Kiss Me

Kiss Me
Surprise



Sore menjelang malam, sepasang kekasih itu berjalan memasuki sebuah restoran bernuansa Eropa. Ini adalah salah satu restoran peninggalan kakek Arkana yang akhirnya diserahkan padanya untuk di kelola sebagai usaha keluarga.


Anwa masih mengenakan kemeja berwarna hitam dibalut blazer berwarna putih, dan rok span berwarna hitam. Siang tadi Arkana menelponnya akan mengajaknya makan malam di restoran milik sang kakek.


Beriringan masuk, Arkana menggenggam tangan Anwa, semua mata karyawannya memandang ke arah mereka berdua. Iya, Arkana bukan laki-laki yang sering terlibat hubungan dengan seorang wanita, bahkan wanita saja segan untuk mendekatinya.


Berjalan menuju taman belakang, semua keluarga sudah menunggu di sana. Bahkan yang membuat Anwa terkejut adalah ayah dan bundanya serta Malik adiknya juga berada di sana sedang bercengkrama dan tertawa.


Anwa menghentikan langkahnya, Arkana pun mengulas senyum.


"Surprise, Sayang." Arkana menciumi punggung tangan Anwa berkali-kali.


"Ar... makasih," ujarnya memberi kecupan di pipi Arkana.


Mereka melangkah menuju meja panjang yang sudah terisi semua anggota keluarga.


"Akhirnya yang di tunggu datang juga," ujar Kala, dia di sana bersama tunangannya.


"Sorry, telat ... macet banget," ujar Arkana lalu berjalan menyalami calon mertuanya begitu juga Anwa.


"Bunda kok gak bilang mau ke Jakarta?" tanya Anwa.


"Semua yang atur Arkana, padahal kemarin kamu bilang minggu depan kan?"


"Iya, aku yang atur takut ke halang lagi sama jadwal Papa," ia melirik pada Fajar.


"Loh, kenapa Papa?" Fajar merasa tak terima


"Bilang aja Bang, kalo mau cepet-cepet statusnya naek level," kali ini Zurra yang ceriwis angkat bicara.


"Gak mau keduluan gue dia mah, keliatan dari mukanya, udah gak kuat," seloroh Kala yang mendapatkan tatapan tajam dari Arkana. "Loh, bener kan kemarin lo cerita Bang, kalo ...." Kata-kata Kala terhenti ketika timpukan kentang goreng mendarat di keningnya.


"Mulut lo pengen gue kuncir!" geram Arkana.


Pertemuan malam itu sebenernya membicarakan tentang kelanjutan hubungan Anwa dan Arkana. Karena kedua belah pihak sudah saling kenal dan sudah menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga masing-masing agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Jadi, semua sudah diputuskan ya, bahwa tiga bulan lagi kalian akan menikah," ujar Fajar. "Bukan begitu Pak Syahril? biar cepat saja, saya pribadi ingin secepatnya menikahkan mereka berdua ini, cuma karena jadwal saya padat, jadi kita putuskan sajalah ya, tiga bulan lagi."


"Saya selaku orang tua dari Anwa, menyerahkan sepenuhnya kepada Anwa. Keputusan semua Anwa yang menentukan, bagaimana Wawa?" tanya Pak Syahril.


Anwa terdiam, dia menatap mata kedua orangtuanya, mata kedua calon mertuanya, lalu mata kekasihnya.


"Tiga bulan lagi?" tanya Anwa memastikan.


"Kenapa Wa? kelamaan ya? apa kamu mau besok aja? gak papa kalo mau besok, aku siap," ujar Arkana.


Pukulan di pundaknya Arkana terima dari Mima Jingga, semua mata memandang padanya tajam, Arkana pun mengaduh.


"Kamu itu maunya cepet aja, emang gak pake persiapan apa!" Mama Cha Cha yang sedari tadi khidmat harus angkat bicara karena kelakuan anak laki-lakinya.


"Tiga bulan? apa itu tidak terlalu cepat?" tanya Anwa lagi.


"Maksudnya Wa?" Arkana mulai terpancing di buat rasa penasaran mengapa tiba-tiba Anwa seakan tidak menginginkan hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan.


"Maksud aku, waktu tiga bulan itu memang cukup untuk mencari sewa gedung atau tempat, catering, pakaian pengantin, wedding organizer yang meng handle semuanya," ujar Anwa.


"Kamu kayaknya lupa calon suami kamu ini pengusaha apa," Arkana terkekeh.


"Somboooong amat," ujar semua orang yang berada di sana.


"Jadi? kita sepakat ya, tiga bulan dari sekarang," ujar Didi Langit yang semangat sekali akhirnya keponakan yang menuruni sedikit sifatnya itu akan melenggang ke pelaminan.


Acara makan malam pun berakhir dengan keakraban semua keluarga. Keluarga Anwa dengan jelas sekali di terima masuk ke dalam keluarga besar Arkana. Di sana juga terlihat keluarga Om Riza yang merupakan sahabat dari dua keluarga ini.


"Om," sapa Arkana.


"Wuih, calon pengantin ini," jawab Riza menyambut uluran tangan Arkana.


"Akhirnya Om," Arkana tersenyum bahagia. "Terimakasih ya Om ... kalo bukan bantuan Om, mungkin kami masih berusaha meluluhkan hati mama," kata Arkana.


"Om cuma melakukan tugas Om sebagai sahabat dari dua keluarga yang sudah Om anggap seperti saudara sendiri, Ar."


"Om juga gak mau kalian melakukan kesalahan yang Om lakukan dulu di masa lalu, demi mendapat restu," ujar Om Riza lagi.


"Iya Om ... Arkana sama Anwa mengucapkan banyak terimakasih pokoknya."


"Tapi Ar," ujar Om Riza menaikkan satu alisnya.


"Kenapa Om?"


"Anwa ... gak kamu apa-apain kan? soalnya Langit cerita---"


"Gak lah Om," Arkana cepat menjawab. "Ya cuma tidur bareng doang, gak lebih," ujarnya meyakinkan dengan sungguh-sungguh namun tersenyum dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu mau stay di hotel bareng ayah bunda?" tanya Arkana saat mengantarkan keluarga Anwa ke hotel dimana mereka menginap.


"Iya," jawab Anwa lalu menunggu sampai kedua orang tua dan Malik, adiknya masuk ke dalam kamar masing-masing.


"Bener mau di sini?" bisik Arkana yang sudah menyudutkan Anwa di dinding.


Anwa menegang merasakan sapuan napas Arkana di wajahnya. Napas itu memburu, kedua kening itu sudah menyatu. Tangan Arkana sudah mengungkung tubuh Anwa yang bersandar di dinding. Hidung mereka sudah saling bertaut.


Anwa melingkarkan tangannya pada leher Arkana, mencium bibir kekasihnya sekilas.


"Kenapa? kamu mau nemenin?"


"Kamu kenapa sih suka banget mancing aku," ujar Arkana mulai frustasi, dia mulai menyusuri leher gadis itu.


"Ar, ini di lorong hotel loh, nanti ada yang liat bahkan ada CCTV, mau ke pergok lagi?"


Arkana terkekeh. "Yang mancing kamu, yang nyadarin kamu, aku buka kamar satu lagi aja ya? aku gak bisa tidur kalo gak sama kamu Wa," bujuknya.


"Kalo kamu buka kamar satu lagi, aku tetep tidurnya sama bunda Ar," Anwa senang sekali menggoda lelaki ini jika sudah ada maunya.


"Please Wa, ya aku buka kamar lagi."


"Gak, cuma semalem doang Ar, besok juga dah bareng lagi, bahkan tiga bulan lagi kamu mau berhak atas aku semuanya."


"Masih lama tiga bulan Wa, itu bisa di pikir nanti, tapi aku gak bisa tidur gak ada kamu sekarang," rengeknya seperti anak kecil.


Anwa ******* bibir Arkana lama, menggigit bibir itu hingga Arkana mengerang.


"Aduh Wa ... ya aku buka kamar lagi aja," ujarnya tak tertahan Anwa pun tertawa.


"Sana pulang ini sudah malam, besok kita harus antar ayah bunda ke bandara jam sebelas siang," lalu Anwa mengecup pipi kekasih yang masih berusaha menetralkan bagian yang harus ia netralkan secepat mungkin.


***tinggalkan jejak sayang-sayang akuuuh, bantu like komen yaaaa dan bantu share cerita ini ke sosial media yang kalian punya 🙏 jangan lupa siapkan vote untuk Kiss Me hari Senin besok ya... karena Kiss Me Alhamdulillah sudah kontrak dan itu semua karena antusias kalian di dalam karya aku.


Peluk cium 😘


Chida***