Kiss Me

Kiss Me
Pesan Bunda



Arkana masuk ke dalam partisi shower, Anwa ia peluk dari belakang, Arkana mengecupi pundak mulus gadis itu. Anwa menegang saat tangan Arkana sudah berada di dadanya. Ciuman itu sudah menyusuri leher jenjang milik Anwa. Tangan Arkana semakin turun ke bawah, sentuhan yang menghanyutkan.


Anwa benar-benar melayang saat tangan itu bergerak manja pada daerah intimnya. Arkana semakin mendekapnya, bergerak kesana kemari, sesekali meremat dada kenyal itu. Lenguhan Anwa keluar lepas begitu saja saat Arkana menyudutkannya ke dinding.


Lelaki itu membalikkan tubuh istrinya, menciuminya dengan liar. Arkana kembali berusaha memasuki Anwa, perlahan namun pasti, Arkana melakukan hentakan yang membuat Anwa melayang ke angkasa. Dua kali hentakan dengan tempo yang sedang cukup membuat Anwa sekejap tak menapak di bumi.


Napas mereka terengah-engah, pelepasan yang selalu bersamaan membuat Anwa terkulai lemah.


"Ar ...," ujar Anwa dengan napas yang masih menderu.


"Iya," Arkana masih memilin puncak dada Anwa.


"Kita mau mandi loh."


Arkana terkekeh. "Masih mau lagi? kamu di atas?"


Anwa menggeleng, "masih ada nanti malam Ar, aku lelah."


"Tapi di atas ya," ujarnya berbisik dan mencubit puncak dada Anwa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat pukul sembilan pagi, mereka turun ke resto hotel untuk menemui keluarga yang sedang berkumpul.


"Rambut basah ... muka berseri ...." ujar Kala.


Anwa dan Arkana melangkah menuju satu meja makan besar yang di penuhi oleh keluarga besar mereka.


"Nyusul makanya, jangan lama-lama ... bahaya," ujar Arkana.


"Nyusul gue, tenang aja lo," jawab Kala.


"Wa, Bunda hari ini langsung balik ya ke Lampung," ujar Bunda.


"Loh, cepet amat Bun," ujar Anwa merasa kecewa.


"Bunda ada orderan catering, Wa ... jadi Bunda harus nyiapin segala sesuatunya dulu," kata Bunda.


"Usaha Bunda semakin maju ya Bun, Arkana ikut senang."


"Iya, Ar ... pelan-pelan, jalani saja."


"Oh ya Ar, mengenai perjalanan kalian, kapan berangkat?" tanya Mima.


"Kayaknya besok aja deh Mima," jawab Arkana.


"Anwa belum pernah kan kesana?"


"Belum Mima, Anwa malah baru tau kalo di sana ada pulau seindah itu."


"Bagus memang tempatnya, Bunda banyak dengar dari tetangga," ujar Bunda.


"Kalo sempat mampir ke rumah ya," ujar Ayah Anwa, dan Anwa pun mengangguk.


Anwa menemani sang Bunda membereskan barang-barang yang akan Bunda bawa pulang.


"Jadi menantu harus bisa bawa diri Wa, walaupun ibu mertua kamu baik, kamu harus bisa menghormatinya selayaknya ibu sendiri."


"Iya, Bun."


"Kita menantu harus tau diri, sebagaimana bisa kita menempatkan posisi kita, walaupun kita di anggap anak oleh mertua."


"Iya, Bun."


"Kalau ada perkataan dari mertua yang menyinggung kamu, anggap saja itu keluar dari mulut Bunda, jangan diambil hati, bisa-bisanya kamu menjaga hubungan baik kamu di keluarga mereka."


"Iya, Bun."


"Bangun jangan siang-siang, pergi ke dapur siapkan makanan untuk seluruh keluarga, bukan hanya untuk suami kamu."


"Iya, Bun."


"Jangan iya-iya aja, tinggal sama mertua jangan disamakan seperti kamu tinggal sama Bunda atau kamu tinggal sendiri."


"Tinggal bersama mertua itu bukan hal mudah. Harus selalu menjaga perilaku, tutur kata, dan rajin membersihkan rumah," ujar Bunda melirik pada Anwa.


Semua wejangan yang diberikan Bunda pada Anwa hanya di jawab dengan "iya, Bun." Dia harus mulai belajar bagaimana hidup berdampingan dengan mertua, mencintai Arkana itu juga berarti menyayangi keluarga Arkana.


"Iya, Bunda pasti akan sering-sering ke sini, makanya cepat kasih Bunda cucu yang lucu, biar Bunda sering berkunjung kesini."


"Bunda sehat-sehat, kalo capek jangan di paksa, ada baiknya Bunda mencari pegawai yang tetap bukan yang freelance seperti sekarang, usah Bunda sudah mulai terlihat kemajuannya."


"Nanti Bunda pikirkan, kamu juga kerja jangan capek-capek, momongan jangan di tunda, mengerti?" Anwa mengangguk.


"Udah beres Bun?" tanya Malik dari balik pintu.


"Udah, tinggal kamu bawa semua ke mobil."


"Malik, jadi wisuda bulan depan?"


"Jadi, Yuk."


"Bagus, semakin cepat semakin baik, biar cepat dapat kerjanya," kata Anwa.


Malik sudah menggeret dua koper menuju lift, sedangkan Ayah dan Arkana sudah menunggu di lobby hotel. Anwa berjalan bergelayut di lengan Bunda.


"Hati-hati ya Wa, gunakan kepercayaan dan komunikasi dalam rumah tangga, agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan." ujar Bunda lagi.


"Iya Bun."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anwa sudah menunggu Arkana di dalam kamar hotel. Gadis yang sudah berubah menjadi seorang wanita itu menatap ke luar jendela kaca. Pemandangan kota Jakarta terlihat jelas, gedung-gedung bertingkat menutupi rumah-rumah padat penduduk di bawah sana.


Jakarta dengan sejuta pesona, dimana kebanyakan orang punya mimpi berada di kota ini. Begitu pun Anwa, datang ke kota ini dengan tujuan untuk bekerja menghidupi keluarganya yang saat itu kacau, bertemu dengan Dika, kekasihnya yang dulu, lalu harus kehilangan kembali, dan akhirnya bertemu dengan lelaki bak malaikat penolong di hidupnya.


"Ngelamunin apa?" ujar Arkana yang sudah memeluknya.


"Gak ngelamunin apa-apa," jawab Anwa, " aku cuma berpikir, di kota ini aku memulai segalanya bahkan bertemu dengan kamu, masa depan aku." Anwa membalikkan tubuhnya pada Arkana.


"Udah sore, Wa."


"Terus?"


Arkana sudah masuk ke dalam ceruk leher Anwa. Dia menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi bibirnya untuk menciumi leher itu.


"Iket rambutnya mana?" Anwa merogoh kantung celananya, seperti biasa Arkana selalu mengikat rambut keriting itu jika menghalangi penglihatan atau aktivitas menciumnya.


"Ar ...," Anwa mulai menegang kala tangan itu sudah masuk ke dalam kemejanya.


"Ayo, Wa."


"Apa?"


"Janji kamu," ujar Arkana dengan suara yang menahan hasrat.


"Aku bilang malam, Ar." Arkana sudah melepas celana jeans yang Anwa pakai.


"Sekarang aja, nanti malam lain cerita lagi," ujarnya meraup bibir Anwa dengan gigitan-gigitan kecil.


Dalam waktu sekejap, Arkana melepaskan seluruh pakaiannya, menggiring Anwa duduk di tepi tempat tidur. Kemeja Anwa dia lepaskan kancingnya satu per satu hingga kemeja itu ia jatuhkan ke lantai kamar.


Arkana yang berdiri di hadapan Anwa pun tersenyum. Menundukkan wajahnya mencium kembali bibir istrinya yang selalu membuat dia ketagihan.


"Ini kayak candu buat aku, aku seneng banget kalo udah gigit ini, Wa."


"Hhmm, Ar ...." Anwa merebahkan tubuhnya, bergeser naik ke atas.


"Aku di bawah, kamu di atas ... udah janji loh," Arkana tersenyum lalu mencium sekilas bibir Anwa.


Aktivitas itu pun akhirnya di mulai sampai pada posisi yang di minta oleh Arkana. Anwa berada di atasnya masih bergerak perlahan, hingga Arkana meminta untuk masuk kembali.


Gerakan itu mengikuti tempo yang diinginkan suaminya.


***like


komen


vote


enjoy reading 😘***