Kiss Me

Kiss Me
Kamu siap?



Anwa melambaikan tangannya ke udara, memanggil Zurra yang sudah celingukan di depan pintu masuk kafe Arkana.


"Ra ... sini," sahut Anwa.


"Sorry Wa, telat ... tadi nemenini Mima dulu soalnya, biasalah pengangguran kayak gue kan tenaganya lebih di butuhkan," ujar Zurra terkekeh.


"Kamu nganggur juga uangnya ngalir terus Ra, kalo aku nganggur bisa gak makan," canda Anwa.


"Abang mana?"


"Masih di atas, lagi ada kliennya," jawab Anwa.


"Ooh, eh jadi gimana konsep foto prewedding nya?"


"Kalo aku pribadi sih pengennya di sini ajalah, kita manfaatin gedung-gedung tinggi itu kayaknya keren juga Ra," ujar Anwa.


"Boleh juga, nanti gue ada beberapa ide ... kayaknya Abang bakal suka, jadi kita tunggu dia aja biar gue ceritanya gak dua kali," mereka pun tertawa.


"Kamu udah punya pacar, Ra?" tanya Anwa.


"Gue? pacar? belum punya dan males pacaran, ribet kayak kalian nih ... dikit-dikit berantem, dikit-dikit marah, ah ribet lah kalo gue liat orang pacaran."


"Beneran gak pernah pacaran?"


"Pernah sih, sekali dua kali ... udahnya gue capek," kekeh Zurra.


"Padahal kamu cantik Ra," ujar Anwa.


"Lo orang kesekian yang bilang gitu," ujar Zurra lalu menyendokkan satu suapan chocolate cake ke dalam mulutnya.


"Eh, mau minum apa? aku pesenin lagi ya kue nya," ujar Anwa yang melihat dengan santainya Zurra menyantap kue milik Anwa.


"Macchiato aja, sama gue mau ...," perkataannya seakan terhenti ketika melihat Arkana turun dengan seorang pria memakai kacamata hitam berjalan ke arah mereka.


"Sama apa Ra?" tanya Anwa.


"Lava cake ... iya lava cake," ulangnya lagi namun tatapan itu tak lepas dari sosok lelaki itu.


"Sorry lama ya?" tanya Arkana membelai lembut rambut kekasihnya. "Oh ya, kenalin ini Rozak, salah satu rekan bisnis aku, dia suplai beras ke beberapa restoran kita yang ada di Jakarta, Bekasi sama Bandung," jelas Arkana.


Lelaki yang bernama Rozak tadi membuka kacamata hitamnya, lalu mengulurkan tangan pada Anwa dan juga Zurra.


"Ini calon istri lo, Ar?" tanya Rozak, Anwa pun tersenyum. "Dan ini?" katanya pada Zurra.


"Ini sepupu gue ... Zurra, kenalin ini Rozak salah satu supplier Abang." Zurra mengulurkan tangan mengulum senyum.


Mereka berdua saling bertatapan, uluran tagan itu cukup lama saling bertaut.


"Ehheem," ujar Arkana sehingga membuat mereka sadar saling melepaskan tautan tangan.


"Oke lah kalo gitu gue balik dulu Ar," ujar Rozak melirik Zurra. "Dan makasih undangannya ya, gue bakal dateng," katanya lagi.


"Bang," ujar Zurra.


"Apa ... minta ya Wa?" Arkana menyeruput latte milik Anwa, lalu memanggil pelayan untuk di buatkan lagi secangkir latte hangat.


"Rozak itu temen bisnis Abang?"


"Iya, kenapa naksir?"


"Gak lah ...," wajah Zurra merona.


"Gak salah lagi ya, Ra." Anwa ikut terkekeh.


"Ntar ketemu lagi di nikahan gue."


"Cieee yang naksir," goda Anwa.


"Apaan sih," Zurra pun tertawa. "Udah ah jadi ini gimana konsepnya? mau yang kayak apa?" Zurra mengalihkan pembicaraan.


"Aku pengen konsepnya kita foto dengan latar gedung-gedung tinggi," kata Arkana.


"Kok pikirannya sama kayak aku Ar," ucap Anwa.


"Itu berarti kita emang jodoh, Wa." Arkana menatap gadis itu mendekatkan wajahnya.


"Jadi, konsep latarnya gedung-gedung, oke kita ambil di daerah Kuningan aja kali ya, lebih apik di sana, ada taman juga," ujar Zurra lagi mengutarakan ide-idenya. "Terus, gue pengen lo berdua jalan di jalan raya dengan baju pengantin."


"Oke, tapi gue minta satu scene itu gue sama Anwa dalam satu payung, dan itu harus hujan terus malam hari," kata Arkana.


"Kenapa harus hujan, udah gak musim hujan ini Bang."


"Ya gue gak mau tau gimana caranya itu hujan dateng, Ra ... yang penting ada air yang jatuh terus gue payungan bareng Anwa dalam satu payung," jelasnya lagi.


"Kenapa harus hujan Ar," tanya Anwa bingung.


"Kamu lupa ya, itu pertama kali aku nganterin kamu pulang, inget gak?" Wajah Anwa merona, Arkana masih mengingat semuanya, pertama kali mereka bertemu, pertama kali dia mengantar pulang Anwa yang sudah basah kuyup karena hujan.


"Aku kok makin sayang ya sama kamu, Ar." Anwa membelai pipi kekasihnya.


"Ya Tuhan ... wooyyy masih ada gue di sini, elaaah gak enak ternyata jomblo ya," jari Zurra mengetuk ngetuk meja.


"Tapi Rozak tadi keren loh Ra," goda Anwa lagi.


"Kalo jodoh gak kemana Ra, tenang aja," ujar Arkana.


Rozak namanya Rozak, semoga aja ketemu lagi batin Zurra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pemotretan yang dilakukan mereka seharian ini memang cukup melelahkan namun hasilnya cukup memuaskan. Zurra memang benar-benar mempunyai keahlian yang terpendam. Harusnya Zurra terus menggali lebih dalam keahliannya ini.


"Aku capek banget Ar," ujar Anwa yang sudah merebahkan dirinya di tempat tidur. "Untung aku bukan model, jadi kepikiran model-model yang kerjanya tiap hari di foto ya, liuk sana liuk sini tubuhnya, aku kira gampang." Anwa terus berceloteh dengan mata terpejam.


"Aku juga, cukup satu kali ini aja prewedding kayak begini," ujar Arkana asal, membuat Anwa membuka matanya dan menoleh pada lelaki itu.


"Maksudnya?" Anwa mengangkat alisnya. "Maksud kamu mau foto prewedding sama siapa lagi?" Anwa memberikan pukulan di lengan Arkana.


"Aduh Wa, sakit ... bukan gitu maksudnya," Arkana tertawa. "Kamu sekarang sering banget curigaan," ujarnya meremat dada gadis itu.


"Ar ... sakit tau!" Anwa meringis.


"Sakit ya," bisik Arkana di telinga Anwa membuat gadis itu menegang. "Mau aku sembuhin?" ujarnya lagi lalu mencium Anwa lama.


"Bosen ah," Anwa mendorong tubuh Arkana pelan.


"Bosen sama aku?"


"Bosen dengan cara kamu nyembuhin aku," Anwa terkekeh lalu duduk di pinggiran tempat tidur.


"Mau kemana?"


"Aku lapar, mau cari sesuatu buat aku makan," ujarnya lalu berdiri namun Anwa kembali terjatuh ke tempat tidur karena satu tarikan tangan Arkana.


"Kamu kebiasaan kalo aku lagi pengen, pasti main pergi aja, makan aku aja aku juga mengenyangkan," ujarnya tersenyum nakal.


"Aku beneran laper Ar," rengek Anwa.


"Anak ayah juga laper?" Arkana mengelus perut rata Anwa, gadis itu hanya tersenyum.


"Wa, nanti kita mau punya anak berapa?" Arkana membenamkan wajahnya pada dada Anwa.


Anwa membelai rambut Arkana lembut. "Aku mau punya anak dua aja ya Ar," jawabnya.


"Kamu siap, Wa?"


"Aku siap ... kamu siap, Ar?"


"Aku siap jadi suami yang baik, menyayangi istri aku hingga tua nanti, menyayangi anak-anak aku, memenuhi segala kebutuhan kamu dan mereka ... aku siap menjadi pemimpin keluarga kecil kita," Arkana mengangkat wajahnya lalu mencium bibir Anwa.


"Dua minggu lagi, Ar."


"Iya, dua minggu lagi menjadi hari besar kita, dua minggu lagi penantian aku selama ini akhirnya terlaksana, aku bahagia Wa," jawab Arkana lalu menempelkan bibirnya di ceruk leher Anwa, perlahan napas itu teratur lelaki itu sudah memejamkan matanya berlayar ke alam tidur, sementara Anwa bergerak pelan-pelan beranjak dari tempat tidur menuju ke dapur untuk mencari makanan yang bisa mengenyangkan perutnya malam itu.


***Siap menuju halal yaaaah... gaskeeuuun 😍😍


minta like nya duooong... ini yang baca banyak yang nge like cedikit... 😂


enjoy reading yaaaah 😘***