Kiss Me

Kiss Me
Mama mertua



"Ar ...." Napas Anwa masih tersengal-sengal saat Arkana memompanya.


"Sebentar lagi, Wa."


"Ar ... Wa ...." Suara ketukan pintu beberapa kali terdengar, suara Mama Cha Cha terdengar di luar sana. "Kalian gak makan?"


"Uugh ... konsentrasi Wa."


Dada Anwa yang bergerak naik turun memacu hasrat Arkana semakin tinggi tanpa memperdulikan suara sang mama di luar sana.


"Ar ... aku gak tahan."


"Bareng ya." Mata sayu Arkana menatap Anwa, Anwa menggigit bibir bawahnya menahan desahannya.


Sementara di luar pintu, sang mama kembali bertanya. "Ar ... Mama papa makan duluan ya."


Arkana masih diam dan tetap berkonsentrasi dengan kegiatannya hingga pelepasan itu pun terjadi.


Anwa dan Arkana akhirnya turun ke ruang makan menemui kedua orang tua yang sudah menunggu dari tadi.


"Tidur?" tanya Papa Fajar.


"Iya," jawab Arkana santai menarik kursi untuk Anwa.


Anwa sibuk menyiapkan makan suaminya, mengambil satu per satu lauk pauk yang tersedia.


"Cukup Wa," ujar Arkana.


"Makan yang banyak Ar, biar amunisinya selalu ada," celetuk sang papa yang jelas saja sangat tahu kelakuan anaknya.


Arkana tersenyum kecil. "Kamu makan yang banyak Wa, biar anak aku tumbuh sehat di dalam sini." Anwa mengangguk dan menyuapkan nasi kembali ke mulutnya.


"Besok ikut Mama mau, Wa?"


"Kemana Ma?"


"Arisan di restoran Arkana, tempat kamu nikah kemarin."


"Boleh, Ar?"


"Ikut aja, sekalian aku antar kesana."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Minggu siang Anwa sudah bersiap menemani ibu mertuanya, Anwa mengenakan dress A line motif bunga besar, bertali satu di balut cardigan berwarna mustard.


Arkana yang memperhatikan istrinya yang berdiri memutar-mutar tubuhnya lalu memandang lelaki itu.


"Jelek ya?"


"Cantik ... seperti biasanya."


"Biasanya ngapain aja ya Ar, kalo ibu-ibu sosialita kumpul?"


"Palingan ngomongin bisnis si A dan si B, si A selingkuh sama si B, ya gitu-gitu deh paling positif nya nyalurin amal ke pesantren atau panti asuhan mana."


"Ish, kamu kok gitu sih?


"Kan biasanya emang gitu, Wa," ujar Arkana yan memeluknya dari belakang.


"Hmm, aku takut kalo ada yang gak-gak di depan mama tentang aku."


"Tenang aja ... semua bakal baik-baik aja, yuk udah di tunggu sama mama."


"Kamu bajunya gitu aja?" tanya Anwa yang memperhatikan Arkana dengan celana jean belel yang robek di bagian paha dan lutut.


"Gini aja ya, ntar kalo aku ganteng-ganteng banyak yg naksir lagi," jawab Arkana.


Memasuki restoran yang sama dengan tempat mereka saat mengucapkan ikrar pernikahan. Anwa melihat sekelompok wanita dengan pakaian dan tas branded sedang bercengkrama di sana.


"Aku tinggal dulu ya, kamu gabung aja sama mama ... ingat santai aja jangan gerogi, mereka juga manusia kok."Arkana tersenyum.


Anwa melangkah menuju perkumpulan itu, terdengar senda gurau dan pembicaraan yang menjurus pada pembicaraan mengenai seseorang.


"Anwa, sini." Ibu mertuanya melambaikan tangan agar Anwa mendekat.


"Wah, cantik jeng ... mantunya yang kemarin kan?" tanya seorang wanita yang masih mendekap tas Hermes limited edition.


"Kemarin gak ngundang sih ... kenapa gak di raya in di Bali aja, kan kita pasti dateng," ujar salah satu wanita lagi dengan pakaian yang terlihat seksi di usia mereka sekarang.


"Pinter memang Arkana cari pendamping, lucu, cantik gini ... aduh aku gemes liatnya," ujar satu wanita lagi memandangi Anwa dari atas sampai ke bawah.


"Sini duduk deket Tante, kamu harus sering-sering kumpul sama kita biar tau dunia mertua kamu itu kayak apa, kita banyak ngikutin organisasi wanita sampai dengan pengajian ustadz-ustadz terkenal loh," ujar wanita yang berhijab tapi dandanannya wah.


"Aku inget banget dulu kita sempet mau jodohin Arkana sama anak aku ya Jeng," kata salah satu wanita yang masih terlihat cantik dengan rambut panjang tergerai.


"Eh, udah isi belom?" tanya salah satu orang lagi yang sepertinya hidup dia penuh ke kepoan maksimal.


"Udah Tante, baru enam minggu," akhirnya Anwa menjawab.


"Wah, langsung tokcer ya."


"Hebat Arkana, langsung jadi."


"Pasti di gempur terus ya tiap malam, aduh aku jadi inget waktu baru-baru jadi pengantin."


Lalu semua pun tertawa, sama-sama mengingat kembali masa dimana mereka masih sangat muda.


Obrolan dari yang berfaedah sampai dengan unfaedah pun berlangsung seru. Anwa hanya bisa ikut tersenyum sesekali tertawa mendengar celotehan wanita-wanita paruh baya yang masih cantik dan kekinian itu.


"Ma, Anwa permisi ke toilet ya," pamitnya pada Mama Cha Cha.


"Tapi denger-denger anak mantan koruptor ya Jeng?" ujar wanita yang tadi mendekap tas Hermes nya.


"Ah, masa sih?" ujar yang lain.


"Siapa namanya? mungkin pernah di tangani kasusnya sama suami aku."


"Katanya koruptor daerah ya Jeng?"


"Jeng Cha Cha setuju?"


Anwa mendengar itu semua saat kembali dari toilet, dia diam berdiri terpaku tak jauh dari perkumpulan itu. Anwa memang akan menduga hal seperti ini cepat atau lambat dari siapapun itu.


"Awalnya aku gak setuju ... tapi ketika mereka meyakinkan aku, siapa yang gak bahagia ketika melihat anak kita bisa bahagia mendapatkan pendamping hidup yang dia cintai, selaku orang tua kita harus menurunkan sedikit rasa ego di diri kita Jeng," ujar Mama Cha Cha.


"Nama baik keluarga memang nomer satu tapi keutuhan suatu keluarga itu yang paling penting, sejauh ini aku liat Arkana bahagia dengan pasangannya, apalagi mereka akan segera mempunyai anak ya kan, aku rasa itu bukti mereka saling mencintai," kata Mama Cha Cha sambil memotong kue di depannya.


"Lagian yang paling penting adalah kesalahan orang tua Anwa itu gak ada hubungannya dengan Anwa, itu aja sih."Jelas Mama Cha Cha panjang lebar.


Anwa menghela napas panjang, dia bersyukur mendapatkan mertua yang menerima apa adanya dirinya. Wanita yang dulu bersikeras menolaknya sekarang dengan mati-matian membelanya.


Anwa kembali melangkah menuju perkumpulan itu, semua senyap ada yang tersenyum ada yang pura-pura biasa saja. Anwa hanya menyunggingkan senyum. Manusia di dunia ini sejatinya memang memiliki wajah lebih dari satu, sedikit sekali yang tulus.


"Udah Wa?" tanya mertuanya.


"Udah Ma," jawab Anwa. "Ma, Anwa tinggal sebentar gak papa kan? Anwa mau susulin Arkana, nanti Anwa kesini lagi."


"Ya udah sana, nanti Mama kesana juga kalo udah kelar."


Anwa mengangguk seraya berkata, "Makasih ya Ma, terimakasih sudah mau menerima Anwa," ujarnya sambil berbisik yang membuat Mama Cha Cha menatapnya dengan berkaca-kaca.


"Pergilah ... nanti Mama kesana," ujar Mama Cha Cha membelai lembut pipi sang menantu dengan tatapan yang tulus.


***aku gak bakal lelah meminta kalian untuk meninggalkan jejak sekecil apapun itu 😂


enjoy reading 😘***