
Makan malam yang semula berjalan dengan sangat baik itu, tiba-tiba membuat jantung Anwa berdetak cepat.
Ada ketakutan pada dirinya, jika semua terungkap di saat momen yang sedang berjalan ini begitu manis.
Dipandanginya Om Riza, seakan memohon untuk jangan dulu menceritakan semuanya pada keluarga Arkana.
Selesai jamuan makan malam, Anwa duduk di salah satu kursi taman menunggu Arkana yang mengambilkannya segelas minuman dan cake.
"Wa," ujar suara itu.
"Om Riza," Anwa ingin beranjak dari duduknya.
"Duduk aja, Om cuma mau ngobrol sebentar sama kamu," ujar Riza duduk di sebelah Anwa.
"Ayah sehat?" tanyanya lagi.
"Sehat, Om."
"Baguslah... Om dengar setengah tahun lalu baru keluar dari penjara?"
"Iya," jawab Anwa.
"Syukurlah, Bunda?"
"Bunda baik, sekarang Bunda sering terima order an nasi kotak, dan Ayah kadang jadi sopir freelance jika ada yang butuh jasanya."
Riza mengangguk angguk. "Wa...."
"Ya Om."
"Keluarga Arkana sudah tau?" tanya Om Riza memastikan.
"Saat ini belum Om, tapi nanti segera Arkana beritahu," ujar Arkana yang sudah berada di belakang mereka.
"Bagus kalo begitu, sebaiknya secepatnya kalian beritahu, Om cuma ingin yang terbaik buat kalian, dan --- Anwa harus bersyukur berada di keluarga ini, semoga semua sesuai prediksi Om ya, kalian harus bersabar dan fight," ujar Riza lagi lalu mengepalkan tangannya memberikan semangat.
"Makasih Om," jawab Arkana, "apapun yang akan terjadi nanti, kami akan tetap terus berjuang," katanya lagi lalu merangkul pundak sang kekasih.
"Iya, semoga keberuntungan memihak kalian," ujar Om Riza tersenyum, "jika butuh bantuan Om... Om siap bantu."
Arkana dan Anwa pun mengangguk, seiring berlalunya Riza dari hadapan mereka, Anwa memandangi Arkana.
"Kamu yakin?"
"Yakin apa?"
"Yakin kalo keluarga kamu nerima latar belakang keluarga aku?"
"Kita harus mencoba dulu Wa," ujar Arkana, meraih tangan kekasihnya untuk duduk bersebelahan dengannya. "Selagi usaha, gak ada yang gak mungkin, bener gak?"
Anwa pun tersenyum,
"Jangan mikir yang jauh-jauh dulu, aku masih mau nikmatin masa-masa kita pacaran," ujar Arkana lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mo pulang kemana?" tanya Arkana di dalam mobil saat mereka pulang mengantarkan Anwa.
"Terserah," jawabnya.
"Ke apartemen aku ya?" Arkana memainkan alisnya.
"Ish, kamu tuh ya, pikirannya."
"Apa pikiran aku?"
"Udah ah, buruan udah malem, ngantuk," jawab Anwa dengan wajah merona merah.
Memasuki unit apartemen Arkana, tangan itu tak lepas dari pinggang ramping milik Anwa. Membuka pintu apartemen, lalu dengan cepat Arkana menutupnya dan kembali merengkuh pinggang yang akan melarikan diri darinya.
"Buru-buru amat Wa," bisiknya di telinga Anwa.
"Ganti baju Ar, udah malem, aku ngantuk," jawabnya menunduk, membiarkan Arkana menjelajahi leher jenjangnya.
"Aku udah bilang belom kalo malam ini kamu cantik," Arkana masih menciumi leher kekasihnya.
"Hhmm," Anwa mulai menegang.
"Kamu cantik terus wangi, aku suka Wa," Arkana menggiring Anwa ke sofa tanpa melepaskan pandangannya, Anwa yang berjalan mundur sebisa mungkin untuk tidak terjatuh, hingga kakinya menyentuh sisi sofa.
"Aku mau nagih janji?"
"Aku gak janji apa-apa, Ar."
"Ar...." ujarnya mengaduh.
Arkana terkekeh, menjatuhkan tubuh Anwa ke sofa.
"Aku suka liat kamu malam ini," ujarnya nakal dan sudah berada di atas tubuh Anwa.
"Ar," Anwa menahan tubuh kekasihnya.
"Kamu keliatan seksi..." ujarnya lagi membelai rambut keriting Anwa.
Netra mereka saling berpandangan, pandangan yang sama-sama tertuju pada benda kenyal yang seakan siap di santap.
"Sedari di rumah tadi, ini menggoda banget," Arkana mencium Anwa sekilas, Anwa hanya menyunggingkan senyum dengan wajah merona.
"Mau coba gak? yang lama an," Arkana mulai terbalut gairah.
******* itu pun saling berbalas, satu tangan Arkana menahan tubuhnya, sedangkan satu tangan lagi membelai pipi Anwa.
Memperdalam ciuman itu, erangan dan kecapan saling bersahutan. Tangan Arkana yang sudah mulai turun ke bawah mulai merasai dada yang masih terbalut pakaian lengkap milik Anwa, memijatnya perlahan membuat Anwa menggeliat. Sedangkan Anwa sudah mengalungkan tangannya pada leher Arkana.
"Mau buka gak?" Arkana dengan suara paraunya menawarkan sesuatu yang gila.
Anwa menolak, menarik dirinya, berusaha keluar dari kungkungan tangan Arkana.
"Sorry." Dengan pandangan mata sendu menatap kekasihnya yang berada di bawah.
Anwa mengecup bibir Arkana sekilas sebagai penutupan kegiatan gila mereka.
"Aku ke toilet dulu, pinjem baju ya Ar," ujarnya berjalan meninggalkan Arkana yang masih mengatur ritme nafasnya dan ketegangan yang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti biasa setiap Jumat di akhir bulan, Anwa masih menyempatkan dirinya berkunjung ke makam Dika. Membawa setangkai bunga mawar, sebotol air mineral dan bunga untuk dia tabur di makam kekasihnya dulu.
Pandangan matanya terpaku pada seorang wanita separuh baya yang duduk di samping pusara Dika, wanita itu nampak menghapus air matanya.
"Mama Lia?" sapa Anwa tak percaya akhirnya ia bertemu kembali dengan ibu Dika.
"Anwa?"
Mereka saling berpelukan, melepas rindu dan haru.
"Mama Lia, apa kabar?"
"Mama baik, Anwa gimana?"
"Anwa baik Ma," jawabnya belum melepaskan pelukan dari wanita itu.
"Anwa sapa Dika dulu ya Ma," ujarnya lalu duduk dan membelai lembut nisan bernama itu.
"Assalamu'alaikum Ka, apa kabar? sudah lupa aku belum?" ujarnya tersenyum.
"Sudah bahagia di sana Ka? sudah ketemu bidadari surga?" ujarnya lagi, Mama Lia pun menangis namun tersenyum.
"Ka, gak sengaja ketemu Mama nih, kamu pasti seneng kan akhirnya aku ketemu juga sama Mama selepas kepergian kamu, masih banyak yang mau aku ceritain ke kamu Ka," lirihnya juga tentang Arkana ujarnya dalam hati.
"Aku pamit ya, seperti biasa nanti aku ke sini lagi," ujar Anwa lalu mengirimkan doa untuk Dika, meletakkan bunga mawar dan menabur bunga serta menyiraminya dengan air.
"Anwa sekarang kerja lagi?" tanya Mama Lia saat mereka akhirnya memutuskan untuk berbincang di sebuah kafe milik Arkana.
"Iya Ma, sudah hampir satu tahun," ujar Anwa, "maaf Ma, Anwa gak pernah ngunjungin Mama," ujarnya lagi menatap wanita itu.
"Mama tau dari Dea kalo Anwa merasa bersalah atas meninggalnya Dika," Mama Lia meraih tangan gadis itu, "Mama mengikhlaskannya Wa, tidak ada yang salah dan jangan pernah merasa bersalah," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Anwa harus memulai hidup baru kembali, masa depan Anwa masih panjang, simpan Dika di sini," ujarnya menunjuk dada Anwa.
"Semua kenangan Dika, memori tentang Dika simpan baik-baik, Dika ingin kamu bahagia, begitu juga Mama, ingin kamu bahagia, hidup harus terus berjalan, nikmati, menoleh ke belakang hanya akan membuat kamu berhenti melangkah."
Penuturan dari seorang ibu yang kehilangan anaknya, membuat hati Anwa begitu perih merasakan setiap penggalan kata-katanya.
"Bahagia Wa, Dika ingin kamu bahagia, mulai lah membuka hati kembali untuk orang yang tepat menemani kamu hingga di akhir hidup kamu nanti," Mama Lia kembali mengusap air matanya.
"Makasih Ma, terimakasih karena sudah memberikan Anwa kekuatan, terimakasih karena sudah memberikan Anwa kesempatan untuk memulai semuanya kembali, semua tentang Dika, akan selalu ada di sini," ujarnya menunjuk hatinya.
Percakapan dua wanita beda usia yang saling mengusap air mata itu tak luput dari pandangan seorang Arkana.
***Menoleh ke belakang hanya akan membuat kita berhenti melangkah 😊
enjoy reading***