
Cahaya matahari menyeruak masuk melalui celah tirai jendela. Pagi itu pemandangan seperti biasa Anwa dapati, kedua jagoannya tidur dengan posisi yang sama. Terkadang Anwa melakukan sesi poto jika terlihat gaya mereka berdua Anwa anggap lucu, lalu posting, seperti itulah kebanyakan ibu-ibu muda jaman sekarang.
Anwa mengikat rambutnya tinggi, meraih kimono tidurnya lalu beranjak dan membuka pintu kamarnya perlahan. Wanita yang semakin dewasa itu sedang asyik menbuatkan sarapan pagi untuk anak dan suaminya.
Sarapan hanya nasi goreng yang di racik dengan sosis, udang dan suiran ayam itu telah siap tersaji, saatnya ia menggoreng telur mata sapi kegemaran Arkana. Lalu meracik bubur untuk buah hatinya. Seperti itulah Anwa setiap paginya.
"Udah wangi banget sih, harum nasi gorengnya bikin aku bangun," ujar Arkana yang menciumi tengkuk leher istrinya.
"Kawa belom bangun?"
"Belom."
"Tapi kamu halangi bantal kan kanan kirinya?"
"Iya, Sayang ... anak kamu kan kalo tidur sama kayak kamu Wa, rusuh ... kalo gak di peluk gak diem."
"Masa sih?" Anwa tersenyum.
"Iya ... dari dulu sampe sekarang." Arkana meremas dada Anwa.
"Ar ... kebiasaan deh, sakit."
"Aku gemes," ujar Arkana lalu duduk di kursi mini bar. "Kawa kapan lepas ASI?"
"Nunggu dua tahun dong ... kan eksklusif."
"Lamanya ... ini baru satu tahun tiga bulan." Arkana menepuk jidatnya.
Anwa tertawa, lalu menaruh piring berisi telur mata sapi di atas meja.
"Makan gih ... abis itu mandi, kamu ke kafe gak?"
"Siang aja ... hari ini aku mau maen sama Kawa."
"Percaya aku mah kamu maen sama Kawa," Anwa tertawa.
Tak lama pintu di ketuk, pembantu yang biasa membersihkan rumah pun datang. Anwa memang menyewa pembantu yang datang setiap hari dan pulang sore hari. Dia tidak ingin terlalu banyak warga di rumahnya, tidak bebas itu intinya.
Ketika sudah selesai memandikan Kawa dan memberikan bayi itu sarapan paginya, giliran Anwa yang yang memanjakan tubuhnya untuk sebentar berendam di bathtub.
Kawa ia titipkan pada Arkana yang katanya akan bermain dengan anaknya sampai siang nanti. Namun tak berapa lama pintu kamar mandi itu pun terbuka, menampakkan sosok lelaki yang sudah tak memakai sehelai benang pun dengan santainya menyusul sang istri berendam.
"Eh, Kawa mana?"
"Kawa sama Mbak di depan," jawabnya santai.
"Ish, kamu kebiasaan deh bilangnya mau jagain malah di kasih ke Mbak," sungut Anwa yang cepat-cepat beranjak dari tempatnya.
"Eh, mau kemana?"
"Aku udah selesai ... mau susulin Kawa."
"Gak asik deh ... sini dulu ah." Arkana menarik turun tangan Anwa agar kembali duduk di hadapannya.
"Mulai kan ... aku tuh emang gak bisa percaya sama kamu kalo bilang mau main sama Kawa."
"Sebelum sama Kawa sama Bunda nya dulu dong," ujarnya lalu meraup bibir istrinya.
Hampir satu jam mereka habiskan di dalam kamar mandi melakukan aktivitas pelepasan. Anwa selalu tak dapat menolak ajakan Arkana, walaupun akhirnya ia hanya bisa cemberut karena Kawa akan menunggunya lama.
"Sayang," ujar Arkana.
"Aku marah!" jawab Anwa yang sedang memakai b*ra.
"Eh, gak boleh loh gitu sama suaminya," Arkana mendekatkan kembali tubuhnya yang hanya berbalut handuk.
"Kadang kamu suka gak inget waktu deh ... kan kasian Kawa nunggu lama."
"Iya ... maaf ya," Arkana mengecup kening wanita itu.
Lama Anwa terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Kenapa?"
"Aku baru sadar."
"Apa?"
"Kok aku belum haid ya?"
"Serius?"
"Kok gimana? ya gak papa ... kan ada bapaknya." Arkana memeluk istrinya.
"Bukan itu ... Kawa kan masih kecil, lagian kan aku KB nya spiral Ar ... mana mungkin lah."
"Kita ke dokter nanti sore gimana? siang ini aku anter kamu tempat mama, kamu tunggu aku di sana ya." Arkana menenangkan istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore menjelang, sepasang suami istri itu sudah menunggu di ruang praktek dokter kandungan di salah satu rumah sakit.
Tangan Anwa begitu dingin, entah lah ada perasaan takut di hatinya. Pertama karena menurutnya Kawa masih terlalu kecil, kedua debar-debar kejadian saat Arkana mengalami kecelakaan pun teringat kembali. Iya, trauma ... masih sulit ia lupakan, walaupun di depan semua orang dia terlihat tegar.
"Tenang, ada aku ... aku gak kemana-mana." Arkana menenangkan.
Memasuki ruang praktek dokter, maka Anwa menceritakan semuanya, bahwa ia masih memakai alat KB dan sudah telat satu minggu, maka pemeriksaan pun berlanjut. Ternyata benar alat kontrasepsi yang di gunakan oleh Anwa bergeser itu memungkinkan terjadinya pembuahan.
Anwa menepuk keningnya yang diiringi seringai dari Arkana, tak dapat di pungkiri Arkana senang mendapatkan kabar kehamilan istrinya. Namun tak ada yang bisa Anwa perbuat kecuali menerima kado kecil yang akan menjadi bagian dari anggota keluarga mereka.
"Anak kita bakal dua Sayang," ujar Arkana menciumi pipi sang istri saat sudah berada di dalam mobil. "Kok cemberut gitu sih?"
"Aku kasihan Kawa."
"Kawa pasti bakal ngerti ... dokter tadi juga bilang masih bisa menyusuikan asal jangan sampai kram perutnya."
"Tapi tetep kasian Kawa," Anwa mengerucutkan bibirnya.
Arkana mengusak rambut Anwa, "kita pulang jemput Kawa ya."
Mobil melaju menuju kediaman mertua Anwa, malam itu akhirnya mereka memutuskan untuk tidur di sana karena melihat Kawa sudah terlelap di dekapan sang Oma.
Mendapati kabar bahwa sang menantu mengandung kembali begitu bahagianya keluarga besar itu. Mama Cha Cha pun memberikan wejangan pada Anwa, bahwa itu adalah hadiah untuk mereka, untuk saling melengkapi.
"Wa ... jangan tidur dulu dong," Arkana memeluk Anwa dari belakang, ia tahu jika istrinya masih marah pada dirinya.
Iya, Anwa menyalahkan Arkana kenapa alat kontrasepsi itu bisa bergeser kalau bukan ulah suaminya yang selalu meng"hajar" nya setiap waktu.
"Kamu tau gak? aku seneng kamu kasih aku anak lagi ... itu artinya kita memang sudah benar-benar siap menjadi orangtua seutuhnya setelah adanya Kawa dan adiknya."
Anwa masih diam.
"Jangan marah dong Wa ... ini kan namanya hadiah tak terduga ... harus kita rayakan sebenarnya." Arkana membalikkan tubuh istrinya. "Buka matanya."
"Apa."
Lelaki itu mencium bibir Anwa, menciumnya semakin dalam, Anwa tak dapat menolak jika ciuman lembut itu selalu membuatnya terlena.
"You complete me, baby," bisik Arkana lembut. "Terimakasih Wa ... aku merasa semua kebahagiaan sudah aku raih bersama kamu dan anak-anak kita."
Anwa meneteskan air matanya, bahagianya memang luar biasa, rasa kesalnya tadi hanya sebagai pelampiasan saja. Dari lubuk hatinya ia sangat sangat menerima makhluk kecil yang sekarang berada di dalam rahimnya.
Lengkap sudah keutuhan rumah tangga mereka, suami yang luar biasa serta anak-anak yang menyertai mereka hingga nanti.
**tinggalkan jejak untuk pasangan romantis ini ...
enjoy reading 😘
and
thank you
Chida ❤️
...----------------...
Gaeesss aku mau rekomendasi satu karya dari juskelapa... udah pada kenal kan? ada satu karya baru dari dia nih... di jamin gak kalah seru dari karyanya yang sudah-sudah...
Judulnya : Pengakuan Dijah**
**sekilas cuplikannya nih :
Bara telah melepaskan kemeja dan kaosnya seraya melirik Dijah yang belum berani menatapnya langsung.
Kini Dijah telah melihatnya bertelanjang dada. Selain di kolam renang atau pantai, Bara tak pernah membuka tubuhnya di depan wanita manapun.
Bara memang ingin memamerkan perut sixpacknya pada Dijah, tapi bukan dengan cara kerokan seperti ini pikir Bara. Ia ingin cara yang lebih maskulin seperti Dijah yang memeluknya dari belakang. Atau... saat Dijah berada di bawahnya. Dijah berada di bawahnya...
Bara tak bisa mencegah pikiran yang tiba-tiba saja masuk ke dalam otaknya dan menjelma menjadi sebuah angan erotis**.