Kiss Me

Kiss Me
Kelahiran



Usia kandungan Anwa sudah memasuki tiga puluh delapan minggu, itu berarti bisa jadi dalam hitungan dua minggu lagi atau malah hitungaan hari Anwa akan melahirkan.


Sedangkan Arkana sudah mulai berjalan seperti biasa, walau belum diperbolehkan untuk bekerja sesering mungkin di kantor namun Arkana sekarang memakai jalur virtual untuk memantau usahanya.


Malam itu sepasang suami istri yang masih menempati kamar tamu itu sedang disibukkan dengan usaha memperlancar kelahiran. Iya, Anwa ingin melahirkan normal, menurut info yang ia dapat salah satu cara melahirkan normal adalah dengan seringnya melakukan hubungan suami istri.


"Kamu di atas, Wa ...," ujar Arkana membantu istrinya untuk bangun dan duduk tepat diatas kelakiannya. "Pelan-pelan aja Wa, takutnya si adek malah kaget."


Tubuh wanita itu semakin hari memang semakin seksi, dada yang semakin berisi itu melakukan gerakan yang membuat Arkana tak kuasa menahan tangannya untuk meremat dan memainkan puncak dada itu.


"Ar ...."


"Sekarang ya ...." Arkana menatap wajah yang sudah tak dapat lagi menahan.


"Sekarang Ar ...."


"Ampun Wa," Arkana masih bergerak perlahan dia hanya takut membuat anak di perut sang istri terkejut.


Seketika pelepasan terjadi, Anwa masih diatas tubuh lelaki itu, sedangkan Arkana mengusap perut Anwa yang mengencang, dia merasakan entah tangan atau kaki anaknya yang menonjol di perut sebelah kiri istrinya.


"Kayaknya si adek ke bangun, Wa." Arkana terkekeh.


"Kamu sih ...." Anwa beringsut dari posisinya.


"Gak papa, biar adek cepet keluar jadi dia gak kaget terus."


Anwa menutupi dirinya dengan selimut, mendekat ke arah Arkana.


"Tidur gih, udah malem ... besok kita harus jalan pagi kan?"


"Ke taman komplek aja ya Ar, aku udah ngos-ngos an kalo jauh-jauh."


"Giliran jalan pagi ngos-ngos an ... yang tadi emang gak ngos-ngos an?" Arkana terkekeh.


"Ih, kamu mah ... udah ayo tidur," Anwa mengecup pipi suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi itu Arkana mengenakan celana pendek chinos berwarna krem, kaos slim fit berwarna hitam, serta sepatu kets bertuliskan "Tiger" di belakangnya, tak lupa topi hitam menutupi rambutnya yang akan tumbuh sedang menunggu istrinya di teras depan rumah.


"Ar, kamu mau nge mall apa mau jalan pagi?" tanya Anwa yang melihat penampilan suaminya lebih tepat dikenakan untuk pergi ke pusat perbelanjaan atau ke kafe.


"Kenapa? ada yang salah?" Arkana melihat penampilannya dari pantulan kaca jendela.


"Oh ... gak ... gak, ya udah ayo nanti keburu siang panas," ajak Anwa.


Bersisian berjalan di trotoar menuju taman komplek perumahan elit ini, Arkana menggenggam tangan istrinya erat. Perbincangan konyol kadang membuat tawa Anwa lepas begitu saja. Arkana memang pintar dalam urusan "ngebanyol".


Setelah berkeliling kira-kira sebanyak lima kali putaran, untuk ukuran taman komplek yang lumayan besar itu memang membuat Anwa kelelahan. Mengakhiri jalan paginya dengan duduk di kursi taman. Arkana memberikan satu botol air mineral yang ia beli tadi saat melintasi penjual minuman.


"Capek?" tanyanya merapikan anak rambut Anwa.


"Banget Ar," jawab Anwa memanjangkan kaki-kakinya.


"Padahal cuma lima kali putaran udah capek, semalem dua ronde gak ada bilang capek," Arkana tertawa melihat istrinya memajukan bibirnya.


Anwa meraup muka Arkana, "kamu tuh kalo ngomong suka bener."


"Wa, perlengkapan bayi udah semua?"


"Udah sih, mudah-mudahan gak ada yang lupa, udah aku siapin juga tasnya kalo sewaktu-waktu aku udah ngerasain mau kel---" Anwa berhenti meneruskan perkataannya, dia merasa ada sesuatu yang mengalir di sela-sela pahanya.


"Ar ... kok aku ngompol ya?" tanyanya bingung lalu berdiri.


Arkana yang melihat itu langsung sigap, menyadari sesuatu terjadi pada istrinya. Arkana meraih ponselnya menghubungi sang mama mengatakan kalo Anwa pecah ketuban, agar menjemput mereka langsung ke taman komplek.


"Ma, jangan lupa tas Anwa sama tas bayi yang ada di dekat lemari ya," ujar Arkana panik.


Menutup sambungan telponnya, Arkana memapah istrinya berjalan menuju trotoar taman agar saat mobil sampai bisa langsung melaju ke rumah sakit.


"Kamu sabar ya Wa, sebentar lagi mama sama papa sampai," Arkana menenangkan Anwa yang sedikit-sedikit meringis.


"Tarik napas buang ... tarik napas buang," Arkana melakukan panduan yang ia tahu sedikit tentang ibu hamil. "Nah, itu dia mobil papa." Saat mobil berhenti, Arkana membantu istrinya untuk duduk lebih nyaman.


"Pa, mau Arkana yang bawa mobilnya? biar cepet sampe?"


"Kamu meragukan kemampuan Papa?"


"Halah, ini malah tunjuk kemampuan ... udah Pa, cepetan ... ini Anwa udah mau lahiran," seru Mama Cha Cha yang ikut meringis melihat Anwa yang sudah merasakan mules.


Sampai di rumah sakit, Anwa masuk ke ruang pemeriksaan, hasil pemeriksaan bahwa sudah terbuka jalan lahir sebanyak lima centimeter. Anwa disiapkan masuk ke ruangan perawatan sambil menunggu pembukaan kembali, Arkana masih setia menemani.


"Sabar ya ...," ujar Arkana menenangkan.


"Kamu udah telpon bunda?" tanya Anwa sesaat lalu mengaduh lagi.


"Mama udah mengabari semua, bunda dalam perjalanan ke Jakarta, tapi bunda bilang gak dapet tiket pesawat, jadi mungkin bunda lewat darat, sampe nanti malam kayaknya."


Anwa mengangguk angguk lalu mencengkeram pundak Arkana.


"Ssshh ... ngilu banget ini Ar."


"Iya, sabar ... kamu mau duduk di situ?" tanya Arkana menunjukkan bola besar agar Anwa merasa nyaman.


Anwa menggeleng. " Aku mau jalan-jalan aja," jawabnya.


"Uugh ... Ar, mules banget," rintih Anwa.


"Kita balik ke kamar ya, biar di periksa lagi sama susternya," kata Arkana sudah mulai sedikit panik.


Suster pun datang memeriksa pembukaan jalan lahir bayi yang berada di perut Anwa.


"Sudah bukaan tujuh ya Ibu, kita siap-siap yuk," kata suster tadi lalu membereskan tempat tidur yang Anwa pakai untuk di dorong keluar kamar.


Arkana dan kedua orangtuanya mengikuti langkah para perawat membawa Anwa ke ruang bersalin. Genggaman tangan Anwa tak sedikitpun lepas dari Arkana. Arkana sibuk membelai lembut kening istrinya yang selalu melihat pada dirinya.


Masuk ke ruangan bersalin, Arkana duduk di samping Anwa, masih menciumi tangan sang istri.


"Sakit banget ya, Wa?"


"He--eh," jawab Anwa menggigit bibir bawahnya.


"Maafin aku ya ... besok-besok gak lagi deh kalo tau sakitnya kayak gini."


"Ah tau ah ... bikinnya aja doyan," sungut Anwa. "Aduh kok aku mau pup ya," ujar Anwa yang seperti menahan ingin buang air besar.


"Tahan ya." Arkana memencet tombol agar perawat kembali datang.


Sesaat perawat datang dan kembali memeriksa Anwa, Arkana selalu meringis kala perawat memasukan jari mereka ke dalam milik Anwa. Seingatnya dia saja jarang memasukkan dengan jari ini malah berkali-kali mereka memasuki milik istrinya.


"Oke, sudah pembukaan sembilan ya Ibu, saya panggil dokternya dulu."


"Aduh Ar ... sakit banget," Anwa menggigit tangan Arkana.


"Iya sabar ya," Arkana meringis tatkala tangannya di gigit Anwa.


"Aduuuh," lagi-lagi Anwa merasakan sakit hingga ia mencengkram lengan Arkana membenamkan kuku-kukunya di sana.


"Lama banget sih dokternya," Arkana mulai kelihatan lebih panik.


Dokter datang dengan tersenyum, lalu duduk melihat ke dalam sana. "Wah, bagus ini ... kepalanya sudah pas Bu, mungkin sekali dua kali mengejan udah keluar ... kalo saya bilang mengejan, Ibu mengejan ya ...."


"I-yaa dok," ujar Anwa yang sudah tak tahan lagi untuk mengejan.


"Jangan dulu Bu ... nanti kalo saya bilang mengejan sekarang baru Ibu lakukan."


"Tapi ini ud--daah gak ta--ha--n Dok," ujar Anwa terbata-bata. "ini udah mau ngeden," air mata Anwa berlinang. Sementara Arkana tetap meringis karena kuku-kuku Anwa semakin dalam masuk diantara kulit dan daging di lengannya.


"Oh ... aku udah gak tahan Ar." Keringat Anwa sudah bercucuran, ciuman bertubi-tubi di kening Anwa selalu Arkana lakukan.


"Oke ... sekarang .... mengejan Bu," ujar sang dokter memberi titah. Dorongan pertama dari Anwa pun terlepaskan.


"Bagus ... udah keliatan kepalanya ... sekali lagi ... sekarang ... mengejan Bu," ujar sang dokter semangat.


Suara tangis bayi pun terdengar kencang, air mata pasangan suami istri itu pun berlinangan, Arkana tak henti-hentinya mengecupi semua inci di wajah istrinya.


"Makasih Sayang ... makasih," Arkana menangis tersedu-sedu.


"Selamat Bapak Ibu ... bayinya sehat, beratnya tiga koma delapan kilogram ya, panjang lima puluh centimeter, jenis kelamin laki-laki ... semua lengkap sempurna," ujar sang dokter anak sementara dokter kandungan masih sibuk dalam hal jahit menjahit.


Arkana dan Anwa menyambut bayi merah dengan pipi yang gembul itu ke dalam pelukan mereka. Air mata tak henti-hentinya turun dari keduanya. Kata-kata terimakasih dan rasa syukur selalu Arkana ucapkan.


***berasa aku yang mau lahiran ...


have a nice day everyone 😘 jangan lupa tinggalkan jejak kalian, bisa dengan menghadiahkan bunga untuk Anwa yang sudah menjadi ibu atau vote dukungan untuk Arkana menyambut malam-malam panjang begadangnya 😂


enjoy reading 😘


Chida ❤️***