
Arkana berjalan masuk tanpa menghiraukan Anwa, sedangkan Anwa masih mengutak atik ponselnya. Dia melakukannya transaksi delivery order untuk makan malam mereka nanti.
Anwa bukannya tak sadar atas kelakuan Arkana yang tiba-tiba diam, sama sekali tidak ada percakapan selama perjalanan dari kantornya sampai dengan apartemen. Begin ternyata rasanya menghadapi Arkana yang marah.
"Makan dulu, yuk," ajak Anwa saat melihat Arkana keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya.
Arkana hanya diam, duduk di sofa menghidupkan televisi tanpa menoleh kepada Anwa.
"Ar... ayo makan dulu," ujarnya dari balik meja makan. Masih tak ada sahutan dari Arkana, dan akhirnya Anwa pun mendekat, berdiri di hadapan Arkana menghalanginya menonton televisi.
"Kamu kenapa sih?" tanya Anwa yang sudah terpancing emosinya.
"Gak kenapa-kenapa, minggir dong aku mau nonton," ujar Arkana masih dengan tampang datar.
"Kita makan dulu, itu udah order in makanan buat kamu, nanti keburu dingin."
"Kamu aja makan duluan, aku gak napsu... udah hilang napsu aku liat kamu pegangan tangan sama cowok," ucapnya menengadahkan wajahnya pada Anwa.
"Tadi temen aku," jawab Anwa.
"Temen kayak apa, maen pegang tangan aja," ujar Arkana mulai kesal.
"Kalo ini masalah karena kamu liat aku ngobrol sama laki-laki lain terus megang tangan aku, kamu salah banget kalo mau marah."
"Jelas aku marah loh Wa, dia pegang tangan kamu, coba kalo aku gak cepet sampe mungkin kamu udah meluk dia di atas motornya." Arkana berdiri berhadapan dengan Anwa.
"Maksud kamu apa bilang gitu?" Anwa merasa terintimidasi, "kok jadi kesannya aku cewek gampangan gitu ya, Ar." Emosi Anwa meradang.
"Lagian ngapain coba pegang-pegang tangan kamu, kan aneh banget," seloroh Arkana tak mau kalah.
"Terserah sama kamu mau mikir kayak apa." Anwa berbalik, meraih tasnya di atas sofa, berjalan menuju pintu untuk keluar dari apartemen yang sedang panas itu.
Arkana terkejut, tak di kiranya gadis itu akan pergi keluar dari apartemen.
"Mau kemana?" ujarnya memeluk pinggang Anwa saat Anwa berada di luar pintu. Anwa meronta menghentak-hentakkan kakinya.
"Aku mau pulang, lepas gak!"
"Gak bakal aku lepas, siapa yang suruh kamu pulang." Arkana membopong tubuh Anwa untuk masuk kembali.
"Lepas!"
"Oke, aku lepas tapi jangan keluar dari sini."
"Kamu... ih," Anwa kesal sekali. "Baru kemarin kita nyelesaiin satu masalah, kamu malah tambah lagi dengan masalah gak penting kayak gini," gerutu Anwa masih bersidekap.
"Gak penting kata kamu itu penting buat aku... siapa cowok tadi?" ujarnya masih emosi.
"Aku jelasin juga gak bakalan kamu terima alasannya," Anwa menantang dengan bersidekap juga.
"Siapa?"
"Temen aku... temen SMA aku, puas?"
"Ngapain pegang tangan kamu?"
"Di gak pegang Ar, dia tarik tangan aku biar aku mau dia antar pulang, karena sudah lama nungguin kamu gak dateng-dateng," jelas Anwa.
Arkana terdiam.
"Susah emang ngomong sama orang yang emosi tapi gak tau titik masalahnya apa," ujar Anwa membalikkan kembali tubuhnya untuk keluar dari ruangan itu.
"Mau kemana?" lagi-lagi Arkana memeluknya Anwa kali ini membopong Anwa seperti karung beras lalu membawanya ke dalam kamar mereka.
"Aku mau pulang, lepasin gak!" seru Anwa.
Arkana menghempaskan pelan tubuh kekasihnya yang masih berpakaian kantor lengkap.
"Gak boleh pulang," bisiknya di telinga Anwa, tubuhnya sudah berada di atas gadis itu.
Anwa membuang mukanya, dia malas sekali menatap Arkana.
"Wa... maaf," lirih Arkana.
"Aku emosi, aku gak suka kamu di pegang-pegang cowok lain," ujarnya.
"Wa, maafin aku... aku salah, aku ngomong kasar tadi, maaf ya?"
"Wa, liat aku dong...."
"Mau kemana?"
"Mau mandi, gerah, panas bawaannya mau makan orang," ujarnya menatap netra Arkana tajam.
"Makan aku aja gak papa, aku siap." Bibir itu mengembangkan senyum.
"Males, aku masih sebel," ujarnya lagi.
"Kan aku udah minta maaf, serius aku gak suka kamu deket-deket sama laki-laki gak jelas kayak temen kamu itu."
"Gak jelas gimana? jelas-jelas dia temen aku."
"Pasti dia dulu suka sama kamu kan?" tanyanya.
"Awas Ar, kamu berat... minggir gak!"
"Gak mau, jawab dulu... bener kan dia suka sama kamu dulu?"
"Iya... dulu," jawabnya, "minggir Ar, be--rat."
Arkana menggeser tubuhnya, membiarkan Anwa bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak berapa lama Anwa keluar, terlihat lebih segar, menuju ke arah meja makan, untuk mengisi perutnya. Dia biarkannya Arkana memperhatikan segala gerak geriknya, Anwa belum bisa memaafkan laki-laki itu karena sudah berkata yang menyinggung perasaannya.
"Maaf ya," ujarnya memeluk gadis itu dari belakang saat akan mencuci peralatan makannya.
Arkana menciumi tengkuk leher Anwa, mengendusi harum tubuh gadis itu.
"Wa."
"Apa?"
"Di maafin gak?"
"Gak."
"Wa."
"Apaaa?"
Arkana membalikkan tubuh gadis itu. Menatap netranya lama, mencium bibir gadisnya lama, ********** pelan-pelan hingga Anwa terhanyut. Arkana menyusuri leher jenjang itu kembali, mengecupinya dengan kecap-kecapan penuh hasrat, hingga Anwa melenguh kecil. Napas mereka terengah.
"Udah maafin belum?" tanya Arkana menempelkan keningnya pada kening Anwa.
"Belum," jawab Anwa dengan mata yang mulai sendu.
Arkana kembali menciumi gadis itu, lagi-lagi lenguhan itu lolos dari bibir Anwa.
"Masih belum maafin aku?" Anwa menggeleng, melingkarkan tangannya pada leher lelaki itu. Dengan sekali tenaga, Arkana sudah mengangkat Anwa duduk di meja dapur.
Tangannya mulai menelusuri paha mulus gadis itu, baju tidur dengan kancing sampai selutut itu tersingkap kala kaki Anwa di lebarkan oleh Arkana.
Cumbuan Arkana membawa Anwa berlari-larian di angkasa, napas mereka kembali berderu. Pertukaran saliva dan lidah yang kembali saling berbelit. Tangan itu mulai meremat di tempat favorit Arkana.
Seakan hilang akal mereka berpindah dari meja dapur sekarang berada di sofa. Dada itu sudah tak lagi memakai pembungkusnya, Anwa menikmati itu, menikmati setiap kecupan yang dirasakan berada di puncak dadanya.
"Ar, " suara Anwa mendesah.
"Hhmm."
"Ud---ah," ujar Anwa.
"Sebentar lagi," Arkana masih mencumbui gadis itu, menggesek gesekkan pakaian dalam mereka yang masih menyatu pada tubuh.
"Aku gak kuat, Wa," ujar Arkana sedikit berbisik. "Aku gak kuat nahan ini." Lalu ******* kembali bibir ranum yang manis dan hangat itu, dengan kesadaran penuh Arkana melepaskan pelepasannya meski masih berbalut pakaian dalam.
"Ar...." Anwa merasakan kenikmatan yang sama meski hanya saling bergesekan.
"Tahan sebentar, Wa... sedikit lagi," ujarnya dengan suara terbata-bata.
Cumbuan yang berakhir dengan pakaian dalam yang sama-sama basah itu pun merupakan ungkapan kata maaf dari Arkana.
permintaan maaf macam apa ini????
yang nulis juga ngos-ngos an 😂
selamat malam 😘