Kiss Me

Kiss Me
Mulut tetangga



Pagutan pagi itu cukup liar untuk suasana di pagi buta. Arkana membangunkan Anwa pagi tadi dengan ciuman bertubi-tubi, meninggalkan banyak tanda kepemilikan pada tubuh Anwa.


"Ar ...."


"Hhmm."


"Udah dong." Lalu seketika Anwa menjerit saat Arkana menggigit puncak dadanya. "Sakit, Ar ... udah ah."


"Gemes," ujar Arkana lalu memakai boxernya dan melenggang masuk ke kamar mandi.


Anwa memakai kembali piyamanya lalu membuka pintu villa selebar-lebarnya pagi itu. Udara dingin nan segar masuk ke dalam ruangan. Anwa merapatkan kembali piyamanya, menghirup udara bersih sebanyak banyaknya.


"Mandi gih, setelah sarapan kita lanjut perjalanan ke rumah bunda." Arkana sudah memeluknya dari belakang.


"Kamu wangi banget," ujar Anwa memiringkan sedikit lehernya saat Arkana menciumi lehernya.


"Aku gak mandi aja wangi," jawab lelaki itu sambil meremat dada Anwa.


"Ish ... aku mandi deh." Anwa melepaskan pelukan itu lalu berjalan masuk ke dalam.


Tak butuh waktu lama mereka sudah bersiap untuk melakukan kembali perjalanan ke kota.


"Dulu bukannya kamu kuliahnya di kota ini ya, Wa?" tanya Arkana saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Iya, di kota ini ... tapi aku banyak gak tau tempat-tempat keren atau tempat nongkrong anak muda jaman itu."


"Kok bisa?"


"Aku tuh kerjanya, kampus-kost kampus-kost, jarang banget bergaul sama sesama teman."


"Pantes," ucap Arkana menoleh pada Anwa.


"Pantes apanya?"


"Pantes polos," katanya mengusak rambut istrinya.


"Polos apaan?"


"Ya menurut aku kamu polos, gak neko-neko."


Anwa memandang jalan, sudah banyak perubahan. Perkembangan kota ini begitu pesat, seperti layaknya kota besar lainnya.


"Kita mau beli oleh-oleh gak?"


"Iya deh, tapi aku gak tau dimana tempatnya."


"S**earching dong."


Arkana melajukan mobilnya menuju tempat oleh-oleh setelahnya mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Anwa.


Butuh waktu satu jam mereka akhirnya sampai di depan sebuah rumah yang sekarang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Rumah besar itu sekarang sudah kembali seperti sedia kala. Taman yang dulu pernah di perbaiki oleh Arkana, sekarang terlihat rapih dan lebih nyaman.


Mobil sudah terparkir di pelataran, Bunda dan Ayah pun sudah menunggu mereka di teras. Senyum mengembang pada wajah Anwa, sedikit berlari menyambut pelukan sang bunda.


"Ayo masuk," ajak Ayah pada menantunya yang sudah menurunkan koper pakaian serta beberapa oleh-oleh untuk mertuanya.


"Malik mana Bun?" tanya Anwa yang melihat keadaan rumah siang itu sepi.


"Malik barusan keluar katanya ke tempat teman."


"Arkan bawa masuk ini ke kamar dulu Yah," ujar Arkana diangguki oleh ayah mertuanya.


"Kalian belum makan kan?" tanya Bunda.


"Belum sih, cuma sarapan aja lagi tadi."


"Kalo gitu, kita makan siang dulu sama-sama, ajak suami kamu turun Wa."


Menu makan siang ini adalah semua kesukaan Anwa, mulai dari gulai tempoyak ikan, ayam kecap, lalap-lalapan, sambal terasi dan durian, kerupuk kemplang, makanan yang sangat jarang sekali Anwa temui.


"Ini enak," ujar Arkana ketika dia mengambil gulai tempoyak ikan dan menyuapkannya dengan lahap ke mulutnya.


"Ini namanya tempoyak, fermentasi dari durian, diolah bisa jadi gulai seperti ini atau di makan dengan sambal terasi dan ikan serta lalapan," ujar bunda menjelaskan.


"Di Lampung banyak makanan yang mungkin jarang Arkana temui, dan ini salah satunya," kata Ayah Syahril.


Arkana mengangguk angguk masih menikmati makan siangnya.


"Kalo di Jakarta makannya western terus sih, tapi ada baiknya sih jadi kamu gak kaget kalo tiba-tiba aku minta makanan kayak gini," Anwa terkekeh.


"Pagi-pagi? di masakin? emang Anwa ...?"


"Kalo hari libur kan Anwa pagi suka ke apartemen Arkana dulu Bun," Anwa cepat-cepat menjawab dan mencubit paha Arkana yang cuek saja menikmati makanannya.


"Oh ... nanti Bunda mau bikin empek-empek, kamu bantuin ya, gak capek kan? sekalian biar bikin banyak buat di bawa pulang besok kasih ke mertua Wawa," ujar bunda beranjak dari kursinya lalu mengangkati piring-piring yang sudah terpakai.


Ucapan salam dari luar pun terdengar, tak berapa lama Malik sudah duduk pula di meja makan.


"Dari mana?" tanya Anwa pada adiknya yang semakin hari semakin terlihat jelas ketampanannya.


"Dari tempat teman, Ayuk baru sampai?"


"Sejam lalu."


"Enak Bang?" tanya Malik pada Arkana.


"Enak banget, besok kamu kalo kita pulang bikin begini ya, Wa," pinta Arkana.


"Ayuk, harusnya seneng punya suami gak pilih-pilih soal makanan, di hajar semua ya Bang."


Arkana mengangguk dan mencomot satu kerupuk ikan yang diambilnya untuk kesekian kalinya.


"Harus bawa dari sini tempoyaknya Lik, di Jakarta mana ada."


"Fermentasi sendiri lah, kan cuma didiemin berapa hari udahnya jadi," ujar Malik mulai mengambil lauk satu per satu.


"Gak lah beli aja, ribet bener."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore hari semua keluarga menikmati sore di teras depan rumah. Ada beberapa tetangga yang hilir mudik sesekali melihat ke arah rumah Anwa. Salah satunya adalah Maemunah dan anaknya si Mumun yang dengan terang-terangan berkumpul tidak jauh dari depan rumah Anwa.


Mereka berbicara sambil sesekali melihat ke arah rumah Anwa. Hal seperti itu biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari bukan? Ketika melihat rumput tetangga lebih hijau pun terkadang kita juga ingin memiliki.


"Ngobrolin apa sih mereka?" tanya Arkana.


"Gak tau, tanya aja langsung," Anwa tersenyum.


Arkana yang sedari tadi memang sedang mondar mandir di dekat pagar pun merasa penasaran.


"Ya iyalah, mana mungkin itu si Anwa mau kalo cowoknya gak kaya," sengit Maemunah.


"Mumun mau lah Bu, Mumun kan gak kalah cantik dari Anwa."


"Makanya kamu pinter-pinter cari pasangan, modal ganteng sama kaya itu nomer satu."


"Emang Mumun sudah ada yang mau melamar?" ujar ibu satu lagi.


"Ah si Anwa mah, harus nyari suami kaya, buat hidupin keluarganya lah, liat aja sekarang keluarga mereka kan, rumah udah bagus lagi, derajatnya udah ke angkat lagi," kata ibu yang mempunyai bobot tubuh yang besar.


"Iya, kok bisa ya suaminya mau sama anak mantan koruptor pernah di penjara pula," Mumun meninmpali.


"Ibu-ibu ... mbak-mbak ...," ujar Arkana dari balik pagar. "Apakah ada baiknya kalo ibu-ibu pulang urus suami, kasian capek-capek dari kantor di anggurin, istrinya malah rumpi di depan rumah orang," kata Arkana lagi lalu tersenyum


"Jangan suka sok tau kalo gak tau apa-apa Mun, aku sih cuma kasian aja sama kamu keseringan bergaul sama ibu-ibu yang gak seumuran sama kamu, gak takut kamu keliatan lebih tua dari umur kamu Mun?" Anwa menimpali dari balik tubuh suaminya.


Beberapa ibu-ibu yang tadi berkerumun satu per satu pergi menghilang begitu saja.


"Ibu," ujar Arkana pada Maemunah yang sudah tertunduk malu. "Lain kali, mulutnya di jaga jangan sembarangan ngomongin orang, ngurusin hidup orang, hati-hati terkadang yang kita ucap bisa balik ke diri kita sendiri," tegas Arkana.


Ibu dan anak itu berlalu dengan wajah cemberut setelah diberikan sepatah dua patah kata sambutan dari Arkana.


"Kamu tuh ya, nyali nya ada aja kalo berhadapan sama ibu-ibu," ujar Anwa.


"Lah, kamu sendiri tiba-tiba nongol dari belakang ikutan juga," Arkana terkekeh. "Tapi sekali-kali mereka harus di gituin Wa, sudah cukuplah keluarga kalian di hina dan jadi bahan perbincangan orang di sini, ya memang gak semua tapi bibit-bibit seperti ibu-ibu tadi akan terus bermunculan kalo gak kita balas."


"Masuk yuk, kamu mau cobain pempek buatan aku gak? kali ini lebih enak dari yang aku buat waktu itu."


"Gimana kalo aku makan kamu dulu, baru makan empek-empek, idenya lebih menarik kan?" Anwa menggigit lengan Arkana karena gemas akan pikiran suaminya yang tak pernah jauh dari makan memakan dirinya.


***lagi puasa... ngomongnya dijaga biar puasanya gak sia-sia 🙏


by the way... aku akan up random ya jam rilisnya kadang bisa malam kadang bisa siang dan gak janji bisa double up 🙏***


***tetap stay tune 😘 dan jangan lupa sebar-sebarin bunga kalian di lapak ini tq


Chida ❤️***