
Matahari belum menampakkan wujudnya, pagi itu Anwa terbangun di ruangan yang berbeda dari tempat tidur di kost nya. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi, di saat itu juga dia menyadari jika berada di apartemen Arkana. Berjalan mencari sosok yang membawanya masuk ke dalam apartemen ini.
Dipandanginya wajah lelah itu, di susurinya setiap lekuk wajah lelaki tampan di hadapannya. Sembari meyakinkan kembali perasaannya untuk mulai membuka hati pada pria yang hampir satu tahun membantunya bangkit dari keterpurukan.
Lelaki itu meringkuk di dalam selimut tebal yang membalut tubuhnya. Hawa AC di ruangan itu memang luar biasa dinginnya.
"Ar," lirih Anwa berbisik di telinga Arkana.
"Hhmm." Arkana menarik selimutnya kembali sampai ke batas leher.
"Bangun, udah pagi," kata Anwa.
"He--eh," menutup matanya kembali dengan lengannya, lalu tertidur.
Anwa menarik selimut itu, masuk ke dalamnya dan bergabung dalam satu sofa bersama Arkana. Arkana membuka matanya, mengangkat kepala Anwa dan memberikan lengannya menjadi bantalan untuk Anwa.
Anwa memberikan posisi ternyaman dalam satu sofa bersama, agar ia tidak terjatuh, sedikit mendekatkan tubuhnya pada Arkan.
"Pagi, Wa." Dengan suara paraunya.
"Pagi, Ar."
Lalu mereka menguntai senyum pagi ini dengan perasaan yang lebih baik lagi.
"Ar,"
"Hhmm." Menyematkan rambut ke belakang telinga Anwa.
"I love you,"
"Hah?" (bayangkan Arkana terbelalak mendengar kata-kata Anwa yang mengejutkan paginya.)
"I love you," ucap Anwa sekali lagi, menatap netra itu tak berkedip, lalu menyusupkan kepalanya pada ceruk leher Arkana yang masih terdiam tak percaya.
Seuntai senyum pagi ini terukir di wajah Arkana yang masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Mengecupi pucuk kepala gadis yang sedang berada di dalam dekapannya.
"I love you too, Wa," ujarnya semakin erat memeluk Anwa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini terakhir cuti Anwa berakhir, masih berada di apartemen Arkana. Anwa menyibakkan selimut yang membalut tubuh mereka, beranjak dari sofa dan meninggalkan Arkana yang masih tertidur.
Setelah membersihkan dirinya, Anwa lalu menuju ke dapur membuat sarapan untuk pertama kalinya sebagai sepasang kekasih.
Dua butir telur di campur potongan daun bawang dan sosis sudah selesai ia goreng, lalu memasak mie instan yang ia tumis dengan daging cincang dan bakso serta dua cangkir coffee latte sudah terhidang diatas meja.
Arkana terbangun mencium harum yang menyeruak ke seluruh ruangan, mendapati gadisnya dengan rambut yang di cepol sembarang itu tengah asik membolak balikkan masakannya.
Seraya berjalan mendekatinya dan memeluk Anwa dari belakang. Tidak ada lagi rasa canggung sekarang toh mereka sudah menjadi sepasang kekasih, untuk apa malu pikir Arkana. Menciumi leher jenjang gadis itu dengan sisa-sisa rambut yang terjuntai membuat Anwa merasa kegelian.
"Masak apa?" ujar Arkana masih menciumi leher itu.
"Masak mie instan di modifikasi," ujar Anwa yang berusaha melepaskan pelukan lelaki itu.
"Gini aja bentar, enak tau wangi kamu, udah mandi ya?"
"Udah, kamu mandi gih abis itu sarapan, sebentar lagi kelar.
"Gak mau ah, mau gini aja." Arkana mengeratkan pelukannya di pinggang Anwa.
"Ar... kalo gini gak kelar-kelar ntar masaknya, yang ada aku kegelian kamu gini in," Anwa benar benar merasa kegelian kecupan-kecupan di lehernya.
"Sarapan kamu aja boleh gak?"
"Boleh tapi abis mandi," ujar Anwa yang sudah berhasil melepaskan pelukan Arkana. "Aku minta tolong dong mangkuk itu," tunjuknya.
Arkana memberikan mangkuk yang Anwa minta, masih memperhatikan gadis yang pagi ini terlihat begitu cantik meski hanya menggunakan baju kaos dan kulot 7/8 di lapisi oleh appron.
"Malah ngelamun, buruan mandi, terus sarapan."
"Iya aku mandi," ujarnya sekilas memberikan kecupan di pipi Anwa lalu berlari masuk kamar mandi.
Menikmati sarapan pertama sebagai sepasang kekasih, membuat Arkana tak pernah mengalihkan tatapan matanya dari Anwa. Masih tak percaya ia dengan apa yg saat ini terjadi.
Gadis itu pagi tadi menelusup masuk ke dalam selimutnya lalu berkata "I love you" rasanya seperti mendapatkan kejutan bertubi-tubi seumur hidup. Penantian selama hampir satu tahun akhirnya terbalas dengan sangat manis.
"Gak papa, suka aja."
"Ntar jatuh cinta lagi loh," goda Anwa.
"Setiap hari juga udah jatuh cinta terus kok," ujarnya.
Meletakkan sendok di atas piring yang sudah kosong dia habiskan. Lalu beranjak dari tempat duduknya menghampiri Anwa yang sedang memunguti piring-piring kotor.
Meraih pinggang gadis itu agar menghadapnya.
"Aku mau nagih janji...."
"Janji apa?"
"Sarapan kedua."
Anwa tersenyum, dilingkarkan tangannya di leher Arkana, menyandar di pinggiran meja.
"Masih gak percaya ya?" tanya Anwa.
"Iya," ujar Arkana dengan netra menatap Anwa. "Bangun tidur aku di hadiahi ucapan penuh makna," ujarnya lagi dengan tersenyum.
"Melting gak?" goda Anwa.
"Melting banget terus romantis," ujarnya menatap bibir Anwa.
Begitu pun Anwa yang juga menatap bibir itu, ingin memulai tetapi malu menunggu tetapi lama. Dan secara bersamaan mereka memajukan wajah dengan sama-sama memiringkan wajah ke arah yang sama.
"Kalo aku ke kiri kamu ke kanan miringnya." Mereka pun terkekeh lalu tiba-tiba terdiam, menarik sudut bibir lalu memulainya dengan lembut.
Ciuman kali ini begitu mereka nikmati, lembut dan hangat, meski bukan ciuman pertama kali tapi ini ciuman pertama sebagai sepasang kekasih bukan lagi sepasang teman tapi mesra.
Arkana meremas pinggang gadis itu, ******* bibir itu dengan lembut, menggigit bibir bawah Anwa lebih lama hingga lidah mereka saling berbelit di dalam sana. Nafas yang terengah sesaat mereka atur, Arkana mengangkat tubuh Anwa duduk di atas meja makan, tangannya menyusuri leher gadis itu, sementara kedua tangan Anwa menangkup wajah Arkana yang memiliki rahang tegas.
Menyisir rambut Arkana dengan tangannya, dan Arkana tak henti-hentinya ******* bibir itu sementara tangannya berada di balik kaos berwarna putih milik Anwa.
Menghentikan sebentar aktivitas mereka, Anwa merasakan tangan hangat Arkana sudah berada di perut datarnya, dengan mata yang sama-sama sendu saling menatap, Anwa menahan tangan yang kembali masuk itu agar tak semakin naik ke atas.
"Kenapa?"
"Gak mau," ujar Anwa menggeleng.
"Ya udah," Arkana menarik tengkuk leher gadis itu lalu memulai lagi pagutannya.
"Ini manis, bikin ketagihan,"" katanya mengusap bibir basah Anwa.
"Pamali gak sih duduk di atas meja makan?" ujar Anwa tersenyum.
"Gak pamali kalo yang duduk itu kamu," jawab Arkana menarik tubuh Anwa ke dalam pelukannya. "Wa---" katanya lagi.
"Hhmm," Anwa membalas pelukan itu.
"Makasih ya."
"Untuk apa?"
"Sudah ngebales perasaan aku," ujarnya lagi.
Anwa menjauhkan sedikit tubuhnya dan memandang Arkana lalu seraya berbisik
"I love you, Ar."
"I love you, Wa." balasnya
"*So, love me like you do."
"I will*." Memberikan sebuah kecupan pada kening Anwa.
udah romantis beloooom???
jejaaaaak jejaaaaak... buseeettt dah kek jalan tol lempeng baeee 🤣
aku mau ngucapin makasih buat temen-temen yang udah kasih hadiah berupa bunga buat aku, yang udah ngasih vote (plis kalo vote ke LangitJingga aja ya, Kiss Me belom kontrak😌) dan untuk sillent reader aku tau kalian ada 😂 nongol lah sekali-sekali biar kenal... tak kenal maka tak sayang loooh... tapi sayangnya aku sayang banget sama kalian semua 😘😘😘