Kiss Me

Kiss Me
Feeling Good?



"Asal kamu bisa memenuhi permintaan saya---," ujar Fajar lagi, memandang bergantian pasangan yang ada di hadapannya.


"Pa...," Arkana mengiba.


"Pasti saya penuhi Pak," jawab Anwa.


"Wa---"


"Apapun? walau harus pisah dari Arkana?"


"Astaga Papa...!" Arkana berdiri menarik tangan Anwa untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu. "Kita pergi dari sini, Wa," ujarnya berang melangkahkan kakinya.


"Ada acara makan malam besok di rumah Mima, ulang tahun pernikahan Mima dan Didi, kamu ajak Anwa kesana, setidaknya anak gadis orang yang kamu cium itu kamu kenalkan dengan keluarga kita, biar tujuan kamu menjalin hubungan itu jelas," ujar sang Ayah berjalan santai ke meja kerja nya.


Kedua pasangan kekasih itu saling memandang, mereka berhenti di depan pintu lalu membalikkan tubuh. Melihat ekspresi Fajar yang santai saja dan sudah kembali sibuk dengan laptop yang berada di depannya.


"Makasih Pa," ujar Arkana di anggukki oleh Fajar.


"Anwa, revisi surat yang saya minta tadi sudah selesai?" ujar Fajar kembali seperti biasa.


"Sudah, Pak," jawab Anwa yang berusaha se profesional mungkin.


"Bawa ke sini, saya cek lagi."


"Baik, Pak." Anwa meninggalkan Arkana yang masih berdiri seperti patung.


"Kamu mau duduk lagi atau mau pulang?"


"Hah?"


"Kalo mau pulang, masih satu jam lagi menunggu, kalo mau nunggu di ruangan ini aja jangan di luar ganggu dia kerja," Fajar masih menatap laptopnya.


"Pa..."


"Gak usah Pa --- Pa aja, kamu cukup buktikan bisa menjaga sikap kamu sama Papa."


Arkana tersenyum, lalu berjalan keluar ruangan.


"Mau kemana kamu?" tanya Fajar pada anaknya.


"Ambil laptop di mobil Pa, biar gak saling ganggu," Arkana menyunggingkan senyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjelang sore, Arkana keluar dari ruangan sang Ayah, berjalan di belakang Pak Fajar seperti asisten pribadi, lalu melirik Anwa yang menunduk memberi hormat.


"Kamu ngapain ngikutin Papa?"


"Hah? kan mau pulang Pa."


"Sama Papa?"


"Ya gak lah," ujarnya terkekeh kecil.


"Terus?"


"Ya Arkan ke mobil Arkan sendiri." Arkana serba salah.


Sang Ayah berjalan mendahului anaknya, menunggunya di lift. "Ar, mau bareng gak turunnya?"


Arkana yang berusaha memberi kode pada Anwa namun tak jadi ketika melihat kekasihnya kembali sibuk merapihkan pekerjaannya, apalagi di sana ada Ibu Ema jadi Arkana harus menjaga sikap demi Anwa.


Menunggu di dalam mobilnya sekitar setengah jam akhirnya Anwa keluar dari lobby kantor berjalan keluar gedung menuju halte. Arkana turun dari mobilnya cepat-cepat menahan Anwa agar ikut pulang dengannya.


"Ar, di liat orang," saat tangannya di raih oleh Arkana.


"Pulang bareng aku," ujar Arkana, berbalik menuju mobilnya.


"Ar, lepasin di liat orang, inget pesan Papa kamu, jaga sikap." Arkana lalu melepaskan genggaman tangannya.


"Ayo, aku tunggu di mobil." Dia berjalan lebih dulu, Anwa mengikuti langkahnya dengan jarak yang agak jauh.


"Pulang kemana?" tanya Arkana saat di dalam mobil.


"Eh, emang mau pulang kemana?"


"Maksud aku ke kost kamu apa ke apartemen aku?" tanyanya menoleh pada Anwa.


"Ke kost," jawabnya singkat.


Arkana menghela nafas, dia berharap Anwa pulang ke apartemennya, apalagi besok adalah hari Sabtu ingin rasanya berlama-lama dengan gadis ini.


"Wa ... Maafin Papa ya," ujarnya.


"Benar kata Pak Fajar, sebelum bertindak harusnya berpikir dulu."


"Aku gak tau kalo di ruangan Papa ada CCTV Wa," katanya, "lagian kamu juga gak ngingetin."


"Loh, kok jadi nyalahin aku, kan kamu nya main cium duluan, aku aja kaget."


"Kaget tapi suka, ya kan," Arkana tersenyum menggoda.


"Tau ah."


"Yang bikin aku marah, siapa? aduh malu banget aku Ar," Anwa mengingat kembali video yang ditunjukkan oleh Fajar saat mereka kepergok.


"Aku malah pingin minta copy an video nya kan lumayan buat kenang-kenangan," Arkana tertawa lalu mengaduh ketika tangan Anwa mencubiti lengan Arkana bertubi-tubi.


"Ke apartemen aja ya," ajaknya lagi.


"Gak ah, mau pulang ke kost."


"Foto Dika belom kamu turunin loh Wa," ujar Arkana saat mobil berhenti di lampu merah.


Anwa terdiam lama.


"Wa."


"Ya, nanti aku simpan semuanya," ujar Anwa menatap keluar jendela.


"Maksud aku bukan gitu, aku-- ya aku gak maksa secepat ini sih, cuma kalo aku kesana tidur sama kamu, bangun liat dia, aku gak enak Wa."


"Iya--- iya, nanti aku simpan semuanya, tapi nanti gak sekarang ya," ujar Anwa masih melihat ke luar jendela mobil.


"Liat sini dong," Arkana menuntun wajah itu melihat pada dirinya, "senyum." Anwa pun tersenyum, "nah... kan enak gini liatnya," ujar Arkana mengacak rambut gadis itu.


"Sabar ya," lirih Anwa, Arkana pun mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sabtu sore Anwa sudah bersiap dengan setelan dress press body sedikit di bawah lutut berwarna hitam, lengan panjang dan high heels warna senada.


Ketukan di pintu kamar beberapa kali membuat nya harus terburu-buru memoleskan lipstik tipis pada bibirnya.


"Udah si---," Arkana tercekat saat melihat penampilan kekasihnya yang membuat matanya seakan tak berkedip.


"Aku udah siap," ujar Anwa di hadapan Arkana. "Ar...." menghalau pandangan mata Arkana dengan tangannya.


"Eh-- iya," Arkana takjub.


"Aku udah siap."


"Oh, iya... ayo," Arkana menjulurkan tangannya untuk meraih tangan gadis yang tampak luar biasa malam ini.


"Eh, sebentar, clutch aku masih di dalam," ujarnya masuk kembali ke dalam untuk mengambil tas tangan dan kembali keluar dengan tersenyum.


"Kenapa sih, liatin gitu," tanya Anwa.


"Kamu cantik," bisik Arkana di telinga Anwa sempat membuat Anwa menegang. "Cantik banget."


"Kamu juga ganteng," ujar Anwa mengeratkan genggaman tangannya.


Melihat penampilan Arkana yang hanya mengenakan hoodie putih serta celana chinos berwarna krem dan sneaker berwarna putih, Anwa jadi merasa penampilannya terlalu berlebihan.


"Ar, aku ganti baju aja deh," ujar nya saat sudah menaiki mobil.


"Kenapa?"


"Kamu santai gitu," ujar Anwa.


"Ambilin jas di belakang, tolong," ujar Arkana lagi, lalu memakainya. "Gimana? masih mau ganti baju kamu?" Arkana tersenyum.


"Ganteng ya pacar aku," Anwa memberikan kecupan di pipi Arkana lalu menghapus jiplakan lipstik di pipi sang kekasih.


"Yang ini?" ujar Arkana menunjuk bibirnya.


"Ogah, lipstik aku bisa-bisa habis sebelum sampai di acara tante kamu."


"Berarti selesai acara boleh?" tanyanya menggoda.


"Kalau waktunya cukup," ujar Anwa tak mau kalah.


"Eh, maksudnya?".


Anwa tertawa.


"Feeling good?" tanya Arkana memastikan agar Anwa tidak terlalu tegang saat bertemu dengan keluarganya.


"Ya, sepertinya," jawab Anwa dengan senyum terpaksa.


Mobil berhenti di dalam pelataran sebuah rumah yang tampak begitu nyaman, tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Sudah banyak mobil terparkir disana.


Jantung Anwa berdetak cepat, tangannya terasa dingin.


"Ar," katanya sebelum Arkana beranjak turun.


"Nanti di dalam, jangan jauh-jauh dari aku ya." Arkana mengangguk, lalu turun dan memutari mobil, mengulurkan tangannya agar mereka saling bergandengan.


"Santai aja, tangan kamu dingin banget," Arkana tersenyum.


***coba disini ada gak yang punya pengalaman yang sama kayak Anwa mo di kenalin ke keluarga besar pasangannya😂😂


bisa tolong like nya sayang-sayang kuuuuh 😘😘***