
Pagi itu Arkana sedang membantu menaikkan kotak-kotak yang berisi nasi ke dalam mobil ayah Anwa. Ada sekitar 150 box nasi yang akan diantarkan oleh Pak Syahril. Kadang dari sini lah mereka bisa mencukupi kebutuhan hidup selain uang kiriman dari Anwa.
Semalam juga Anwa tidak melanjutkan pertanyaannya pada Arkana mengenai mengapa ia tiba-tiba datang ke Lampung karena terlalu sibuk membantu Bunda hingga jam 12 malam.
" Udah beres semua?" tanya Pak Syahril pada Arkana.
"Udah Om, udah saya hitung 150 box," ujarnya mengacungkan jempol.
"Ya sudah kalo gitu Bunda jalan dulu sama Ayah nganterin ini ya, Arkana sarapan dulu," kata Bunda sebelum masuk ke dalam mobil.
"Capek ya?" tanya Anwa yang menyunggingkan senyumnya pada Arkana.
"Ada juga lo yang capek Wa, sampe tengah malem bantuin Bunda."
"Biasa aja, ayo sarapan."
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah, menemukan Malik yang masih mendengkur di depan tivi.
"Malik juga kayaknya capek banget," kekeh Arkana mengingat Malik yang hanya bertugas membentuk kardus makanan menjadi kotak.
"Mau pake apa?"
"Itu aja ayam sama mie nya," ujar Arkana.
"Ini makanan sisa dari yang di masak sama Bunda, bisa di makan buat satu hari full, jadi walopun untungnya gak gede tapi Bunda bisa ada stok beras, bumbu dapur dan lain-lain, lumayan kan buat kebutuhan sehari-hari, gak harus beli lagi," ujar Anwa panjang lebar.
Arkana masih memperhatikan gadis itu mengambilkannya sepiring nasi dengan ayam dan tumisan mie di campur bakso, hati dan sawi.
"Wa, gue boleh tanya?"
"Pasti mau nanya tentang keluarga aku ya?" Anwa tersenyum tipis, "mo tanya yang mana?"
"Gak papa kan?"
"Gak papa," ujarnya lagi.
"Keluarga lo-- maksud gue, gue ngerasa kalian bukan orang yang gak mampu, rumah yang besar ini dan segala isinya yang masih identik dengan barang-barang mahal," ujar Arkana.
Anwa menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, mengunyahnya lama.
"Ayah itu dulu pegawai negeri di daerah ini, jabatan terakhirnya sebagai kepala dinas perdagangan di kabupaten ini, kehidupan kami bisa di bilang tercukupi dan lebih dari cukup, hingga tiga tahun yang lalu ayah terjerat kasus penggelapan uang proyek dengan beberapa instansi yang terkait," Anwa menghela nafas lalu melanjutkan ceritanya.
"Tiga tahun yang lalu ayah di vonis sebagai tersangka, di hukum lima tahun penjara namun karena ayah membayar denda dan apalah itu namanya--- dengan menjual semua harta ayah dan bunda, ayah mendapatkan keringanan hukuman dari remisi dan kelakuan baik selama di penjara." Anwa bercerita dengan menatap mata Arkana.
"Selama tiga tahun keluarga kami melewati itu semua dengan gunjingan dan cibiran orang bahkan saudara, Malik yang sempat berhenti sekolah karena mendapat bully an dari teman-teman sekolahnya sampai aku memutuskan selesai kuliah pergi dari daerah ini, sedangkan Bunda terpuruk akan nasibnya menjadi seorang istri koruptor."
"Hubungan aku dengan Ayah baru beberapa bulan terakhir setelah dia bebas mulai menghangat kembali walaupun masih terlihat kaku," lalu meneguk air di gelas hingga tandas.
"Sekilas cerita tentang keluarga aku yang harus kamu tau, kalo aku putri seorang koruptor dan narapidana," ujarnya berkaca-kaca.
Arkana terdiam, yang dilalui Anwa tidak lah mudah, perjuangan hidupnya luar biasa mungkin karena ini dan kematian kekasihnya yang membuat Anwa menjadi pribadi yang sudah untuk di dekati pada awalnya dan susah untuk masuk dalam kehidupan pribadinya.
"Dika tau?" tanya Arkana.
"Almarhum Dika yang buat aku bangkit, dia tau semua, dia yang kasih aku kekuatan melalui ini, dari segi apapun," ujar Anwa dengan kata-kata yang tercekat seakan susah untuk ia utarakan.
Arkana mengangguk angguk, pantas saja Anwa bergantung pada Dika selama ini, lelaki itu memang luar biasa, menerima seutuhnya Anwa dan keluarganya, membantu dari segala segi kehidupan.
"Udah selesai? apa mau nambah lagi?" ucap Anwa membuyarkan lamunan Arkana.
"Udah, sini gue bantu cuci piringnya." Arkana mengangkat piring dan gelas-gelas kotor yang ada di atas meja makan.
"Kamu yakin mau bantuin cuci piring," ujar Anwa yang sudah menunjuk tempat pencucian piring yang penuh dengan kuali panci dan para sahabatnya.
Arkana tertawa saat melihat dapur yang masih berantakan.
"Hmm dasar," mencebikkan bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai membereskan dapur dan rumah, Anwa mencari Malik dan Arkana ke teras depan ternyata mereka sedang berbicara dengan dua orang tukang yang diminta Arkana untuk membereskan halaman dan membuat taman itu kembali tertata rapih.
"Sayang kalo gak di benerin, tamannya bagus cuma butuh perawatan aja," kata Arkana saat Anwa mendekati mereka.
"Ar, biar aja kamu gak usah repot-repot."
"Lo tau beres aja Wa," ujarnya lalu meminta dua tukang kebun itu untuk memulai pekerjaan mereka.
"Ayuk," seru Malik.
"Apa?"
"Abang Ar itu serius cuma temen?" Anwa mengangguk.
"Kok Malik curiga ya, ada rempeyek di balik udang," kekehnya.
"Kamu itu, udah sana bantuin," usir Anwa.
"Ayuk."
"Apalagi Malik," Anwa memutar tubuhnya.
"Bilang Abang Ar, sekalian plafon yang jebol sama cat semua ruangan."
"Maliiiik," ujar Anwa yang sudah siap dengan sandal jepit di tangan untuk dilemparkan ke arah adiknya yang sudah lari ke samping rumah.
Malam menjelang, Arkana susah duduk di teras sedang berbincang dengan Pak Syahril. Ini adalah malam kedua Arkana berkumpul dengan keluarga ini.
"Jadi Arkan, sudah kenal Anwa berapa lama?"
"Baru Om, hampir satu tahun,"
"Ketemu dimana?"
"Pertama ketemu di kafe yang saya kelola Om, lalu bertemu lagi di kantor Papa, kebetulan Anwa sekretaris Papa di kantor."
"Oh ya?"
Anwa datang membawa beberapa buah yang sudah di potong-potong untuk menemani obrolan mereka malam ini.
"Lalu hubungan kalian apa?"
Anwa terbatuk-batuk mendengar kata-kata dari ayahnya.
"Ayah! apaan sih," ujarnya dengan mata melotot.
"Loh, wajar dong Ayah tanya," ujar Pak Syahril tertawa, "jadi hubungan kalian apa?" tanyanya lagi.
"Gak ada Ayah, kita cuma temenan," potong Anwa sebelum Arkana membuka mulutnya mengatakan sesuatu yang akan memperparah keadaan pikirnya.
"Anwa yang mau temenan Om, kalo saya sih maunya hubungan lebih," ujar Arkana tertawa lalu mengaduh karena pukulan di pundaknya.
Pak Syahril pun tertawa, tak lama kemudian Bunda pun bergabung dengan mereka.
"Pesan Ayah untuk kalian, baik-baiklah menjaga diri, jaga Anwa baik-baik Ar," mata Ayah Anwa sedikit berkaca-kaca, "Anwa sudah melalui banyak pahitnya hidup, jadi Ayah harap kamu bisa buat dia bahagia entah dalam bentuk pertemanan atau lebih dari itu."
***1 part penutup malam ini yaaaah... enjoy reading.
zezaaaak jangan lupa bebs 😘***