
Siang itu semua keluarga berkumpul, keluarga Anwa juga baru datang dari Lampung. Semua bahagia menyambut kembalinya Arkana dari tidur panjangnya selama empat bulan terakhir.
Setelah melakukan pemeriksaan, Arkana dinyatakan sudah stabil, hanya saja masih ada beberapa test yang akan Arkana jalani menyangkut organ saraf dan gerak.
"Mau minum?" tanya Anwa pada suaminya.
"Kamu diem aja bisa gak, Wa ... duduk sini deket aku, kamu pasti capek ngurusin aku selama ini, kan?"
Anwa tersenyum, lalu duduk di tempat Arkana berbaring. Arkana membelai perut wanita itu, memandanginya lama.
"Kenapa ngeliatin aku terus?"
"Gak papa ... sepertinya aku bener-bener harus berterimakasih sama Tuhan, dia peruntukan aku jodoh seperti kamu," ujar Arkana tulus.
"Kamu liat mama ... mama bahagia banget, empat bulan aku hanya melihat ketakutan di wajahnya ...."
"Makasih Wa, kamu menguatkan mama untuk melewati ini."
"Kami saling menguatkan, Ar."
"Jadi bagaimana Pangeran tidur ... siap pulang?" ujar sang papa.
"Siap Pa, Arkan siap pulang," jawab Arkana mantap.
"Haha ... kamu tanya sama Anwa, ruangan itu seperti rumah kedua buat dia," kata Papa Fajar lagi, Arkana mengusak kepala Anwa lembut.
"Nanti akan ada jadwal terapi dari dokter, saraf-saraf kamu perlu di latih lagi, terutama kaki dan belajar posisi untuk duduk, tapi pelan-pelan Ar, selain terapi di rumah sakit nanti Papa minta carikan terapis yang bisa datang ke rumah," jelas Papa Fajar menepuk pundak Arkana.
"Iya Pa, makasih."
"Kepala kamu masih sakit, Ar? maksud Mama ... pusing?"
"Saat ini gak Ma, semoga gak sampai kapanpun." Dan diamini oleh semua yang berada di ruangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu minggu kemudian, Arkana diperbolehkan untuk pulang, semua menyambutnya dengan suka cita, ada acara syukuran kecil-kecilan yang dilakukan oleh keluarga.
Acara syukuran yang di hadiri kerabat terdekat dan keluarga besar itu mendoakan atas kesembuhan Arkana dan mukjizat yang Tuhan berikan untuk keluarga ini.
"Kamar kita jadi pindah di bawah dong Wa," ujar Arkana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar yang harusnya menjadi kamar tamu.
"Gak papa kan cuma sementara sampe kamu lepas dari kursi roda dan bisa jalan lagi."
"Iya sih, cuma di sini gak segede kamar di atas, Wa."
"Sementara doang, kalo kamar kita di atas nanti kamu turun gimana? seluncur?" Anwa terkekeh, "aku bantu ke tempat tidur ya," ujarnya lagi lalu memapah Arkana, membaringkannya secara perlahan.
"Sini Wa, duduk deket aku," Arkana menepuk-nepuk kasur di sisinya. "Kali kita tidur di kamar ini tuh gak enak, bisa-bisa kedengeran."
"Kedengeran apaan?"
"Kalo kita lagi kangen-kangenan," ujarnya membuat wajah Anwa merona.
Jujur sekali sentuhan Arkana begitu Anwa rindukan, belum lagi hormon kehamilan yang merespon keinginan untuk berhubungan yang berlebihan, namun Anwa harus bisa menahannya.
"Wa, cium dong," kata Arkana tanpa canggung. "Kita kayak orang pacaran yang baru jadian ya," Arkana terkekeh.
"Tapi kita dulu gak pacaran, kamu nyosor aja," ujar Anwa mendekatkan wajahnya pada Arkana.
"Kamu di sosor juga mau."Arkana menangkup leher Anwa dengan kedua tangannya dan memandang sendu netra itu.
Arkana mempertemukan kembali bibirnya dan bibir Anwa, menciumnya lama, menggigit kecil-kecil secara bergantian bibir atas dan bawah milik Anwa. Lilitan lidah di dalam sana seakan menyusuri rongga mulut Anwa. Melepaskannya sebentar untuk sekedar menghirup oksigen secara bergantian.
"Ar ... nanti kalo aku pengen gimana?" ujar Anwa dengan mata yang mendamba.
"Kamu kangen banget ya."
"He--eh," Anwa memperdalam lagi ciumannya. Mengecupinya, menyusuri leher Arkana, membuka satu per satu kancing kemeja suaminya, desahan Arkana pun terdengar, desahan yang lama Anwa rindukan.
"Apa?"
"Pangeran tidurnya bangun ...," kata Arkana menunjuk kelakiannya.
"Bangun dengan sempurna, Ar ...," Anwa terkekeh.
"Kamu tanggung jawab Wa."
"Ya gak mungkin Ar, mau posisi gimana? nanti malah bahayain kaki kamu," Anwa menggoda.
"Pegang ...."
"Ogah," Anwa kembali mencium bibir suaminya.
"Pegang aja," bisik Arkana. Lalu mengarahkan kepala Anwa menuju ke bawah.
"Ar ...."
"Aku mau Wa ... just do it," ujarnya mengarahkan kepala Anwa menuju keperkasaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mandi ya ...," kata Anwa pagi itu, dia telah menyiapkan air hangat untuk Arkana. "Sebentar lagi terapisnya datang, biar kamu siap setelahnya sarapan, tadi aku udah bilang ke Papa biar sarapan duluan, karena kamu masih tidur."
"Harus terapi ya Wa? aku males banget ... sakit soalnya."
"Biar cepet sembuh, biar enak mau ngapa-ngapain."
"Emang mau ngapain?" ujar Arkana yang sudah di papah Anwa untuk duduk di kursi rodanya menuju kamar mandi.
"Ngapain aja, jadi gak perlu takut-takut posisinya salah," kekeh Anwa yang mengingat semalam Arkana memaksanya untuk berhubungan badan melepaskan rasa rindu mereka.
"Kamu mapah aku emang gak berat Wa? kasian si adek di dalam, bundanya kerja keras ngerawat ayahnya."
"Makanya cepet sembuh, biar adek juga bisa istirahat gantian di manjain sama ayahnya," ujar Anwa menggosok punggung belakang Arkana.
"Aku mau tumbuhin rambut lagi ya Wa, ngeliat gundul kayak gini kayak Pak Ogah," katanya menatap Anwa yang sudah menyabuni keperkasaan suaminya.
"Kamu gundul juga ganteng kok, aku tetep cinta," Anwa menyentil hidung Arkana dengan sabun.
"Aku juga tetep cinta sama kamu, Wa." Arkana menarik Anwa duduk di pangkuannya.
"Berat loh Ar, kaki kami belum bisa menopang yang berat, lagian aku jadi basah lagi kan," ujarnya kesal.
"Gak papa, aku kuat, semalam aja aku kuat, sekali lagi di sini juga aku masih kuat." Arkana mulai menciumi istrinya lalu meremat benda kesayangannya seperti biasa hingga membuat Anwa melenguh.
"Ah, udah ya mandi dulu ... kelamaan nanti terapisnya keburu dateng." Anwa melepaskan ciuman liar Arkana yang sudah kembali itu.
Selesai sarapan, Arkana telah menunggu terapis di taman belakang, di temani Anwa yang sedang mengelus perut buncitnya sambil membaca salah satu novel lawas milik Agatha Christie.
"Ar ... ini terapisnya sudah datang." Mama Cha Cha datang dengan seorang pria berpakaian serba putih.
Terapis itu bernama Dodi, bertubuh tegap dengan paras manis. Menjabat tangan Arkana menunduk memberi hormat, lalu memperkenalkan diri pada Anwa dan tersenyum. Sayangnya senyuman itu membuat Arkana sedikit cemburu.
"Bisa kita mulai sekarang Pak," ujar Dodi memberikan alat penyanggah untuk menopang tubuh Arkana.
"Sebentar," lalu memanggil Anwa untuk mendekat. "Kamu masuk aja sama Mama di dalem, tinggalin aku sama terapisnya."
"Tapi aku mau liat, Ar ... biar nanti kita bisa coba sendiri, gerakan apa aja yang bisa di latih sendiri," ucap Anwa yang bingung melihat reaksi suaminya saat terapis itu datang.
"Jangan bantah," ujar Arkana lembut, "masuk ke dalam sama mama, gerakannya nanti aku tanya mana yang boleh mana yang gak, nanti aku kasih tau kamu, sekarang masuk ke dalam," titah Pangeran tidur yang sebentar lagi menampakkan taringnya jika Anwa tak beranjak dari duduknya.
***setelah di baca mohon di like yaaaah
enjoy reading 😘***