
Setiap weekend Anwa selalu menyempatkan dirinya membuatkan makanan untuk Mama Cha Cha, ada saja yang dia buat untuk menyenangkan hati orang tua kekasihnya.
Siang ini dia mendapati kekasihnya datang bersama sang mama ke kantor, Arkana dengan santainya berjalan bersisian, sebentar melirik ke arah Anwa yang menunduk memberi hormat pada istri atasannya itu.
Menurut yang Anwa tahu, ada kunjungan ke luar kota yang harus di hadiri oleh Fajar beserta jajarannya, tapi kali ini Fajar akan mengajak sang istri untuk ikut serta begitu juga dengan Arkana. Mereka akan mengunjungi Jogja, yang notabene nya Annaya anak kedua mereka berkuliah disana, jadi kemungkinan besar ini juga akan menjadi acara keluarga mereka.
"Wa, tiket pesawat yang kamu pesan tadi sudah di cek lagi kan?" tanya Ibu Ema.
"Sudah Bu, untuk empat orang termasuk Bu Ema, serta sekaligus hotel sudah saya booking sekalian sesuai yang Bapak mau," katanya lagi.
"Sip, kamu emang bisa diandalkan untuk urusan seperti ini," Ibu Ema tersenyum.
"Tapi kamu pesenin aku hotel cuma dua hari kan? karena kalo Bapak kan satu minggu disana sekalian ada acara keluarga katanya," Ibu Ema kembali mengingatkan.
"Iya Bu, cuma dua hari."
"Aku denger-denger sih kemarin katanya acara keluarga besar Pak Fajar di Jogja, Pak Fajar kan masih ada keturunan ningrat, walaupun setahu aku ayahnya Pak Fajar itu orang Belanda."
"Oh," Anwa membenarkan kacamatanya.
"Acara keluarga ningrat ya gak jauh-jauh dari perjodohan biasanya, mereka kan mau nya yang bibit, bebet, bobot yang jelas Wa, bukan cuma jenjang pendidikan atau karir doang, eh tapi setau aku ya."
Wajah Anwa berubah, seakan asam lambungnya naik, perih rasanya. Anwa mencoba menepis yang ia takutkan, kembali menyibukkan diri tenggelam dalam pekerjaannya.
Sementara di dalam ruangan Fajar,
Arkana masih asik dengan ponselnya, mengecek email yang harus dia periksa. Sedangkan pasangan suami istri itu sedang sibuk membahas acara yang akan mereka hadiri di Jogja nanti.
"Ar, kamu gak kasih pendapat gitu buat acar di Jogja?" tanya Mama Cha Cha.
"Biar aja lah yang punya hajat yang nentuin semua Ma, ngapain kita ikut-ikutan," jawab Arkana santai
"Iya, tapi setidaknya kamu kasih masukan gitu loh Ar, kan nanti juga kamu bakal gitu juga." Arkana hanya diam, dan akhirnya pamit untuk keluar dari ruangan itu.
Yang ia temui hanya Ibu Ema, tidak ada sosok Anwa di sana. Berjalan menuju lift melewati ruangan pantry, lelaki itu mendapati gadis yang dia cari, sedang mengaduk aduk coffe latte dengan tatapan kosong.
"Katanya kalo lagi ngaduk kopi sambil ngelamun ntar bisa liat sesuatu loh," ujar Arkana berbisik di telinga gadis itu.
Anwa tersentak kaget, "kamu selalu bikin kaget."
Lelaki yang memakai kemeja berwarna biru laut dengan lengan yang di gulung sampai ke siku itu pun tertawa.
"Kamu ngelamun kenapa sih?" ujarnya mendekatkan wajahnya.
"Ar, inget ada CCTV," Anwa mengingatkan kembali kejadian beberapa bulan lalu.
Seraya menarik tangan gadis itu, Arkana menoleh ke kanan dan ke kiri koridor, lalu membawa Anwa keluar melalui pintu darurat.
Dan disinilah mereka, di tempat paling aman untuk menghindari kamera pengintai.
"Kenapa kesini?"
"Mau cium kamu." Arkana menyudutkan Anwa di bawah anak tangga.
"Ar."
"Gak ada yang liat Wa," ujarnya merengkuh pinggang gadis itu untuk sedikit mendekat.
"Kamu dicariin loh nanti."
"Mereka bisa nunggu, kalo yang ini gak bisa nunggu, ini selalu bikin aku kangen Wa," ujarnya mengecup sekilas bibir Anwa.
Anwa tersenyum, kelakuan tak mengenal tempat ini entah kekasihnya wariskan dari siapa.
"Pulang kerja nanti langsung ke apartemen ya, tunggu aku pulang," ujar Arkana terengah-engah.
"Kenapa?"
"Karena ngelakuin disini cuma bikin adrenalin aku terpacu cepat, gak santai," ujarnya terkekeh lalu merapikan pakaiannya begitu pula dengan Anwa.
"Aku antar mama pulang dulu, jangan lupa ke apartemen, tunggu aku pulang," lalu memberikan access card pada Anwa dan memberikan kecupan di pipi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Arkana belum juga menampakkan diri, ponselnya pun sudah tak bisa di hubungi lagi. Setelah membersihkan dirinya, Anwa mencari pakaian Arkana yang bisa ia pakai, matanya jatuh pada kemeja berwarna putih yang sepertinya jarang di pakai oleh Arkana karena size nya yang kebesaran.
Anwa tertidur untuk waktu yang agak lama, dia tersadar ketika merasakan bibirnya seperti sedang di makan seseorang. Anwa membuka matanya saat dilihatnya Arkana sudah berada di sampingnya, dengan tangan yang menjadi bantal dan posisi miring yang memudahkan Arkana mendekap dan mencium bibir itu dengan leluasa.
"Udah bangun?"
"Kamu udah pulang, ini jam berapa Ar?"
"Jam sepuluh," ujar Arkana dengan mata yang tertuju pada kancing kemeja yang di kenakan oleh Anwa.
"Kok malam pulangnya?"
Arkana membuka satu demi satu kancing kemeja itu.
"Ar."
"Iya?" masih asik membuka kancing kelima.
"Kenapa pulangnya malam?" tanya Anwa lagi.
"Aku mampir ke kafe sebentar," ujarnya yang sudah berhasil membuka seluruh kancing kemeja Anwa. "Aku suka liat kamu pake baju aku--- tanpa bawahan," ucapnya nakal.
Anwa kembali menelan salivanya, godaan yang Arkana sering lontarkan seakan kadang membuatnya tak lagi dapat berpikir. Jari Arkana yang melintasi garis tengah antara belahan dada itu membuat Anwa merinding. Ingin menarik selimut agar lebih tinggi lagi menutup setengah tubuhnya yang sudah terekspos pun tertahan oleh Arkana.
"Jangan di tutup, aku bakal seminggu gak ngeliat ini," ujarnya dengan mata sendu. "Kamu jangan kangen ya."
Menciumi leher jenjang Anwa lalu turun mendekati dada gadis itu, menyesapnya sebentar meninggalkan warna kemerahan disana. Dada yang ukurannya tak terlalu besar namun pas ditangan saat merematnya itu masih terbungkus renda berwarna nude yang hampir sama dengan warna kulit Anwa.
"Aku bakal kangen Wa," tangan Anwa meremas rambut Arkana yang mulai menciumi dadanya.
Arkana menyibakkan selimut agar ia juga masuk ke dalam sana. Tangan yang perlahan menyentuh perut rata nan lembut itu pun semakin lama semakin turun ke bawah, menyusuri pinggiran celana milik Anwa.
"Ar--- stop," ujar Anwa tersengal-sengal.
"Kenapa?"
"Aku belum mau sekarang," ujarnya lagi.
"Cuma pegang doang Wa," ujar Arkana dengan suara paraunya.
Anwa menggeleng, menarik selimut itu, menutupnya sampai ke leher dan meletakkan kepalanya di dada bidang Arkana.
"Di Jogja acara apa?" ujar Anwa yang menciumi harum tubuh Arkana.
"Pertunangan," ujar Arkana membelai lembut rambut kekasihnya.
***Leher aku masih tenggleng 🤣🤣 mungkin kalo di vote bisa sembuh... mungkiiiin loooh mungkiiiin tapi votenya ke LangitJingga ya 😘
enjoy reading***