Kiss Me

Kiss Me
Restui Ar, Ma.



Cincin itu sebenarnya sudah lama ingin Arkana berikan pada Anwa. Hanya saja setiap momen dirasa tak pernah tepat. Hingga siang tadi semuanya di rencanakan begitu cepat oleh Arkana.


Jawaban iya meski restu belum mereka kantongi, membuat Arkana bertekad akan menemui sang Mama sepulang dari mereka berlibur. Apapun yang akan mereka terima nanti, Arkana tetap menjatuhkan pilihannya untuk menghabiskan waktunya bersama Anwa.


Siang itu, mereka kembali ke Jakarta. Tak henti-hentinya, Arkana menciumi punggung tangan Anwa yang di jari manisnya sudah terpasang cincin pengikraran hubungan mereka untuk lebih ke jenjang yang lebih serius lagi.


"Wa," kata Arkana saat berhenti di lampu merah. Anwa menolehkan kepalanya yang sudah tersandar di jok mobil.


"Hhmm."


"Kiss me," pinta Arkana nakal.


"Eh, ini lampu merah loh Ar, lucu banget kalo di liat sama orang yang di luar." Anwa tak habis pikir, kekasihnya ini seperti tidak ada puasnya meminta untuk di cumbu.


"Sensasinya beda, Wa." Anwa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ar, kamu jadi langsung pulang nanti?"


"Iya, biar gak usah terlalu lama menunda, Wa," ujarnya lalu kembali melajukan mobilnya. "Kamu juga gak mau kan kita terus-menerus tidur bareng, tapi status kita gak jelas."


Anwa melempar pandangannya keluar jendela. "Ar."


"Apa, Wa?"


"Aku cuma takut, semua gak sesuai dengan yang kita mau."


"Serahin semua sama aku, kamu cukup berdoa," jawab Arkana mengusak rambut Anwa. "Jadi...."


"Apa?"


"Kiss me?" ujarnya mengerlingkan mata bakalnya. Dijawab dengan bibir Anwa yang mencebik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku pulang ya," ujar Arkana setelah mengantarkan Anwa ke depan kamar kostnya.


"Hati-hati, kabari aku kalo udah sampe."


"Iya," Arkana memberikan kecupan perpisahan pada kening Anwa.


"Ar."


Arkana membalikkan tubuhnya. "Iya, Wa."


"Tenang ya, jangan pakai emosi." Anwa hanya takut Arkana terpancing emosi sehingga hubungan ia dan ibunya akan semakin parah.


Arkana mengangguk dan berjalan menuruni anak tangga, meninggalkan bangunan itu.


Mobil Pajero Sport milik Arkana terparkir sudah di halaman rumah itu. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam saat ia tiba di rumahnya. Di halaman sudah terdapat mobil Langit dan satu lagi mobil mungkin milik tamu sang ayah.


Arkana memasuki rumah itu, saat sampai di ruang keluarga, beberapa orang sudah berkumpul di sana seakan sedang membicarakan tentang sesuatu.


"Ah, Ar... kebetulan kamu udah pulang," Fajar mendapati anaknya sedang berdiri tak jauh dari mereka berkumpul.


"Iya, Pa."


"Mama kemarin ke kafe kamu, anak buah kamu bilang kalo kamu keluar kota, apa benar?" tanya Cha Cha.


"Duduk dulu, Ar," Fajar meminta anaknya untuk mendekat pada mereka.


"Darimana?" tanya Cha Cha lagi.


"Garut, Ma."


"Oh...." Wanita itu mengangguk angguk.


"Jadi gini, Ar..." kata Fajar. "Mama kamu sudah mengatakan pada Papa, tentang Anwa... maksud Papa, Mama kamu sudah menemui Anwa."


"Oh iya Pa, sekalian juga Arkan ingin mengatakan sesuatu tentang hubungan Anwa dan Arkan," ujarnya memotong perkataan Fajar.


"Sebaiknya kamu dengarkan dulu Papa kamu bicara, Ar," ujar Mima yang sedari tadi diam dan mulai merasakan ketegangan di sana namun Arkana tak menggubrisnya.


"Arkan cuma mau minta restu sama Mama, sama Papa," ujar Arkana, "Arkan minta tolong kali ini Ma, biarkan Arkan memilih pasangan hidup untuk diri Arkana sendiri, Ma."


"Keluarga Anwa gak seburuk yang Mama dan Papa kira, manusia hidup tidak selalu sempurna Ma, semua orang pernah melakukan kesalahan baik di sengaja ataupun tidak." ujarnya lagi.


"Arkana cuma ingin bahagia dengan pilihan Arkan." Arkana menghela nafas, perih hatinya jika melihat sang mama terluka, tapi dia harus mengambil keputusan untuk masa depannya sendiri. "Dengan atau pun tanpa Mama restui, Anwa dan Arkan akan tetap bersama," ujarnya dengan sedikit tercekat.


Wanita paruh baya itu hanya diam, di lubuk hatinya begitu sakit ketika sang anak memilih untuk bertahan dan berjuang mendapatkan restunya. Meskipun, dia sendiri sudah menurunkan egonya untuk menerima pilihan sang buah hati namun ada nama baik suaminya yang harus dia junjung.


Cha Cha memang egois, dia memang memikirkan nama baik suami serta keluarganya. Bagaiman tidak, Fajar meniti karir dari nol sampai dengan posisi sekarang ini adalah dengan proses, dan Cha Cha belum bisa menerima jika apa yang dia dan suaminya dapat hingga detik ini akan hancur karena nama baik yang tercoreng.


Namun, setelah semua di jelaskan oleh Langit dan Riza sahabat sekaligus keluarga mereka, hati Cha Cha luluh meski sulit menerima. Ternyata di dunia ini bukan hanya nama baik yang harus di selamatkan, tapi juga kebahagiaan dalam suatu keluarga itu yang terpenting.


"Restui Ar, Ma," ujarnya bersimpuh di hadapan wanita itu. "Biarkan Arkan bahagia," katanya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


Semua yang ada di ruangan itu pun tak dapat lagi menahan rasa yang ada di hati. Memang benar ayah Anwa adalah seorang koruptor, pernah di penjara menjadi salah satu tahanan korupsi. Namun, berbekal apa yang Riza tahu tentang kehidupan sahabatnya itu, sejatinya keluarga Anwa adalah keluarga yang sangat harmonis. Tak bisa dijadikan tolak ukur kesalahan Syahril ayah Anwa malah membuat Anwa tidak dapat merasakan kebahagiaan untuk masa depannya.


"Yang lalu biarkanlah berlalu," ujar Fajar. "Keluarga Anwa khususnya ayahnya sudah menerima ganjaran atas perbuatannya sendiri... Papa restui hubungan kalian, jagalah sikap dan kepercayaan kami orang tua kamu, Ar." Fajar menepuk pundak Arkana.


Cha Cha hanya diam seribu bahasa, tidak ada kata-kata sedikitpun yang keluar dari mulutnya, namun dari tatapan matanya Arkana tahu, wanita itu memberikan restu padanya.


"Terimakasih Pa... terimakasih atas restu Papa," ujarnya memeluk sang Ayah.


"Ma, maafin Arkan ya." Arkana membelai lembut punggung tangan ibunya. "Maafin kami yang sudah membuat Mama dilema," ujarnya lagi mengecup pipi Cha Cha, tetapi Cha Cha hanya tetap diam, namun dia membelai pipi anak lelakinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan disinilah Arkana, Langit dan Riza berada, duduk di depan teras halaman rumah.


"Om Riza, makasih banyak atas bantuannya, mungkin kalo gak ada Om, Arkan dan Anwa masih tertatih-tatih mendapatkan restu Mama," ujar Arkana.


"Gak masalah, Ar," ujar Riza. "Keluarga Syahril itu keluarga baik-baik, mungkin karena pergaulan Syahril jadi membuat suatu kesalahan yang fatal, pada dasarnya dia orang yang baik."


"Kalo Didi boleh kasih saran ke kamu Ar," kata Langit. "Buat Anwa dekat dengan mama kamu, bukan hanya sekedar memberikan atau memasakkan sesuatu," ujarnya lagi. "Tapi buat mereka menjadi dekat secara personal, sering bertemu itu sebenarnya langkah yang baik, mungkin saja nantinya hati mama kamu akan terus luluh karena perlakuan Anwa padanya."


"Nah, kalo itu Om setuju." Mengingat dulu Riza pun melakukan hal yang sama untuk mendapatkan restu dari orang tua istrinya.


"Tapi pesan Didi satu, jangan di bikin aneh-aneh dulu anak gadis orang ya Ar, takutnya nanti jadi kayak temen Didi ini," ujar Langit melirik Riza.


"Memang Om Riza dulu bisa dapet restu gimana ceritanya, Didi?"


"Dp duluan, Ar." Satu pukulan tinju mendarat di lengan Langit.


***aku mau ucapin terimakasih buat temen-temen yang dengan sukarela memberikan vote pada cerita ini maupun Langit Jingga, tq atas apresiasi kalian. Begitu juga dengan hadiah-hadiah yang kalian kasih buat aku... makasih banyak yaaaa 😘😘


enjoy reading yaaaah... jangan lupa like 😘***