
Suara ketukan di pintu apartemen Arkana pagi ini membuat sepasang kekasih yang masih berbalut selimut itu kini menggeliat. Namun masih saja berat rasanya meninggalkan tempat tidur itu. Sedikit memicingkan matanya, Anwa menggoyangkan tubuh Arkana.
"Ar," ujarnya, "ada tamu, kamu ada janji dengan seseorang?" tanya Anwa.
Arkana meregangkan otot tubuhnya, kembali memeluk Anwa.
"Ar... iihh, bangun! itu ada yang ngetuk pintu," Anwa mengulang kembali kata-katanya.
"Siapa sih?" Arkana bangun dari tempat tidur hanya mengenakan boxer Donal bebeknya. Ia berjalan ke arah pintu, menyipitkan matanya melihat melalui lubang kecil pada pintu.
Arkana berputar arah menuju Anwa sembari berlari kecil, Anwa yang melihat pun seakan kebingungan.
"Kamu ke kamar mandi gih, mandi dulu," ujar Arkana berbicara sambil mengenakan celana Jogger dan kaosnya. "Buruan!"
"Ada siapa sih Ar?" Anwa menarik handuk menuju kamar mandi.
"Ada Mima sama Didi di luar," Arkana sibuk membersihkan tempat tidurnya. "Buruan masuk," ujarnya lagi lalu berjalan santai, menarik napas panjang.
Pintu pun terbuka, Arkana mengulas senyum dan sepasang suami istri itu sudah melipat tangan mereka di depan dada. Mima melongok ke dalam, seakan mencari sesuatu.
"Ini kita gak dipersilahkan masuk?" tanya Mima.
"Eh, masuk dong...masa mau di luar," cengiran bagai kuda mengukir wajahnya.
"Betah kayaknya di sini ya, Ar?" tanya Didi yang sudah memutari dapur seperti orang yang sedang sidak.
"Betah dong," jawab Arkana merapikan sofa tempat dimana semalam dia menghabiskan waktu mencumbui Anwa dengan liarnya.
"Ada siapa, Ar?" tanya Mima saat mendengar gemericik air di dalam kamar mandi.
Arkana hanya senyum-senyum.
"Ditanya malah senyum-senyum," kata Jingga, "ada siapa?" ulangnya lagi.
"Ada... eemm... ada Anwa," jawabnya ragu-ragu.
Bantal sofa itu pun mendarat di kepala Arkana tepat saat Anwa keluar dari kamar mandi. Apartemen ber tipe studio itu pun gaduh, di buat Jingga saat tahu Anwa ada di sana.
"Anak gadis orang itu, Ar," ujar Jingga setengah berbisik memukul-mukul Arkana dengan bantal.
"Sakit Mima... Wa, tolongin dong," Arkana mengaduh memohon pada Anwa yang hanya diam terpaku melihat penyiksaan yang dilakukan Tante dari kekasihnya itu.
"Anwa, gak di apa-apa in kan sama Arkana?" tanya Didi Langit memastikan.
"Ya gak lah, Didi... semua masih tersegel, gak Arkan apa-apa in, iya kan Wa?" Anwa mengangguk.
"Bener Wa? gak di apa-apa in?" tanya Mima Jingga.
"Bener Mima, Anwa masih... " ujarnya terhenti lalu melirik pada Arkana dan Langit.
"Sini Wa, duduk sebelah aku," ujar Arkana menjulurkan tangannya agar Anwa mendekat.
"Liat mereka jadi inget kita waktu muda ya," bisik Langit pada Jingga.
"Hhmm," jawab Jingga.
"Kok hhmm."
"Terus aku harus jawab apa Didi?" Pasangan suami istri ini seperti biasa akan memulai perdebatan.
"Kenapa Mima?" tanya Arkana menaikkan alisnya.
"Gak papa, Didi kamu suka aneh soalnya."
"Jadi Ar, maksud kedatangan kita kesini itu sebenarnya mau nanya ke kamu," ujar Langit.
"Apa Didi?"
"Apartemen ini jadi mau kamu beli?"
"Kalo Didi lepas ya Arkan beli, tapi harga keponakan ya, jangan harga sama dengan orang lain," kata Langit.
"Turunin dikit dari harga yang Didi kasih kemarin deh, gimana?" tawarnya lagi.
"Sebenernya, Didi tuh gak mau jual apartemen ini, kalo kamu mau pake ya pake aja, gak usah di beli, malah Didi menyarankan kamu buat beli rumah aja sekalian," saran Langit.
"Nah, kalo ini Mima setuju... beli rumah, toh kalian nanti kan bakal menikah, kalo Mima sih lebih memilih tinggal di rumah daripada di apartemen kalo sudah nikah," kata Jingga menimpali.
"Tau gak kenapa lebih enak punya rumah sendiri di banding setelah nikah kalian tinggal di apartemen?"
"Kenapa Mima?" tanya Anwa.
"Lebih bersosialisasi, kalo ada apa-apa tetangga cepet nolongin kita, terus..."
"Terus ketika gak punya cabe bisa minjem sama tetangga," Langit terkekeh.
"Eh, gak ya... aku gak kayak gitu, tetangga sebelah kita dulu baru deh gitu, gak ada tomat dateng ke rumah pinjem tomat, besoknya pinjem cabe, mending kita di ajak ngerasain sambel yang dia buat eh ini gak." Mereka pun tertawa.
"Bener juga sih ya, sebenarnya lebih enak beli rumah sendiri, di banding apartemen kalo sudah berkeluarga, gimana Wa?"
Anwa yang sedari tadi hanya mendengarkan mereka berdiskusi hanya bisa mengangguk menyetujui saran dari Langit.
"Nah, kalo kamu mau ... kan Didi baru buat cluster nih di daerah Pasar Minggu cuma buat sepuluh unit, kalo kamu mau di take dulu ntar gampang lah masalah bayar-bayar nya, gimana?"
"Susah memang kalo ngobrol sama pe bisnis mah, ada sela masuk aja nawarin barang," kekeh Arkana.
Langit tertawa. "Ya udah, kapan ke kantor nanti kita survey bareng, Ar."
"Siap lah, gampang di atur itu yang penting harga keponakan." Mereka tertawa kembali.
"Jadi, kapan ada pertemuan keluarga Wa?" tanya Mima Jingga.
"Baru mau di atur waktunya Mima, kalo ayah sama bunda kapan pun bisa, tapi kita nunggu jadwal dari Pak Fajar, sampai dua minggu ke depan jadwalnya padat," ujar Anwa.
"Kenapa gak, ayah sama bunda Anwa yang kita undang datang ke Jakarta, kan untuk mempersingkat waktu, biar memperjelas hubungan kalian," Jingga memberikan ide.
"Iya ya, bener juga Wa, kita undang ayah sama bunda ke Jakarta, nanti aku atur deh, kalo mereka ke sini kan otomatis papa pasti ada waktu, kita adakan di malam hari pertemuannya, gimana?" tawar Arkana.
"Aku ikut aja baiknya kayak apa deh, nanti tinggal hubungi ayah sama bunda," jawab Anwa.
"Iya, lebih baik seperti itu, semakin cepat semakin baik," ujar Langit, "biar sekalinya Didi dateng lagi kesini gak ada lempar-lemparan bantal lagi, nanya anak gadis orang masih segel apa gak," Langit terkekeh.
"Tapi bener kan Wa, masih segel?" pertanyaan itu terlontar lagi dari Jingga yang menaruh curiga pada Arkana.
"Astaga Mima, masih... elaaaah ya kali Arkan aneh-aneh, gak kan Wa? gak aneh-aneh kan aku?"
"Aku mau bilang jujur apa bohong nih?" goda Anwa dan dibanjiri gelitikan di tubuhnya oleh Arkana.
"Tuh, Mima boleh percaya sama aku, Anwa di gelitikin masih berasa kan?"
"Eh, emang apa hubungannya masih segel apa gak sama gelitikin kamu?" Jingga saling melempar pandangan pada Langit.
Setelah mengantarkan pasangan suami istri itu ke lobby apartemen, Arkana mendapati Anwa sedang duduk sambil mengaduk-aduk secangkir kopi.
"Buat aku?" tanya Arkana.
"Minum aja." Anwa menatap lelaki yang berada di hadapannya.
"Kenapa?"
"Aku mau nanya."
"Apa?"
"Apa hubungannya masih di segel dengan gelitikan," tanya Anwa dan Arkana pun tertawa.
***sumpah ya... ini adalah part yang gak jelas banget... seharian aku nyari feel biar enak nulis tetep gak dapet 🤦🏻♀️ semoga kalian terhibur.
tinggalkan jejak berupa komen, like dari kalian ya karena dengan jejak yg kalian tinggalkan itu mood booster buat aku...
enjoy reading 😘***