Kiss Me

Kiss Me
Waktu yang salah



Dan di sinilah mereka saat ini, duduk di sebuah kursi taman di dekat halte bis tak jauh dari kost Anwa. Sambil menunggu nasi goreng yang Arkana pesan untuk Anwa.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, nasi goreng yang di tunggu pun datang, Anwa dengan santainya menyantap makanan itu, jelas saja lapar karena memang perutnya belum terisi sama sekali dari sepulang kerja tadi.


Seakan tak menganggap Arkana juga duduk di sebelahnya.


"Pelan-pelan," ujar Arkana memberikan satu botol air mineral saat Anwa tersedak.


"Makasih," Anwa mengusap bibirnya.


"Laper banget ya?"


"Iya, dari tadi nungguin abang nasi goreng yang biasa lewat gak nongol-nongol... ternyata nunggu itu nyebelin ya," ujar Anwa masih santai menyuap sisa nasi goreng di piringnya.


Arkana merasa tersindir.


"Sorry Wa," katanya pelan.


"Eh?"


"Sorry gue gak jemput lo tadi, padahal gue yang buat janji," ujarnya dengan tatapan menyesal.


"Oh... santai aja," Anwa meletakkan piring di bawa bangku taman.


"Gue tau lo marah," Arkana menatap Anwa.


"Sok tau," Anwa tersenyum tipis.


"Berapa lama nunggu gue tadi?"


"Gak lama, cuma satu jam--"


Arkana semakin menajamkan tatapannya.


"Kenapa gak telpon?"


"Aku udah kirimi kamu pesan, kalo aku telpon takut kamu sibuk," Anwa menatap lurus ke jalan raya yang masih ramai kendaraan lalu lalang, "dan ternyata memang sibuk, kan?"


Arkana terdiam. Iya dia sibuk dengan gadis dari masa lalunya.


"Besok, jangan janji lagi kalo ternyata gak bisa nepatin ya, karena aku merasa waktuku terbuang begitu saja untuk menunggu yang gak pasti."


Deg


Kata-kata itu seperti menghujam jantungnya, penuturannya terdengar santai tetapi menyakitkan.


"Iya, maaf ya," jawabnya lirih, "tadi ada teman lama gue datang ke kantor, gue gak mungkin ninggalin, sudah lama kami tidak saling bertemu."


Anwa mengangguk angguk kan kepalanya.


"Balik yuk, sudah malem, gak enak kalo kemaleman." Anwa berdiri dari duduknya


"Wa," ujar Arkana masih diam duduk tetapi tangannya meraih tangan Anwa.


"Duduk dulu, gue mau cerita."


"Apa?"


"Lo gak nanya siapa yang dateng tadi?"


"Buat apa? kan teman lama kamu, jadi buat apa aku nanya."


"Tapi gue rasa lo harus tau." Arkana terdiam sesaat, dia memang harus memberitahukan pada Anwa dengan siapa dia sore tadi, bukan apa, karena dia merasa Anwa harus tahu juga tentang masa lalunya.


"Cerita lah, aku dengerin."


"Sore tadi mantan gue dateng, baru balik dari UK satu minggu lalu," ujar Arkana.


"Lalu?"


"Ya gak lalu-lalu... tadi kita ngobrol doang sampe lupa waktu, dan gue memutuskan nganterin dia pulang ke rumahnya," ujar Arkana lagi.


"Terus?"


"Ya, gue lupa jemput lo dan ponsel gue secara bersamaan low batt."


"Oh, ya gak papa."


"Wa---"


"Iya?"


"Lo gak marah?"


"Buat apa?"


"Karena gue gak jemput lo, dan gue sama mantan gue."


"Aku gak marah, kenapa harus marah? toh kita juga gak sedang dalam hubungan yang gimana-gimana kan?"


"Peduli gimana sih Ar? aku gak ngerti."


Arkana serba salah,


"Jujur aku kesal, sebel, nungguin kamu satu jam setengah tanpa kabar, tapi mau gimana, masa aku mau marah-marah, siapa aku?"


"Perkara kamu mau menghabiskan sore kamu dengan mantan kamu, ya silahkan aja, sampe kamu lupa jemput aku juga gak masalah, tapi lain kali jangan berjanji," ujarnya lagi


"Cuma waktunya aja yang salah Ar." Lalu Anwa diam.


Arkana terpukau dengan jawaban Anwa, gadis itu terasa seperti tak mempunyai sedikitpun perasaan padanya.


"Kita balik yuk, sudah malem." Untuk kesekian kalinya Anwa mengajak Arkana beranjak dari tempat itu.


Anwa yang berjalan duluan, tiba-tiba tangannya di genggam oleh Arkana. Anwa menoleh, membiarkan rasa yang berdesir itu seakan menjalar ke seluruh tubuhnya.


Tangan yang di genggamannya itu tidak melakukan penolakan sedikitpun. Arkana semakin mengeratkan genggamannya. Seraya berbisik,


"Lain kali, waktu yang salah itu, akan berganti dengan waktu yang sangat tepat."


"Selamat malam Wa," ujarnya saat mengantarkan gadis itu ke depan pintu kamarnya.


Anwa tersenyum tipis, lalu menutup pintu kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang itu Arkana menyempatkan diri untuk datang ke kantor sang ayah. Entah angin apa yang membawanya untuk datang ke sana.


Keluar dari lift dia berjalan menyusuri koridor yang di batasi oleh kubikel-kubikel karyawan perusahaan itu.


Melewati ruangan pantry, Arkana melihat gadis yang ia kenal berada di sana sedang mengaduk aduk dua cangkir kopi yang berada di atas nampan.


Arkana menepuk lengan kanan gadis itu sehingga gadis berambut keriting itu menoleh ke sebelah tepukan itu mendarat, tetapi tak mendapati orang yang menepuknya.


Dengan sedikit terkejut saat ia menoleh ke sebelah kiri Arkana sudah ada di sebelahnya.


"Ih, kamu ngagetin aku," Anwa memegang dadanya dengan sebelah tangan, sedangkan satu tangan lagi memukul Arkana yang sudah tergelak.


"Bikinin kopi buat siapa?"


"Buat tamu bapak," jawab Anwa.


"Emang OB nya kemana?"


"Kalo cuma buat begini aja kenapa harus susah-susah nyuruh OB."


"Loh kan emang tugas dia," ujar Arkana menaikkan satu alisnya.


"Aku antar ini dulu, kamu mau sekalian masuk atau nunggu tamunya pulang?"


"Nunggu tamu pulang terus gangguin kamu kerja, boleh?"


Anwa hanya tersenyum, lalu berjalan lebih dulu dari Arkana.


Setelah mengantarkan kopi untuk tamu Pak Fajar, Anwa kembali ke meja kerjanya. Di sana sudah ada Ibu Ema dan Arkana yang sedang berbincang-bincang.


"Siapa dulu Ar, pacar kamu yang calon dokter itu?" tanya Bu Ema.


"Siapa Bu?" mata Arkana melirik ke arah Anwa yang sudah kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Itu loh, yang anaknya dokter bedah yang terkenal itu."


Arkana tertawa. "Ibu Ema masih inget aja."


"Inget dong, kan pernah waktu itu ketemu kamu di mall kan, abis nonton ya dulu?"


"Ibu Ema yang lama-lama di inget mulu," Arkana serba salah, masih melirik Anwa yang masih cuek.


"Cantik loh dia Wa," ujar Ibu Ema pada Anwa.


Anwa yang diajak bicara pun menoleh ke arah Ibu Ema.


"Oh ya?" ujar Anwa.


"Iya, kamu kalo liat dia pasti suka, aku aja yang cewek suka liatnya, keliatan banget smart nya, iya kan Ar?" kata Bu Ema meyakinkan, "dokter pula Wa, kalian putus kenapa Ar?"


Arkana melirik kembali pada Anwa yang sedang membenarkan letak kacamatanya, dan seakan sengaja menunggu Arkana menjawab pertanyaan senior secretary itu.


"Kenapa putus Ar?" tanya Ibu Ema lagi, "sayang banget ya, padahal kalian pasangan serasi loh,"


Arkana semakin salah tingkah di buat oleh Ibu Ema. Sementara Anwa menanti cerita itu terlontar dari bibir Arkana, dengan menaikkan satu alisnya dan tangan yang mengetuk ngetuk meja kerjanya.


***iiissshh Anwa waktu itu bilangnya gak mau denger cerita tentang mantan Abang, eh ini malah nungguin Abang cerita


cinta itu aneh 😂


darliiiing jejak kalian manaaaa #nangis di pojokan 🤣🤣***