berjalan task semangat.


"Wa," ujarnya.


"Ar, kamu kok udah di sini?" seraya memegang dahinya karena terasa begitu sakit.


"Lo sakit?" Arkana ikut menempelkan tangannya pada dahi Anwa, "kita ke dokter ya?"


"Gak usah Ar, pulang aja, aku kecapekan kayaknya."


"Ya udah kita pulang," Arkana menuntun gadis itu masuk ke dalam taksi yang ia tumpangi tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini minum dulu," kata Arkana menyodorkan satu gelas teh hangat beserta obat pereda nyeri untuk sakit kepala Anwa.


Anwa yang berbaring, merubah posisinya untuk duduk sebentar menerima teh serta obat di tangan Arkana.


"Makasih ya Ar," ujarnya kembali meringkuk dan masuk ke dalam selimut.


"Kok bisa demam gini Wa?" tanyanya lembut duduk di sisi tempat tidur sambil menempelkan tangannya pada dahi Anwa.


"Sudah dua malam aku lembur, telat makan, sampe kost langsung tidur, karena capek aku milih tidur di banding makan," ujarnya lirih.


"Terus sudah berasa sakit, lo nya sok kuat iya?"


Anwa merapatkan selimutnya sampai ke leher.


"Pusing banget Ar," ujarnya lagi.


"Gue kompres deh ya, gue masakin air lagi di bawah, tunggu bentar." Arkana menyingsingkan lengan kemejanya sampai ke siku, lalu bangkit berjalan ke dapur 'bersama' itu.


Kembali lagi dengan air panas dalam mangkuk yang entah di dapatkan darimana.


"Handuk kecilnya dimana Wa?"


"Kamu cari di lemari, ada handuk kecil warna pink, pake itu aja Ar," jawab gadis itu.


Membuka lemari yang dipenuhi lipatan baju dan dalaman yang membuat ia menelan salivanya kembali.


Mengompres dan memeras kembali handuk itu dia tempelkan berulang kali, sampai Anwa tertidur nyenyak. Merasakan tubuh Anwa yang mulai turun suhu tubuhnya.


Arkana terduduk di lantai menahan kepalanya dengan kedua tangan di lipat sebagai bantalan di sisi tempat tidur, dan lama kelamaan ikut tertidur di samping Anwa.


Dua jam tertidur, Anwa terbangun saat tak sengaja tangannya menyentuh rambut Arkana. Diamatinya lelaki yang tertidur dengan tangan terlipat itu, wajah lelah Arkana begitu menyedihkan, bagaimana tidak lelaki itu baru saja tiba dari luar kota dan berakhir dengan merawat dia yang sedang sakit.


"Ar, bangun," ujar Anwa membelai lembut kepala nya, badan kamu sakit kalo tidurnya begitu," ujarnya lagi lalu menggeser tubuhnya, "sini naik."


Arkana membuka matanya perlahan, ketika belaian lembut di kepalanya membangunkan dirinya yang tertidur. Seperti mendapatkan angin segar ketika Anwa menggeser tubuhnya memberi ruang di sebelah gadis itu.


"Naik kesini," Anwa menepuk sisi kosong di sebelahnya, "badan kamu sakit kalo tidurnya begitu."


"Boleh?"


Anwa mengangguk, dan memiringkan tubuhnya menghadap Arkana.


"Enakkan?" tanya Arkana yang juga memiringkan tubuhnya.


"Lumayan," Anwa mengangguk.


"Sakit kangen kayaknya ya?"


Anwa tersenyum,


"Bilang aja kalo kangen," ujarnya lagi, "kangen kan?" masih dengan menggoda.


"Iya... aku kangen."


aku jugaaaa kangen Bang 😍