
Arkana masuk ke dalam rumah dengan menggenggam tangan Anwa yang dingin seperti es. Di dalam sudah ada, Kala, Zurra, Annaya adik Arkana, yang baru datang dari Jogja, Papa Fajar, Didi Langit, Om Abi serta Tante Arumi dan kedua anak mereka yang baru saja lulus SMP dan SMA. Serta Nena dan Opa orang tua dari Langit, Om Arkana. Sedangkan Gema, nenek Arkana sudah duduk di kursi rodanya, menjulurkan tangannya pada Arkana agar mendekat.
"Wuih, yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga," ujar Kala yang tak kalah tampan dari Arkana.
"Gema," Arkana mencium punggung tangan wanita yang sudah berumur hampir 75 tahun itu namun masih terlihat segar meski duduk di kursi roda.
"Ini Gema, nenek aku," ujarnya pada Anwa, Anwa pun ikut mencium tangan sang nenek.
"Pacar kamu?" tanya Gema, Arkana pun mengangguk, "pinter cari pacar, cantik," puji Gema pada Anwa.
"Kenalin dong sama yang lain," sahut Zurra yang sudah menggaet lengan Anwa.
"Anwa ini kenalin, Didi aku, namanya Langit, gak kalah ganteng dari Abang kan?" ujar Zurra terkekeh. "Nah yang ini, Om Abi, saingannya Didi dulu," Zurra tertawa lagi jika ingat cerita kedua orang tuanya semasa muda, "ini Tante Arumi, istrinya Om Abi, nah yang ABG itu anak-anak mereka Bian dan Biya, gak kembar kayak aku cuma mereka namanya rada mirip," Zurra masih dengan beo nya memperkenalkan anggota keluarganya.
"Nah, ini yang paling cuek namanya Annaya, adiknya Abang," Anwa memperkenalkan diri pada Annaya yang tersenyum tipis.
Seraya berbisik pada Anwa, "dia emang gitu, cuek, katanya sih Om Fajar waktu muda gitu, pelit ngomong," ujar Zurra, "Abang, aku ajak ke dapur ya, kenalin ke Mima sama Onty," Arkana pun mengangguk dan kembali melanjutkan obrolannya bersama Langit dan Abi.
Mendapati dua wanita yang masih sangat cantik di usia yang tidak muda lagi sedang memarut keju untuk salad buah dan memotong cake coklat.
"Mima," ujar Zurra bergelayut di lengan sang ibu, "kenalin Onty, ini Anwa pacarnya Abang," ujarnya pada Ibunda Arkana.
"Oh ya," Cha Cha memperhatikan Anwa lalu tersenyum. "Cantik sekali."
"Iya, Abang pinter memang kalo cari pacar, cantik-cantik," ujar Mima Jingga keceplosan.
Zurra tertawa, "jujur banget Mima, bakal ada yang perang abis ini."
"Eh, salah ya Mima?" ujar Jingga yang selalu saja sok polos.
"Sudah, mereka kalau bicara memang gitu, jangan di dengerin, kamu mau bantu Tante bawa ini ke meja snack?" ujar Mama Cha Cha yang memberikan satu wadah besar yang berisi salad buah.
"Iya, Tante," ujar Anwa.
"Kak," panggil Jingga pada Cha Cha, "cantik loh, serius, aku suka rambutnya," Jingga terkekeh, "lucu," ujarnya lagi diikuti kibasan tangan Cha Cha yang ikut tersenyum.
"Ayo lah, kita mulai aja makan malamnya," ujar Langit.
"Say something dulu dong Didi, masa langsung makan, itu yang di sebelah udah cemberut," ujar Kala diikuti tawa semua orang.
Acara makan malam ini luar biasa meriah padahal hanya di hadiri keluarga besar. Gelak tawa terdengar seantero ruangan ketika Langit menceritakan kembali kisah cintanya bersama Jingga dulu.
Anwa memperhatikan bagaimana Om dari Arkana itu memperlakukan istrinya begitu mesra dan romantis padahal usia pernikahan mereka sudah berumur 23 tahun, namun perlakuan itu nyata terlihat dan tak pernah surut.
"Kamu ngeliatinnya sampe gitu banget," bisik Arkana menggenggam tangan Anwa di bawah meja.
"Melihat mereka masih romantis di usia yang gak muda lagi, aku suka," ujar Anwa.
"Aku juga gitu nanti sampe tua," ujar Arkana dan Anwa terkekeh.
"Kata Mama, aku sama Didi Langit itu hampir mirip, sifat dan lain-lain," ujar Arkana.
"Kok bisa?"
"Waktu Mama hamil aku, yang di bikin repot itu Didi bukan Papa," Arkana tertawa.
"Masa?"
"Iya, karena Mama sama Didi itu sahabatan dari mereka SMP, bisa pacaran dan nikah sama Papa aja itu karena Didi yang punya kerjaan, tau kenapa?"
"Kenapa?"
"Kalo Mama Papa gak jadian, Didi gak bisa pacaran sama Mima," ujar Arkana.
"Ya ampun," Anwa tersenyum.
"Belum lagi itu..." katanya menunjukan dagunya pada Om Abi.
"Kenapa?"
"Jodoh gak pernah ada yang tau ya," ujar Anwa menoleh pada Arkana.
"Iya, kayak aku sama kamu," ujarnya sambil berbisik di telinga Anwa.
Tak lama kemudian sepasang suami istri yang datang terlambat dengan hebohnya masuk ke dalam ruangan.
"Sorry, kita terlambat," ujar lelaki yang seumuran dengan orang tua Arkana itu menggandeng istrinya yang kesulitan membenahi hijabnya.
"Elaaaah, Ummi sama Abi baru dateng, syukron," ujar Langit.
"Kayak tau aja lo artinya apaan," ujar lelaki yang bernama Riza itu, sekretaris abadi Didi Langit.
Mata Anwa menatap lelaki itu tanpa berkedip.
"Ayo Za, langsung aja makan," ujar Fajar.
Mata yang tadi menatap Riza pun terbalas menatap Anwa.
"Anwa kan? anak Syahril?" tanyanya.
Anwa mengulas senyum. "Iya Om... Om Riza apa kabar?"
"Ya ampun, Anwa udah besar sekali..." ujarnya menepuk nepuk bahu Anwa.
"Kenal Za?" tanya Langit dan Fajar bersamaan.
"Kenal, anaknya sahabat gue di Lampung, bapaknya Anwa ini satu SMA dulu sama gue, kita pisah karena di terima di universitas berbeda, gue di Jakarta nah bapak Anwa ini, masuk di salah satu universitas negeri di Palembang," jelas Riza yang masih tak percaya pada pertemuannya dengan Anwa.
"Kita terakhir ketemu lima tahun lalu kan Wa?" kata Riza lalu menarik tempat duduk yang sudah di sediakan untuknya.
"Iya, Om," Anwa masih berusaha menahan debar jantungnya mengeratkan genggaman tangannya pada Arkana di bawah meja.
Pikirannya berkecamuk, Riza adalah salah satu sahabat ayahnya yang sempat mengikuti perkembangan kasus sang ayah.
"Ayah apa kabar? sehat?"
"Sehat Om," jawab Anwa.
"Syukurlah, nanti kapan kalo Om pulang ke Lampung, Om sempetin ke rumah deh, sudah lama juga gak saling bertemu," seakan tahu dari sorot mata Anwa yang memohon jangan sampai semua terbongkar pada saat yang tidak tepat.
"Iya, Om nanti Anwa kasih tau Ayah."
"Gak nyangka ya ternyata dunia ini kecil dan saling berhubungan," ujar Mama Cha Cha.
"Gak nyangka banget," ujar Mima.
"Anwa, ayahnya kerja dimana?" tanya Langit
"Pensiun... iya pensiunan pegawai negeri," di jawab cepat oleh Arkana, lalu menatap Anwa bergantian pula menatap Om Riza.
ketika kita menutupi satu rahasia besar,
percayalah itu tak kan lama,
karena bangkai yang di tutupi pun,
akan mengeluarkan bau yang tak sedap.
hayooo Anwa Arkana jujurlah padaku 😂
siapa Riza? bisa kalian baca di LangitJingga ya
enjoy reading gengs.. sorry to late ya karena NT error
btw yang mau liat Arkana dan Anwa malam ini secantik dan seganteng apa... bisa gabung di group chat yeeesss 😘