
Bayi mungil itu menangis lalu terdiam saat lantunan suara sang ayah mengumandang di telinganya. Anwa kini sudah berada di kamar perawatan, dia dan Arkana sedang menunggu bayi kecil itu datang kepada mereka.
Sementara kedua orang tua Arkana menyempatkan diri untuk pulang terlebih dahulu untuk mempersiapkan segala sesuatu yang kemungkinan akan dibutuhkan kembali.
"Makan yang banyak Wa, biar ASI berlimpah," ujar Arkana melihat baju rumah sakit yang hanya terikat begitu saja di tubuh Anwa.
"ASI nya buat adek loh ya, bukan buat bapaknya," ujar Anwa menutup dadanya yang sedikit memancing mata Arkana melihat tanpa terlepas.
"Ish, gak boleh ya? sedikit doang."
"Mana boleh ... pamali, masa susunya anak di minum bapaknya," kekeh Anwa.
"Sayang, kamu suka gak nama pilihan aku?"
"Ish, sekarang panggilnya Sayang."
"Terus apa? Bunda?"
Anwa tertawa melihat kelakuan Arkana. "Sini ... aku belum cium kamu pagi tadi."
Arkana mendekatkan wajahnya, membenamkan bibirnya pada Anwa. Menciumnya semakin dalam, hingga tanpa sadar ada yang datang.
"Selamat siang Ibu ... adeknya dateng nih," ujar perawat yang mendorong box bayi itu masuk. Cepat-cepat Arkana melepas ciumannya dan menyambut buah hati mereka.
Bayi itu masih tertidur pulas, Anwa meminta Arkana untuk membawa bayinya ke pangkuan Anwa.
"Bisa kan Ar?" tanya Anwa ragu saat Arkana mengambil bayi mereka dari dalam box.
"Bisalah," jawab Arkana yang berhasil mengangkat bayi mungil itu dengan posisi tangan Arkana yang kaku dan tegang.
"Ya gak gitu juga Ar, sampe kamu kayak bawa kotak isi sembako aja, kaku banget," Anwa tertawa.
"Kan baru jadi ayah, Sayang ... kalo aku udah luwes bawanya ntar kamu curiga lagi." Mata Anwa melotot.
"Sini ... anak Bunda, aduh kamu gemesin banget Nak, hidungnya mirip aku ya Ar, tapi mata sama bibirnya kayak kamu ... liat deh." Arkana mendekat duduk di sisi Anwa.
Mereka memperhatikan wajah bayi mungil itu dengan seksama, pipi yang gembul, hidung mancung seperti Anwa, bibir tebal seperti Arkana dan mata tajam seperti sang ayah.
"Kawa ... namanya Kawa Aryasatya."
"Artinya apa Ar?"
"Kawa dalam bahasa Jepang artinya sungai," ucap Arkana. "Aku ingin dia menjalani hidup mengalir seperti sungai, membawa kebaikan dan kemuliaan untuk hidupnya, Aryasatya artinya kemuliaan."
"Manis banget," ujar Anwa dengan mata berbinar-binar.
"Banyak yang udah kita lalui dari awal perjumpaan kita Wa," kata Arkana memandang wajah istrinya. "Sampai kejadian terakhir yang membuat aku gak akan mau lagi jauh dari kamu, kalian rumah aku ... seberapa jauh pun aku melangkah, kalian lah yang aku tuju ... kamu dan Kawa, serta adik-adik Kawa nantinya," ujarnya mencium kening Anwa lalu berlanjut dengan ciuman panas dihadapan bayi merah tanpa dosa itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruangan kamar Anwa mendadak ramai yang datang, satu per satu keluarga berkumpul, bahkan orang tua dan Malik adik Anwa sudah sampai di Jakarta dengan selamat.
"Jadi namanya Kawa Aryasatya, Ar?" tanya sang papa.
"Iya, Pa ... bagus gak?"
"Jangan mikir bagus apa gak nya, nama itu harus mengandung arti yang baik-baik dengan harapan si anak akan sesuai harapan kamu dan Anwa."
"Iya, Pa itu maksud Arkana ...." Papa Fajar mengangguk angguk.
"Jadi orang tua itu sulit Ar," sambung ayah mertuanya, "sulitnya kita harus memberikan contoh yang baik untuk anak kita ... anggaplah kesalahan Ayah dulu, Ayah bayar berlipat-lipat sekarang dan jangan kamu contoh."
"Iya Yah, Arkan akan memberi contoh baik untuk anak-anak Arkana kelak."
Bayi kecil itu pun terbangun dari tidurnya, menangis, para nenek pun berebut untuk menggendongnya.
"Lapar kali ya Bun?" tanya Anwa pada sang bunda.
"Iya kayaknya lapar," jawab bunda memberikan Kawa pada Anwa.
"Caranya kata suster yang dulu bantu Mama lahiran Arkana katanya gini ... jari telunjuk kita di tepuk-tepuk di pipi imut ini," ujar Mama Cha Cha memberikan contoh, "nah kalo dia ngikutin tepukan jari Mama di pipinya terus mulutnya kebuka gitu, itu artinya dia lapar," jelas Mama Cha Cha.
"Oh, lucu ya Ma," Anwa terkekeh ketika melihat bayinya menoleh kesana kemari mengikuti telunjuk yang di tepuk di pipi kanan kiri secara bergantian.
"Kita mimik dulu ya ganteng," ujar Anwa mendekatkan bayi kecil itu ke dadanya, lalu membuka tali baju pasien itu begitu saja.
Arkana berlari mendekat, menutup tirai pembatas, meminta para nenek untuk menyingkir sebentar.
"Kamu kalo mau nyusuin liat kanan kiri dong, Wa," ujarnya posesif, "kan ada Ayah, Papa, Malik di situ."
"Iya ... iya maaf, aku tadi buru-buru kasian liat Kawa haus banget kayaknya," sahut Anwa, "tuh liat semangat banget dia nyusunya ... aduuuh." Anwa meringis merasakan hisapan bayi kecil itu begitu kencang.
"Iya, semangat banget Kawa minum susunya Nak," Arkana memperhatikan mulut mungil itu bergerak di dada Anwa.
"Kamu nya juga mau," jawab Arkana menarik hidung istrinya.
"Wa ... yang sebelah kanan basah tuh," ujar Arkana bingung. "Kok bisa Wa?"
"Katanya kalo yang di sebelah di hisap yang sebelahnya lagi juga ikut memproduksi."
"Terus gimana? kan sayang, Wa ... banyak itu." Arkana membuka baju yang Anwa kenakan, dia melihat langsung tetesan air susu itu.
"Di tampung Ar."
"Pake apa?"
"Pake botol Sayang, masa pake mulut kamu," Anwa kembali terkekeh.
"Mau aku Wa ...." Pukulan di lengan Arkana mendarat dari Anwa.
"Ambil botol susu di situ deh, sudah di steril sama Mama tadi," Anwa menunjuk meja di seberang tempat tidurnya.
"Ini?" tanya Arkana dan Anwa mengangguk. "Terus?"
"Ya kamu tampung ... taro di bawahnya, pegangin," Anwa tertawa lucu.
"Kamu ngerjain aku ya?"
"Gak ... ih siapa yang ngerjain, kan daripada mubazir ASI nya keluar banyak gitu ... tuh udah ada berapa mili coba, kan lumayan."
"Terus berapa lama aku pegangin ini botol?"
"Sampe selesai Kawa nyusu yang di sebelah ini nanti tinggal gantian ke sebelah yang ini juga."
"Duh Nak, kamu bikin Ayah iri," ujar Arkana menyugar rambutnya.
Selesai memberi ASI pada Kawa, bayi itu di kembalikan ke dalam box nya.
"Tidurnya tenang sekali setelah kenyang," ujar Mima Jingga yang baru saja datang bersama suami dan kedua anak kembarnya.
"Iya Mima, nyusunya banyak banget," kata Anwa.
"Kuat nyusu kalo anak cowok, Wa ... apalagi Mima dulu punya anak kembar, gak cukup rasanya dari ASI Mima akhirnya mereka pake susu sambung," Mima Jingga menceritakan pengalamannya saat melahirkan bayi kembar.
"Bro, lo udah siap mental belum?"
"Apa gue yang gak siap Kal, jadi suami siaga gue siap, jadi bapak siaga lebih siap lagi ... mau siap yang kayak mana lagi? coba lo jelasin," ujar Arkana membanggakan diri saat Kala datang dengan niat menggodanya.
"Ya ... lo siap gak puasa 40 hari?"
"Siap gue mah ... gak makan gak minum."
"Bukan itu woy ... puasa gak nengokin Anwa tiap malem."
"Maksud lo? kan Anwa tidur sama gue setiap saat gue tengok lah dia tidur samping gue."
"Siap gak nengokin Anwa buat uha-uha ... dodol," bisik Kala.
"Serius lo? 40 hari? ah gak bener ini namanya ... lama amat?" Arkana tak percaya.
"Lo tanya tuh ... para dedengkotnya," ujar Kala menunjuk perkumpulan para Kakek yang sudah malang melintang dalam urusan puasa 40 hari.
**bantu share cerita ini ke semua akun medsos yang kalian punya ya sayang-sayang akuuuh 😘
enjoy reading 😘
...----------------...
Hai...
Aku Chida, ingin mengadakan giveaway untuk para pembaca aku, jadi... pop Kiss Me bentar lagi 1M nih dan mau tamat juga.
Nah aku mau buat giveaway yaitu 3 buah pouch cantik untuk 3 orang yang memberikan point terbanyak buat novel Kiss Me (aku liat dari ranking umum yah)
Dan....
Pulsa @25rbu untuk 3 orang pemenang yang aku pilih dari komentar terbaik.
Jangka waktunya dimulai dari hari ini sampai tanggal 5 Mei 2021
Terima kasih sudah menemani Chida dalam membuat novel Kiss Me ❤️
Chida ❤️**