
Arkana mendapati kekasihnya sedang berbincang dengan seorang wanita paruh baya. Mereka saling mengusap air mata, yang terlihat oleh Arkana adalah mereka seperti berusaha saling menguatkan.
Memperhatikan dari kejauhan, tak ingin mengetahui lebih jauh lagi, Arkana akhirnya memutuskan kembali ke ruangannya.
"Yon, ntar kalo bini gue dah kelar ngobrolnya, lo suruh ke ruangan gue ya," pesan Arkana pada Dion.
"Bini? ish, serius Bos?"
"Ck, bawel lo ah, udah ntar kalo dah kelar, lo suruh dia ke ruangan gue, bikinin latte sekalian plus bawain makanan ya," ujarnya lagi dan diangguki oleh Dion.
"Kapan nikahnya si Bos?" gumam Dion bingung.
"Wa, udah menjelang Magrib, Mama pulang ya, Anwa sering-sering main ke rumah," ujar Ibu Lia menautkan kedua pipi mereka, "jangan sungkan-sungkan, Mama udah anggep Anwa seperti anak Mama sendiri," ujarnya lagi membelai punggung Anwa.
"Iya nanti kalo Anwa gak terlalu sibuk, Anwa main ke rumah Mama, salam buat semua ya Ma," Anwa mengantarkan Mama Lia sampai dengan di depan teras kafe, lalu kembali masuk dan bertanya pada bartender di sana.
"Mas, Arkana nya ada?"
"Ada Mbak, tadi di suruh langsung masuk aja ke ruangannya," jawab Dion, "naik tangga ini, terus aja ke ruangan paling pojok ya."
"Makasih ya, Mas."
"Sama-sama Mbak," Dion terpaku melihat Anwa, gadis yang beberapa bulan silam datang dengan mata sembab sekarang tersenyum manis kepadanya.
"Ar," sapanya begitu pintu terbuka.
"Hei... sini," ajak Arkana untuk mendekat.
Arkana memutar kursinya menghadap Anwa yang berada di hadapannya, merengkuh pinggul gadis itu untuk mendekat padanya.
"Kamu udah mandi?" ujarnya sambil menciumi perut Anwa.
"Ya belom dong, kan baru pulang kantor," jawab gadis itu menyugar rambut lelaki yang sedang memeluk perutnya.
"Kok wangi?"
Anwa terkekeh. "Bisa aja."
"Tadi siapa?" tanya Arkana mendongakkan kepalanya.
"Kamu liat?" Arkana mengangguk, "tadi ibunya Dika."
"Oh... lalu?"
"Ngobrol aja, menyelesaikan yang harus di selesaikan," jawab Anwa.
Melepaskan pelukan kekasihnya saat pintu di ketuk, Ria masuk dengan dua cangkir latte dan dua piring cake tiramisu.
"Makasih Ria," ujar Anwa pun tersenyum dibalas senyum simpul dari Ria.
Arkana kembali sibuk menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan Anwa menyesap kopi latte sambil memandang keluar jendela.
"Sudah malam Ar," ujarnya melirik arloji di tangan.
"Iya sebentar lagi kita pulang," jawab Arkana.
"Kamu kalo masih sibuk, gak papa aku pulang sendiri aja."
"Ok, udah selesai, sekarang kita pulang," Arkana menutup laptop nya dan merapihkan berkas yang berada di atas meja kerjanya.
Berjalan menghampiri gadis yang masih berdiri menatap keluar jendela, memeluk nya dari belakang, menciumi rambut gadis itu.
"Ar."
"Hhmm."
"Gak jadi," ujar Anwa yang mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu.
"Apa sih?"
"Kita pulang yuk," ajak Anwa.
"Aku tidur tempat kamu ya," Arkana mengerling nakal.
Anwa tertawa, "tidur doang ya?"
"Ini... sedikit," ujarnya meraba bibir Anwa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kok naek ini, Ar?" tanya Anwa saat kepalanya dipakaikan helm oleh Arkana, "mobil kamu mana?"
"Mobil ada di apartemen, tadi siang orang suruhan Didi anter ini kesini... aku pinjem."
"Astaga, katanya pengusaha, yang kayak gini aja minjem," Anwa tertawa.
"Ayo, naik, kita jalan-jalan dulu."
Naik ke Vespa klasik milik Langit yang di pinjamnya, mengeratkan pelukan pada pinggang lelaki itu.
"Ar, kita kayak orang jaman-jaman dulu ya."
"Iya, dulu skuter ini ada sejarahnya buat Didi," kata Arkana.
"Iya, karena Mima suka sesuatu hal yang klasik, Didi bela belain beli Vespa antik ini padahal sudah jarang banget yang punya."
"Romantis ya mereka," ujar Anwa.
"Aku banyak menghabiskan masa kecil aku sama Mima dan Didi."
"Kok bisa?"
"Papa Mama sibuk kan, mereka semua kerja, saat aku masuk SMA, baru Mama memutuskan untuk berhenti bekerja," cerita Arkana.
Anwa menyandarkan kepalanya pada punggung Arkana. Jalan Sudirman dan H. R. Rasuna Said menjadi tujuan mereka, tertawa dan berbagi cerita lucu malam itu, menyusuri ibukota di waktu malam, lampu-lampu penghias jalan dan gedung-gedung pencakar langit seakan mengawal mereka untuk sampai di satu tujuan.
"Kita pulang ya," ajak Arkana membelokkan Vespa klasik itu ke arah Casablanca.
Namun tiba-tiba, skuter yang dikendarai mogok. Berulang kali Arkana mencoba menghidupkan tapi tetap gagal.
"Habis bensin kali Ar," ujar Anwa yang sudah berdiri di sampingnya.
"Wa, kayaknya kita harus jalan kaki," kata Arkana, "gimana?"
"Mau gimana lagi? masa Vespa nya mau di tinggal, tapi kamu capek gak nge dorongnya?"
"Asal sama neng Wawa, Abang selalu kuat," ujarnya sambil tertawa lalu seperti biasa dia akan mengaduh jika menerima pukulan di lengannya.
"Udah mau deket juga kok, kamu yang sabar ya," Anwa membasuh keringat di kening Arkana.
"Lagian Didi gak pernah bilang ini motor bisa mogok, seingat aku Didi paling rajin ngerawat motor ini," dumelnya.
"Ya kan kita gak tau Ar, lagian romantis tau dorong motor sama pacar," Anwa mendorong Vespa itu dari belakang.
"Iya romantis, awas aja sampe kost minta pijit ya," Arkana menoleh ke belakang mendapatkan bibir yang sudah maju mencebik padanya.
"Sebentar lagi sampe kost kamu Wa."
Mereka mulai memasuki gang kecil menuju kost dua lantai itu. Setengah terengah-engah, Arkana langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Romantis banget ini Wa."
Arkana merenggangkan otot tubuhnya, sedangkan Anwa sudah mengambil handuk untuk langsung menuju kamar mandi.
"Aku tinggal mandi dulu ya," ujarnya.
"Aku gak boleh ikut?"
Anwa hanya mengibaskan tangannya berlalu masuk dan menutup pintu itu. Mata Arkana memperhatikan seisi kamar, foto-foto Dika sudah tidak ada lagi di tempatnya. Foto yang di gantung di tali rumi pun berganti dengan foto mereka berdua saat kencan pertama berfoto di photobox. Arkana mengulas senyum, rasa syukur di gumamkan dihatinya, setidaknya Anwa pelan-pelan sedang memulai lagi hidupnya yang baru.
Anwa keluar dari kamar mandi dengan memakai daster berkancing depan sampai ke bawah, berwarna pink dan berenda renda. Rambut basah yang masih di balut dengan handuk, leher jenjang kesukaan Arkana membuatnya beranjak dari tempat ia merebahkan dirinya. Mendekati Anwa yang berdiri di depan kaca yang tertempel di dinding sedang menggunakan skincare malamnya.
"Foto nya udah kamu ganti," ujar Arkana memeluk gadis itu dari belakang, menyusuri leher putih yang harum wangi sabun cair bermerk BIO*E.
"Iya..." jawab Anwa, "Ar... geli," ujarnya mengelak ciuman Arkana pada bagian sensitif lehernya.
"Wangi Wa, aku selalu suka wangi kamu," ujarnya membalik tubuh Anwa menghadapnya.
"Mandi gih, biar seger," ujar Anwa yang sudah menangkup kedua pipi kekasihnya.
"Aku gak mandi masih wangi kan?" Arkana meletakkan wajahnya di ceruk leher Anwa.
"Mau dong Wa," ujarnya berbisik pelan.
"Apa?"
"Ini," Arkana memainkan kancing baju Anwa, "boleh gak?" pertanyaan konyol.
Lalu Arkana mulai mencium lembut bibir merah tanpa pewarna yang selalu setiap saat menggodanya, perlahan turun ke bawah leher Anwa, Anwa menegang dengan sedikit suara lenguhan yang lolos dari bibirnya.
"Ar,"
"Aku mau Wa," mata itu terlihat sendu dan mendamba. Arkana menggiring Anwa, menidurkannya diatas tempat tidur berukuran kecil itu.
Satu, dua bahkan tiga kancing sudah mulai terbuka perlahan. Kulit seputih susu itu terlihat dan membuat netra Arkana terpaku melihat dada yang terbalut renda berwarna hitam.
Memulai kembali pagutan yang saling berbalas, dan semakin liar itu, menyusuri kembali leher lalu turun ke bawah, Arkana kembali menatap Anwa seakan meminta izin, meremat dada itu membuat Anwa menggeliat dengan desahan yang selalu lolos tak tertahan.
Dering ponsel Arkana tiba-tiba berbunyi, menghentikan sejenak aktivitas mereka. Arkana meraih ponsel yang berada di lantai, nama sang Mama pun menghiasi layar.
"Mama?"
"Angkat dulu, kali aja penting," ujar Anwa kembali akan mengancing baju tidurnya namun di tahan oleh Arkana.
"Jangan di tutup, biar dulu," ujarnya.
"Iya Ma," jawab Arkana.
"Pulang sekarang ada hal penting yang mau bicarakan."
"Tapi Ma, besok pagi aja ya."
"Sekarang!"
enjoy reading... jangan lupa tinggalkan jejak kalian 😘