
Awal bulan dan itu adalah tanggal merah di hari Jum'at, itu berarti long weekend memanggil untuk di datangi. Tidak untuk Anwa, pagi ini dia bersiap mengunjungi makam Dika, jika hari kerja dia akan mengambil waktu sore hari setelah pulang kerja baru akan mengunjungi makam kekasihnya itu.
Mengenakan atasan turtleneck berwarna pink dengan celana jeans serta flatshoes kesayangan, Anwa menuruni tangga menuju gerbang kost.
"Mau kemana?" ujar Arkana yang baru saja membuka gerbang.
"Ke makam, kamu tunggu aja di dalam ya, kunci aku taruh di tempat biasa," jawab Anwa, "oh ya tempat tidur jangan di berantakin, udah aku rapihin tadi," ujarnya.
"Gue anter aja," ucap Arkana, "boleh kan?"
Anwa mengangguk.
Pagi itu cuaca lumayan cerah, tidak panas tidak juga mendung. Anwa menapakkan kakinya menuju makam sang kekasih yang setiap bulannya selalu ia kunjungi. Membawa setangkai mawar, satu plastik kembang tujuh rupa dan air mineral yang seperti biasa akan ia tebarkan di atas gundukan rumput hijau.
Arkana berjalan di sisinya, ia melihat senyum wanita itu sangat bahagia pagi ini. Namun ia merasa senyum itu tidak di tujukan untuknya.
"Assalamualaikum Sayang," ujar Anwa seketika membuat Arkana menoleh saat Anwa menyebutkan kata Sayang pada makam tempat dimana kekasihnya tertidur panjang.
"Maaf ya aku baru datang sekarang, kerjaan lagi banyak-banyaknya... kamu gimana di sana? udah mulai lupa aku?" Anwa tersenyum sambil membelai nisan bernama itu.
"Ka, aku kesini di temani oleh Arkana, teman aku," ujarnya lagi
Teman??
"Selama kamu gak ada, dia yang selalu bantu dan jagain aku, gak papa kan? orang nya baik Sayang," Anwa menoleh melihat Arkana yang duduk di sebelahnya lalu tersenyum.
"Aku bawain ini buat kamu," ujarnya lagi meletakkan bunga mawar di dekat nisan itu. Lalu menebarkan bunga-bunga, memanjatkan doa untuk Dika dan membasuh nisan itu dengan air.
"Aku pulang ya, baik-baik di sana ya," ujarnya, "Ayo, Ar."
"Bisa tinggalin aku sebentar," ujar Arkana.
Anwa melihat bingung. "Kenapa?"
"Mau ngobrol antar laki-laki," jawabnya dengan mengulas senyum.
Anwa berjalan meninggalkan Arkana, menunggu di sebuah kursi, mengamati obrolan apa yang ia katakan pada Dika.
"Hai, bro... kenalin gue Arkana, gue ketemu Anwa di kafe gue, lalu bertemu lagi di kantor bokap, gue rasa lo udah tau kan, gue yakin Anwa udah cerita sama lo."
"Dik, gue cuma mo minta ijin sama lo, gue harap lo ngijinin dan gue rasa lo juga udah tau maksud dan tujuan gue ngomong ini ke elo."
"Gue suka Anwa, bro." katanya pelan sambil mencabuti rumput-rumput liar di hadapannya. "Gue pengen lo bisa liat Anwa bahagia sama gue, dan gue harap lo gak keberatan."
"Masih belom bisa gue ngegapai hati dia, gantiin posisi lo, cuma gue percaya sejalannya waktu semua akan berakhir sesuai yang gue mau, dan--- gue harap lo ikhlas dan ngerestuin kita bedua," ujarnya menepuk-nepuk nisan itu.
"Gue minta ijin hari ini buat ngajak Anwa kencan, boleh ya," ujarnya tersenyum, "gue janji bakal jaga dia demi elo."
"Gue balik Dik, next time gue dateng lagi bawa kabar baik buat kita."
Arkana kemudian berdiri setelah memanjatkan doa untuk seorang lelaki yang sudah tiada yang sekarang dia anggap sebagai teman.
"Ayo, kita pulang," ujarnya mengulurkan tangan pada Anwa dan mengulas seuntai senyuman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadikan?"
"Apa?"
"Kita kencan hari ini," ujar Arkana menjalankan mobilnya.
"Kemana?"
"Kencan kayak orang-orang ... kita mulai dengan nonton," jawabnya bersemangat.
Anwa menggeleng gelengkan kepalanya. Hingga sampailah mereka pada sebuah mall, memesan popcorn dan minuman bersoda, memesan tiket film yang di pilih bergenre romantis, duduk paling pojok dan paling atas.
Seperti layaknya orang berkencan dan baru melakukan pendekatan, saling melempar popcorn dan membuat gaduh di dalam bioskop.
Anwa menikmati hari ini, waktu dua jam menonton, dan setelahnya makan siang, siang itu mereka habiskan keliling mall, keluar masuk store tanpa ada yang di beli. Bukan karena Arkana tak ingin membelikannya sesuatu, tetapi karena Anwa yang meminta untuk tidak membeli apapun.
"Foto?"
"Iya, ayo."
Beberapa kali jepretan, dengan berbagai gaya konyol yang mereka lakukan. ~bisa diliat di GC ya~
Menjelang sore, Arkana melajukan mobilnya ke suatu tempat untuk menikmati sore di suatu pinggiran pantai.
Ancol menjadi tempat pilihan Arkana, berjalan menyusuri jembatan tempat pejalan kaki, mereka berjalan bersebelahan, sekali kali tertawa, menceritakan hal-hal yang lucu, atau sekedar membahas beberapa pasangan yang lewat di depan mereka.
"Ar," ujar Anwa saat itu, bersandar pada pinggiran pagar pembatas, melihat laut lepas di depan sana.
"Apa Wa,"
"Makasih ya," ujarnya memandang wajah Arkana.
Langit mulai menguning, senja menampakkan warnanya. Indah, matahari mulai menurun.
"Buat apa?"
"Udah baik sama aku selama ini," ujarnya lagi.
"Gue baik kan karena ada mau nya," kekeh Arkana lalu dia mengaduh karena Anwa mendaratkan cubitan di perutnya.
"Lo gak harus bilang makasih-makasih sama gue Wa, itu udah tugas gue," ujarnya merangkul pundak gadis itu lalu sama-sama memandang ke depan menatap sunset yang indah sore itu.
"Tugas apa?" tanya Anwa.
"Tugas gue buat lo jatuh cinta ... jatuh cinta sama gue," ujarnya tanpa menoleh sedangkan Anwa menoleh pada Arkana, lalu memandang lagi ke depan dengan sudut bibir yang mengembang.
Malam kencan mereka di akhiri dengan makan malam romantis di pinggir pantai di suatu restoran yang bernuansa romantis.
Meja yang tertata rapih, dua gelas wine, dua lilin sebagai penghias, makanan pembuka dan penutup yang begitu lezat.
Jujur Anwa merasa tersanjung, perlakuan yang begitu romantis, walau dia hanya mengenakan pakaian seadanya, namun Arkana membuatnya layaknya seorang princess.
"Ar, ini ---,"
"Suka?"
"Banget."
Arkana tersenyum.
Selayaknya kencan pertama, di akhiri dengan sesuatu yang romantis adalah keinginan Arkana.
"Pulang?" tanyanya pada Anwa.
"Pengen di sini dulu."
Saat itu malam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, mereka masih berada di pinggiran pantai, menjinjing flatshoes nya, Anwa bermain-main dengan pasir.
Arkana memperhatikan gadis itu dengan senyum simpul. Melihatnya tertawa dan bahagia adalah suatu kepuasan bagi Arkana.
"Wa," ujarnya meraih tangan Anwa, merengkuh pinggang gadis itu.
Anwa mendongakkan kepalanya, merapihkan rambutnya yang menutupi mata karena hembusan angin malam itu.
Bibir mereka bertemu, membuat mata Anwa terbelalak dengan serangan dadakan. ******* lembut Arkana menghanyutkan, Anwa membalasnya, sama lembut dengan yang Arkana lakukan. Tangan Arkana yang menahan tengkuk leher Anwa perlahan turun ke bawah, melewati sepintas dada Anwa, menuntun Anwa untuk lebih mendekat padanya.
Kecapan dan sesapan yang saling bergantian ******* bibir atas atau pun bibir bawah keduanya, sesekali menggigit lalu dilepaskan.
Deru nafas yang tak beraturan, kedua kening yang saling menyatu, kedua tangan Arkana yang menangkup pipi lembut Anwa.
"Hubungan kita ini apa, Wa?"
***jawab Wa jawab.... 😘
yang mau ikutan GC monggo yaaa 😀 jangan lupa jejak 😘***