
Dua bulan sudah umur pernikahan mereka. Aktivitas seperti biasa dilakukan, sama-sama berangkat dan pulang kerja bareng. Anwa tinggal bersama orang tua Arkana, namun hanya beberapa bulan kata Arkana, setelah rumah mereka selesai di bangun maka mereka akan hidup secara mandiri sebagai pasangan suami dan istri.
Sebenarnya Anwa tidak menolah jika memang dia harus tinggal bersama orang tua suaminya, namun Arkana yang meminta agar mereka hidup terpisah dari orangtuanya. Entah apa yang ada di benak Arkana, namun sejauh ini Anwa selalu berpikir positif.
"Sore nanti aku gak bisa jemput ya, ada meeting dengan Didi Langit dan Kala," ujar Arkana pagi tadi saat mengantarkan Anwa ke kantor.
"Kamu jadi ikut kerjasama proyek bareng Didi?"
"Iya, aku mau coba di bidang lain, ya itu tadi sekalian ngembangin usaha kan, lagian perusahaan Didi itu udah ada nama, apalagi Kala sekarang udah masuk juga di sana."
"Emang kenapa kalo Kala udah ikut di sana?" tanya Anwa sebelum turun dari mobil.
"Kala itu jiwa kepemimpinannya aku acungin jempol, banyak orang segan sama dia, ya 11 12 sama bapaknya, cuma Kala lebih tegas aja sih."
"Ya udah, nanti aku pulang naik taksi aja, kamu jangan pulang malem-malem ya," ujarnya mencium sekilas bibir suaminya, Arkana pun mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore menjelang, Anwa sudah berada di dalam taksi yang membawanya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Anwa merasakan penciuman yang tak sedap, selama di kantor tadi saat berinteraksi dengan beberapa temannya, Anwa harus menggunakan masker untuk menghindari bau yang akan membuatnya mual
Sesampai di rumah Mama Cha Cha sudah menyiapkan makan malam di meja makan. Melihat Anwa yang menggunakan masker dan sedikit agak lesu, membuat Mama Cha Cha pun bingung melihatnya.
"Wa, pulang gak bareng Arkan?"
Anwa menghentikan langkahnya dan berjalan menuju ibu mertua lalu mencium punggung tangan wanita itu.
"Arkana ada meeting sama Kala dan Didi Langit, Ma," ujarnya lalu duduk di kursi makan.
"Kamu kenapa? Mama lihat kamu sedikit pucat, itu kenapa pake masker?"
"Gak tau Ma, dari tadi penciuman Anwa kayaknya gak beres deh, masa cium sesuatu aja langsung berasa gak enak di perut," Anwa melepas maskernya.
"Mungkin masuk angin, ya sudah istirahat dulu sana atau mau makan dulu, biar Mama temenin, Papa mungkin sebentar lagi datang."
"Anwa ke kamar aja dulu Ma, mau mandi dulu biar seger, nanti Anwa turun lagi buat makan bareng," ujarnya.
"Ya sudah, sana ... sana."
Setelah makan malam pub Arkana belum juga pulang, membereskan piring-piring yang ada di meja makan dan membawanya ke dapur, Anwa memutuskan untuk masuk ke kamarnya tanpa bercengkrama terlebih dahulu bersama pasangan tua yang masih romantis di usia mereka yang tak muda lagi.
"Anwa kenapa Ma?" tanya Fajar pada istrinya.
"Mama curiga Anwa hamil, Pa."
"Ah masa?" Fajar kaget lalu mendapatkan pukulan di lengannya.
"Papa kok kaget sih, Anwa kan hamil anak dari anak kita, itu berarti cucu kita ... ekspresinya itu loh buat Mama pengen cubit."
Fajar terkekeh, "maksud Papa, cepet juga anakmu itu menghasilkan anak, tau aja dia cara yang jitu."
"Emang harus diajarin dulu gitu biar jadi, Papa ada-ada aja deh, Papa juga dulu maen hajar aja ke Mama, tiga bulan nikah langsung jadi."
"Berarti Arkana emang anak aku, Ma," ujar Fajar bangga.
"Lah, emang selama ini Arkana anak siapa? sembarangan kalo ngomong." Cha Cha mencubit perut suaminya yang sedikit buncit karena usia.
"Maksud Papa, Arkana sama perkasanya kayak Papa muda dulu, langsung jadi," Fajar tertawa saat melihat istrinya cemberut.
"Gimana gak langsung jadi, di gempur terus tiap malam kayak gak ada hari lain aja."
"Malem ini yuk, Ma." Fajar lalu meraih tangan istrinya untuk mengikuti melangkah ke kamar mereka.
Pukul sebelas malam, Arkana baru saja sampai di rumah, memasuki kamarnya yang sudah temaram oleh lampu tidur. Dilihatnya sang istri sudah tidur dengan posisi terlentang dan selimut yang membalutnya sampai ke leher.
Arkana menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dengan hanya memakai celana pendek untuk tidur dan kaos oblong, Arkana masuk ke dalam selimut sang istri.
Mengecupinya perlahan hingga Anwa menggeliat, menarik kembali selimutnya. Arkana masih terus menyusuri leher wanita itu, tangannya sudah bergerilya kemana-mana. Hingga Anwa tersadar tubuhnya sudah berada di bawah Arkana.
"Ar ...."
"Ar, aku lagi gak mau," ujar Anwa menolak.
"Dosa kalo nolak, Wa," Arkana kembali bermain di puncak dada sang istri.
"Ar ...."
Arkana menurunkan selimut yang menghalangi mereka berdua.
"Sebentar aja, tadi selama di jalan aku mikirin kamu terus."
"Kenapa?"
"Kangen ... ini," ujarnya membelai sesuatu di bawah sana.
"Ish ...."
"Bercanda gitu aja marah ... aku kangen kamu lah, mikirin kamu yang pulang naik taksi sendiri, kenapa gak bareng papa sih?"
"Papa keluar kantor dari jam tiga, ya udah aja pulang kantor aku langsung naik taksi, lagian aku gak enak badan kayaknya."
Arkana menghentikan aktivitasnya membuka pembungkus bawah istrinya.
"Eh, kamu sakit?"
"Gak, cuma penciuman aku rada gak beres, kalo mencium sesuatu pasti mual."
Arkana langsung mengendusi tubuhnya, takut-takut istrinya akan kembali mual jika mencium aroma tubuhnya.
"Aku udah mandi, Wa," ujarnya, "bau aku wangi kan?"
Anwa mengangguk, "Tapi harum kamu aneh."
Seketika Arkana menoleh ke kanan dan ke kiri. "Kita cuma berdua loh, Wa ... kamu jangan bikin bulu kuduk aku berdiri deh."
"Gak, maksud aku harum kamu aneh, gak kayak biasanya ... enak ... buktinya aku gak mual, sini." Anwa merentangkan tangannya ingin memeluk suaminya yang sepertinya sudah tak lagi berniat meneruskan kegiatannya tadi.
"Tapi kamu gak apa-apa kan? kok bisa sih penciuman kamu jadi tajem gitu."
"Gak tau, aneh aja hari ini." Anwa mencium pipi suaminya, "kayak tadi waktu makan, mama bikin gulai ikan yang di santan di campur cabe ijo, itu kan aku sebenarnya gak suka harumnya, tapi ini malah kebalikannya, gulai itu harumnya enak banget, aku makan sampe nambah loh, aneh kan?"
"Iya sih," kata Arkana lalu membaringkan posisinya di samping Anwa. Sebentar terdiam seakan berpikir dan berharap apa yang ia pikirkan memang benar.
"Ar, tidur ya?" Anwa memiringkan tubuhnya, melihat suaminya sedang menatap langit-langit kamar. "Kenapa sih?" Anwa meletakkan kepalanya di dada Arkana.
"Gak papa," ujarnya mengecup puncak kepala Anwa.
"Ar ... ini jadi gak?"
"Apa?"
"Yang tadi," Anwa mengangkat kepalanya, "kalo gak jadi aku tutup lagi," ujarnya mengancing kembali piyamanya.
"Jangan ... jadi lah, siapa yang nolak."
***Aman ya.... bisa lah di baca siang ini 😘
jangan lupa jejaaaaak 😘
oh ya maaf aku belum balesin komen-komen dari temen-temen semua, tapi aku baca kok cuma belum sempat aja bales 😂
enjoy reading***