
"Sudah selesai?" tanya Arkana pada Anwa saat ia melihat Anwa sudah berada di pintu dapur restoran itu.
"Belum, kata mama nanti kalo udah kelar di kesini."
"Mukanya gitu banget?" tanya Arkana melihat wajah istrinya sedikit bete.
"Gak papa ... aku cuma laper."
"Eh, belum makan? tadi di sana belum?" Anwa menggeleng. "Ya udah mau makan apa? steak?" Anwa mengangguk.
Arkana memesankan dua beef steak untuk makan siang mereka hari ini.
"Makan yang banyak, anak aku harus sehat di dalam sana Wa." Arkana menyuapkan satu sendok kepada Anwa.
"Mama biasanya arisan berapa jam, Ar?"
"Gak tau ... sampe kelar ghibahnya." Arkana terkekeh. "Kenapa? gak suka ya?"
"Gak juga ... cuma kalo liat dari kepribadian mama, kayaknya mama gak cocok bergaul sama mereka."
"Mama cuma butuh temen buat menghilangkan rasa sepinya, Wa," ujar Arkana, "Mama dulu kan wanita karier saat papa mulai membutuhkan peran mama dalam karier papa, papa meminta mama buat gak kerja lagi, setelah mama gak kerja ya itu mama menghabiskan waktu bergaul dengan ibu-ibu pejabat, ya ... seperti kamu tau lah bagaimana kehidupan mereka ya kan."
Anwa mengangguk angguk, dulu saat ayahnya masih berada di puncak kejayaan bunda juga melakukan hal yang sama hanya bedanya bunda tidak terlalu menyukai hal-hal berbaur terlalu dalam jika di rasa cukup oleh bunda berada di lingkungan itu maka pasti bunda berpamitan untuk pulang. Itulah mengapa banyak yang terkejut kenapa sang ayah bisa terlibat kasus korupsi karena banyak yang melihat bunda hidup biasa saja dan sekenanya, tidak juga menonjol seperti pejabat-pejabat lainnya.
"Aku kenyang," ujar Anwa menyeruput jus strawberrynya.
"Kamu gak mau apa gitu Wa, setelah manjat pohon kemarin?"
"Belom ada, emang kenapa?"
"Gak ... berasa deg deg an aja kalo tiba-tiba kami pengen sesuatu tapi gak bisa aku penuhi."
Anwa tertawa, "segitunya perhitungan sama anak istri."
"Udah selesai makannya?" ujar Mama Cha Cha yang sudah berdiri di meja mereka.
"Eh ... udah Ma, Mama udah kelar?"
"Udah, ayo kalo mau pulang sekarang, takut kami kecapekan, Wa."
Sore menjelang, mereka meninggalkan restoran Eropa klasik itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anwa merebahkan tubuhnya di tempat tidur, hari yang melelahkan untuk seorang wanita yang baru merasakan kehamilan. Seharian diluar rumah walau hanya duduk dan berbincang saja rasanya begitu sangat melelahkan bagi Anwa.
Selintas pikirannya mengkhayalkan bagaimana nanti kalau hamilnya memasuki usia kehamilan akhir pasti sangat melelahkan, membawa perut yang besar kemana-mana.
"Wa, mandi gih biar segar," ujar Arkana yang baru keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian dalamnya berjalan santai ke arah sang istri sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Males, Ar ... aku bersih-bersih aja ya gak usah mandi, gak papa kan?" Anwa beringsut duduk di sisi tempat tidur, meminta handuk dari Arkana agar ia yang mengeringkan rambut suaminya yang mulai terlihat panjang.
"Itu kaos sama celana buat tidur ... udah aku ambilin, udah gak begitu basah nih," ujar Anwa berdiri lalu melangkah untuk membersihkan dirinya.
Lampu kamar mulai redup, kala Anwa keluar dari kamar mandi dan mendapati Arkana masih asyik dengan ponselnya.
Masuk ke dalam selimut, menyusul sang suami yang sudah lebih dulu berbalut selimut tebal itu. Anwa mengenakan daster batik lembut hingga nyaman untuk ia pakai tidur malam ini.
"Anak Ayah pinter hari ini, gak bikin Bunda minta yang aneh-aneh ya," ujar Arkana membelai perut istrinya yang sudah berbaring.
"Anak Ayah harus pinter baca situasi ya Nak, jangan rewel, Bunda nya di jagain, besok Bunda kerja anak Ayah harus anteng." Dan masih banyak lagi yang dikatakan oleh Arkana kadang membuat Anwa tersenyum mendengar celotehan calon ayah itu.
"Mau kemana?"
"Cek resto di Lombok sudah tiga bulan aku gak kesana, cuma perwakilan Ria aja yang aku kesana."
"Berapa lama, Ar?"
"Seminggu."
"Kok lama? sama Ria juga?"
"Ya iya kayak biasa, emang kenapa?"
"Kamu gak bisa gitu ganti orang kepercayaan sama cowok misalnya," Anwa sudah cemberut.
"Ria yang tau seluk beluk perusahaan yang aku kelola Wa, dia yang bantu aku dari awal resto-resto ini berdiri, mulai dari hanya mengelola restoran kakek aku sampai restoran-restoran yang lain tumbuh di beberapa daerah, kalo aku gantiin dia dengan orang lain, akunya yang rugi."
Anwa masih diam, rasanya aneh saja kalau harus tahu suaminya berpergian dengan wanita lain selain dirinya.
"Gak ada alasan buat cemburu sama dia," ujar Arkana memeluk istrinya, menciumi ceruk leher Anwa.
"Aku gak cemburu kok," sanggah Anwa.
"Kalo gak cemburu, terus apa?" tangan Arkana sudah berada di atas dada Anwa yang masih tertutup daster.
"Gak tau, aku cuma risih aja kamu pergi-pergi sama orang selain aku," jawab Anwa ketus.
Arkana mengangkat kepalanya menghadap Anwa, "liat aku deh ... bentar lagi aku jadi ayah, tanggungan hidupku akan bertambah, istri dan anakku yang ada di sini dan di sini," katanya sambil menunjuk kepala dan dadanya, "jadi ... aku pastikan semuanya sudah terisi oleh kalian berdua, sudah penuh di sini Wa, sesak udah gak ada tempat lagi buat mikir yang lain-lain," ucapnya sungguh-sungguh.
"Kalian tempat aku pulang, kalian rumah aku," Arkana mendekatkan wajahnya pada Anwa, "percaya kan sama aku?"
Mungkin ini yang dinamakan salah satu hormon kehamilan juga, perasaan lebih sensitif, ingin diperhatikan, disayang, dicemburui, tapi satu hal yang harus Anwa tahu jika cintanya Arkana memang hanya untuk dia.
Anwa melingkarkan tangannya pada leher Arkana, dikecupnya bibir lelaki yang tak pernah sedikitpun tercium olehnya bau rokok ataupun alkohol itu.
"Mau ya?" tanya Arkana yang sedang memainkan puncak dada Anwa yang tak memakai b*ra.
"Gak tuh, aku cuma mau cium aja, gak mau yang lain."
"Ya udah kita ciuman aja kalo gitu."
Arkana menciumi Anwa dengan sangat lembut, lalu turun menyusuri leher serta dada istrinya. Disingkapnya daster yang dikenakan oleh Anwa sampai ke atas perut.
"Ar ...."
"Iya ...." Arkana masih menciumi perut Anwa dan semakin ke bawah.
"Katanya kalo lagi hamil muda gak boleh sering-sering loh."
"Sering-sering apa? hhmm ...." Arkana sudah melepaskan daster Anwa lolos dari kepala sang istri.
"Ya sering-sering kayak gini ... aahh." Anwa mendesah saat jari jemari Arkana menyentuh miliknya yang masih tertutup.
"Kan pelan-pelan, Wa." Tatapan mata Arkana mulai sendu.
Diciuminya kembali bibir istrinya, menghabiskan malam akhir pekan mereka dengan saling bergumul dan suara erangan serta desahan yang saling bersahutan.
***aduh pusing aku... mau gimana ya.. kan namanya juga pengantin baru 😂
enjoy reading lah ya... jangan lupa besok Senin bagilah Anwa 1 tiket vote nya yaaah.. cium dulu 😘😘😘***