Kiss Me

Kiss Me
Kita udah HALAL, Ar.



Ikrar janji pernikahan terucap dari bibir Arkana dalam satu tarikan napas. Beberapa saksi pernikahan serempak berucap kata "SAH".


Perasaan lega di hati Arkana jelas terlihat sekali. Laki-laki dengan beskap berwarna putih itu berdiri menyambut mempelai wanitanya.


Gadis itu berjalan dengan sangat anggun, kebaya yang di pakainya membuat semua mata terpana. Sore itu bukan hanya warna langit yang terlihat indah, namun wanita ini menyuguhkan keindahan ciptaan Tuhan sesungguhnya.


Teringat kembali bagaimana jatuh bangun Arkana membantu gadis itu bangkit dari keterpurukan, membantu gadis itu menata hatinya kembali, membuat gadis itu sepenuhnya percaya akan kesungguhannya, memasuki hati gadis itu dengan perlahan sampai Anwa bisa menerima kehadirannya.


Dan inilah penantian seorang Arkana, gadis itu berjalan menuju dirinya, menuju masa depannya, menuju rumah yang sesungguhnya.


Senyum itu terukir di sudut bibir Anwa, ia mendapati kekasih hatinya berdiri menunggunya dengan sangat tampan. Balutan beskap putih itu membuat lelaki itu seperti malaikat tanpa sayap.


Malaikat yang menolongnya untuk kembali menapaki bumi, untuk kembali menguntai jalan cerita kehidupannya. Dia membuka hati untuk lelaki yang tanpa pantang menyerah menawarkan hatinya untuk mengisi kekosongan hari-hari Anwa.


Jalan cerita hidupnya tak pernah ia sangka akan seindah ini. Mendapati orang yang benar-benar menyayangi dan mencintainya, tanpa melihat masa lalu, menerima keadaannya dengan apa adanya.


Uluran tangan itu di sambut oleh Anwa, kecupan di punggung tangannya begitu hangat ia rasakan. Sepasang cincin sudah menunggu di sana untuk mengukir jari manis mereka sebagai simbol bahwa hubungan ini tidak akan terpisahkan oleh apapun.


Arkana memasangkan cincin di jari manis Anwa, begitupun sebaliknya. Arkana meminta microphone pada salah satu MC di sana. Memberikan beberapa patah kata untuk Anwa, di genggamannya tangan gadis di hadapannya yang sudah berubah status menjadi istrinya.


"Aku cuma mau bilang sama kamu, satu tahun lebih bersama melewati hari-hari yang menurut aku adalah suatu perjalanan yang luar biasa. Aku seakan menemukan kamu diantara persimpangan, antara tetap berjalan bersama masa lalu atau berjalan menuju masa depan. Tuhan punya cara indah membawa kamu kehadapan aku Wa, Dia memberikan aku kesempatan untuk hadir dalam kehidupan kamu. Pernikahan bukan hanya terlihat indah hanya di awal saja, melainkan cinta tumbuh dan berkembang seiring waktu, maka aku memilihnya bersama kamu. Menikah bukan cuma sekedar hidup sama kamu, tapi menikah berarti aku gak bisa hidup tanpa kamu, dan kamu tahu itu. I love you, Wa."


Air mata Anwa mengalir, senyum bahagia terukir di wajahnya. Tuhan memang baik padanya, Tuhan mempertemukan dia dan Arkana dengan cara yang indah.


"I love you, Ar, " ucap Anwa dengan mata yang sudah basah karena haru. Arkana kecup kening istrinya, membawanya ke dalam dekapannya.


Suasana sore itu benar benar khidmat, kedua orang tua mereka memberikan wejangan-wejangan kehidupan rumah tangga yang harus mereka jaga. Bukan hanya sekedar pernikahan karena cinta namun ada tanggung jawab dan pengorbanan di dalamnya.


"Selamat berbahagia untuk kalian berdua, jadilah anak dan jadilah menantu yang bisa menjaga nama baik keluarga," ujar Fajar.


"Selamat datang di keluarga kami, Anwa ... semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian, kasih cucu yang banyak untuk Mama," kata Cha Cha memeluk keduanya.


"Bahagiakan Anwa seperti janji kamu kepada Ayah, jangan kecewakan dia, jika suatu saat nanti cinta itu memudar, kembalikan dia pada Ayah, maka Ayah akan datang menjemputnya," ujar Syahril ayah Anwa dengan air mata berderai melepaskan putri kesayangannya pada lelaki yang anaknya cintai.


"Bunda titip anak gadis Bunda ya Ar, jangan sakiti, bahagia kan dia seperti kami membahagiakannya, Bunda doa kan kalian selalu di berkati," lirih Bunda memeluk mereka satu per satu.


Ucapan selamat pun datang dari keluarga yang lain, air mata haru mewarnai sore hari itu. Tamu undangan mulai banyak yang berdatangan. Kedua mempelai kembali harus mengganti pakaian mereka dengan pakaian acara resepsi selayaknya pesta pernikahan.


Lampu-lampu lampion pun mulai menyala, menambah suasana romantis malam itu. Acara dengan gaya garden party pun begitu kental.



Arkana menggenggam tangan istrinya, tatapannya tak pernah lepas dari wanita cantik di sampingnya. Gaun pengantin pilihannya begitu pas pada lekuk tubuh Anwa. Arkana pun terlihat gagah dengan balutan tuxedo berwarna senada dengan gaun Anwa.


Tangannya meraih pinggang wanita itu, di remasnya membuat Anwa menoleh pada Arkana.


"Kenapa?"


"Aku udah bilang belum, kalo kamu cantik banget malam ini?"


Anwa merona, dia tak bisa menutupi rasa hati yang berbunga-bunga.


"Kita gak usah ada di sini yuk," ajak Arkana.


"Kenapa?"


"Aku pengen bawa kamu jauh dari sini, berdua aja gak ada yang ganggu."


Anwa tertawa. Tawa bahagia begitu bersyukurnya ia mendapatkan lelaki yang selalu bisa mengutarakan keinginannya. Lelaki yang tak pernah malu mengatakan apa yang ia mau.


"Selesai acara ini, kamu culik aku juga gak nolak, kita udah HALAL, Ar," ujar Anwa membelai lembut pipi suaminya.


"Ar," ujar Anwa.


"Iya?"


"Kamu undang Alya?" mata Anwa tertuju pada gadis dengan tubuh yang sangat proporsional, rambut terurai berwarna light brown, melangkah menuju mereka.


"Hah? gak ...." Arkana tercekat, seakan menelan salivanya lalu menoleh pada Anwa, hatinya seakan berkata kenapa terjadi di saat seperti ini.


"Ar, selamat ya," ucapan selamat terlontar dari bibir Alya, Alya menautkan kedua pipinya pada Arkana, membuat Anwa membelalakkan matanya.


"Makasih Al," ucap Arkana.


Uluran tangan itu pun berpindah pada Anwa. Gadis itu tersenyum padanya, senyuman yang ramah tapi entah mengapa rasa tak nyaman berusaha Anwa tepis.


"Selamat ya, semoga kalian selalu berbahagia," Alya pun tanpa sungkan menautkan pipinya pada Anwa.


"Makasih," Anwa membalas dengan senyum sebisa mungkin dia harus bisa meredam gejolak di hatinya. Gadis di hadapannya ini memang sangat sempurna.


"I will," jawab Alya berlalu meninggalkan mereka.


"Kamu undang dia?"


"Gak ...."


"Kalo bukan kamu terus siapa?"


"Aku gak tau, mungkin mama ... mama kan kenal sama keluarganya," ujar Arkana sebisa mungkin meredam kegalauan hati istrinya.


Bisa kacau malam pertama gue gumamnya dalam hati.


Anwa mengedarkan pandangannya pada tamu undangan yang lain, berusaha untuk tidak mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi meski hatinya sedikit tidak nyaman.


Sayup-sayup terdengar alunan musik salah satu lagu band lawas yang sangat disukai oleh Anwa, mengalun perlahan membuatnya menoleh ke belakang dimana Arkana berada.


Iringan musik yang di bawakan oleh pemain band, membuatnya perlahan mengulas senyum, ketika tangan Arkana terulur kepadanya, Anwa menyambutnya dengan perasaan yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


Kiss me, out of the bearded barley


Nightly, beside the green, green grass


Swing, swing, (swing, swing) swing the spinning step


You wear those shoes and I will wear that dress


Oh, kiss me, beneath the milky twilight


Lead me out on the moonlit floor


Lift your open hand


Strike up the band and make the fireflies dance


Silver moon's sparkling


So kiss me


Kiss me, (kiss me) down by the broken tree house


Swing me, (swing me) upon its hanging tire


Bring, bring, (bring, bring) bring your flowered hat


We'll take the trail marked on your father's map


Oh, kiss me, beneath the milky twilight


Lead me out on the moonlit floor


Lift your open hand


Strike…up the band and make the fireflies dance


Silver moon's sparkling


So kiss me


(Sixpence None The Richer~Kiss Me)


***Have a nice day good people 😘


enjoy reading and don't forget to leave your traces...


like


comment


vote


and share to all of people in the world


love


Chida 😘***